BAB ENAM PULUH DELAPAN
POV-nya Vladimir.
Gue mondar-mandir di kamar, gue tahu gue lagi main api, tapi gue nggak nyangka bakal secepet ini. Gue pikir gue punya lebih banyak waktu buat ngumpulin informasi tentang dia. Gue pergi ke kabinnya, dan dia udah pergi. Gue nggak sedih atau marah, gue tahu gue bakal nemuin dia cepat atau lambat. Ciri-ciri dan aroma tubuhnya udah ke-burn di memori gue kayak bara. Satu-satunya masalah adalah ngomong ke ayah kalau gue mau nyari mate gue karena dia ngilang.
Gue harus bilang ke dia kalau mate gue itu manusia serigala, dan itu bakal jadi ceramah panjang lebar tentang gimana itu nggak mungkin dan gue cuma ngarang karena gue nggak mau jadi raja. Gue nggak pernah lari dari tanggung jawab gue sebelumnya, dan gue nggak bakal mulai sekarang, tapi ayah gue nggak percaya sejak Stevenson pergi dari klan ini nyari matenya dan nggak pernah balik lagi. Dia selalu khawatir semua orang bakal ngelakuin hal yang sama.
Nggak peduli berapa kali gue coba yakinin dia, tapi dia nggak mau denger. Kali ini gue butuh bantuan saudara gue buat yakinin ayah kalau gue bakal balik lagi. Avilla mungkin serigala, tapi serigalanya nerima gue, dan itu awal yang bagus. Matanya nunjukkin rasa sakit yang mendalam, dan itu cuma bisa dari matenya. Penolakan bisa jadi hal yang menyedihkan banget. Gue nggak percaya ada orang yang nolak dia, dia cewek paling cantik yang pernah gue lihat, dan gue udah hidup seratus tahun lebih dari itu.
Gue udah ngalamin banyak cewek, baik vampir maupun manusia, gue juga udah pernah sama mereka. Jadi vampir berarti lo bisa ngelakuin macem-macem hal di kehidupan lo sekarang dan sebelumnya. Itu seru banget.
Ketukan di pintu gue terdengar, dan itu ngasih tahu kalau saudara gue yang datang.
"Lo manggil gue?" dia nanya.
"Iya, gue emang manggil lo. Gue butuh bantuan lo," gue bilang ke dia.
Dia masuk ke kamar, bikin dirinya nyaman di kasur gue yang gede banget.
"Apaan?" dia nanya lagi.
"Gue harus pergi dari klan," gue nyatain.
Dia natap gue kaget. "Lo nggak bisa gitu, lo kan harusnya jadi raja. Gue nggak mau itu, maksudnya, apa kata ayah nanti? Dia bakal ngebuang lo," katanya tanpa jeda.
"Tunggu dulu, gue nggak lari dari tanggung jawab gue, gue cuma perlu nyari mate gue," gue bilang ke dia.
"Oh, harusnya lo ngomong gitu dari awal," katanya sambil melototin gue.
Gue mengangkat bahu, nggak ngomong apa-apa.
"Tunggu! Gue kira lo udah nemuin dia?" dia nanya.
"Iya, tapi dia pergi, dia nggak tinggal di sini, dan sepertinya dia udah balik ke kotanya pagi ini, gue pergi ngecek dia, dan tempatnya udah kosong," gue jelasin.
"Oke, tapi lo tahu ayah nggak bakal percaya lo, dia bakal mikir lo lari," saudara gue bilang ke gue.
"Gue tahu, itu makanya lo harus bantu gue. Lo harus dukung gue pas gue bahas itu. Jangan ciut kayak biasanya kalau kita ketemu ayah," gue bilang ke dia.
"Heh!" Dia mulai protes, tapi di menit terakhir dia berubah pikiran. "Iya, lo bener. Gue sering banget ngekhianatin lo pas kita masih kecil," dia tertawa.
Gue geleng-geleng ke dia, dia emang gitu selalu. Kita udah sepakat tentang sesuatu, dan pas dia lihat ayah gue, dia berubah pikiran buat cari muka.
"Perfect! Jadi, gue berencana ngomong ke ayah nanti sore setelah rapat dewan, gimana menurut lo?" gue nanya ke dia.
Saudara gue adalah satu-satunya orang yang gue ajak ngobrol, dia selalu dukung gue kecuali kalau soal ayah gue, tapi itu karena dia pengecut. Kami punya ikatan yang lebih dalam daripada sekadar saudara. Vampir biasanya nggak akur sama saudara mereka, selalu ada aja yang misahin mereka. Dan mereka punya waktu berabad-abad buat baikan, tapi tetep aja milih berantem.
Gue dan saudara gue selalu nemuin satu sama lain, bahkan pas kita pisah buat menjelajahi dunia. Gue suka itu, dan dia selalu minta saran gue, kayak gue juga.
"Oke, bagus. Dia bakal nanya-nanya lo tentang cewek ini. Lo tahu, kan?" dia nanya.
"Itu masalahnya, gue nggak tahu apa-apa tentang dia. Gue terlalu fokus nyari tahu tentang apa yang dia suka dan nggak suka daripada nanya hal-hal pribadi tentang dia, kayak di mana dia tinggal atau sekolahnya di mana, jangan ketawa, ya. Gue udah ngalamin itu pas gue sadar gue nggak tahu apa-apa tentang dia," gue bilang ke dia.
Dia ngakak keras, si brengsek kecil! Gue ngarepin dukungan atau dorongan semangat, bukan malah ketawa terbahak-bahak.
"Dasar orang yang lagi kasmaran!" dia ketawa lebih keras lagi.
"Berisik!" gue nggerutu.
"Lo pikir setelah bertahun-tahun di bumi, lo bakal belajar sesuatu tentang gimana cara ngedeketin cewek, lo ngabisin semalam sama dia, tapi nggak dapet apa-apa yang berguna?" dia bilang di sela-sela tawanya.
"Lo nggak berguna buat gue kalau lo terus ketawa, gue bakal minta bantuan Sara," gue ngancam.
"Iya, minta bantuan cewek yang udah cinta sama lo berabad-abad buat ngebantu lo dapetin cewek lain, lo nggak tahu apa-apa tentang cewek, ya," katanya.
Gue cemberut, dia bener. Bakal jadi bencana kalau minta bantuan Sara, dia bakal nyobek-nyobek mate gue dengan rasa cemburunya, dan gue nggak mau itu sama sekali.
"Lo mau bantuin gue apa nggak?" gue nanya dia lagi.
"Tentu aja gue bantu, lo kan saudara gue," katanya.
Gue ngangguk puas, satu poin udah beres. Yang tersisa cuma bikin ayah setuju tanpa ribet.