Bab 66
Sudut pandang Elyana
Pagi berikutnya, gue bangun kepagian karena pikiran gue nggak berhenti mikirin banyak hal. Jujur aja, itu ganggu, tapi gue pengen ngehargai keputusan Felicity untuk menjaga jarak meskipun gue masih nggak tahu alasannya. Lagipula, Pretzel janji bakal ngabarin gue kalau dia tahu sesuatu dari Felicity dan gue pengen nunggu daripada ganggu si banci konyol itu.
Untungnya, ada beberapa hal lain yang pengen gue fokusin. Itu lebih penting daripada buang-buang waktu ngejar-ngejar dia dengan alasan yang kayaknya dia nggak peduli buat kasih tahu gue.
Gue mutusin buat nge-text Quintin pagi itu. Gue bilang ke dia buat ketemu di kedai es krim terkenal, nggak jauh dari perumahan tempat gue tinggal. Nggak bakal jadi ide bagus kalau minta dia datang ke mansion karena nyokap pasti bakal nanyain banyak hal.
"Mom, aku mau ke mall. Perlu sepatu buat dipaduin sama dress yang aku pakai di pesta Tahun Baru," gue pakai alesan.
"Kamu mau minta salah satu pelayan buat nemenin kamu?" tanya nyokap gue, tapi gue nggak butuh pengawal.
"G-nggak, Mom. Aku bisa sendiri," langsung gue jawab.
Gue pamit dan lari keluar pintu depan sebelum dia sempat ngomong apa-apa lagi. Lega banget dia nggak coba ngejar gue. Gue nyetir mobil dan langsung ke tempat pertemuan.
Quintin belum dateng pas gue nyampe. Gue nyari tempat duduk yang orang-orang di luar nggak bakal gampang lihat gue. Gue milih pojokan dan mikir buat pesen dua scoop es krim sambil nungguin dia.
Gue udah nikmatin es krim kopi latte best seller mereka pas Quintin dateng.
"Kenapa udah pesen duluan? Nggak nungguin gue banget," keluhnya sambil narik kursi di depan gue.
Dia duduk di kursi, cemberut kayak anak kecil di depan gue. Dia nyilangin tangan di depan dada sambil cemberut.
"Nggak pantes buat kamu," komentar gue dan gue balik lagi makan es krim gue.
"Nggak peduli pantes apa nggak. Nggak adil kamu udah pesen duluan tanpa nunggu gue. Gue kira kamu nelpon biar kita bisa makan es krim bareng," alasannya, bikin gue selesaiin apa yang lagi gue makan buat jelasin ke dia alasan sebenarnya kenapa gue nelpon dia.
Sebagai pembuka, "Gue ada permintaan." Gue ngelihat ekspresi dia buat mikir dulu mau lanjut atau nggak. Pas alisnya bergerak, gue berasumsi dia penasaran jadi gue lanjutin.
"Gue lagi rencanain sesuatu dan gue butuh bantuan kamu buat itu. Gue mikir kamu karena kita udah saling kenal."
"Kamu tahu kamu bisa andelin gue, kan?" tanyanya.
"Gue—"
"Tunggu, biar gue beli satu scoop es krim dulu," dia nyela gue. Dia langsung berdiri dan pergi ke konter, ninggalin gue dengan mulut menganga.
Gue ngehela napas. Tiba-tiba gue ngerasa gugup. Mau nggak mau, gue harus nunggu dia balik ke tempat duduknya, dan setelah beberapa saat, dia balik.
"Permintaan apa yang kamu butuhin?" tanyanya tepat setelah makan es krim yang dia ambil. Dia mau ngambil lagi pas gue mutusin buat jawab.
"Gue mau kamu jadi donor gue." Gue lihat gimana Quintin membeku. Alisnya menyatu dan dia pelan-pelan ngangkat kepalanya buat mata kita ketemu.
Gue kasih dia waktu buat mencerna apa yang gue bilang. Matanya jernih, dan gue lihat kekhawatiran setelahnya.
"K-kamu sakit? Apa yang harus gue donorin? Kalau ginjal, gue nggak yakin masih sehat," katanya. Gue hampir aja ketawa ngelihat ekspresinya. Itu terus berubah dan alisnya kayak keriting karena gelombang yang dibuatnya.
"Gue nggak butuh ginjal kamu, bodoh," gue benerin.
"Terus kamu butuh gue buat nyumbang apa? Uang? Gue bisa bantu kamu langsung kalau uang yang kamu butuhin, tapi gue nggak mikir kamu butuh itu. Kamu udah hampir sama kaya gue," tanyanya dan bahkan berusaha pamer betapa kayanya dia dengan membandingkan kekayaan bersih gue sama dia.
"N-nggak, bukan uang," jawab gue; tapi, gue nggak bisa nemuin kata-kata yang tepat buat kasih tahu dia persisnya permintaan apa yang gue butuhkan dari dia saat itu karena gue malu.
"Kalau bukan ginjal dan uang, apa dong? Mata gue, telinga gue, hidung gue, atau telinga gue—muka gue?"
"Siapa yang berani minta pinjem muka kamu?"
"Itu menghina!" serunya. "Seolah-olah kamu nggak tahu berapa banyak cewek yang ngejar-ngejar gue," katanya sambil pamer, tapi ini bikin gue kepikiran buat ngejek dia.
"Tunggu, gue punya cermin di sini; gue mau kamu lihat diri kamu sendiri. Kamu nggak se-menarik itu."
"Kamu kasar banget hari ini! Gue harus pergi sekarang, kayaknya," protesnya.
Gue ketawa nggak percaya gimana dia ke-efek banget sama kata-kata gue, dan sebelum dia sempat pergi, gue tarik lagi apa yang udah gue bilang. "Gue cuma bercanda! Maaf—gue nggak maksud gitu."
Quintin memutar bola matanya ke gue. "Ck! Terus kamu butuh apa?"
"Oke, gue langsung aja ke intinya sekarang." Gue jeda. Gue lihat-lihat dulu buat ngecek kalau ada orang yang duduk cukup deket buat denger apa yang mau gue omongin. Untungnya, pelanggan kebanyakan duduk di sisi lain, di mana mereka bisa lihat jalanan.
Quintin udah tahu semua yang terjadi sebelum Natal dan apa yang diakuin Lukas pas dia pergi ke Filipina jadi gue nggak perlu lagi nambahin apa yang harus gue kasih tahu dia.
Gue narik napas dalam-dalam.
"Kalau kamu mau—-bisakah kamu jadi donor sp*rma gue?"
Gue lihat keterkejutan di mata Quintin, bikin gue mikir buat narik lagi, tapi sebelum gue sempat buka mulut, Quintin ngomong.
"Gue nggak lihat ada yang salah dari itu. Lagian, gue cuma buang-buang sebagian besar di kamar mandi atau di tempat sampah setelah kejebak di dalem c—"
"Ya ampun, Quin—berhenti ngomong gitu." Gue berhentiin dia di situ.
"Kenapa nggak? Kamu bukan v*rgin buat malu-malu soal percakapan kayak gini," Quintin ngegas.
"Iya, gue bukan, tapi itu jorok." Gue naikin alis dan cowok konyol itu cuma ketawa ke gue.
"Jadi, kapan kamu butuhin?" Quintin nanya seolah-olah dia lagi nanya soal sesuatu yang bakal bikin dia rugi di masa depan.
"Itu berarti iya? Kamu bersedia jadi donor gue?" gue nanya buat mastiin.
"Iya, gue nggak rugi apa-apa. Kamu cuma butuh sedikit, kan?" tanyanya formal pas gue udah nggak nyaman banget sama percakapan kita.
"G-gue nggak tahu, jujurnya. Gue belum punya jadwal," jawab gue.
"Hmm, kenapa kamu nggak tanya dokter kamu sekarang? Biar gue bisa sesuaikan jadwal gue juga," saran Quintin.
Dia bikin gue mikir sebentar dan akhirnya gue ngeluarin hape dari dalam tas gue dan nelpon orang yang harus gue telpon.
Nelpon Dokter Chelsea...
Quintin diem aja pas gue ngobrol sama dokter kandungan soal ketersediaan dia.
"Aku kosong besok sekitar jam delapan sampai sembilan," kata dokter ke gue, dan sambil masih di telpon, gue pamit buat nanya Quintin soal jadwalnya buat besok.
"Kamu bisa besok?" Kegugupan dan semangat yang tinggi memenuhi hati gue.
"Kamu bisa dateng besok, Quintin?" Gue noleh ke dia.
Dia nyenderin punggungnya ke kursinya dan ngeluarin hape dari sakunya buat ngecek planner-nya. "Gue bakal kosong kalau pagi," jawabnya dan Dokter Chelsea kayaknya denger dari ujung telpon buat ngerespon.
"Bagus. Saya bakal beresin semuanya langsung dan nelpon balik buat konfirmasi."
"Makasih, Dokter Chelsea. Aku tunggu," jawab gue dan gue matiin telpon tepat setelah denger jawabannya.
Gue masukin hape gue balik ke tas yang ada di atas meja.
"Orang tua kamu tahu apa yang kamu rencanain, Elyana?" Gue ngelihat Quintin, yang tiba-tiba jadi penasaran.
Dia kayaknya tiba-tiba keganggu. Pas dia bilang dia nggak masalah sama permintaan gue, dia kayaknya terlalu percaya diri.
"Sebenarnya, mereka nggak tahu. Gue nggak kasih tahu siapa-siapa. Gue rencananya mau bohong ke mereka, bilang gue pergi ke pesta, ketemu orang asing, terus terjadi sesuatu, dan seterusnya," jawab gue, yang cuma dibalas tawa sama dia.
"Pinter banget! Tapi gimana kalau mereka coba nyari ayah dari anak kamu?" tanyanya.
"Itu yang nggak gue khawatirkan. Bahkan kalau mereka nemuin tempat gue pergi, mereka juga nggak bakal nemuin karena itu bahkan nggak bener kalau itu yang terjadi."
"Tetep—"
"Kalau kamu takut mereka bakal tahu kamu donor gue, kamu bisa mundur." Gue potong.
"Gue nggak mundur. Gue cuma khawatir sama kamu."
"Nggak usah, kamu nggak perlu. Gue tahu orang tua gue banget. Gue bakal coba yang terbaik buat yakinin mereka kalau gue nggak butuh ayah buat anak gue jadi mereka nggak perlu nyari ayah. Ayah gue bakal percaya gue, gue yakin. Lagian, mereka nggak bisa maksa gue buat nyari cowok dan nikah cuma karena tiba-tiba gue hamil." Gue jeda.
Pikiran datang berkelebat di benak gue—hal-hal yang udah gue lewatin yang ngebawa gue ke situasi di mana gue berada saat itu.
"Trauma masih ada di dalem kepala gue. Ketakutan di hati gue yang gue yakin bakal menetap selamanya. Gue cuma pengen punya anak yang bisa gue curahkan semua cinta dan perhatian gue. Anak yang nggak bakal nyakitin gue kayak mantan suami gue nyakitin gue," tambah gue, dan ekspresi Quintin melembut.
"Gue pengen ini cuma antara kita. Kamu nggak perlu kasih tahu siapa-siapa. Kita buat perjanjian, malah lebih baik. Kita tanda tangan perjanjian duluan," saran gue dan dia langsung setuju, meskipun menurut dia, itu bahkan nggak perlu.
"Gue ambil laptop gue di mobil dan balik lagi," Quintin pamit.
"Oke, gue tunggu di sini," jawab gue dan gue lakuin apa yang gue bilang.
Dia balik dengan laptop di tangan. Dia minjamin gue dan minta gue buat masukin semua yang pengen gue masukin ke dokumen. Quintin bikin semuanya gampang buat gue saat itu dan setelah gue selesai, gue tunjukin ke dia.
Gue kasih dia waktu buat baca semuanya. "Gue bakal tanda tangan sekarang di sini dan kirimkan salinan buat kamu yang bisa kamu cetak. Tanda tangan dan simpan buat gue," katanya. Dia bahkan nggak minta buat ubah apa-apa.
"Oke, makasih, Quintin." Kita keluar dari kedai es krim tepat setelah beres itu. Dia nganterin gue ke tempat gue parkir mobil dan nungguin gue bener-bener pergi sebelum pergi ke mobilnya.
Gue udah dalam perjalanan pulang pas Dokter Chelsea nelpon buat kasih tahu gue detail persis jadwal gue besok dan gue langsung nelpon Quintin buat kasih tahu informasi itu.
'Ini dia,' gumam gue. Gue beberapa langkah lebih deket ke mimpi gue buat jadi seorang ibu dan gue nggak bakal biarin kesempatan itu lolos dari tangan gue.