Bab 12
'Gak! Gak mau!' seru aku tegas dan hampir berdiri dari dudukku ketika Felicity tiba-tiba meraih lenganku dan membuatku tetap di tempat duduk.
'Cuma sekali aja, Elyana. Tolong... mohon... kencan sama dia biar dia berhenti neken aku. Aku ada klien lain yang harus diurus. Aku berencana pergi ke suatu tempat. Aku gak punya banyak waktu buat atur dia buat klien cewekku sekarang karena aku udah coba berkali-kali. Tolong! Bantu aku, cuma sama orang ini, tolong!' mohonnya. Dia bahkan berlutut di lantai yang paling bikin aku kaget.
'H-Hey, cowok... bangun!' Perintahku padanya, tapi dia gak mau dengerin. Aku gak percaya dia bakal minta aku ngelakuin itu setelah sekian lama kita pisah tapi dia kayaknya lagi ada masalah sama kliennya, dan aku juga lihat itu, tapi aku harus gimana? Aku juga punya rencana lain.
'Pleaseee?' pintanya. Dia tetap berlutut sambil kedua telapak tangannya saling bersentuhan. Felicity kelihatan kayak lagi berdoa, tapi tahu apa yang dia mau dari aku, aku bukan orang suci buat setuju.
'Aku gak mau kencan sama cowok itu dan lagipula, aku gak yakin aku cocok sama seleranya,' alasanku.
'Aku setuju dalam beberapa hal kalian gak cocok, tapi kita bisa atur nanti; kencan aja sama dia biar aku bisa urus klienku yang lain dan terus cari jodoh buat cowok yang nuntut itu.'
'W-Waduh? Apaan sih?' Aku tiba-tiba penasaran sama apa yang ada di pikirannya.
'Berarti kamu mau jadi kencannya dia sekarang?' tanyanya, dan muka sahabat gay-ku yang gila itu tiba-tiba berseri-seri.
Aku gak mau ngecewain dia tapi... aku liatin mukanya. Melihat make up-nya yang tebal bikin aku berkerut. Lipstik yang dia pakai terlalu merah menyala dan lebih merah dari punyaku. Bulu mata tebalnya yang aku tahu bukan palsu bisa bikin siapapun tersinggung.
Aku menatap matanya lurus-lurus dan menjawab, 'Enggak.' Terus mengangkat sebelah alisku.
Dia ngasih aku tatapan kecewa, dia berdiri dari berlutut dan kembali ke kursinya tepat di seberangku. Dia menyilangkan tangannya di dada dan menatapku dan alisnya cuma beberapa milimeter terpisah. Aku tahu dia lagi mikir dari cara dia cemberut dan natap aku.
'Apa yang harus aku lakuin biar kamu mau bilang iya? Mau tas baru? Rumah sama tanah? Mungkin mobil baru?' tanyanya sambil menggerakkan salah satu tangannya seolah dia seorang penyihir memegang tongkat ajaib. Dia bikin aku cekikikan. Aku gak percaya dia nyoba nyogok aku pakai itu meskipun dia tahu itu gak ada gunanya, tapi aku akuin, aku jadi tergoda buat ikutin alurnya.
'Kamu serius soal itu?' tanyaku padanya setelah tertawa keras karena tawarannya.
'Aku cantik dan serius banget! Gak jelas? Dia seharga satu tas. Aku dengar dia dermawan. Kebetulan aja dia punya kelakuan. Kamu tahu...'
'Apakah kedermawanan cowok itu kena kamu, dan kamu kayaknya stres banget karena dia?'
'Ya ampun! Bantu aku aja soal ini—kenapa aku ngerasa kamu bukan sahabat terbaikku lagi?' Dia memalingkan muka secara dramatis. Dia tiba-tiba meraih serbet dan berakting seolah dia lagi ngusap air mata dari matanya. Itu dramatis banget... tapi cuma sesaat, aku gak mikir dia lagi akting pas aku lihat air mata. Dia mulai ngendus dan ngusap hidungnya pakai bagian lain dari kain yang dia pegang.
Kami lagi di restoran Italia, dan aku bisa ngerasain pasang mata datang dari berbagai arah ngeliatin aku. Restoran itu agak jauh dari kantor Felicity, tapi dia bilang dia suka sesuatu yang Italia, dan aku gak lagi ngotot karena itu traktiran dia.
Kami udah nunggu pesanan kami ketika dia terus memohon. Dia terus minta aku buat kencan sama kliennya yang katanya nuntut bernama Florentin. Aku tahu nama lengkapnya Quintin Generoso. Dia mau ulang tahun ke-40 dalam dua bulan, seorang playboy yang udah mau mapan, dan dengan banyaknya cewek yang udah dia temui, seorang playboy susah nyari jodoh di antara mereka. Yah, itu gak bikin kaget sama sekali dengan ketidaksabarannya dan kelakuannya terhadap orang-orang.
Aku gak yakin harus jawab apa. Aku gak mau pergi kencan, tapi di saat yang sama, aku mau bantu dia. Dia terus nangis. Bahkan jadi lebih keras. Orang-orang udah ngeliatin kami dan itu memalukan buat aku karena kayaknya Felicity gak peduli. Aku nutup mata dan bikin keputusan.
'Oke, kapan?' tanyaku padanya. Dia tiba-tiba berhenti nangis.
'Ya Tuhan! Aku tahu! Aku gak salah pilih kamu, sahabat terbaikku! Ya ampun, Elyana!' serunya, menekankan siapa kami, aku malu pas aku lihat orang-orang ngeliatin dan mereka kayaknya udah kesal sama suara bising Felicity.
'Bisakah kamu pelankan suaramu? Seluruh restoran udah ngeliatin kita,' kataku padanya karena mereka minta kita pergi. Jujur, suaranya bisa nyakitin gendang telinga orang. Lebih kayak teriakan setiap kali dia nahan suaranya pas dia ngomong.
Ketika dia sadar apa yang aku bilang itu beneran dia hampir ngumpet di bawah meja. Aku pikir dia gak peduli. Dia minta maaf atas suara bisingnya dan buat nunjukin dia beneran minta maaf, dia nraktir semua orang dengan makanan penutup mereka dan kayaknya gak ada apa-apa yang terjadi sesudahnya.
'Dia bales! Dia bilang dia oke. Kamu bisa ketemu dia nanti.'
'Dia gak kelihatan kayak pengen banget kencan sama aku secepatnya, kan?' Aku mengangkat alisku karena Felicity baru aja ngirim pesan ke kliennya yang nuntut itu. Dia langsung bales dan pengen ketemu aku secepat mungkin.
'Gak jelas? Kelihatannya dia pengen banget kayak dia punya alasan pribadi kenapa dia bersikap begitu.'
'Oh, aku bisa nyium tekanan dari keluarganya. Sering begitu,' jawabku karena aku kaget sama informasi yang dia kasih ke aku.
Aku tiba-tiba inget mantan suamiku. Kami juga dapat tekanan dari keluarganya buat langsung ngasih mereka cucu. Lebih ke ayahnya sementara ibunya nyuruh kami sabar.
Kalau cowok itu ditekan buat cari jodoh sama anggota keluarga, itu masuk akal. Aku ngerti banget itu.
'Jadi, kamu oke nanti malam?' si tukang tipu bertanya.
'Aku oke kalau dia aman buat dideketin,' jawabku cepat.
'Yah, iya, tentu saja. Aku punya pengecekan latar belakang semua klienku, dan aku bisa bilang orang itu bisa dipercaya meskipun dia playboy alami. Menurut sumberku, minta cewek tidur sama dia bukan kebiasaannya. Kamu tahu, dia masih seorang pria terhormat. Dia cuma takut dituntut,' kata Felicity dengan gerakan memutar matanya yang cocok dan karena dia lagi nyetir, dia gak bisa melakukan gerakannya dengan tangan.
Kami lagi dalam perjalanan kembali ke kantornya. Aku minta supir buat datang dan jemput aku di tempat yang sama di mana dia ninggalin aku. Ketika kami sampai, supirnya masih belum ada jadi Felicity dan aku pakai waktu itu buat ngobrol. Ketika kami di dalam kantornya, dia ngasih aku beberapa file di mana informasi dasar tentang cowok itu dicetak di sana.
'Nih,' dia meraih yang lain, cuma buat aku menemukan dua kertas HVS dan catatan tulisan tangan.
'Itu kualitas yang dia cari. Baca, dan kamu bakal tahu kalau kamu cocok. Cuma ada beberapa hal yang gak bakal cocok buat dia, tapi kamu bisa bohong cuma malam ini aja, dan setelah kencanmu, kamu gak muncul lagi.' Aku mengangkat alisku ketika dia nyuruh aku gak muncul lagi setelah kencan. Aku menatap lurus ke mukanya dan sebuah ide terlintas di pikiranku.
'Tunggu—kenapa kayaknya kamu punya rencana lain sama klienmu itu?' tanyaku karena rasa penasaranku.
'Yah, sebenarnya, aku mau dia suka sama kamu. Dia cowok yang sangat suka mengatur. Kamu gak tahu betapa dia udah bikin aku pusing sejak dia datang ke kantorku.'
'Jujur, aku suka apa yang kamu pikirin. Kamu mau aku ngasih dia pelajaran? Aku merasa kayak aku siap buat bersenang-senang sekarang.'
'Apa pun yang kamu pikirin, lakuin. Aku bakal urus setelahnya. Cuma jangan menyerah sama cowok itu. Kayak yang udah aku bilang, dia playboy, jadi hati-hati.' 'Aku pikir kamu lupa aku punya sisi brengsek,' kataku dengan sedikit gaya.
'Wah! Aku beneran lupa soal itu,' ucapnya, bikin kami berdua tertawa keras.
Setelah percakapan itu, aku biarin dia kerja sementara aku fokus baca file Quintin Generoso. Aku belajar banyak yang mungkin udah bikin banyak cewek terkesan di latar belakangnya. Selain cowok yang ganteng, kaya, dan bertanggung jawab, baca kalau dia anak mama dan ngasih aku senyum konyol. Wah, apa sih! Anak mama, playboy! Susah dipercaya. Kalau cowok itu beneran anak mama, dia gak bakal jadi playboy, karena ibunya bakal jadi penuntunnya dan dia bakal menghargai wanita.
Aku terus baca, dan aku tahu dia udah gak punya ibu lagi, dan itu bikin aku sedih, tapi bahkan setelah aku baca bagian itu, pertanyaan aku tentang gimana dan apa yang memotivasi dia buat jadi playboy masih belum terjawab.
Cuma terlalu menarik— aku cuma berhenti memindai file ketika telepon selularku berdering di dalam tas tanganku. Ternyata itu supir yang udah nelpon.
'Hey, cewek! Aku harus pergi!' Aku melambai pada Felicity.
'Oke, hati-hati!' Tatapannya tertuju pada layar komputernya saat dia bilang ini. Aku berdiri dari kursiku dan mau keluar dari kantornya ketika dia tiba-tiba ngomong. Dia ngasih aku waktu dan nama restoran tempat aku bakal ketemu orang yang nuntut ini.
'Oke,' gumamku.
'Jangan lupa update aku, ya!' teriaknya sebelum aku keluar dari kantorku.
'Iya, aku bakal!' Jawabku 'Aku masih punya ini, aku belum selesai baca semua catatanmu,' tambaku sambil mengangkat file yang aku pegang tepat di atas kepalaku.
'Tentu, cuma jangan lupa balikin,' jawabnya cepat.
Dia gak lagi nunggu jawaban aku, tapi aku bakal balikin meskipun dia gak minta. Aku cuma butuh lebih banyak informasi tentang cowok yang bakal aku kencanin, dan aku akuin, dia menarik. Aku langsung lihat mobil yang nunggu aku. Aku minta supir buat bawa aku ke mall.
Kami di jalan ketika aku kembali memindai file dan saat aku melakukan itu, aku nyadar sesuatu tentang kenapa dia kayaknya familiar ketika aku lihat dia sebelumnya hari itu. Aku udah ketemu dia di acara di Inggris, di lelang tanah dan rumah. Aku inget dia karena mantan suamiku yang ngenalin dia ke aku.
'Dunia memang kecil, kan?'
Kami sampai di pusat perbelanjaan dan aku nyari butik. Pergi buat nyari beberapa pakaian yang aku butuhin karena aku cuma punya beberapa di koperku. Aku ninggalin sebagian besar pakaianku di rumah mantan suamiku, dan aku gak lagi peduli apa yang bakal dia lakuin sama mereka.
'Dia bisa pakai itu kalau dia mau,' pikirku.
Aku nyari sesuatu buat dipakai di kencan aku. Berencana buat nyari sesuatu yang dia gak suka. Gak ada rencana buat bikin dia terkesan atau terlihat menggoda di depannya. Yang aku mau cuma ngasih dia pelajaran yang aku tahu dia gak bakal lupa seumur hidupnya.
Aku udah siap-siap, tapi aku ragu soal ketemu Quintin. Aku capek belanja pakaian sore itu. Ketika aku seharusnya cuma beli beberapa barang buat ditaruh di lemariku, aku beli hampir 10% dari gaun, baju tidur, dan sepatu yang dipajang cuma di satu butik.
Siapa yang bisa nyalahin aku sih? Warna pakaian yang indah dan kelembutan kainnya terlalu lembut buat kulit. Cocok buat negara tropis kayak Filipina. Desainnya lucu, dari motif bunga sampai cetakan, dan aku ngerasa kayak remaja lagi setelah nyoba beberapa.