Bab 22
Tetap
AKU MENGISI paru-paruku dengan udara asin sebelum aku bicara. 'Apa kamu beneran punya hubungan sama dia? A-aku maksudnya, sejak kapan?" Aku gak peduli kalau kedengerannya putus asa. Aku cuma bener-bener pengen tau yang sebenarnya.
Mereka semua ngeliatin aku seolah pertanyaan aku bikin mereka bingung. Aku gak takut nanya dia pertanyaan itu, mungkin karena aku pusing abis minum beberapa teguk langsung.
Rahang sempurna dia mengeras, narik sudut bibirnya dengan panik.
'Apa yang kamu mau aku jawab?' dia nanya blak-blakan. Matanya tetep gelap dan tertutup.
Aku nelen ludah susah payah; pandanganku fokus ke tanah. Dia kayaknya pelan-pelan makan aku karena tatapan gelapnya. Semua orang jadi diem, dan gak ada yang berani ngomong.
'Oke, aku terima tantangannya,' dia ngusap belakang lehernya dengan frustasi dan nunggu jawabanku.
'Cium aku,' aku dengan berani bilang.
Hampir semua orang kaget sama apa yang aku bilang, tapi aku naikin daguku buat nunjukin aku serius.
Dia ngecengin rahangnya erat dan gelengin kepalanya pelan atas ucapanku.
'Apa yang kamu bilang?!" seru Elliesse. Terus dia noleh ke Lawrence dan natap dia dengan tatapan peringatan.
'Gak, kamu gak bisa, Margaux,' Peter bilang ke aku, jelas kaget sama apa yang aku bilang.
Aku tetep fokus ke Lawrence, yang masih gak lepas pandangannya dari aku sampe dia nyerah dan ngehela napas keras. 'Kalau itu yang kamu mau, ya udah . . .' dia bergumam ke aku.
Sebelum Elliesse bisa menghentikannya, dia nyebrang jarak di antara kita. Dia bergerak lebih deket, nekuin kedua lututnya di pasir, dan nyium aku. Bibirnya nempel ke bibirku, tapi itu ciuman panas dan manis yang membara. Tangannya ngelus punggungku dan narik aku lebih deket.
Aku ngerasa kayak malaikat udah narik aku ke surga, tapi aku bisa ngerasain pelepasan kerasnya sebelum dia bisa bawa aku ke sana. Aku juga ngerasa kayak dia ngebiarin semua yang kita punya. Semua yang terjadi di antara kita berdua gak ninggalin apa-apa selain sakit.
'Aku harap kamu puas,' dia bisikin lembut ke telingaku dan pelan-pelan menjauh.
Perasaan udah 'keabisan bensin' secara emosional. Karena kebencian yang luar biasa, aku berdiri dan, tanpa ragu, pergi.
'Margaux!' Peter dan yang lain manggil aku, tapi aku gak nengok.
Aku cuma ngambil langkah lurus tanpa arah tujuan karena air mata yang melimpah terus ngalir dari mataku.
Tapi ada pegangan kuat di lengan aku yang mencegah aku ngambil langkah.
'Kamu ngapain?' dia bilang. Suaranya kaku.
Daripada ngejawab, aku lepasin tangannya dari lenganku, tapi itu sekuat besi.
'Kasih aku istirahat!' aku teriak marah, berusaha narik lenganku.
'Margaux, ayo kita ngobrol,' dia memerintah.
'Apa lagi yang mau kita omongin? Kayaknya kamu dan Elliesse baik-baik aja sekarang. Ini yang kamu mau bener, kan? Cemburu sama dia biar dia balik lagi ke kamu.' Aku tersentak berat dan ngangkat dagu buat lanjut. 'Ini salahku, kan? Aku setuju buat pura-pura jadi pacar kamu buat apa? Biar kamu bikin aku keliatan bodoh?!" Aku menyembur marah.
'Itu gak ada di rencanaku.' Suaranya lebih lembut dan halus. Aku kayaknya gak mau bantah tuduhanku.
'Oh, ayolah, Lawrence, kamu gak punya rencana cadangan?' Aku nyeka air mata dari pipiku dengan kasar. Dia gak bisa ngomong saat itu.
Aku ketawa terbahak-bahak dan dengan kasar noleh dari dia, tapi dia ngegenggam lenganku lagi dan nampilin aku ke dia sekuat tenaga. Kita tuker pandang sebentar sampe dia nunduk, kalah.
'Bukannya rencanaku buat' dia berhenti ngomong dan menghela napas.
'Lawrence!' Aku noleh ke suara Elliesse di belakangnya. Tapi, dia udah gak diem lagi, dan tatapannya fokus ke aku.
'Rence, apa?!