Bab 28
Ulang Tahun Pernikahan
“NIKMATI MALAM yang dingin dan berangin, ya?” katanya santai.
“Sialan! Berhenti main-main, Tuan Lawrence!” Aku memarahinya dan menatapnya jijik.
“Aku nggak di sini buat main-main sama kamu, Margaux. Aku cuma mau minta maaf.”
Aku nggak peduliin dia dan langsung balik badan buat keluar dari air. Aku ambil baju-bajuku satu per satu.
“Tolong, Margaux, kita ngobrol, ya.” Dia nahan tanganku.
Aku nutup mata erat-erat. Udara malam memenuhi dadaku sebelum aku berbalik menghadap dia. Aku udah siapin desahan dan mau ngusir dia dari mansion, tapi bibirku malah ngerasain bibirnya.
Aku kedip, merem, dan kedip lagi. Dia cuma pake celana dalam hitam. Air dari rambutnya yang gelap menetes di kain dan perlahan turun ke bahunya yang lebar.
Aku natap dia beberapa saat dengan kagum. Dagu kokohnya, rahangnya yang kendur, mulutnya yang terbuka, dan otot lehernya tegang kayak beduk. Dia keliatan kayak neraka. Semuanya itu gampang banget bikin aku jatuh. Gampang.
Walaupun aku nggak mau, aku bisa aja tutup mata karena angin.
“Aku kangen banget sama kamu, sayang,” bisiknya hampir nggak kedengeran.
Aku ngerasain telapak tangannya yang hangat di pipiku. Aku pelan-pelan buka mata dan mau bergerak, tapi dia nggak ngebiarin.
“Tolong, Margaux, izinin aku jelasin,” Dia nahan aku biar nggak menjauh.
“Nggak, kamu nggak perlu. Aku mau kamu pergi sekarang juga kalau kamu nggak mau aku teriak!” Ancamku.
Dia ketawa kecil, jadi aku cemberut.
“Aku udah dapet izin dari Ayah, dan aku udah ngobrol sama dia tentang kita,” katanya.
Alisku dua-duanya makin nempel gara-gara omongannya. Ayah? Kapan dia belajar manggil Ayahku kayak gitu? Aku geleng-geleng kepala.
“Kita nggak punya apa-apa lagi buat diobrolin. Aku udah selesai semuanya sama kita, jadi tolong, pergi dari hidupku!”
Aku hampir yakin ekspresinya sama kayak aku. Sakit hati, iya, bukan itu yang pengen keluar dari bibirku. Aku nggak mau dia pergi atau menjauh dari hidupku.
“Denger, aku minta maaf. Aku nggak seharusnya nyakitin kamu,” katanya baik hati.
Dia nggak ragu buat maju selangkah. Ekspresinya penuh dengan dorongan murni dan beberapa emosi gelap yang mentah yang nggak bisa aku sebutin.
Aku kaget pas dia narik baju yang aku pegang dan tanpa susah payah memasangkannya ke aku.
“Di sini makin dingin,” gumamnya, nada menggoda di suaranya yang bikin aku gemeteran.
Aku gigit bibir dan meluk diri sendiri erat-erat. Sekarang aku bisa ngerasain dinginnya naik sampai ke kakiku karena angin kencang.
“Aku mau istirahat,” bisikku lirih.
Dia mendekat lagi. Dia meraih tangannya ke bawah telingaku, jempolnya mengelus pipiku, dan natap mataku yang ketakutan dengan intens.
“Sebentar aja, sayang, biarin aku cerita apa yang mau aku omongin,” Suaranya serak dan lebih lembut.
Sebelum aku mundur beberapa langkah, dia menarik mulutku ke bibirnya dan menciumku, lidahnya menekan melewati bibirku. Panasnya lidahnya yang lembut kayak suntikan adrenalin yang nggak bisa aku tahan.
Aku ada di bawah kendalinya. Kemarahan dan keraguanku langsung hilang. Aku pengen bales ciuman itu karena inilah yang aku pengen, ada di pelukannya lagi.
Tapi aku langsung menjauh. Aku juga nampar pipinya karena kemarahan perlahan muncul di mataku.
Bibirnya membentuk garis tipis, dan rahangnya mengeras banget. Keliatannya nggak percaya sama apa yang aku lakuin.
Bibirku bergetar. Aku harus nelen buat ngilangin ganjalan di tenggorokanku dan mundur selangkah.
“Kamu bisa pergi sekarang,” kataku. Aku berbalik dan mulai menginjak kakiku pas dia ngomong lagi.
“Kita cuma setuju buat nikah. Dan itu cuma nikah buat kepentingan. Nggak ada rasa sayang timbal balik. Cuma politik dan bisnis murni!”
Aku berhenti dan mengangkat kepala beberapa saat, nggak mau denger semua penjelasannya.
“Aku minta maaf, tapi aku udah cukup sama kamu, Tuan Lawrence,” kataku dengan susah payah. Aku akhirnya pergi dan berjalan menjauh.
***
AKU DUDUK di kursi logam yang dingin. Dari sini, di balkon, aku bisa liat seluruh kota.
Matahari udah mulai naik dari tanah. Langit penuh dengan warna-warna yang kuat, dan awan ditaburi dengan sinar merah muda yang tak terhingga.
“Semuanya baik-baik aja, hija?” Ayah nanya ke aku lewat telepon.
“Iya, Ayah, semuanya baik-baik aja di sini,” jawabku.
“Serahin sisanya ke staf kamu. Kita masih ada pesta malam ini.”
“Aku tau, Ayah. Aku cuma mau nunggu tukang bunga dateng, terus aku ke kondoku buat siapin pesta malam ini,” kataku.
Aku duduk tegak setelah narik cangkir kopi di meja bundar. Aku nggak akan bisa makan karena aku buru-buru kesini dan lagi kena tekanan buat ulang tahun yang akan datang.
Aku mau semuanya sempurna. Ini sebenernya pertama kalinya aku ngurus acara besar. Aku nggak mau bikin malu ayahku, bahkan tamu-tamu yang bakal dateng malam ini.
“Kamu yakin, kamu baik-baik aja? Kamu kedengeran capek banget.”
Aku menghela napas dalam-dalam. “Nggak usah khawatir sama aku, Ayah. Aku beneran baik-baik aja,” tegasku.
“Oke. Ngomong-ngomong, Ayah minta Tuan Lawrence buat nemenin kamu hari ini. Ayah mau semuanya baik-baik aja malam ini, termasuk makanan dan minumannya.”
Punggungku langsung naik ke kursi logam karena apa yang dia bilang. Dari balkon, aku bisa liat Lawrence keluar dari mobil putihnya.
Dia keliatan bagus pake kemeja lengan panjang hitamnya dan celana jeans biru yang dipaduin sama sepatu hitam mengkilap.
Dia mengusap rambutnya dengan tangan yang bebasnya dengan seksi. Aku ngikutin dia, berjalan beberapa langkah sampai dia lewat dengan cepat dari pandanganku.
Aku buang napas, nyoba nenangin debaran jantungku yang berdebar di dadaku.
“Hija, kamu masih di situ?” Ayah nanya ke aku.
“Eh, iya, Ayah,” kataku sebelum tenang.
“Oke, Ayah telepon lagi nanti.”
“Dadaah, Ayah.” Aku langsung matiin telepon dan bangun buat mulai kerja.
Tapi aku belum juga jalan selangkah pas aku ngerasa pusing, ngerasa agak lemes, dan pingsan. Aku balik lagi duduk dan ngusap kepala.
Ya ampun! Aku nggak bisa ngitung berapa kali aku ngerasain itu.
“Permisi, Nyonya Margaux.”
Aku ngelirik staf yang manggil aku.
“Tuan Lawrence nyariin Nyonya,” katanya sopan.
Aku tersentak lagi dan nyoba berdiri lagi. Otakku masih mikirin pusingku yang terus-terusan. Aku ngerasa ada sesuatu yang nggak normal lagi buatku. Dan aku udah nyadar perubahan mendadak di tubuhku. Aku juga sering sakit kepala, mual, dan susah bangun tiap pagi.
Aku mau singkirin perasaan dan cuma fokus sama tujuanku. Tapi gimana aku bisa ngelakuin itu kalau aku tau aku cuma bohongin diri sendiri?
Aku menuju ke aula pertemuan tempat acara itu diadain. Aku liat dia lagi ngobrol sama salah satu stafku. Aku mau ngehirauin dia karena kita nggak punya apa-apa buat diobrolin. Tapi aku yang bertanggung jawab buat pesta malam ini dan sebagai seorang profesional, aku ngedeketin dia dan dia langsung noleh ke aku.