Berubah
"Maksud lo, Alada ada di badan lo sekarang, bukan lo?" tanya Cynrad ke gue setelah gue cerita apa yang terjadi dan kenapa gue ada di depan mereka sekarang, bukan di badan gue. Gue ngangguk. Cynrad cemberut terus ngeliatin orang tua itu.
"Pantesan lo beda." Kata dia terus ngeliatin gue. "Yang pengen gue omongin tuh badan lo. Cuma kaget aja soalnya lo beda, gara-gara bukan lo yang ada di badan lo." Katanya. Gue narik napas dalem-dalem.
"Gue pengen kasih tau Pavel kalau bukan gue yang ada di badan gue dan ada makhluk lain sama dia, tapi gue nggak punya tenaga karena gue tau kalau Pavel tau, dia bakal berantem sama orang yang ada di badan gue, sesuatu yang gue takutin karena dia terlalu kuat," kata gue, Cynrad senyum tipis terus genggam tangan gue tapi tangannya cuma nembus tangan gue jadi dia ketawa kecil.
"Tenang aja, kita bakal balikin badan lo dari Alada." Katanya, gue senyum.
Gue nggak tau apa gue bakal cerita ke mereka soal apa yang gue temuin tentang masa lalu gue dan masa lalu gue sama Pavel, gue nggak tau apa gue juga bakal cerita tentang Siir, dan soal kematian Avila. Gue yakin mereka nggak bakal ngerti.
"Yang perlu kita lakuin tuh singkirin apa yang ada di badan lo," kata Cynrad terus ngeliatin Gabriel.
"Kakek Gabriel, bisa bantu Ksara balik ke badannya?" tanya Cynrad ke orang tua itu, Gabriel cuma ngeliatin kita sambil mikir, dia geleng-geleng kepala terus narik napas dalem-dalem.
"Maaf, tapi gue nggak bisa ngeluarin makhluk kuat dari badan Ksara." Katanya terus merem.
"Gue udah terlalu tua dan lemah buat lakuin ritual pengusiran setan, Lagian, bukannya lo bilang ada yang bakal bantu lo, Ksara?" Tanyanya jadi Cynrad ngeliatin gue.
"Ngomong-ngomong, siapa yang lo bilang bakal bantu?" tanya Cynrad, gue cuma ngeliatin matanya dan senyum.
"Nggak penting dia siapa," kata gue, gue nggak mau buka rahasia di balik kepribadian Siir, bisa aja ngerusak rencana kita buat ngalahin Alada secara kebetulan.
"Sekarang permintaan gue cuma satu, lo bersikap normal di depan Alada dan Pavel sampai kita bisa mikirin cara buat gue balik ke badan gue. Ini bakal jadi rahasia kalau gue ngobrol sama lo." Kata gue, gue ngeliatin mereka berdua yang lagi ngeliatin gue.
"Gue nggak mau kalian kasihan sama masalah kita, yang gue mau cuma dukungan dan sekutu," kata gue, Cynrad senyum.
"Lo bisa andelin gue kalau soal kayak gitu," kata Cynrad sambil senyum ke gue, gue senyum terus ngeliatin orang tua itu.
"Kita bakal lakuin apa aja buat jaga Pavel aman di sisi Alada, sambil nunggu lo bantu kita," kata Gabriel, gue ngangguk sambil ngeliatin mereka.
"Makasih." Butuh beberapa jam lagi, kita cuma ngobrol soal apa yang terjadi pas gue nggak sadar, gue nggak inget kejadian itu, tapi langsung aja pikiran gue balik ke perjanjian gue sama Abiah.
Sekarang gue lagi jalan di jalur ke kamar Siir sendiri sambil mikirin perjanjian gue sama Abiah.
"Tolong Ksara, gue mau bikin perjanjian sama lo tapi gue harap lo nggak ambil nyawa dan jiwa orang tua gue sebagai gantinya." Katanya jadi gue noleh ke dia, dia serius sama apa yang dia omongin, dia keliatan niat buat pulang bareng mereka.
"Tolong Ksara." Dia ngeliatin gue dan genggam kedua tangan gue, gue ngeliatin dia terus balik ngeliatin mukanya.
"Kalau gue bilang pertukaran, itu nggak bakal berubah," kata gue jadi tangannya pelan-pelan ngelepas tangan gue, gue nelan ludah dan merem. Gue bakal mempertaruhkan separuh hidup gue kalau gue baikan lagi sama dia.
"Gitu ya?" Katanya pelan, gue langsung genggam tangannya. Dia ngeliatin gue, sekarang gue ngeliatin matanya, tatapan memohon. Gimanapun, hidup para iblis bakal bertahan beberapa ratus tahun sebelum mereka hilang sepenuhnya. Gue udah hidup dua ratus tahun, hidup gue berkurang seratus tahun pas gue bikin perjanjian sama Abiah buat bantuin gue bikin Pavel jahat, sekarang, gue bakal bikin perjanjian sama dia lagi. Dan dengan kesempatan ini separuh sisa hidup gue bakal hilang.
"K-ksara, kenapa lo--"
"Gue yang-- Gue bakal bikin perjanjian sama lo," kata gue jadi dia berhenti dan kaku. "Lo inget pas gue bikin perjanjian kita berdua?" tanya gue, dia tetep ngeliatin gue. "Gue nggak ngambil apa-apa lagi dari lo, gue nggak minta apa-apa lagi sebagai imbalan." Gue nunduk. "Gue bakal bikin perjanjian sama lo karena gue mau Pavel jadi raja." Gue senyum sama apa yang gue bilang.
"K-ksara..." Dia manggil gue,
Gue ngeliatin dia. "G-nggak bakal terjadi apa-apa sama gue atau lo saat gue nerima perjanjian lo, kan?" Tanyanya, gue cuma natap matanya terus ngangguk.
"Nggak, nggak bakal terjadi apa-apa sama lo atau gue." Gue bohong, gue liat ada senyum di bibirnya.
"Kalau gitu... gue bakal nerima apa yang lo tawarin, supaya gue bisa pulang ke kita dan Pavel bisa jadi raja." Katanya, gue senyum. Gue bakal lakuin hal yang benar, Pavel nggak bakal kena imbasnya, itu bakal bikin lebih gampang buat kita balik ke winsoul.
"Kalau gitu… ini syarat gue," kata gue dan senyum ke dia. "Kutukan di winsoul bakal hilang sementara dan kita bisa balik ke sana tanpa kehilangan ingatan lo," kata gue, dia kaget.
"Jangka pendek?" tanyanya.
"Alada terlalu kuat, gue cuma bisa kasih jeda sebentar," kata gue.
"Terus kapan kutukannya balik?" tanyanya. Gue senyum.
"Kutukan di winsoul bakal hilang sementara dan cuma balik pas tanduknya putus, ekornya patah, dan si binatang tersenyum lalu jadi debu," kata gue sambil genggam tangannya.
Gue berhenti jalan dan ngeliatin langit yang dipenuhi bintang-bintang gemerlap.
"Sebentar aja," kata gue sambil ngeliatin langit. Gue nggak tau kenapa tiba-tiba gue ngerasa sedih karena inget perjanjian gue sama Abiah.
Gue ngerasa air mata gue jatuh sambil ngeliatin langit.
Yang gue mau cuma seneng-seneng sama Pavel, tapi gimana gue bisa dapetin kebahagiaan yang gue cari kalau takdir aja berusaha misahin kita?
"Karena malam ini dingin, cintaku." Gue langsung noleh ke samping dari mana seseorang ngomong, gue langsung liat Pavel juga lagi ngeliatin langit sambil ada kesedihan di matanya, air mata gue makin lama makin banyak sambil ngeliatin mata sedihnya.
"Urusan lo udah berubah." Katanya sambil ngeliatin langit.
"Lo kayaknya nggak punya hati." Dia berbisik terus nunduk.
"Pavel.." Gue nyebut namanya padahal gue tau dia nggak bakal denger gue.
"Yang gue mau cuma.... mari kita balik kayak dulu, Karma," bisiknya dan di saat yang sama air mata mulai jatuh dari matanya, gue mendekat ke dia dan mau meluk dia pas gue nembus badannya yang bikin air mata gue makin banyak.
"Pavel... Pavel, gue di sini." Kata gue nangis sambil ngeliatin dia yang juga nangis.
"Pavel... Pavel, itu bukan gue." Gue berbisik di telinganya, gue kaget pas dia tiba-tiba ngeliat ke arah gue seakan dia kaget.
"Karma.." Dia manggil sambil ngeliat ke arah gue.
"Pavel, lo bisa liat gue?" Tanya gue tapi dia nggak jawab, dia narik napas dalem-dalem terus ngapus air mata yang jatuh dari matanya.
"Gue masih bisa denger lo dari sini." Katanya terus ngeliatin langit, seakan langit dan bumi udah ngejatohin gue, gue kira dia liat gue, gue kira gue bakal bisa ngobrol lagi sama dia.
"Kenapa lo berubah... Karma?" Dia berbisik di udara sambil ngeliatin langit, gue berdiri di sampingnya dan juga ngeliatin langit.
"Gue nggak berubah Pavel," jawab gue sambil merhatiin langit.