Trio mabuk
Ada seringai di bibirku saat aku melihat mereka bertiga ngobrol dengan gembira. Setahuku, ini pertama kalinya mereka minum alkohol.
"Woi, minum itu!" Bael udah kebanyakan mabok, aku tertawa dalam hati dan menyilangkan kakiku.
"Hei Yuniko, kenapa lo gak minum?" Cynrad bertanya yang bikin mereka berdua ngelihat ke arahku.
"Gue minum kok, udah banyak," kataku sambil nunjuk botol-botol kosong.
Gue emang udah banyak minum, sedangkan mereka, belum setengah jalan udah langsung kena.
"Ksara lo bilang, mari kita bicarakan apa yang harus kita lakukan," kata Pavel sambil bersandar di bahu Bael.
"Hmm, iya. Gue cuma nunggu kalian inget aja, gue gak mau ngerusak waktu seneng-seneng kalian tadi," kataku lalu tersenyum pada mereka.
"Hais, lo kebanyakan ngomong, bilang aja apa aturannya yang mau lo terapkan," kata Cynrad dan menuangkan anggur lagi.
Gue menyilangkan tangan dan bersandar di kursi.
"Pertama, kalian gak boleh nyentuh gue," kataku jadi mereka bertiga saling pandang dan tertawa bersamaan, bikin gue kesel sama mereka.
Apa yang lucu dari ucapan gue?
"Kita gak nyentuh lo, cuma Pavel yang nyentuh lo," kata Cynrad.
"Terus kenapa gue harus nyentuh lo? Mungkin nanti lo punya bakteri dan bisa nularin gue," kata Bael sambil tertawa. Gue capek banget.
"Udah, aturan pertama udah jelas buat kalian," kataku.
"Kenapa lo gak mau disentuh?" tanya Pavel, menghentikanku.
Kenapa? Tentu saja, karena ada beberapa gambar yang gue lihat setiap dia nyentuh gue.
"Aturan selanjutnya, turutin apa kata gue," kataku, gue gak jawab pertanyaan Pavel.
"Kita bisa ngapa-ngapain gak sih soal bagian itu, lo kan yang paling tau soal kota ini," kata Cynrad.
"Ketiga, kalian bertiga harus singkirin kebangsawanan kalian," kataku yang bikin Bael melihat ke arahku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Apa menurut lo ada untungnya kalau mereka tau kalau lo dari dalam istana? Bisa jadi masalah dan nyawa kalian dalam bahaya," kataku untuk membungkamnya. Gue capek banget.
Gue gak seharusnya bilang gitu, apa peduli gue kalau hidup mereka dalam bahaya? Itulah yang gue mau. Gue salah soal bagian itu.
"Keempat, hindari berseni, terutama Bael," kataku itulah sebabnya Cynrad dan Pavel tertawa, Bael menatapku dengan jahat dan menyilangkan tangannya.
"Berseni gak bikin cowok keliatan bagus. Bertindaklah seperti pria sejati," tambakku.
"Apa yang lo katakan udah nyakitin," katanya itulah sebabnya gue capek banget.
"Dan akhirnya..." Gue berhenti karena gue gak bisa mikir aturan lain yang perlu ditambahkan.
"Apa yang terakhir?" Pavel bertanya, gue melihat ke arahnya dan teringat lagi apa yang gue lihat ketika gue menyentuh gambar di ruang bawah tanah.
"Kalian gak boleh.... jatuh cinta sama gue," kataku, mereka bertiga terdiam sejenak dan Bael dan Cynrad tiba-tiba tertawa sementara Pavel hanya menatapku.
"Serius? Kayak kita berdua suka sama lo aja, lo bukan tipe cewek kita," kata Cynrad.
"Bagus." Gue lalu bilang untuk kerja keras. "Kalian juga bukan tipe cowok gue, jiwa-jiwa muda," kataku sambil minum anggur lagi.
Apa yang keluar dari mulut gue? Gue melihat tingkah laku Pavel yang menutup matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bael.
"Lihat cowok ini, dia pingsan," kata Bael dan tertawa. Gue gak mengalihkan pandangan dari Pavel. Beberapa menit kemudian Cynrad tertidur sementara mata Bael tertutup.
Gue lupa melakukan rencana gue untuk mengacaukan tempat ini, gue terlalu tertarik melihat Pavel.
"Hai, Yuniko," kata Bael pelan dan menunjuk ke arahku, dia tersenyum lalu tertawa. "Soal aturan... aturan terakhir lo," katanya dan meletakkan lengannya di atas meja lalu tertawa. "Kita gak akan... gak akan pernah suka sama lo... selamanya," katanya saat dia kehilangan kesadaran. Gue cuma ngeliatin mereka bertiga.
"Bagus," bisikku lalu menarik napas dalam-dalam.
Gue melihat sekeliling dan melihat bahwa yang lain yang bersama kita juga gak sadarkan diri dan cuma ada beberapa dari kita yang tersisa.
"Kenapa gue kepikiran buat ngebuktiin lo mabuk? Gue bahkan gak tau mau bawa lo ke mana," kataku pada diri sendiri lalu berdiri.
Gue berbalik ke jendela dan melihat sebuah rumah kecil tepat di seberang rumah bir. Gue menarik napas dalam-dalam lalu menggunakan kekuatan gue untuk meluruskan tubuh mereka dan memerintahkan mereka untuk berjalan mengikuti gue.
Ketika gue memasuki rumah kecil itu, Wanita yang bertanggung jawab itu langsung menyambutku.
"Satu kamar untuk kita berempat," kataku jadi dia melihat ke belakang gue di mana mereka bertiga berdiri dengan mata tertutup.
"A-apakah mereka baik-baik saja?" Dia bertanya lalu melihat ke arahku.
"Mereka baik-baik aja, mereka emang gitu kalau lagi mabuk, mereka menutup mata sambil berjalan," kataku, dia mengambil sesuatu dari
laci lalu diserahkan padaku, gue baru aja mau mengambilnya ketika tangan gue tiba-tiba terbakar yang menyebabkan gue menangis dan kehilangan kekuatan yang mengelilingi mereka bertiga.
Gue melihat ke tangan gue dan melihatnya berasap, lalu gue melihat ke arah wanita yang melihat mereka bertiga dengan kaget.
"A-apakah kau baik-baik saja?" Wanita itu bertanya lalu melihat ke arahku, gue melihat ke tangannya. Itulah alasannya. Dia memakai gelang dengan liontin salib dan itu diberkati karena kalau gak diberkati mungkin gue gak akan terluka.
"Tidak apa-apa, dada gue cuma terasa sesak," kataku dan menyembunyikan tangan kiri gue di belakang punggung dan tersenyum pada gadis itu.
"Tolong letakkan kuncinya," kataku jadi dia mengerutkan kening dan dengan bingung meletakkan kunci di depannya. Gue cuma tersenyum dan menggunakan kekuatan gue pada mereka bertiga lagi.
Gue mulai berjalan itulah sebabnya ketiga tubuh itu mulai mengikuti gue.
"Sial." Begitu gue menjauh dari wanita itu, gue melihat ke tangan gue lagi sambil berjalan.
"Gue harus hati-hati lain kali," kataku pada diri sendiri dan membuka pintu kamar tempat kita menginap. Ketika gue masuk ke dalam, Para orang-orang suci yang berada di sisi itu langsung muncul di hadapanku yang menyebabkan gue berhenti.
"Apakah ini gereja tempat kita pergi?" Gue bersikeras, gue gak bisa masuk ke dalam kamar sepenuhnya, itulah sebabnya gue membiarkan mereka bertiga masuk dengan kekuatan gue, tapi sebelum mereka sampai di tempat tidur, kekuatan gue hilang, karena itu berasal dari patung-patung orang suci yang diberkati. Kesel
"Gimana caranya gue bisa membaringkan kalian di tempat tidur? Tentu saja." Kataku pada diri sendiri dan menyilangkan tangan, gue melihat ke lobi ketika gue melihat wanita tadi.
Gue segera berdiri tegak lalu melambai ke arahnya untuk mendapatkan perhatiannya.
"Apakah kau membutuhkan sesuatu?" Dia bertanya jadi gue mengangguk, dia berjalan mendekatiku jadi gue tersenyum.
"Bisakah kau tolong bawa mereka ke tempat tidur dan membaringkan mereka? Gue cuma mau pergi sebentar," kataku jadi dia melihat tingkah laku mereka bertiga yang ada di lantai.
"Karena mereka kehilangan kesadaran," kataku jadi dia melihat ke arahku.
"B-boleh," katanya lalu masuk ke dalam.
"Tolong tutup saja pintunya kalau sudah membereskan mereka," kataku lalu keluar dari rumah kecil itu selamanya.
Kalau dilihat-lihat, orang-orang seperti gue emang gak diterima di tempat itu. Mau kemana gue menghabiskan malam? Gue melihat sekeliling dan melihat pohon besar yang ada di belakang rumah kecil itu, gue tersenyum lalu berjalan mendekati pohon itu.
"Gak ada pilihan," kataku sebelum memanjat pohon itu.