Bab 19
"Woi, nenek" sapa gue sambil ngesot ke jok belakang.
Bailey nyusul di belakang gue, terus Aurelia ngikutin dia.
"Hai, anak-anak, gimana acara nginepnya?" balasnya dengan semangat.
"Seru banget, deh," sahut Bailey sambil curi pandang antara Aurelia dan gue, bikin gue salting.
"Wah, seru tuh," jawab nenek gue.
Dari situ, percakapan mereda, dan kita semua duduk dalam keheningan yang nyaman. Kingsbury dan gue asyik mandangin pemandangan di jendela samping, sementara Bailey fokus ke jendela depan.
Gue lagi asik mengagumi semua pemandangan indah, tiba-tiba Bailey ngomong.
"Permisi, Nona Bailey, boleh kasih tau gimana orang tua Hanna ketemu?" tanyanya dengan nada suara yang nggak wajar baiknya.
Gue noleh ke dia dengan ekspresi bingung begitu nyadar ada tatapan jahil di matanya.
"Wah, umm-" nenek gue gagap, berusaha mengingat-ingat kenangannya.
"Ibunya Hanna, ibunya Hanna nggak pernah bener-bener ada dalam hidupnya, suatu hari dia nurunin Charlotte di rumah Aspen tengah malam," jelasnya.
"Dari situ, gue bilang mereka selalu punya ikatan yang kuat karena mereka saling percaya," lanjutnya sambil belok ke jalan gue.
"Emang kapan mereka pertama kali jatuh cinta?" tanya Bailey penasaran, bikin gue salah tingkah, batuk-batuk nggak jelas.
"Kenapa lo pengen tau banyak banget tentang sejarah hubungan orang tua gue?" tanya gue ke Bailey dengan nada pelan biar nenek nggak denger.
"Gue penasaran aja, apa ada hal-hal yang nurun dari keluarga," jawab Bailey sambil mengangkat bahu, bikin gue muter bola mata ke sahabat tolol gue.
"Lupa ya, gue kan diadopsi, berarti kita punya Deoxyribonucleic Acid yang beda," kata gue.
"Satu, lo bisa aja cuma bilang DNA, dan dua, gimana lo jelasin gen lesbian yang ada di keluarga lo?" tanyanya.
"Nggak ada 'gen lesbian' di keluarga gue," kata gue sambil memutar mata.
"Tunggu aja sampe Isabella dan Haley gede," katanya dengan ekspresi percaya diri.
Ya, oke.
Terserah dia mau ngomong apa.
"Hanna, kata ibumu, dia nitip daftar kerjaan buat lo dan Aurelia kerjain selagi mereka pergi," nenek ngasih tau gue saat dia belok ke halaman rumah.
"Maaf, apa?" tanya gue dengan ekspresi bingung.
"Gue lupa ngasih tau lo, ibumu nelepon gue dan bilang gue harus nginep di rumah lo malam ini," jelasnya.
"Apa, kenapa?!" seru gue.
"Mereka ada misi-maksudnya, mereka pengen quality time dan ngobrol," jawabnya sambil tersenyum.
Gue tatap dia tajam sebelum buru-buru keluar dari mobil dan menuju pintu depan, Aurelia nggak jauh di belakang gue. Gue lagi mau buka pintu waktu ngerasain ada yang berdiri di belakang gue.
Begitu pintu kebuka, gue langsung diserang sama adik-adik gue.
Apaan sih?!
Kok mereka di sini sendiri?!
Bisa aja mereka celaka.
Atau parahnya, bikin rumah kebakaran!
"Woi, udah berapa lama kalian di sini?" tanya gue panik sambil jongkok biar sejajar sama mereka.
"Nggak lama, kenapa?" tanya Isabella dengan ekspresi bingung.
"Nggak ada apa-apa kok, nonton TV aja di ruang tamu, nanti gue buatin makan siang buat kalian berdua," kata gue ke mereka sambil berdiri lagi.
Isabella ngangguk sebelum narik Haley dan nyeretnya ke ruang tamu.
Gue menghela napas frustrasi sambil menyisir rambut pirang gue ke belakang.
"Nih, biar gue bawain tas lo ke atas," tawar Aurelia sambil tersenyum kecil saat dia nutup pintu di belakang kita.
"Makasih, kamar gue yang pertama di sebelah kiri," jawab gue sambil dia ngambil ransel gue dan menjauh dari gue.
Gue rasa gue harus mulai bikin makan siang buat Isabella dan Haley sekarang.
Maksudnya, mesen pizza.
-
"Pesanan atas nama Hanna Wilder, saya punya satu pizza besar setengah pepperoni, setengah keju," kata Wanita Pengantar itu, matanya yang biru menatap mata hazel gue.
"Itu gue," jawab gue dengan senyum cerah karena gue kelaperan.
Wanita Pengantar itu ngasih kotak pizzanya ke gue sebelum ngedip dan pergi dari depan pintu gue.
Itu aneh.
"Makanan datang!" teriak gue sambil nutup pintu dan menuju dapur.
"Alhamdulillah, gue laper banget," Aurelia mengeluh saat dia masuk ke dapur.
"Satu, jangan ngumpat di depan adik-adik gue," tegur gue sambil melotot dan menepis tangannya dari kotak pizza.
"Dua, yang paling muda makan duluan," gue ngarang di tempat, saat Isabella dan Haley masuk ke dapur dengan ekspresi ketakutan.
Ya Tuhan.
Apa yang Aurelia lakuin sekarang?!
"Woi, kenapa kalian berdua kayak ngeliat hantu?" tanya gue ke dua bocah ini sambil ngasih mereka piring yang ada beberapa irisan pizza di atasnya.
"Animal planet," cuma itu yang mereka katakan sebelum berjalan kayak zombie ke ruang tamu.
Gue mengerutkan alis selama beberapa detik.
Maksud mereka apa sih dengan animal planet- oh?!
"Lo suruh mereka nonton animal planet?!" teriak gue ke Aurelia yang lagi nyengir, yang lagi ngabisin seiris pizza.
Sial.
Cepat banget.
Kira-kira apa lagi yang bisa mulutnya lakuin?
Tunggu, apa?!
Nggak, gue nggak mau!
"Mereka yang mau nonton," jawabnya sambil mengangkat bahu, bikin gue menghela napas karena kesal dan menarik rambut gue.
"Harusnya lo bilang jangan!" teriak gue balik.
"Ya ampun, lo tuh nggak bertanggung jawab banget," oceh gue frustrasi.
Dia menatap gue dengan ekspresi bingung sambil menaruh irisan pizzanya.
"Cuma karena lo kesel sama semua yang gue lakuin, bukan berarti gue nggak bertanggung jawab," Aurelia membalas dengan tenang.
"Gue nggak kesel sama semua yang lo lakuin," kata gue sambil menyilangkan tangan.
"Lo hampir ngebunuh gue waktu gue bilang mau nginep di sini," kata Aurelia santai.
"Ya, karena lo bikin gue nggak fokus," balas gue dengan marah.
Pernyataan gue bikin dia nyengir sambil pelan-pelan mendekat ke gue.
"Gue bikin lo nggak fokus?" godanya, bikin gue salah tingkah di konter.
"Berhenti main-main, Kingsbury," gue memelototi sambil mengambil seiris pizza dan mulai menjauh darinya.
"Gue bahkan belum mulai main-main sama lo, gue bisa kok kalau lo mau?" godanya dengan suara serak, bikin pipi gue memerah saat gue melanjutkan perjalanan ke kamar.
"Berisik," gumam gue sambil masuk ke kamar dan menjatuhkan diri di ujung sofa paling jauh.
"Gimana, nggak ada panggilan sayang?" godanya sambil duduk di samping gue.
"Berisik, Kingsbury," jawab gue, suaraku semakin menunjukkan kejengkelan saat gue meraih remote TV.
"Nah gitu, anak gue," Aurelia nyemangatin, bikin gue memutar mata ke arahnya.
Kalo gue nggak ngomong, mungkin dia juga nggak ngomong.
Dia nggak bisa ngeselin gitu aja, kan?
-
"Hanna?" Aurelia merengek untuk kelima kalinya, bikin otak gue berdenyut sakit.
"Sayang, gue hamil," katanya dengan nada serius, bikin gue langsung duduk dan menatapnya dengan mata terbelalak.
"Apa?!" seru gue, kagetnya terpampang jelas di wajah gue.
Dia nyengir ke gue, bikin gue tersipu malu saat gue menghela napas frustrasi.
"Nggak lucu, Kingsbury," kata gue sambil berjalan ke kulkas mini dan membungkuk untuk mengambil sebotol air.
Saat melakukannya, gue ngerasa ada sepasang mata yang menatap punggung gue, bikin gue berdiri dan berbalik, cuma buat nyadar Aurelia dengan terang-terangan menatap punggung gue.
"Mesum," gumam gue sambil berjalan kembali ke ujung sofa yang lain.
"Main tebak-tebakan, yuk," tiba-tiba dia menyahut saat gue menjatuhkan diri di ujung sofa.
"Tebak-tebakan apa?" tanya gue, karena gue nggak ada kerjaan lain.
Gue ngambil selimut dari belakang sofa dan membungkusnya longgar di sekeliling gue.
Ya udah lah, gue layanin aja.
"Tebak judul lagu," jawabnya, bikin gue mengerutkan kening ke arahnya.
"Jelasin," kata gue.
"Satu orang nyanyiin beberapa lirik lagu, yang lainnya harus nebak nama lagu dan penyanyinya," jelasnya.
"Oke, tapi gue yang bakal menang," kata gue sambil mulai mengikat rambut pirang gue yang bergelombang menjadi kuncir tinggi.
"Lo imut," godanya, bikin gue memutar mata.
"Gue jago nebak lagu," kata gue sambil mengangkat bahu, bikin dia nyengir jahil.
"Kalau gitu, gimana kalau kita bikin lebih seru?" tanyanya sambil bergeser sedikit lebih dekat ke gue.
"Lanjut," seru gue dengan seringai yang sama.
"Yang kalah harus ngasih pemenangnya joget pangkuan," tantangnya dengan yakin.
Dia tau apa, sih?
"Lo terima tantangan gue, lo harusnya udah belajar teknik karena lo bakal ada di atas gue dalam sejam," kata gue dengan percaya diri.
"Bahkan kalau kita nggak main, gue tetep bakal ada di atas lo," jawab Aurelia sambil memutar mata, bikin gue tersipu malu.
"Lo mulai aja," kata gue gagap karena gue lagi gemeteran.
Nggak tau deh, betapa serunya permainan ini nantinya.
-
"Kayak ngengat tertarik ke api, lo narik gue masuk, gue nggak bisa rasain sakitnya-" Aurelia nyanyi, cuma buat gue motongnya.
"Stitches, Shawn Mendes!" teriak gue, bikin dia tertawa karena sikap gue yang terlalu bersemangat.
Udah sejam, dan sejauh ini kita udah main lima ronde dari tiga, gue memimpin.
Saat ini gue punya empat belas poin sementara Aurelia tiga belas poin.
"Lo imut kalau lagi semangat," komentarnya, bikin gue mengerutkan kening.
"Gue nggak tau lagu itu- Oh," gue mulai ngomong, cuma otak gue langsung bekerja dan membantu gue.
"Berhenti gombalin gue, cuma karena lo kalah," gue merengut.
"Sana, pilih lagu," serunya sambil tertawa, mengabaikan permintaan gue.
Gue melambaikan tangannya saat gue mencoba memikirkan lagu yang mungkin nggak dia tau.
"Fading in, fading out, on the edge of paradise," gue mulai bernyanyi dengan menggoda, berharap bisa mengalihkan perhatiannya.
Spoiler alert, itu berhasil.
"Every inch of your skin is a holy grail I've gotta find, only you can set my heart on fire, on fire," gue melanjutkan bernyanyi sambil pelan-pelan ngelepas flanel biru gue, menyisakan gue dengan sports bra abu-abu.
"Ya, gue biarin lo yang ngatur iramanya," bisik gue sambil mendekat, lutut kita sekarang bersentuhan.
Saat dia lagi nggak fokus, terpaku pada wajah dan tubuh gue, gue pelan-pelan menaruh tangan gue di lutut kanannya, bikin dia menggigit bibir bawahnya.
"'Cause I'm not thinking straight," bisik gue pelan.
"My head spinning around, I can't see clear no more," gue melanjutkan saat dia melakukan kontak mata sama gue.
Gue langsung nyadar pertarungan batin yang lagi dia hadapi saat gue menatap mata abu-abunya yang menggelap dalam-dalam.
Irisnya terlihat seperti awan badai daripada warna abu-abu mudanya yang normal.
Gue nggak bisa bohong, itu bikin sekelompok burung lepas di perut bagian bawah gue yang akhirnya memengaruhi area bawah gue.
"Tunggu apa lagi?" gue bernyanyi dengan mengangkat alis, seolah-olah gue biasanya ngasih pertanyaan itu.
Saat gue pikir dia bakal gagal, dia menggelengkan kepalanya seolah-olah dia lagi menegur dirinya sendiri.
"Love me like you do, Ellie Goulding," jawabnya tanpa berkedip.
"Ya ampun," gue mengeluh saat gue melepaskan tangan gue dari pahanya dan menjatuhkan diri di sofa.
Hebat.
Sekarang kita berdua seri dengan empat belas poin.
"Lagu terakhir?" Aurelia bertanya, udah tau jawabannya.
"Lagu terakhir," gue mengkonfirmasi.
Gue terus berbaring telentang saat otot gue mulai rileks. Tapi yang nggak gue duga adalah Aurelia naik ke atas gue dan dengan lembut menunggangi pinggul gue, hati-hati nggak menaruh seluruh beratnya di tubuh gue.
"It's Fahrenheit in here, and I can see a million ways," dia mulai bernyanyi.
"For me to surfboard between your waves, girl," dia bernyanyi seolah-olah dia serius banget, bikin mulut gue ternganga kaget.
"Baby going up down, all around, drip drop, don't stop," dia melanjutkan saat wajahnya tiba-tiba muncul di atas gue dengan seringai.
"No umbrella, playing in your brain, shut it off," dia dengan kasar menahan tangan gue di atas kepala gue tanpa ampun.
O-oh oke.
"Splashing in your deep end, hydrate me," Dia mengubah posisinya sehingga salah satu lututnya menekan area intim gue yang panas.
Satu-satunya yang memisahkan panas gue dan lututnya adalah legging tipis dan pakaian dalam gue.
"Oh baby, come sit down right on my face," dia bernyanyi, menggigit bibirnya saat dia melihat mata gue membesar karena kaget.
Gue tau itu liriknya, tapi dia nyanyiinnya seolah-olah dia nyuruh gue buat begitu.
Nggak cuma kaget sama liriknya, gue juga kaget karena gue makin basah dan makin basah makin lama dia nyanyi sambil natap gue begitu.
Tatapan yang bilang dia nggak berniat baik sama gue.
Yah, dalam kasus ini gue yakin itu tubuh gue.
"Nobody's compares to you what it's worth," dia bernyanyi manis.
"And your pool is like heaven on earth, babe," dia menekan lututnya lebih jauh ke area intim gue yang terlalu panas.
Gue menyandarkan kepala gue ke belakang, memperlihatkan leher gue ke arahnya, saat gue tanpa sadar mengeluarkan desahan ringan hanya untuk menggigit bibir bawah gue setelahnya.
Sebagian karena malu dan sebagian karena gue pengen dia narik gue di sini, sekarang juga.
"You screaming while I'm touching your spot," dia menggoda gue sambil mendekat ke wajah gue, cukup dekat sehingga gue bisa merasakan napasnya yang ringan di bibir gue yang menggebu-gebu, tapi terlalu jauh untuk gue benar-benar bisa bersandar dan menciumnya.
"Oh girl, I got your water so hot," dia melanjutkan saat salah satu tangannya pelan-pelan mulai naik ke elastis sports bra gue.
Nggak narik semuanya dan memperlihatkan apa yang ada di baliknya karena menghargai gue dan tubuh gue.
"Keep it right there baby, don't lose it" dia melewati bagian ini.
"Drown in it, Chris Brown" gue jawab, ekspresi wajah gue yang terangsang nggak pernah hilang.
"Oh nggak, gue kalah," dia bercanda dengan nada suara sarkastik.
"Berhenti dan cium gue, Kingsbury," kata gue, tau dia ngerasa sama terangsangnya kayak gue saat ini.
"Dan gimana kalau gue nggak mau, princess?" Dia bertanya balik dengan tatapan menantang.
Gue mengeluh karena frustrasi seksual mulai terasa.
Dengan beberapa keajaiban, gue bisa melepaskan tangan gue dari cengkeramannya dan dengan paksa membalik dia jadi gue yang sekarang duduk di pinggulnya.
Gue nggak menanggapi godaannya saat gue menunduk, secara resmi membiarkan bibir kita bersentuhan.
Kita nggak lembut, terutama Aurelia.
Genggamannya di pinggul gue mengencang saat gue mulai menggesek dengan putus asa ke perut bagian bawahnya.
Kita lagi ada di tengah-tengah sesi ciuman yang kikuk banget.
Bibir kita dengan putus asa saling menggesek tanpa tujuan.
Tangannya dengan bersemangat mulai turun ke pantat gue seolah-olah ini pertama kalinya dia menyentuhnya.
"Sialan," dia menggeram saat dia mengambil segenggam penuh di tangannya dan dengan kuat menampar salah satu pipi bawah gue, bikin aliran kebasahan menggenang di celana dalamnya.
Celana dalam gue seratus persen rusak.
"Lakuin lagi," gue minta di sela-sela ciuman.
Dia nggak nolak saat dia membawa tangannya kembali hanya untuk menampar pipi yang berdekatan sedikit lebih keras.
Gue nggak ketinggalan caranya jarinya menyelinap menggesek diri ke celah gue yang tertutup melalui legging gue, bikin gue menggigil karena kontak tiba-tiba.
"Sial, lo basah banget," bisik gue dengan jelas kaget di wajahnya, bikin gue tersipu malu nggak bersalah.
Gue nggak tau harus ngomong apa.
Gue belum pernah sebasah ini sebelumnya.
Basah sampai gue nggak cuma nembus celana dalam gue, tapi juga legging gue!
Gue nggak punya kesempatan buat mikir lebih jauh karena gue balik lagi ke punggung gue. Dia pakai tangannya buat menggoda mendorong kaki gue ke atas dan terpisah, ngasih dia pandangan sempurna tentang segalanya.
Kalo aja gue telanjang.
Saat dia mengelus paha gue di dekat lutut gue, gue semakin frustrasi.
"Lakuin sesuatu," rengek gue, bikin dia menyeringai nakal.
"Gue lagi lakuin sesuatu," jawabnya, bikin gue menggerutu.
"Sentuh gue!" gue merengek lebih keras saat dia terus memijat paha bagian bawah gue.
"Gue lagi," jawabnya lagi, bikin gue menggeram.
"Nggak di situ, di sini," kata gue saat gue dengan kasar meraih pergelangan tangannya dan meletakkan tangannya di atas pusat gue yang panas dan tertutup, cuma buat mata gue terpejam dan kepala gue mendongak saat jari tengahnya nggak sengaja menggosok klitoris gue yang tertutup.
"Menarik," Aurelia bergumam pada dirinya sendiri.
"Boleh?" tanyanya saat dia narik bahan legging gue.
"Bisa," kata gue, suara gue terdengar nggak sabar semakin lama dia nunggu.
"Gue beliin yang baru nanti," gumamnya cepet.
Gue mau nanya maksudnya apa waktu dia tiba-tiba merobek legging gue di area selangkangan.
Gue tau gue bakal marah sama dia nanti, tapi buat sekarang gue terangsang di luar akal sehat.
"Sial," cewek berambut hitam itu berbisik pada dirinya sendiri saat dia dengan rakus menatap paha bagian dalam gue yang berantakan.
Gue ngeliatin dia dengan ekspresi wajah sedikit waspada karena gue belum pernah ngeliat matanya segelap ini sebelumnya.
Dia pakai jari telunjuknya buat menyeka sebagian kebasahan di paha gue.
Yang dia lakuin selanjutnya bikin rahang gue jatuh.
Dia ngambil jari itu dan masukin ke mulutnya, bener-bener ngecap gue.
"Lo rasanya kayak buah delima," katanya, bikin gue mengerutkan alis.
Itu aneh.
"Uh, makasih," jawab gue nggak tau gimana harus jawab pernyataan itu.
"Gue suka delima, itu sebenernya buah favorit gue," dia ngasih tau gue saat dia bersandar ke arah gue dan mulai mengisap jari-jarinya dengan menggoda, bikin gue kehilangan fokus selama sedetik.
"Ironis," gumam gue, bikin dia lepas jarinya yang sekarang basah dari mulutnya.
"Nggak bisa lo liat, kita ditakdirkan buat satu sama lain, princess," dia mulai menggoda saat ujung jarinya dengan ringan menyentuh celah gue yang tertutup.
Siksaannya tapi efektif bikin gue tegang.
"Sumpah demi Tuhan, Kingsbury, kalau jari-jari lo nggak ada di gue dalam tiga detik ke depan, gue bakal naik ke atas dan ngurusin kebutuhan gue sendiri," gue mengancam sambil melotot.
"Cuma perlu minta," jawabnya nakal, bikin mata gue membelalak.
Oh, nggak.
Sebelum gue punya kesempatan buat interogasi dia, dia merobek celana dalam gue yang rusak jadi dua bagian dan nyelipin dua jari ke gue.
"Sialan," gue mengumpat saat gue bersandar di siku untuk melihat ke bawah ke arah jari-jarinya yang panjang dan sedikit kesulitan masuk sebelum keluar dan mengulangi hal yang sama.
"Sial, lo sesempit itu sampai gue hampir nggak bisa gerak waktu lo ngerasain gue," Dia menggerutu saat dia menaruh tangan lainnya di area atas pussy gue sebelum jari-jarinya di dalam gue semakin cepat.
"Ya Tuhan, terusin," gue merintih saat gue jatuh kembali di sofa.
Gue nggak tau apakah gue mengacu pada perasaan luar biasa yang mengalir melalui tubuh gue atau masalahnya karena gue 'terlalu sempit'.
Secara pribadi, gue rasa gue-"Ya!" gue merintih saat dia mulai melakukannya lebih cepat.
"Sst, kita nggak mau ada yang masuk kan?" Dia bertanya dengan seringai tapi gue abaikan karena tangannya yang sebelumnya menekuk di area pussy gue bagian atas bergerak untuk dengan kejam menggosok klitoris gue yang sensitif.
"Sial, sial, sial" gue menjerit saat gue berusaha meraih sandaran bantal sofa.
Klimaks gue naik tapi gue butuh grounding untuk sedetik.
"Lo mau selesai?" Dia menggoda, udah tau jawabannya.
Gue nggak bisa ngomong, cuma ngos-ngosan aja, saat gue cuma ngangguk ke bajingan sombong itu.
"Gue punya kejutan buat lo," katanya saat jari-jarinya nggak berhenti dengan tekanan intens mereka.
"A-apa, sial, a-apa, astaga sialan," gue tergagap cuma buat lupa pertanyaannya saat dia mempercepat lebih cepat, bikin mata gue memutar dari kesenangan yang luar biasa.
Gue bahkan nggak tau kalau dia bisa lebih cepat lagi.
"Gue- gue-" gue mencoba ngomong cuma penglihatan gue buram saat dia melengkungkan jarinya ke titik ajaib di dalam gue.
Gue ngerasa kayak keluar selama beberapa detik sebelum gue mulai mengedipkan mata dan menatap langit-langit. Begitu gue balik, gue liat cuma Aurelia punya tatapan khawatir di wajahnya saat dia terus-menerus ngurangin tekanan di klitoris gue yang bengkak dan terlalu sensitif.
"Apa yang terjadi?" gue tanya dengan suara serak saat gue dengan lemah ngangkat tangan buat megang kepala gue yang pusing.
"Gue nemuin titik lo tapi gue rasa gue udah neken terlalu keras," katanya nggak terdengar menyesal sama sekali.
Sekarang dia nyebutinnya gue ngerasain area bawah gue bergetar dan paha gue gemeteran.
Apakah ini normal?
"Berapa lama gue pingsan?" tanya gue.
"Nggak terlalu lama, paling lama semenit setengah," jawabnya.
Gue ngangguk ngerasa terlalu capek buat nyelesaiin percakapan kita.
"Woi Hanna, lo ninggalin-" Faith ngomong saat dia masuk ke kamar cuma membeku waktu dia sadar dia mengganggu sesuatu.
"Ya ampun, maaf banget, gue nggak tau kalian akhirnya-" dia ngoceh dari kusen pintu saat dia balik badan ngadep tembok.
Gue ngambil selimut baru dari kompartemen penyimpanan rahasia kita, karena kita udah ML di selimut lain, dan membungkusnya di pinggang gue biar dia nggak liat area privasi gue.
"Faith, nggak papa, apa yang pengen lo kasih ke gue?" gue tanya dia.
Dia dengan canggung berbalik dan menghela napas lega saat ngeliat gue ketutup dan duduk di samping Aurelia.
"Lo ninggalin hp lo di rumah gue, Isabella buka pintu dan bilang ke gue lo di sini," jelasnya cepet saat dia ngasih gue hp gue.
Gimana sih gue bisa lupa hp gue?
"Makasih ya, gue hargain banget," kata gue ke dia dengan senyum bersyukur tapi juga capek.
Gue harusnya ngerasa malu, tapi nggak juga.
Bisa aja karena gue masih belum pulih dari pingsan.
Bisa aja karena dari sudut pintu tubuh Aurelia menghalangi semua bagian gue yang terbuka.
Bisa aja karena ngeliat Faith salah tingkah itu lucu banget.
Atau bisa jadi semua di atas.
"Dah," dia melambai dengan canggung sebelum keluar dari ruangan.
Aurelia dan gue ketawa karena ini.
Gue bakal tebus ke Faith besok waktu dia dan Bailey dateng.
"Lo kayaknya rileks banget," Aurelia berkomentar dengan kedipan.
Bajingan sombong.
"Lo coba aja deh dijariin dan pingsan," gumam gue, bikin dia ketawa karena jawaban gue.
Gue senderin kepala gue di bahunya, makin ketiduran seiring berjalannya waktu.
"Lo capek?" Aurelia nanya dengan suara imut bikin gue senyum saat gue ngangguk.
"Tidur aja, gue ada di sini waktu lo bangun," katanya.
"Janji," gue berbisik udah ketiduran.
"Janji"