Gabriel
Gue terus ngikutin Cynrad meskipun udah lama banget pengen ketemu dan lihat Pavel. Gue milih ngikutin Cynrad, kayak yang gue bilang, gue bakal cari cara buat balik ke raga gue dan bareng Pavel lagi. Gue nggak bakal biarin Alada tetep di raga gue lama-lama, soalnya banyak orang deket gue yang nyadar kalau sikap gue ke mereka udah berubah.
Cynrad masuk ke sebuah pintu, makanya gue ngikutin. Pas masuk pintu itu, mata gue langsung nyari Gabriel. Dari tempat gue berdiri, gue lihat dia lagi tiduran di ranjangnya.
"Perdana menteri lagi istirahat," kata Yuniko-nya Gabriel ke Cynrad. Cynrad ngangguk, terus ngelihat ke arah orang tua itu, abis itu balik lagi ngelihat ke Yuniko.
"Tolong kasih tau dia pas bangun kalau gue jenguk," kata Cynrad.
"Siap, Bos," kata Yuniko itu sambil hormat. Cynrad mau balik badan pas Gabriel tiba-tiba kebangun dan ngos-ngosan.
"Kakek Gabriel!" panggil Cynrad khawatir, terus nyamperin orang tua itu. Gue ngelihat gimana Cynrad ngerawat Gabriel, terus ngasih dia air. Gue ngelihat Gabriel ngos-ngosan terus ngelihat ke Cynrad.
"Lo baik-baik aja?" tanya Cynrad ke Gabriel, orang tua itu ngangguk terus narik napas dalem-dalem dan nenangin diri.
"Ksara mana?" tanya Gabriel, bikin dahi gue berkerut. Kok dia nyariin gue?
"Di kamarnya, kenapa?" tanya Cynrad. Gabriel natap mata Cynrad dalem-dalem terus genggam tangan Cynrad yang lagi ngebantuin dia.
"Gue mimpi buruk banget," kata orang tua itu. Cynrad noleh ke pelayan-pelayan yang ada di situ terus ngasih isyarat buat keluar dari kamar.
"Tinggalin kita berdua," perintah Cynrad. Mereka langsung nurut dan hormat sebelum keluar dari kamar Gabriel. Pas cuma ada mereka berdua, Gabriel dan Cynrad duduk dengan bener.
"Mimpi apa, Kakek Gabriel?" tanya Cynrad. Orang tua itu nelen ludah, bikin gue makin deg-degan sambil ngelihat dia dan nungguin apa yang bakal dia omongin.
"Ada pesta di sini, di istana, pesta di mana gue nggak lihat Ksara bareng kita, tapi kita punya makhluk yang selalu ada di samping Pavel. Gue nggak tau siapa dia, tapi gue denger Pavel manggil dia Karma," Gue cemberut pas denger cerita Gabriel. Jangan-jangan Alada yang dimaksud orang tua itu ada bareng Pavel di mimpinya, dan yang dipanggil Pavel Karma.
"Sampai ada masalah di istana, gue nggak tau apa gara-gara cewek itu, tapi pas masalahnya mulai, gue lihat Ksara," Suaranya gemeteran pas nyebut nama gue. Aura gue jadi lebih serius sambil ngelihat mereka berdua.
"Gue lihat dia.... bunuh Pavel," Gue langsung kaku gara-gara apa yang dia omongin.
"A-apa?" tanya gue kaget sambil ngelihat dia, gue geleng-geleng kepala terus ketawa. "Gue nggak mungkin lakuin itu," kata gue, meskipun gue tau mereka nggak bakal denger gue.
"Gue lihat gimana dia nusuk Pavel," tambah Gabriel, bikin gue langsung nyamperin dia dan nampar dia, tapi tangan gue cuma nembus mukanya.
"GUE BISA LAKUIN ITU!" gue teriak terus tiba-tiba narik alat yang ada di deket gue, bikin alat itu jatuh. Gue kaget karena alat itu goyang pas mereka lagi berdiri dan Cynrad ngelihat ke alat yang gue tarik, gue ngelihat tangan gue terus ngelihat ke alat itu lagi.
Cynrad berdiri buat nyamperin kaca yang ada di lantai terus ngambilnya dan ngelihat ke Gabriel.
"Jendelanya ditutup, nggak mungkin angin yang bikin ini," kata Cynrad, gue ngelihat keseriusan Gabriel.
"Kita punya teman yang nggak bisa kita lihat," kata Gabriel serius terus merem.
"Gue butuh bantuan lo," kata gue dan mau nyamperin dia pas tubuh gue tiba-tiba lemes.
Gue ngelihat Gabriel yang lagi berbisik sesuatu sambil merem.
"Gue butuh... bantuan," kata gue susah payah, suasana jadi makin berat di tempat gue berdiri.
"Ada roh di sini," kata Gabriel serius terus buka mata.
"Siapapun lo, keluar dari kamar gue sekarang!" teriak dia, bikin gue makin lemes.
"Gue butuh... bantuan," Air mata gue jatuh sambil ngos-ngosan.
Gue nggak tau kenapa ingatan-ingatan gue pas bareng mereka di luar winsoul kayak balik lagi, ingatan pas pertama kali ketemu mereka dan Abiah. Kayaknya kayak mimpi pas ingatan-ingatan itu tiba-tiba muncul di gue. Sampai tiba-tiba sekeliling jadi tenang, hening, dan gue nggak bisa lagi denger doa Gabriel yang lemah.
Gue pelan-pelan buka mata, dari tempat gue berdiri, gue lihat Gabriel ngelihat gue dengan ekspresi kaget di matanya.
"Kakek Gabriel... lo baik-baik aja?" tanya Cynrad dan nyamperin Gabriel yang lagi ngelihat gue.
Air mata gue terus ngalir sambil natap mata dia.
"Tolong... gue butuh bantuan lo," kata gue nangis sambil ngelihat dia. "Cuma lo... yang bisa bantu gue balik ke raga gue," tambah gue.
"Ksara," Dia nyebut nama gue terus pelan-pelan nyamperin gue.
"Kakek Gabriel..." panggil Cynrad, dia duduk di depan gue dan ngelihat gue.
"Ksara... ini lo," kata dia sambil ngelihat gue.
"Dia mana? Kakek Gabriel, lo ngomongin apa sih?" Pavel nanya Gabriel bingung, air mata gue terus ngalir sambil ngelihat orang tua itu.
"Tetep di rumah, Ksara.... gue nggak maksud buat nyakitin lo," kata dia, tapi air mata gue makin banyak karena rasa kasihan yang gue rasain, soalnya akhirnya gue nemuin sekutu gue.
"Orang tua..." panggil gue dan meskipun pengen meluk dia, gue nggak bisa karena gue tau gue cuma bakal nembus tubuhnya.
"Kakek Gabriel..." Gabriel dan gue ngelihat Cynrad barengan, auranya keganggu sambil ngelihat orang tua itu.
"Lo lihat Ksara? tapi Ksara nggak ada di depan lo," kata Cynrad, orang tua itu geleng-geleng kepala.
"Dia di sini, Cynrad... dia bareng kita," kata Gabriel terus ngelihat gue, gue ngerasain rasa takut dari Cynrad.
"Dan gue rasa dia ngikutin lo ke sini… karena dia butuh bantuan," tambah orang tua itu sambil ngelihat gue, kamarnya hening, nggak ada satu pun dari kita yang ngomong.
"K-kalo lo beneran bisa lihat dia... siapa Ksara yang ada di kamarnya sekarang?" tanya Cynrad, bikin orang tua itu ngelihat dia.