Bab 29
POV Orang Ketiga
Elyana masih syok banget sama yang dia denger dari Dokter yang dirujuk Quintin. Untungnya, berkat dia, dia nggak perlu nunggu lama di klinik. Istrinya sepupu dia nyuruh dia masuk langsung setelah dia bilang ke perawat di meja depan kalau dia mau bikin janji langsung setelah dia masuk.
Pasien pertama yang jadwalnya setelah makan siang hari itu telat, dan dokter pake kesempatan itu buat ngobrol sama Elyana sambil nungguin dia. Cuma butuh tiga puluh menit buat ngobrol berdua. Dokter Lilian langsung kasih tau hasilnya, dan Elyana bener—ada yang salah sama dia.
Dokter bilang itu lumrah buat orang-orang yang pernah ngalamin dikhianati buat ngalaminnya langsung di depan mata. Dia bilang itu kecampur sama kecemasan dan depresi kronis, termasuk sering mikirin sesuatu yang memicu keduanya, yang berhubungan sama PTSD atau gangguan stres pasca-trauma.
Lilian ngejelasin apa itu, dan pas dia dengerin, dia terus ngangguk dan bilang iya ke dia karena semua tandanya adalah hal-hal yang dia rasain dan lakuin. Dia ngaku tiba-tiba ngerti dirinya sendiri setelah ngobrol sama Lilian, dan dokter kasih dia sesi tambahan buat ngebantu dia sama apa yang dia alamin.
Dia bersyukur banget. Pas dia pergi, dia nggak bisa lupain jawaban dokter pas dia nanya apa yang kemungkinan besar terjadi sama cewek-cewek kayak dia yang suaminya selingkuh. Dokter kasih dia beberapa petunjuk: sebagian hilang akal karena mereka nggak bisa nerima apa yang suami mereka lakuin ke mereka; sebagian milih buat mengakhiri hidup mereka; sebagian lain keliatannya baik-baik aja, tapi secara emosional dan mental, mereka nggak baik-baik aja; dan yang terakhir—sebagian berhenti percaya cinta dan tetep jomblo—single moms.
Elyana diem di dalem mobil beberapa menit. Dia nenangin diri dulu sebelum nyetir pulang dan nggak nyadar orang yang nguntit mobilnya dari restoran ke klinik.
Waktu mobil Elyana masuk gerbang otomatis, mobil hitam di belakang susah payah bermanuver biar nggak ketahuan. Dia sengaja lewat gerbang pas sebelum gerbangnya nutup, dan pas dia udah agak jauh dari CCTV, dia berhenti di pinggir jalan buat nelpon.
"Ada update?" orang yang dia telepon langsung nanya.
"Iya, Pak, dia makan siang sama cowok. Cowok yang sama yang udah beberapa kali diajak jalan," jawab orang itu.
"Generoso?" orang itu nanya buat mastiin kalau cowok yang sama yang dia pikirin.
"Iya, Pak, Quintin Generoso," jawab orang di dalem mobil hitam itu.
Dia ngatupin giginya langsung setelah denger siapa, ngepalin tangan dan pengen banget konfrontasi Quintin, tapi dia mikir itu cuma buang-buang waktu dan rencana dia.
"Apa lagi?" dia malah nanya seolah dia nggak sabar nunggu berita lain.
"Dia pergi ke klinik dan diem di sana hampir setengah jam."
"K-Klinik? Klinik apa?" Rasa penasarannya ngebangkitin rasa gugup di dadanya.
"Klinik Kesehatan Psikologis, Pak."
"Dan dia di mana sekarang?"
"Dia baru aja sampe rumah."
"Oke, bagus. Pergi ke klinik itu dan cari tau lebih banyak kenapa dia ke sana. Telepon gue kalo lo nemuin sesuatu," orang itu nyuruh.
'Siap, Bos," jawab orang di dalem mobil, dan dia nyetir balik ke klinik. Itu waktu yang paling tepat karena orang yang disuruh buat ngikutin udah pulang.
Felicity baru aja balik ke kantornya setelah ketemu klien ketiga hari itu. Begitulah sibuknya jadwal dia setiap hari. Dia nggak nyangka bakal liat Quintin dan Elyana di restoran yang sama yang dipilih kliennya. Liat mereka berdua langsung bikin dia mikir ada sesuatu yang lagi berkembang antara mereka berdua.
'Ya, kalo gitu, itu bakal jadi keuntungan buat gue. Quintin bukan pasangan yang buruk, dan gue nggak perlu ngurusin Elyana lagi kalo mereka berdua udah punya hubungan,' pikir dia. Tapi, sesuatu muncul di pikirannya pas mikirin mereka, dan dia tiba-tiba jadi ragu sama Quintin karena dia tau semua tentang latar belakangnya.
'Oh, nggak! Dia pasti bawa penyakit,' dia bergumam dalam hati, mikir Quintin dulu playboy dan udah tidur sama cewek nggak keitung.
'Nggak—-nggak mungkin! Nggak bisa,' dia bergumam, kealihan sama ketukan pintu yang tiba-tiba.
Pintunya kebuka, dan sekretarisnya bilang ada yang nyari dia di luar.
'Siapa? Klien?" dia nanya dengan cemberut.
"Tuan Generoso." Denger nama keluarga itu bikin Felicity nyengir.
'Sebut nama iblis, dan iblis akan muncul,' dia bergumam. Dia masih punya klien yang harus ditemui, tapi dia pikir mereka mungkin nggak bakal komplain kalo dia telat beberapa menit.
"Suruh dia masuk," dia nyuruh, dan sekretarisnya langsung nyuruh Quintin masuk.
Quintin masuk dan langsung liat ekspresi wajah Felicity. Salah satu alisnya terangkat dan hampir di puncaknya. Felicity bersandar di kursi putarnya dengan tangan bersilang di dada. Dia keliatan mau ngasih orang susah dengan cara dia ngeliatin dia, dan beberapa langkah lagi sebelum dia akhirnya sampe di mejanya, Felicity berdiri dari kursi putarnya dan jalan ke sisi meja.
'Duduk!" dia nyuruh. Dia keliatan serius banget.
'Lo kenapa sih hari ini? Gue bikin salah ya?" Quintin nggak bisa nahan buat nggak nanya.
'Duduk aja!" Felicity ngulang, dan karena Quintin butuh sesuatu yang penting buat dia tau dari dia, dia nurut kayak anak baik.
'Lo sama sahabat terbaik gue gimana? Lo pacaran sama dia? Kalian berdua punya hubungan?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Quintin saat dia duduk di kursi.
Quintin nggak nyangka itu, dan itu bikin dia meledak dalam tawa.
'Lo dapet ide itu dari mana sih? Liat kita di restoran bukan seperti yang lo pikir, oke?" dia bergumam setelah tertawa. 'Elyana dan gue cuma temen. Kita kadang ketemu buat makan siang, dan hari ini cuma terjadi setelah dia nggak ada hampir seminggu. Dia nelpon gue kalo dia butuh bantuan, dan gue bantuin dia dengan sekuat tenaga kayak hari ini. Cuma temenan, dan nggak ada cara lain kita bakal jatuh cinta satu sama lain," dia nambahin setelah nenangin diri sepenuhnya.
"Lo yakin?" Felicity nanya, nekenin setiap kata biar dia bisa kasih jawaban yang jujur.
"Iya, yakin, seratus persen," dia jawab, dan dia bahkan bisa senyum dengan percaya diri.
"Dan persahabatan kayak apa yang kalian berdua punya? Temenan tapi ada benefit?" Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, Quintin nyadar ada interogasi beneran yang lagi terjadi. Walaupun dia ngomong yang bener, ketawa pas ngejawab cuma bakal ngasih Felicity arti yang berbeda, jadi dia mutusin buat serius saat itu.
Dia narik napas dalem-dalem dan natap mata Felicity. "Seperti yang gue bilang, kalo dia butuh gue, gue dateng buat bantuin dia, tapi bukan buat memanfaatkan dia di ranjang. Kita nggak pernah sampe di titik itu, dan gue janji nggak pernah sekali pun gue tidur sama dia," dia jawab.
Quintin mikir itu berhasil. Cemberut di wajah Felicity menghilang. Keliatannya dia akhirnya udah ngeyakinin dia.
"Kalo gitu, apa yang bikin lo ke sini?" Felicity nanya sambil buang muka.
"Soal itu," dia jeda. "Gue di sini buat nanya lo, siapa cewek yang lo ajak di restoran tadi?"
Felicity ngeliat balik ke dia, skeptis kenapa dia nanya tentang klien yang dia temui di restoran yang sama. Dia nggak percaya selera Quintin beda dari yang dia pikirin.
"K-Kenapa lo tertarik sama klien gue tadi?" Felicity nuntut.
"Klien lo? Maksudnya dia juga nyari pasangan?" dia nanya, matanya berbinar dengan kegembiraan.
"Kayaknya sih iya, dan sama kayak lo, dia minta dicariin pasangan secepatnya."
"Wah! Gue nggak percaya!" dia berseru, yang bikin Felicity tertarik sama apa yang dipikirin orang di depannya.
"Lo nggak bilang gue lo suka sama wanita tua, Quintin. Kalo lo udah bilang dari tadi, gue udah jodohin lo banyak—"
"H-Hah? N-Nggak! Nggak mungkin! Lo ngomong apa sih?" Felicity tiba-tiba liat jijik dengan cara dia bereaksi.
"Kayaknya kita salah paham nih. Siapa yang lo pikir klien gue itu?"
"C-cewek muda itu?" Jawabannya ragu-ragu. Dia mikir itu cewek yang keliatannya dia kenal.
"Ibu tirinya yang minta bantuan gue, bukan dia!"