Pangeran Pavel
Saya senyum ke mereka bertiga waktu saya berdiri di depan mereka, target saya keliatan kaget dan bingung sementara dua orang yang sama dia lagi duduk di sebelahnya sambil nyilangin tangan.
"Kamu Yuniko baru?" Target saya nanya ke saya, dan saya ngangguk. Dia cemberut terus ketawa.
"Seriusan, ini keajaiban banget mama ngambil seorang perempuan yuniko." Dia bisik terus liat ke saya.
"Oke, kamu yuniko baru saya." Kata dia yang bikin dua orang yang sama dia ngeliat dia gak enak.
"Apaan sih?" Pada saat yang sama, dua cowok nanya ke dia.
"Pavel, lo gak bisa gitu aja percaya sama dia." Kata cowok yang tingginya sama kayak saya.
"Kenapa?" Pavel nanya ke dia, cowok itu narik napas dalem terus nonjok pangeran itu keras.
"Gimana kalo dia mata-mata atau musuh, gak bahaya apa? Lagian, lo gak mikir apa kenapa yuniko baru lo cewek? Gimana kalo dia gak ikut seleksi dan dia psikopat yang pura-pura jadi yuniko lo?" Dia nanya, Pavel, ketawa terus mukul cowok itu keras.
"Dia gak gitu." Sambil ketawa dia bilang terus liat ke saya.
"Kok bisa gitu sih?" Bael nanya waktu dia manggil tadi.
"Cuma ngerasa aja." Jawaban pangeran itu simpel jadi saya senyum, mereka berdua kaget dan udah siap protes waktu pangeran ngomong lagi.
"Ngomong-ngomong, ini Bael." Kata pangeran sambil nunjukin tangannya ke cowok yang lebih tinggi dari kita, cowok.
Dia cuma naikin alis.
"Dan ini Cynrad." Kata dia dan nunjuk cowok yang rambutnya panjang dan tingginya sama kayak saya. "Temen-temen saya." Kata dia dan senyum ke saya, saya cuma senyum keras.
"Lo tau kan yuniko ngapain soalnya sepupu lo yuniko gue, kan?" Pertanyaan ini buat saya.
"Iya," Saya jawab kenapa Bael berdiri dan nunjuk ke saya.
"Heh cewek, hormat sama pangeran, bilang ‘Iya yang mulia'." Dia bilang gitu jadi saya liat pangeran dan ketawa.
"Bukan tugas saya buat bilang gitu ke dia," Saya bilang jadi pangeran senyum.
"Oke, gak enak. Kita cuma manggil dia pasukan, ngomong-ngomong. Gabung sama gue nanti di aula, gue bakal ajarin sesuatu." Kata dia jadi saya ngangguk.
"Gimana dengan Pavel? Tegas dikit, dia aja gak hormat sama lo." Cynrad bilang gitu makanya Pavel ketawa.
"Lo gak bakal jadi pangeran lagi." Kata dia jadi saya ketawa, Cynrad dan Bael ngeliat ke saya sementara pangeran lagi senyum.
"Oh iya, gue inget!" Tiba-tiba pangeran teriak dan berdiri.
"Apaan sih?" Pertanyaan barengan dari mereka berdua.
"Hays, kenapa gue lupa tugas itu?" Kesel dia bilang terus lari keluar dari kamarnya.
"Woy! Mau kemana lo?" Bael nanya tapi pangeran gak peduli, mereka berdua ngeliat ke saya dan cemberut.
"Kenapa lo gak ikut?" Cynrad nanya ke saya.
"Emang dia nyuruh gue buat ngikutin dia?" Saya nanya kenapa mereka berdua kena pukul di udara dan mereka jijik, saya senyum. Orang-orang, pada gilirannya, kecepatan didorong oleh emosi. Saya balik badan terus jalan buat ngikutin pangeran.
Kalo gak salah, pangeran bakal turun ke istana, di gerbang.
Saya lagi jalan biasa waktu saya denger langkah kaki temen-temen Pavel di belakang saya.
"Woy Yuniko! Hays, kenapa sih lo jalannya lambat banget?" Bael nanya dengan marah jadi saya liat dia.
"Kenapa gak lo aja yang sendiri?" Saya senyum nanya kenapa Cynrad berentiin mereka, saya ketawa.
"Cuma bercanda," Saya bilang terus balik badan ke mereka, senyumnya cepet ilang dari bibir saya dan saya terus jalan, waktu saya bosen sama mereka berdua, saya bakal pastiin saya bakal urus mereka di neraka.
Waktu saya nyampe di gerbang saya sementara merhatiin pangeran ngomong sama tanaman di samping. Orang-orang, di sisi lain, cuma seneng.
"Oi Yuniko! Sini cepet!" Pangeran manggil saya waktu dia liat saya, senyumnya gak pernah lepas dari bibirnya waktu dia liat ke tanaman, saya deketin dia dan liat ke tanaman.
Gak ada yang aneh dari mereka buat bikin makhluk seneng, saya liat pangeran. Kedangkalan kebahagiaan cowok ini.
"Liat kecepatan ini, dia bakal mekar." Kata dia sambil balik badan buat liat ke bunga. Saya ngapain kalo dia mekar? Kalo saya gak bisa ngontrol diri, saya bakal remukin tanaman itu sampe akarnya kesimpul.
"Tanaman gue cantik." Kata dia dan liat ke tanaman yang ditanem di sekeliling.
"Saya liat banyak banget tanaman cantik di luar istana," Saya bilang jadi dia liat saya.
"Lebih cantik dan lebih berwarna dari tanaman yang ada di sini," Saya bilang makanya dia kaget.
"B-beneran?" Dia nanya dan tiba-tiba cemberut.
"Di luar istana cantik gak sih?" Dia nanya, saya senyum dalem hati, senyum ke dia, dan ngangguk tango.
"Kenapa, kamu belum bisa keluar istana ya?" Saya nanya, dia geleng kepala.
"Gak boleh sama ayah soalnya gue bisa kenapa-kenapa." Kata dia jadi saya ketawa, dan dia ngeliat saya.
"Apa yang lucu dari situ?" Dia nanya.
"Ayah lo terlalu protektif banget sih," Saya bilang dan liat ke tanaman. "Mereka ngambil hak lo buat jadi orang yang bebas," Saya bilang dan liat ke dia.
"Ada pangeran lain yang terkenal yang bisa kelilingan kemana aja yang mereka mau dan mereka gak kenapa-kenapa." Saya terus senyum ke dia. "Mereka cuma ngerampas hak lo buat bebas," Saya bilang jadi dia ngerutin dahinya.
" Mungkin gak juga." Dia bilang dan senyum, "Gue yakin mereka cuma mikirin kesejahteraan gue." Kata dia jadi saya ketawa lebih keras lagi.
"Lo juga gak jalan-jalan di konstituen lo, lo gak liat keindahan di sekeliling luar istana," Saya bilang dan duduk terus liat ke tanaman yang warna kuning.
"Lo gak mau liat tempat di luar istana?" Saya nanya dia gak jawab. Dia diem aja.
"Kayaknya tapi--"
"Yun gitu juga ya." Saya potong terus nyentuh tanaman.
"Eh di, jalan yuk, keluar." Saya bilang sambil liat ke tanaman.
"Tapi gak boleh." Kata dia jadi saya liat dia.
"Gak papa, yang penting kita gak nyerah," Saya bilang jadi dia ngerutin dahinya, saya senyum dan berdiri, saya liat layu pelan dari tanaman yang saya sentuh.
"Pertama, kita cuma perlu bilang selamat tinggal jadi lo bakal tidur, terus kita keluar malem ini," Saya bilang jadi dia ngedip.
"Gimana kalo ketauan?" Dia nanya. Saya senyum ke dia.
"Ya gak papa, tinggal bohong," Saya jawab jadi dia kaget dan liat ke arah lain.