Bab 33
Kumpul-kumpul
'SELAMAT PAGI!'
Aku senyum sambil menghadap kompor saat masak.
'Pagi. Tidurnya gimana?' tanyaku sambil melirik dia, dia masih belum pakai baju, jadi aku milih fokus masak aja.
'Enak. Hmm, sarapan keliatannya enak nih?' katanya serak.
Aku kaget waktu denger suaranya di belakang telingaku. Aku bisa ngerasain kehangatan napasnya di kulitku.
'I-iya, aku siapin bacon sama sosis,' jawabku santai, gak mau ngaruhin kehadirannya di belakangku.
'Hmm, kedengarannya lezat,' gumamnya.
Aku langsung nutup mulut dan nelen kata-kata yang mau aku keluarin. Keningku juga keringetan karena dia kayaknya ngeliatin aku terus.
'Boleh pake shower kamu?' gumamnya lagi.
Aku ngangguk gugup. Bersyukur dia gak ngomong lagi. Aku cuma denger suara air dari shower, berarti dia beneran mandi.
Aku selesai nyiapin sarapan dan tiba-tiba denger suara bel dari luar.
Aku lepas celemekku sebentar sebelum jalan ke pintu buat bukain.
Mata aku langsung khawatir, dan muka cantiku pucet waktu liat siapa yang ada di depan pintu. Dia keliatan kejam dan intens banget, bikin aku mikir panjang.
'Lawrence?!' akhirnya suaraku keluar.
'Hai. Selamat pagi!' sapa dia. Aku langsung nunduk ngeliatin bunga yang dia pegang.
'K-kamu ngapain di sini?!' aku gagap. Langsung nyusun ulang hati. Aku cuma balik badan buat ngintip Peter di dalem juga.
Dia ngeliatin dengan tenang, masuk, dan keliling.
'Bisa kita ngobrol?'
'Hah! M-mungkin lain kali aja? Aku sibuk seharian ini. Maaf,' kataku cepet. Aku nutup mata. Sialan! Kenapa kata-kata sialan itu keluar dari mulutku?!
'Margaux, kita harus ngobrol. Aku udah ngomong sama Ayah, dan—' dia berhenti.
Mukanya tiba-tiba jadi gelap, dan dia ngeliatin aku dari belakang.
Aku langsung ngeliat Peter, pake celana dalam sialan itu. Darah berdesir di seluruh pembuluh darahku, dan sekarang, aku ngerasa pengen serangan jantung.
'Dia ngapain di sini?!' suara Lawrence rendah dan bergemuruh.
Aku nunduk malu. Aku gak bisa ngomong. Aku pengen ngumpet di lubang saat ini buat ngindarin tatapannya.
'Ada tamu. Aku ambil handuk dulu. Aku ganti baju dulu,' kata Peter.
Aku gigit bibirku keras waktu ngerasain langkah kakinya menjauh.
'Bajingan itu!' tanyanya gak percaya. Matanya yang dingin dan menusuk keliatan kayak elang yang lagi ngeliatin mangsanya.
'Sebenernya kamu ngapain di sini, Tuan Saavedra?' Suaraku sedikit pecah, bahkan jari kakiku gemetar, tapi aku tetep tenang, walaupun aku tau dia pengen makan aku hidup-hidup.
Dia tertawa kecil. 'Nggak, nggak ada apa-apa. Kayaknya kita udah nggak ada yang perlu diobrolin lagi,' katanya dingin.
Dia udah mulai menjauh. Aku cuma berdiri aja. Aku pengen berhentiin dia dan jelasin apa yang baru aja dia liat.
Tapi aku gak bisa. Aku bahkan gak coba ngejar dia. Aku udah ambil keputusan akhir. Aku bakal besarin anak ini sendiri dan mulai sesuatu yang baru.
'Kamu nggak mau ngomong sama dia?'
Aku ngeliat Peter di sampingku. Dia sekarang pake T-shirt dan celana yang dia pake semalem.
'Aku juga laki-laki. Aku tau apa yang ada di pikirannya sekarang,' tambahnya.
Aku gemetar, pelan-pelan nahan air mata yang udah aku tahan-tahan. Kayaknya sekarang aku ngerasain lebih banyak sakit sebagai ganti dari keputusanku.
Aku ngelepasin dia, bukan karena aku nggak cinta sama dia. Aku ngelepasin dia karena mencintai dia nggak ada artinya kalau cuma bikin aku sakit.
Aku cinta dia sampe rasanya sakit. Tapi lebih sakit lagi buat bertahan. Dan kadang harus dilakuin, nggak marah, nggak kesal, cuma dilakuin.
***
'BESTIE!'
Aku senyum lebar waktu denger suara Cindy di seberang telepon.
'Apa kabar? Kapan kamu mau main ke Manila?' tanyaku langsung.
'Maaf, bestie, Carrick sama aku rencana mau buka butik baru di sini, di San Simon, jadi mungkin agak lama sebelum aku bisa main ke kamu.'
Aku manyunin bibirku. Aku rebahan di kasur dan ngusap perutku yang mulai buncit.
'Aku kangen kamu,' bisikku di telepon.
'Aku tau. Aku juga kangen kamu, makanya aku telepon kamu karena kamu diundang ke pesta ulang tahun Jocko!' katanya semangat.
Pesta ulang tahun?' Aku ngerutin dahi.
'Iya, karena mereka nggak tau cara hubungin kamu, jadi dia cuma bilang ke aku kamu diundang sama Peter.'
'Uh, oke.'
'Hmm, kamu mau cerita sesuatu?' Pertanyaannya sarkas.
Aku keabisan napas, aku pengen cerita tentang kehamilanku, tapi aku kehilangan keberanian. Aku tau dia nggak akan diem aja.
'Nggak, nggak ada . . .' Tolakku.
'Aku denger kamu sama Peter udah pacaran. Beneran?'
Aku ketawa kecil. 'Kita temen baik. Nggak ada yang spesial di antara kita berdua.'
'Beneran? Yah, kalau kamu seneng sama temen kamu, aku nggak masalah kalau kamu punya sesuatu,' godanya.
'Kita temen, kamu tau aku kan?'
'Oke deh, itu yang kamu bilang.' Dan dia matiin teleponnya. Saat itu, aku tenggelam dalam pikiran yang dalam.
Gemetar besar muncul di hatiku waktu aku mikirin Lawrence. Gimana kalau dia tau tentang kehamilanku? Aku geleng-geleng kepala dan coba tidur.
***
'KAMU YAKIN tentang ini?' Peter nanya aku bingung.
Beberapa menit kemudian, mobilnya parkir tepat di depan Saavedra Resort, tempat pesta ulang tahun Jocko akan diadakan.
'Iya,' kataku berani.
Peter genggam tanganku erat. 'Jangan khawatir, aku bakal di samping kamu,' katanya dengan janji yang kuat.
Walaupun aku lega, aku tetep nggak bisa nggak gugup.
Aku jalan di pantai dengan napas di paru-paruku, dan angin asin menerbangkan rambutku. Aku ngeliatin cahaya yang bergelora dan kegelapan dengan berani di kakiku.
Bola emas naik dari cakrawala, nyebarin sinar yang indah ke mana-mana. Dari sini, aku bisa liat ombak yang kuat seakan ngajak aku berenang. Bahkan pohon-pohon nyapa kita waktu kita dateng.
'Selamat datang di Saavedra Resort!'
Aku senyum ke beberapa staf yang nyapa kita waktu kita dateng. Peter langsung ke meja resepsionis buat ngecek kamar kita. Sambil nunggu, aku nggak bisa nggak liat-liat.
Walaupun nggak ada yang baru, aku ngerasa ada detak kuat di dada, tau kalau Lawrence ada di sekitar.
'Istirahat dulu, aku naik dulu buat ngecek kamar,' kata Peter sambil nyisir seluruh ruangan.
'Aku oke, Peter. Aku bisa urus diri sendiri,' kataku lembut sebelum senyum.
'Telepon aja kalau ada masalah. Aku jemput kamu jam tujuh, oke?' Dia ngomong dengan nada yang sangat alami.
'Makasih. Tapi aku nggak apa-apa, sumpah.'
Dia nggak ngomong lagi, walaupun aku tau dia nggak mau ninggalin aku. Aku cuma pengen istirahat juga karena perjalanan jauh.
Aku ambruk di kasur yang empuk saat aku remes semua momen. Aku nutup mata paksa, aku pengen tidur, tapi pikiran nggak mau.
Sampe telepon dari ponselku ngebangunin aku.
'Bestie, kamu di mana?!'
Aku bangun karena suara Cindy yang keras dari seberang telepon.
'Kita di sini,' kataku tenang.
'Ya ampun! Kita lagi otw. Kita masih di San Felipe karena Carrick masih ngurusin beberapa hal. Sampai jumpa, have fun, bye!' Aku matiin telepon dan siap buat pesta malam ini.