Bab 3
Hari ini hari Selasa dan gue udah nyesel bangun pagi ini.
Gue hampir nggak punya tenaga buat bangun, satu-satunya alasan gue beneran bangun karena adik kecil gue, Haley, ngegangguin gue.
Karena gue harusnya berangkat ke sekolah dalam sepuluh menit, gue cuma pake baju tercepat yang bisa gue pake.
Terdiri dari jaket Harvard kebesaran yang gue paduin sama celana jeans sobek-sobek dan sepatu vans putih. Gue males banget ngurus rambut jadi gue kuncir kuda aja.
"Hanna, perhatiin," Guru Sains Hanna teriak.
Gue kaget dari kursi karena kaget tiba-tiba. Gue lihat ke atas dan sadar dia lagi melototin gue.
Kenapa dia benci gue banget sih?
Gue muter mata pas dia balik lagi ngajar tentang kemiringan bumi.
Kita anak kelas dua, kenapa kita harus belajar tentang sesuatu yang udah kita pelajarin sejak kelas lima SD.
"Apa yang ngerangkak di pantatnya pagi ini?" Aurelia komentar dari samping gue sambil terus nge-scroll Instagram-nya.
Serius?!
Dia bisa sengaja mainan hapenya tapi gue nggak bisa nggak sengaja ngelamun.
"Hal yang sama yang udah ada di sana sejak hari pertama sekolah," gue bilang pelan, berharap dia nggak denger.
Aurelia ketawa kecil dan naruh hapenya. Gue perhatiin dia nyenderin dagunya di tangan yang ngepal dan natap samping muka gue intens.
Gue terus natap lurus ke depan, ke diagram di papan tulis, berusaha mati-matian buat nggak ngehirauin jantung gue yang berdetak kencang.
Semakin lama gue ngerasa mata abu-abunya yang misterius di muka gue, semakin keras jantung gue mulai berdetak.
"Gue nggak ngerti lo," akhirnya dia bilang setelah natap gue paling lama.
Gue manfaatin kesempatan ini buat liat ekspresi wajahnya yang surprisingly tenang.
"Maksudnya apa?" gue tanya dia dengan alis terangkat.
Dia lepasin dagunya dari tangan yang ngepal dan nyenderin badannya di kursinya, mastiin buat tetep fokus penuh ke muka gue.
"Gue biasanya bisa baca orang dari penampilan dan postur tubuh mereka," katanya dengan seringai kecil.
"Oh ya?" gue jawab, nyemangatin dia buat lanjut pas gurunya mulai ngomongin gaya gravitasi.
"Nggak percaya?" dia nantangin sambil nunjuk temen sekelas random di barisan depan.
"Dia anak tunggal, ngeliat dari pakaiannya, orang tuanya manjain dia tapi cukup bisa ngontrol dia ngeliat dari cara dia nampilin diri, dan akhirnya, seseorang udah nyakitin dia dalam bentuk apa pun, itu sebabnya dia biasanya nggak sopan ke banyak orang," Aurelia selesai dengan alis terangkat.
"Itu cuma asumsi, Aurelia," gue bilang dengan datar.
"Lo mau tau apa yang udah gue temuin tentang lo sejauh ini?" dia nanya dengan tenang.
Gue miringin kepala ke samping sambil pasang muka 'serius lo'.
"Lo entah anak tunggal atau anak pertama, Lo baru aja ngelewatin putus yang buruk sama cowok brengsek yang egois, karena putus itu lo punya masalah kepercayaan, dan akhirnya lo diam-diam gay," dia nyatain yang bikin mata gue melebar kaget.
Apaan sih-?
Kok dia-?
Tunggu dulu.
Dia bilang gay?
Gue nggak gay.
Nggak mungkin gue bisa gay.
"Gue harus akui itu mengesankan, tapi lo salah satu hal," gue bilang sambil denger guru nyebutin sesuatu tentang kerja kelompok.
"Oh ya, apa itu, princess?" Aurelia nanya dengan ekspresi tau segalanya, seringainya nggak pernah ilang dari mukanya.
Gue nggak ngehirauin kupu-kupu di perut gue yang tiba-tiba muncul dari panggilan itu.
"Gue nggak gay," gue kasih tau yang bikin dia ketawa.
"Apa yang lucu?" gue tanya dengan nada serius.
"Sayang, gue bisa ngerasain ke-gay-an lo nyebar dari lo pas pertama kali kita ketemu," katanya.
Jadi, kemarin.
"Pasti orang lain karena gue nggak begitu," gue bilang pas gurunya ngomong sesuatu yang ngebuat gue tertarik.
"Kalian punya waktu tiga hari buat ngerjain proyek ini, pasangan kalian buat proyek ini adalah partner lab kalian yang harus kalian kerjain di luar sekolah," guru selesai.
Tolong bilang kalau dia bercanda.
Gue nggak cuma harus ketemu Aurelia di sekolah tapi juga setelah sekolah.
"Lo tau, itu yang semua orang bilang. Spoiler alert, mereka akhirnya keluar," dia bilang, ngebales omongan gue sebelumnya.
Nggak mungkin gue bakal kerja sama dia setelah sekolah walaupun buat proyek sains.
-
"Lo udah liat baju Aurelia hari ini?" Bailey bilang dengan nada yang tertarik.
Hari ini Aurelia pake sweater merah tua yang dia paduin sama legging hitam dan sepatu boots hitam tebal.
"Iya, gue penasaran dari mana dia dapet sepatunya," Faith jawab.
Eugh.
Gue rasa temen-temen gue rusak, lagi.
Sekarang udah akhir hari dan gue di loker gue, masukin PR dan perlengkapan sekolah ke tas gue.
"Hanna?" Faith nanya, berhasil ngebuat gue keluar dari pikiran gue sendiri.
"Apa?" gue tanya dia sambil ngelempar tas gue ke bahu dan nutup loker gue.
"Dia baru aja nanya apa kita bisa main ke rumah lo akhir pekan ini," Bailey jawab pas kita mulai jalan ke arah pintu ganda.
Gue mikir sebentar tentang jadwal gue, yang biasanya kosong, sebelum mengerang pas gue inget kalau gue beneran punya sesuatu yang harus didatengin akhir pekan ini.
"Nggak bisa, Ibu Hanna lagi ngadain gala ini dan mau seluruh keluarga kita dateng," gue bilang dengan nada sedih.
Ekspresi wajah mereka sama kayak gue sebelum Faith tiba-tiba kaget, ngebuat Bailey dan gue kaget.
Gue lihat ke arah yang Faith liatin cuma buat mata gue melebar pas mereka berhenti ke Aurelia yang mukanya songong.
Shit.
Sebelum gue dapet kesempatan buat kabur dari dia, lagi, dia udah ngegenggam pergelangan tangan gue yang efektif ngebuat kaki gue lumpuh.
Apaan sih?!
Seharusnya gue kabur dari dia, bukan berdiri di depannya, menikmati sensasi geli yang dia kasih.
"Lo udah ngindarin gue, princess?" Aurelia nanya dengan seringai yang tau segalanya.
Gue bakal lakuin apa pun buat ngehapus seringai itu dari mukanya.
Dan gue beneran mau lakuin apa pun.
"Jangan songong deh," gue bilang dengan kejengkelan yang jelas di nada suara gue sambil narik pergelangan tangan gue keluar dari genggamannya.
"Gue nggak ngindarin lo," gue jawab.
Dia naikin alisnya ke arah gue seolah bilang 'lo bercanda, kan?'.
"Ehm, kita tinggalin kalian berdua deh," Faith bilang sambil ngegenggam pergelangan tangan Bailey dan mulai ngejauh dari Aurelia dan gue.
Gue mengerang karena jengkel sambil ngangkat tangan gue buat megang dahi gue.
"Lo mau apa, setan berwajah cantik?" gue tanya ke cewek berambut hitam di depan gue.
"Denger, kita udah di jalur buat temenan, princess," dia ngeledek yang ngebuat gue ngepalin tangan gue di samping.
"Aurelia, gue sumpah demi Tuhan," gue bilang, kesabaran gue menipis lebih cepat dari rambut guru matematika gue.
Dan itu banyak banget.
"Yang gue mau cuma kebenaran," katanya.
"Gue udah kasih lo kebenaran," gue nyatain dengan datar.
"Tiap kali gue masuk ruangan, lo keluar," dia ngasih tau.
"Mungkin gue cuma punya tempat buat pergi," gue bilang sambil nyilangin tangan gue.
Dia niruin gaya gue ngebuat gue makin jengkel.
Apa masalahnya dia?
"Pas gue masuk kantin, lo ngelirik gue sebentar sebelum ngambil tas lo dan kabur dari sana," katanya.
Sial.
Gue harap dia nggak liat gue.
"Gue harus ke kamar mandi," gue lemah membela diri sambil mulai jalan menjauh dari dia.
"Beneran? Karena pas gue nanya Bailey dan Faith kenapa lo pergi, mereka bilang lo nggak mau ketemu gue," katanya sambil ngejar gue.
Oke.
Bailey, Faith, dan gue harus diskusi karena ini udah kelewatan.
"Kenapa lo peduli? Lo hampir punya seluruh sekolah yang pengen sama lo, apa bedanya gue sampe lo harus ngegangguin gue tiap ada kesempatan?" gue jawab sambil ngebuka pintu dan nyari mobil Ibu Hanna.
Dia ketawa karena hal itu yang ngebuat merinding di kulit gue. Gue ngerasa dia nyenderin di sebelah telinga gue yang ngebuat jantung gue lari maraton.
"Satu, lo gampang jengkel," katanya ngebuat gue muter mata.
"Dan dua, lo nggak kayak yang lain," dia selesai sebelum pergi ninggalin gue kaget dan bingung sekaligus agak frustasi.
Gue nggak percaya sama dia.
Dia berita buruk.
Siapa tau apa yang dia rencanain.
-
Gue baru aja selesai PR cuma buat tiba-tiba inget kalau gue punya proyek sama setan yang harus dikumpulin dalam tiga hari.
Gue nolak buat kerja sama dia di luar sekolah.
Siapa tau apa maksudnya.
Hape gue mulai bunyi dari meja samping tempat tidur gue, ngebuat pikiran gue terhenti. Gue meraih dan cabut alat itu sebelum ngegeser tombol 'terima' dan nunggu video call-nya tersambung.
Pas tersambung, gue ketemu sama muka Faith.
"Gimana obrolan lo sama Aurelia?" dia nanya, nggak pake basa-basi.
"Seneng ketemu lo juga, Faith," gue bilang sambil ketawa kecil pas gue nyenderin punggung gue ke sandaran kepala gue.
Dia muter mata ke arah ke sarkasme gue.
"Gue serius, Hanna, ruangan itu berasa beda tiap kalian berdua ada di dalamnya," katanya yang ngebuat gue ketawa.
"Itu lawakan yang bagus, Faith," gue jawab.
"Hanna, kenapa lo ngindarin dia? Dia berusaha banget buat temenan sama lo," katanya dengan datar.
Gue diem sambil merhatiin kata-katanya.
"Gue nggak bisa deket sama dia," cuma itu yang gue jawab dengan nada serius. Hal ini ngebuat Faith tertarik dan dia mengerutkan dahi ke arah gue.
"Apa ini karena Chadley?" dia nanya, kena banget sasaran.
Gue cuma ngegigit bibir gue dengan gugup sambil memutus kontak mata kita. Dia menghela napas karena hal ini, meraih perhatian gue.
"Hanna, cuma karena lo salah sama niat seseorang bukan berarti niat semua orang buruk," katanya dengan nada kebapakan.
"Ya, gue nggak akan pernah tau karena gue mau mengakhiri apa pun yang ada antara gue sama dia," gue bilang dengan tekad baru.
"Hanna, lo dan gue sama-sama tau kalau itu bukan yang lo mau," Faith bilang dengan kecewa.
"Iya, bener. Denger, gue harus pergi, gue ketemu lo besok," gue bilang sebelum menutup telepon, nggak ngasih dia waktu buat jawab.
Gue ngelempar hape gue ke samping gue dan mulai ngumpulin perlengkapan sekolah gue supaya gue bisa masukin lagi ke tas gue.
Pas gue selesai beres-beres, gue denger ketukan di pintu gue.
"Masuk," gue teriak sambil naruh tas gue di samping tempat tidur gue.
Kenop pintu dengan cepat muter sebelum nunjukin muka Ibu Hanna sekaligus adik kecil gue, Isabella.
Gue nggak banyak liat dia akhir-akhir ini. Dia biasanya main sama temen-temennya atau Bibi Hanna.
"Ibu bikinin kamu beberapa kue," kata Ibu Hanna sambil jalan ke arah gue dan naruh piring berisi kue di pangkuan gue.
"Gue tau lo nggak masuk sini cuma buat ngasih gue piring berisi kue," gue bilang sambil Isabella naik ke tempat tidur gue dan duduk di samping gue.
"Lo bener, apa kamu mulai terbiasa balik lagi?" dia nanya beneran sambil ngasih Isabella kue.
"Kecuali fakta kalau Chadley dan Ava ngebuat tujuan mereka buat mempermalukan gue, cewek baru ngebuat gue bingung secara emosional dan sahabat gue ngebuat gue masuk ke jalan yang berbahaya, ya," gue jawab sebelum makan kue.
Dia ngasih gue ekspresi wajah yang terhibur sambil nyilangin tangannya.
"Apa ini omongan tentang cewek baru yang ngebuat lo bingung secara emosional?" dia ngeledek yang ngebuat rona merah naik di pipi gue.
Gue nggak sempet jawab karena Ibu masuk ke kamar.
"Sayang, Carolina bilang dia mau nginepin Haley seminggu ini," katanya sambil matanya nggak lepas dari Ibu.
"Nggak, kita butuh dia di gala akhir pekan ini. Kata-kata kamu, bukan aku," Ibu Hanna jawab.
Ibu mengangkat tangannya dengan gerakan menyerah sebelum keluar dari kamar gue.
"Pokoknya, kalau kamu butuh seseorang buat cerita tentang 'emosi' ini, aku selalu ada buat kamu," katanya dengan senyum tulus.
"Makasih," gue jawab sambil ngebales senyumnya.
Dia ngangguk dan keluar dari kamar gue sambil bawa Isabella. Pas dia nutup pintu, gue menghela napas sebelum makan lagi kuenya.
Gue harus ngejauhin cewek baru ini dari hidup gue.
Dan cepet.