Bab 80
Sudut Pandang Felicity
"K-kenapa?" tanya Elyana padaku waktu aku tiba-tiba narik tangannya, tapi gimana aku bisa jawab pertanyaan itu kalau aku juga nggak tahu kenapa?
Mata gue melihat ke tangan kita dan naik ke mata dia yang bingung. Tapi, gue lihat lebih dari itu di dalamnya. Ada kerinduan. Telapak tangannya yang hangat, yang gue pegang, kayak ngirim sinyal ke otak gue.
Gue pengen jijik sama hal itu, tapi otak gue nggak bisa ngasih gue emosi itu saat itu. 'Apa yang salah sama gue?' pikir gue. Gue pengen ngelepas tangannya, tapi tangan gue malah megang dia lebih erat.
Gue tahu itu bukan gue lagi. Itu sisi yang udah lama banget gue coba bunuh sampai gue tergoda buat keluar dari ikatan yang udah gue pasang ke dia sebelumnya.
"K-kamu nggak perlu balik ke kamar kamu," kata gue ke dia. Suara gue terdengar tegang.
Gue ngerasa Elyana ngejauhin tangannya dari gue. Gue masih bisa lihat keinginan yang kuat di dalam dirinya, tapi nggak sampai dia memalingkan muka.
"A-aku ada urusan. Aku rasa kamu nggak perlu lihat."
"Nggak papa," gue maksa, bikin kita berdua kaget.
Dia balik natap gue lagi, kali ini dengan kerutan dalam di dahinya. Gue tahu betapa bingungnya gue saat itu, tapi itu nggak beda jauh sama gimana bingungnya gue sama diri sendiri. Di dalam lubuk hati gue, gue pengen ngebantu dia. Gue nggak bakal biarin apapun terjadi sama anak kita.
"K-kenapa? Maksudku, kamu..." Kayaknya dia udah ngelihat kalau gue serius.
"Udah gue bilang nggak papa. Kamu bisa balik ke kamar tamu sama aku," kata gue tanpa nunggu Elyana selesai ngomong.
"O-oke," akhirnya dia yakin. "Tapi, aku ke kamar mandi dulu ya," tambahnya.
Gue kaget, tapi gue nggak tahu kenapa. "J-jangan!" seru gue. Gue pengen nampar mulut gue saat itu. Kayaknya otak gue udah nggak saling merespons emosi gue.
Mata Elyana membesar. Dia tetap melakukan kontak mata sama gue. "Aku udah nggak ngerti kamu lagi. Maksud kamu apa sih?" tanyanya.
Gue nutup mata dan mikirin jawaban yang paling bagus dan langsung. Gue terus ngulang di kepala gue kalau gue pengen ngebantu dia dan dengan suara cempreng gue, inilah kata-kata yang keluar, "Kamu bisa pakai aku."
Terdengar nggak enak, tapi siapa peduli? Cuma ada kita berdua—nggak ada penonton. Bahkan kalau dia nampar atau nendang gue, nggak ada yang bakal jadi saksi.
Gue buka mata dan gue lihat dengan kedua mata gue gimana reaksinya dia. Rahangnya hampir jatuh dan matanya hampir keluar.
Gue bisa lihat di matanya. Dia nggak ketawa, tapi gue bisa tahu betapa dia pengen ketawa waktu gue bilang gitu.
Gue nelen harga diri gue soal itu. Gue berharap bisa ngebantu dia dengan keinginannya yang aneh, tapi astaga! Gue ngerasa malu banget. Kalau aja lantai bisa nelen gue saat itu, gue nggak bakal berjuang.
Itu satu-satunya waktu gue ngerasa malu kayak gitu sepanjang hidup gue, bikin gue mempertanyakan diri gue sendiri apakah gue terdengar kayak orang mesum atau apa, tapi tunggu, Elyana bikin gue ngerasa lebih buruk.
"Aku rasa aku nggak butuh itu sekarang," katanya. Gue masih bisa ngerasa betapa kagetnya dia.
Gue nggak percaya jawabannya. Gue nggak tahu harus senang atau kecewa karena sepertinya usaha gue sia-sia dan lebih buruk lagi, citra gue jadi jelek.
"A-apa suasana hatinya berubah?" tanya gue, cuma buat mengurangi rasa canggung saat itu.
Dia sedikit ngangguk sambil gigit bibir bawahnya. Dia menghindari tatapan gue dan itu satu-satunya waktu gue bener-bener ngelepas dia.
"Haha!" Gue nggak bisa nahan buat nggak ketawa canggung waktu gue bahkan nggak seharusnya. "A-aku nggak percaya itu efektif!" Gue ketawa lagi.
Canggung—itu sangat canggung sampai yang gue mau cuma kabur.
"I-iya, itu membantu. T-terima kasih," katanya dan sama kayak gue, dia juga gagap.
"Y-ya, aku senang itu membantu." Keheningan berjalan di antara kita tepat setelah gue bilang ini, tapi dia memecah keheningan.
"Aku mau ke kamar," katanya. Gue tahu ini cuma alasan, tapi gue nggak bilang apa-apa lagi dan biarin dia pergi.
Gue berdoa dia nggak bakal balik badan karena kaki gue kayaknya nempel di lantai. Gue nggak pernah nyangka bakal berada dalam situasi yang canggung kayak gitu. Tapi, bagian yang paling sulit adalah fakta kalau gue ditolak.
Mungkin kedengarannya gila, tapi gue ngerasa gue bakal biarin dia pakai gue. Demi anak dan keselamatan mereka. Walaupun gue nggak tahu gimana gue bakal tampil kalau dia setuju, penolakan itu ngasih gue pikiran kalau lebih baik kalau dia nggak setuju.
Waktu gue balik ke kamar tamu, pikiran gue masih berkabut. Gue agak nyesel sama apa yang gue bilang karena ego gue terluka banget.
'Tapi gimana kalau dia setuju? Apa yang bakal gue lakuin? Gue nggak pernah nyoba tidur sama cewek seumur hidup gue.' Pikir gue dan pikiran gue mulai ngebayangin hal-hal dan menempatkan gue di adegan itu.
Hati gue berdebar kencang saat ini dan waktu gue rebahin punggung di kasur, celana piyama gue terasa sempit. Gue langsung rebahin diri gue di kasur buat menekannya, nguburin wajah gue di bantal sambil nutup kedua kepalan tangan gue.
Gue mencoba rileks dengan menghapus pikiran-pikiran itu. Gue nggak tahu berapa lama waktunya, tapi gue bisa ngerasain mata gue nutup. Akhirnya gue ketiduran, dan waktu gue buka mata, gue bisa lihat matahari bersinar lewat jendela.
Gue duduk di kasur dan ngecek waktu. Masih lumayan pagi. Gue menyelesaikan rutinitas pagi gue dan turun ke bawah, deg-degan. Gue diam-diam berdoa Elyana masih tidur karena gue nggak tahu gimana caranya gue bakal ngadepin dia, tapi yang bikin gue kaget, gue lihat dia di ruang makan, lagi nikmatin sarapannya.
"S-selamat pagi!" Gue sapa semua orang dengan canggung. Dua pelayan ada di ruang makan dan mereka nyapa gue balik sementara Elyana nggak bilang apa-apa.
Sarapan disajikan dan piring kosong udah nunggu gue di sisi meja tempat gue sering duduk. Elyana noleh ke arah gue. Waktu mata kita ketemu, gue terpaksa nyapa dia, "Selamat pagi!"
"Pagi," jawabnya pelan. Bagian 'selamat' nya hilang. Gue ngerti kenapa sih, tapi gue jadi curiga kenapa dia pagi banget dan dia berpakaian rapi pagi itu. Sepertinya dia mau pergi ke suatu tempat dan gue nggak bisa biarin dia pergi sendiri.
"Kenapa kamu kayaknya pagi banget hari ini? Mau ke mana?" tanya gue.
"Aku mau ketemu dokter hari ini," jawabnya tanpa ngelihat gue. Dia naruh garpu dan sendoknya dan ngelap mulutnya dengan serbet meja. "Aku mau ke mal setelah periksa. Aku cuma mau beli sesuatu buat kamar bayi," tambahnya kemudian, walaupun dia tahu gue bakal ngelarang dia karena Chelsea nyaranin dia buat nggak kecapekan.
"Ada yang kurang di sana? Kamarnya hampir penuh dan nggak ada lagi ruang yang tersedia," kata gue dan gue mulai naruh makanan di piring gue.
"Aku bakal cari lemari lagi. Ada banyak banget baju yang aku pesan dan yang besar udah penuh. Mungkin sesuatu yang bisa dipasang di dinding buat hemat tempat," ungkapnya.
"Kamu tahu kamu nggak boleh kecapekan, kan? Aku aja yang beli, dan aku bakal foto-foto jadi kamu bisa milih yang kamu suka," tawar gue.
Gue mastiin suara gue cukup tenang jadi dia nggak mikir gue lagi ngomel. Dia jadi terlalu sensitif akhir-akhir ini dan meninggikan suara sedikit aja langsung bikin dia netesin air mata.
"Nggak, nggak papa. Aku nggak bakal kecapekan; kita cuma di sana sebentar. Aku sama Daldalita dan Mona," desaknya.
Daldalita adalah salah satu pelayan di ruang makan saat itu. Gue ngasih dia tatapan dan dia senyum cerah ke gue buat nunjukin kalau dia bakal mastiin Elyana aman.
Gue nggak bilang apa-apa lagi. Gue biarin dia ngelakuin apa yang dia mau, tapi gue masih perlu ngomong sama kedua pelayan sebelum mereka pergi. Pas banget, karena Elyana udah selesai makan dan mau balik ke kamarnya.
Gue langsung manggil kedua pelayan dan ngasih mereka instruksi. Mereka janji bakal ngikutin instruksi gue dan itu cukup nenangin pikiran gue.
Setelah selesai makan, gue pergi ke kantor, pas banget Elyana mau pergi. Gue bersyukur karena kayaknya Elyana udah nggak terpengaruh sama apa yang terjadi. Karena itu, gue berharap hari itu bakal keren, tapi waktu udah jam sepuluh pagi, gue nerima telepon dari sopir Elyana bilang mereka di rumah sakit.
Gue ninggalin semuanya di kantor. Hati gue berdebar kencang waktu di jalan. Gue buru-buru ke sana dan lihat dia rebahan di kasur.
"K-kenapa?" tanya gue ke dia. Dia nggak bisa ngomong sepatah kata pun, tapi karena dia nangis dan megangin perutnya, gue tahu dia lagi kesakitan parah.
Gue pengen marahin dia—mereka, tapi gue sadar itu juga salah gue karena gue ngebiarin dia pergi. Gue malah noleh ke pelayan dan nanya detailnya dan saat itulah gue tahu mereka udah mau pulang waktu Elyana bilang ke mereka kalau dia nggak enak badan.
Chelsea udah datang. "Bisa bicara sama kamu sebentar?" tanyanya. Dia nggak nunggu jawaban gue lagi. Dia langsung pergi, nggak ngasih gue pilihan selain ngikutin.
Dia berhenti waktu kita udah jauh dari tempat kita ninggalin Elyana. "Kita ada masalah," dia mengumumkan saat dia berbalik menghadap gue.
Gue langsung diliputi rasa gugup. Gue tahu itu serius karena cara dia ngelihat gue dan waktu gue denger beritanya, lutut gue gemetaran.