Bab 8
'APAAN SIH?!' Aku buru-buru berdiri dan menutupi wajahku yang memerah.
'Kamu bisa pakai shower kalau mau. Aku udah siapin baju buat para karyawan,' katanya pelan seolah nggak ada apa-apa.
'Nggak, makasih.' Aku menurunkan tanganku dan pura-pura nggak terpengaruh sama badannya. Dia sekarang pakai celana pendek hitam.
'Soal yang tadi, aku cuma mau minta maaf atas perbuatanku,' dia mulai bicara.
'Harusnya kamu nggak gitu,' kataku dengan suara pelan.
'Peter udah manfaatin kamu. Kamu nggak sadar ya? Dia manfaatin kamu karena kamu mabuk, makanya dia mau cium kamu.'
Aku perhatiin rahangnya mengeras banget, dan tatapan matanya yang gelap menatapku tajam.
'Tapi kamu nggak boleh nyakitin dia! Lagian, kita cuma dansa!' kataku tanpa berkedip.
'Jadi maksudnya, kamu suka kalau dia cium kamu?'
Aku nggak percaya sama yang dia bilang.
'Nggak mungkin!' kataku cepat.
'Aku nggak percaya,' katanya sambil menggelengkan kepala.
Aku cemberut ke dia. Tingkahnya asing buatku. Dia orang yang baru aku temui. Kita nggak terlalu kenal, jadi dia mau marahin kita kayak gini.
'Kayak yang kamu bilang, aku mabuk! Dan kamu nggak ada urusannya. Emang kamu siapa ngatur-ngatur aku?!' Aku berusaha meninggikan suaraku.
Tapi dia malah tersenyum. Waktu aku perhatiin dia, aku makin bingung dan gemetaran.
'Kalau aku lakuin itu ke kamu, apa kamu nggak bakal ngapa-ngapain buat ngehentiin aku?' Dia maju selangkah ke arahku yang tiba-tiba bikin aku khawatir. 'Jawab aku, Margaux,' katanya pelan. Dia juga menyentuh daguku dengan lembut dan pelan-pelan mengangkatnya buat nyamain pandangan mata kita.
Aku kehabisan kata-kata. Aku nggak bisa berhenti gemetar karena tatapan matanya yang membara.
Dia memiringkan kepalanya sedikit, berusaha menarik perhatian mataku dan menemukan jiwaku. Dia mengelus pipiku pelan. Aku lihat rahangnya yang sempurna mengencang saat dia pelan-pelan menurunkan pandangannya ke bibirku.
'Lawrence,' bisikku. Aku pengen dorong dia, tapi kenapa aku nggak punya kekuatan buat ngelakuin itu?
Dia menundukkan kepalanya, dan aku berdiri membeku karena takut dan juga rasa deg-degan. Hal selanjutnya yang aku tahu, dia menyentuh bibirku dengan ciumannya yang asing. Ringan. Nggak ada kembang api atau percikan, tapi ada sesuatu yang lebih baik.
Ciuman itu makin panas waktu dia memelukku di pinggang dan menarikku lebih dekat ke arahnya. Aku hampir mabuk karena ciumannya, tapi dia tiba-tiba berhenti.
'Margaux,' katanya di sela-sela napasnya yang cepat. Aku lihat bara di matanya. Tanpa ragu, bibir kami bertemu lagi.
Sampai aku ngerasain kelembutan kasur. Aku nggak bisa menghindari desahan yang keluar di antara ciuman kami. Aku udah terbawa suasana panas yang dia bawa. Aku juga nggak tahu kenapa aku biarin dia ngelakuin ini ke aku.
Perlahan, salah satu tangannya berpindah dari lenganku ke bahuku, lalu ke dadaku. Aku belum siap sama apa yang dia lakuin selanjutnya. Aku kehilangan kendali. Aku nggak pakai baju yang cukup buat nyembunyiin apa yang dia coba cari.
Ehem manis keluar dari mulutku waktu mulutnya yang memaksa mengklaim bibirku yang gemetar. Getaran hebat menjalar di tulang punggungku saat dia menciumku. Aku benar-benar terhipnotis, tapi kemudian, dia menjauh. Kita berdua mengatur napas saat dia menatapku.
'Maaf,' katanya.
Aku susah payah menelan ludah dan menggigit bibirku. Aku mengangkat bahu atas apa yang dia bilang. Aku ngerasa pengen nampar dia, tapi aku kayak kehilangan kekuatan saat dia akhirnya menjauh dari aku.
'Istirahat aja di sini. Aku cuma mau nganterin barang-barang kamu dan ngobrol sama Cindy. Aku tadi di kamar sebelah.'
Aku cuma ngangguk meskipun hatiku sakit. Dan aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngikutin dia keluar pintu. Tapi sebelum aku beneran keluar, aku berhenti.
'Apaan sih yang kamu lakuin, Margaux?' Aku bilang ke diri sendiri, terus aku nyubit diri sendiri sebelum menepuk dahiku dan berbaring lagi di kasur.
***
AKU KEBANGUN karena udara dingin yang menyentuh pipiku. Matahari udah terbit, dan aku disambut sama kicauan burung yang merdu dan semilir angin laut yang dingin.
Aku melirik meja samping tempat sarapan ditaruh dan sebuah catatan kecil yang ditempel di mawar merah. Aku berjalan ke arah beranda dan membaca surat yang ada di sana.
Selamat pagi cinta.
Aku minta maaf atas apa yang aku lakuin semalam. Makan sarapan. Aku bakal sibuk seharian. Nikmatin cuaca yang bagus.
- Lawrence
Senyuman muncul di bibirku, dan aku sedikit mencium aroma mawar itu. Angin dingin bertiup, yang ngasih ide buat aku buat tetap di sini dan kabur dari dunia.
Aku memilih makan di beranda sambil memandang pemandangan pulau yang indah.
Sampai aku sadar kalau tasku udah ada di sana. Ada juga gaun baru yang siap buat aku pakai. Warnanya kuning dan ngepas di pinggang. Ada juga sandal putih datar dan sepasang pakaian dalam.
Kedua pipiku langsung memanas. Gimana dia tahu ukuran badanku? Tanganku gemetar saat menyentuh pakaian dalam merah itu. Kemerahan di wajahku masih nggak hilang bahkan setelah mandi karena pakaian yang dia kasih. Tapi aku akui, mereka sempurna buat tubuhku.
Aku bikin beberapa putaran lagi di depan cermin sebelum aku mutusin buat keluar dari kamar. Terus aku mutusin buat jalan-jalan di pantai karena cuaca yang bagus.
Aku duduk di kursi santai, menutup mata, dan mengingat ciuman yang Lawrence dan aku bagi. Sampai aku sadar apa yang aku pikirin, jadi aku menggelengkan kepala.
Berhenti, Margaux. Kamu tahu aturan tiga bulan, kan? Kayaknya masih terlalu dini buat aku ngerasain apa pun ke dia.
Aku narik napas dalam-dalam sebelum mikir buat pergi ke pernikahan pantai Carrick dan Cindy. Orang-orang sibuk nyiapin dekorasi. Setiap detailnya diperhatiin banget. Salah satu impianku adalah menikah di tempat kayak surga. Aku pengen punya pernikahan yang bakal membekas di pikiran orang-orang dan ninggalin kenangan bahagia.
Aku tersenyum pahit. Mungkin Lester emang bukan buatku. Mungkin orang lain yang pantas dapetin cintaku.
Aku mutusin buat balik ke hotel buat istirahat. Aku lagi nyebrang jalan waktu Lawrence menarik perhatianku.
Dia lagi sibuk ngobrol sama seseorang. Aku bisa lihat dia dari tempat dudukku. Dia pakai kaos polo putih, lengan panjang yang dilipat longgar sampai sikunya, celana hitam, dan sepatu oxford mengkilap. Terus tiba-tiba aku kepikiran senyumannya yang bikin hatiku melonjak dan bibirnya yang seksi yang bisa bikin aku terkesiap.
Aku menggigit bibir bawahku, dan lututku hampir lemas waktu dia berbalik buat ngeliat aku. Aku menahan napas saat kita saling menatap. Aku lihat dia bilang selamat tinggal ke orang yang dia ajak ngobrol sebelum berbalik buat jalan ke arahku.
'Hai!' dia menyapa dengan senyum tipis di bibirnya.
'H-halo,' aku tergagap dan nggak mau repot-repot buat natap matanya.
'Gimana sarapan kamu? Maaf, aku nggak bisa nunggu kamu bangun. Aku ada banyak kerjaan hari ini.'