Bab 41
Clarence Xander
GUE BISA BILANG GUE BERANI sekarang. Gue berhasil lupain semuanya tentang dia. Sakit dan penderitaan yang gue rasain di Filipina ngasih gue kekuatan baru buat lanjutin apa yang udah gue mulai.
Gue berhenti ngetik di keyboard pas laptop di depan gue bunyi.
Cindy nelpon lewat Skype!
Gue langsung angkat, dan gambarnya muncul di monitor.
"Bestie, apa kabar?!" sapa dia dengan senyum lebar di mukanya.
"Baik, lo?"
"Aman, gue baik-baik aja."
"Gimana Mama sama Ayah?"
"Mereka baik-baik aja. Gue makan malam bareng mereka semalem," katanya senang.
"Makasih banyak, bestie."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, kapan lo pulang ke Filipina?" Dia mengerutkan kening dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia garuk perutnya yang buncit. Dia juga hamil anak pertama dengan Carrick.
"Lo tau gue pengen lahiran di sini. Dan bakal susah buat gue buat jalan-jalan dalam kondisi gue sekarang. Dan begitu gue udah lahiran, gue bakal nunggu tiga bulan lagi buat bawa bayinya biar aman."
Gue udah capek jelasin ke mereka sejak gue dateng ke sini karena mereka nunggu gue pulang.
"Gue liat Peter waktu itu sama Jocko di bar. Lo kan mau lahiran. Ada yang harus jagain lo di sana," katanya. Rasa khawatir jelas di suaranya.
Gue menghela napas, gue coba senyum, tapi gue tetep gak bisa nahan diri buat gak mikirin kondisi gue sekarang.
"Dia ada rapat konferensi di sana, jadi dia pergi sehari. Gue gak mau maksa dia cuma buat jagain gue. Dia bakal balik ke sini kok," jelas gue.
Dia cuma ngangguk.
"Ngomong-ngomong, gue tau lo gak mau denger tentang dia, tapi…" dia jeda.
Dia nunggu apa yang bakal gue omongin, tapi pas gue gak ngomong apa-apa, dia lanjut.
"Pernikahannya dibatalin. Elliesse tiba-tiba ada proyek di LA, jadi mereka harus jadwal ulang pernikahannya tahun depan. Terus gue denger mereka putus sebelum-sebelumnya karena ambisi Elliesse jadi model terkenal. Bisa bayangin gak sih? Sampai sekarang, itu masih jadi alasan kenapa pernikahan mereka dibatalin tahun ini." Dia memutar matanya dan menggelengkan kepalanya.
Dahi gue berkerut, dan gue tenggelam dalam pikiran yang dalam. Apa pernikahannya dibatalin karena itu? Gak mungkin. Dia hamil. Pernikahannya harus tetap jalan karena mereka bakal punya anak.
"Eh, Margaux, lo gak papa?"
Gue tersadar dari lamunan gue dan bergeser di kursi dengan gak nyaman. "Uh, iya, gue baik-baik aja." Gue senyum tipis dan memalingkan muka.
"Maaf ya, Margaux, seharusnya gue gak nyebutin dia ke lo." Permintaan maaf ada di nadanya.
"Gak papa kok, santai aja. Gue udah biasa kok." Gue mengakhiri kalimat gue. Gue genggam erat pulpen yang gue pegang tadi.
"Yakin?" Dia ngangkat alisnya ke gue.
"Sialan! Gue bener pas waktu itu dia ninggalin gue. Yang jadi perhatian gue sekarang cuma bayi gue. Gue seneng sama keputusan gue." Gue senyum ke dia dengan tulus.
Gue bangun buat ke kulkas dan ngambil susu segar. Gue balik ke kursi malas dan ngadep dia lagi.
"Lo bener! Cowok lain pantes buat lo. Lihat apa yang udah dia lakuin ke lo!" Suaranya kedengeran kesal.
"Gue gak punya penyesalan. Gue seneng dengan berkah yang udah dateng ke hidup gue," jawab gue dan diam-diam minum susu yang gue pegang.
"Ngomong-ngomong, setidaknya lo punya kenang-kenangan dari dia, kan?" Dia bahkan ketawa karena leluconnya sendiri. Gue cuma geleng kepala sambil senyum.
"Sayang?"
Gue denger seseorang manggil Cindy, dan dari belakang, wajah tampan Carrick muncul.
"Hai, Margaux, gimana Paris?