BAB LIMA PULUH ENAM
POV **Rohan**
Aku teriak sekencang-kencangnya sampai dia lari turun dengan **saudari**ku.
Bagus! **Camilla** ada di sini. Persis yang aku mau, dia lihat aku ngamuk.
"**Rohan**, ada apa sih?" tanya **Camilla** dari tempat dia berdiri di tangga. Aku abaikan dia dan malah tujukan pertanyaan ke cewek yang lagi ngamuk di depanku.
"Apaan sih itu?" tanyaku.
"Apaan apanya?" katanya sambil melotot ke aku dengan dagu diangkat.
"Aku datang mohon maaf dan kamu malah cium di depan umum?" teriakku.
Aku lihat dia meringis dan aku harap aku gak pakai nada itu, tapi aku beneran marah.
"Permisi?" dia balik bertanya.
"Kamu ngapain sama **Ben**?" tanyaku lagi dengan nada lebih rendah kali ini.
Dia menatapnya lama dan dalam. Mata kirinya berkedut dan aku berani bertaruh dia lagi sibuk merencanakan kematianku di otaknya.
"Aku kasih waktu semenit buat minta maaf, sekarang juga!" katanya tegas.
"Minta maaf ke kamu? Ngapain?" tanyaku kaget.
Dia yang keliling ciuman sama cowok padahal harusnya sama aku.
**Camilla** berdiri di satu sisi, nonton drama ini dengan mata menyipit, aku bisa rasain tatapan dari matanya mengarah ke aku.
"Dasar brengsek!!! Sadar diri, idiot! Kamu yang ngajak aku jalan, nggak, nggak. Kamu yang mohon aku jalan sama kamu, aku setuju cuma buat kamu gak datang karena ketemu cewek lain? Terus kamu berani datang kesini dan teriak ke aku?" Dia teriak ke aku.
Aku diam mematung natap dia, dia marah sama aku?
Iya! Aku sama cewek lain dan iya, aku sembunyiin tangannya tapi itu gak kasih dia hak buat cium **Ben**. Tapi aku bisa bayangin gimana adegannya buat dia setelah aku telepon batalin janji kita.
"Ehm..."
"Gak ada yang mau kamu omongin, ya?" katanya.
Aku yakin aku kelihatan kaget, aku sadar dateng kesini dan teriak ke dia mungkin bukan cara terbaik buat ngatasin semua ini.
"Denger..." aku coba bilang.
"Pergi sana" katanya pelan.
"Apa?" tanyaku, apa dia beneran nyuruh aku keluar dari rumahnya?
"Aku bilang PERGI.DARI.RUMAH.AKU!!!" Dia ulangi lagi, kali ini dengan penekanan.
"Kamu nyuruh aku keluar dari rumahmu?" tanyaku.
"Iya dan aku harap kamu dan aku berhenti bohongin diri sendiri dengan semua ini tentang jadi teman. Gak bakal berhasil. Tolong pergi" katanya.
Aku bisa lihat air mata yang belum tumpah ngumpul di matanya dan tatapan di wajahnya teriak kelelahan.
"Kamu gak serius kan" kataku lebih pelan. Aku sadar dia capek sama semua omong kosongku dan ini caranya bilang udah selesai. Udah mulai sakit banget sekarang.
"Iya dan jangan telepon aku lagi" katanya sebelum ninggalin **Camilla** dan aku di situ.
**Camilla** melotot ke aku sebentar.
"Kamu brengsek banget! Kamu pikir dia bakal nunggu selamanya karena kamu supranatural. Tunggu sampai serigala lain ngakuin dia dan semua perhatiannya hilang buat kamu, baru kamu sadar kamu ini bajingan" Katanya sebelum naik nyusul **Avilla**.
Aku tutup pintu depannya dari luar dan duduk di teras.
Apa yang udah aku lakuin? Aku tanya ke diri sendiri.
Aku berdiri di sana dan natap kosong ke udara selama beberapa menit, aku coba kasihan sama diri sendiri tapi yang bisa aku lakuin cuma marah ke diri sendiri dan ke **Ben**. Kebanyakan salahku ini selesai cepat sebelum mulai.
**ayah** bakal bunuh aku apalagi kalau aku kasih tau dia udah selesai, aku kacau. Ya Tuhan! Aku ini idiot banget, aku minta satu kesempatan dan pas dia kasih, aku kacau semuanya.
Jujur, aku agak kaget dia gak lakuin itu lebih cepat, aku posesif sama dia dan cemburu waktu cuma kita berdua ngumpul dan aku bakal ngamuk kalau dia cerita tentang kejadian apa pun yang ada cowoknya. Dia bakal natap aku aneh dan aku bakal tepis itu dengan bilang betapa cantiknya dia.
Aku bodoh banget!!
Aku duduk di sana hampir sejam dan aku bisa denger dia nangis di kamarnya dan nanya ke **Camilla**, ada apa sama dia. Gak ada yang salah sama dia, dia sempurna. Akulah idiot yang salah dan bodoh karena anggap remeh maafnya.
Butuh waktu bertahun-tahun sebelum serigalaku bicara lagi ke aku, itu kalau aku gak gila duluan karena gak punya pasangan. Aku gak bisa kehilangan dia sekarang, sekarang semuanya mulai bagus lagi buat kita.
**Ben**!
Sialan itu!
Aku bilang ke dia buat jauh-jauh dari **Avilla**, aku bilang dia adalah pasanganku dan kita lagi berusaha. Dari semua yang aku harapkan dia lakuin, aku gak nyangka dia bakal cium pasangan ku di depan mata. Itu sangat gak sopan dan bodoh banget dia lakuin.
Dia tetep ngejar cewekku, setelah aku bilang jangan? Teman macam apa dia? Ini kenapa aku gak mau bilang apa pun tapi aku harus karena aku gak mau dia punya perasaan ke dia dan kecewa di akhirnya.
Semakin aku pikirin, semakin marah aku. Aku masuk mobilku dan pergi dengan niat buat konfrontasi dia...