Bab 26
Gue ambil ransel gue terus gue sampirkan di bahu sebelum keluar dari kelas pelajaran keempat gue.
Ibu Hanna nge-teks gue di tengah pelajaran, nanya Aurelia memperlakukan gue dengan baik atau nggak.
Gimana gue harus jawabnya coba?!
Ya, apalagi pas kepalanya ada di antara paha gue.
Ugh.
Mereka tahu nggak sih sedekat apa gue sama dia?
"Hei, mini Wilder," goda Aurelia pas gue nyamperin dia.
Gue ngeliat ke wajahnya cuma buat nyadar dia lagi ngeliatin gue sambil seneng.
Dia bercanda, kan?
"Ih, gue benci banget nama panggilan itu," gue nyuarain rasa nggak suka gue sambil ngernyitkan hidung.
Bikin gue geli dan kedengarannya kayak sesuatu yang diucapin anggota keluarga ke gue.
Dia ketawa sambil ngulurin tangannya. Gue senyum sambil ngegenggam tangannya dan ngejalin jari kita.
"Ada apa sama nama belakang lo?" dia nanya iseng pas kita jalan ke arah pintu ganda.
"Nggak ada apa-apa, cuma kedengarannya aneh dari mulut lo," jawab gue jujur sambil mata gue ngarah ke Bailey yang lagi ngomong semangat sama Faith di depan sekolah.
Ya Tuhan.
Gue kasihan banget sama Faith sekarang, tapi gue nggak bisa berhenti mikir kalau pertemuan mereka lucu.
"Oh," katanya bikin gue mengerutkan dahi karena jawabannya yang nggak jelas.
"Apaan?" gue nanya penasaran pas dia ngebuka pintu dan ngebiarin kita keluar dari gedung.
"Kalau lo nggak suka nama belakang lo, tapi suka ngomong nama gue, kenapa nggak gue kasih aja nama belakang gue ke lo?" dia ngasih saran dengan santai.
Wa-
I-
Kok dia bisa-?!
Ugh.
Bajingan licik.
Gue diem aja, sementara rona merah mulai muncul di wajah gue.
"Makanya lo harus jaga- oh, hai, teman-teman," Bailey ngoceh cuma buat senyum pas dia ngeliat kita.
Puji Tuhan dia nggak nyelesain kalimatnya.
"Kenapa muka Hanna lebih merah dari hiasan Natal?" Faith nanya sambil ngeliat Aurelia dan gue dengan ekspresi curiga.
Ugh.
"Kingsbury baru aja ngajak gue nikah," jawab gue sambil memutar mata bikin mata Bailey membelalak.
"Cuma bercanda," kata Aurelia sambil cekikikan.
Ya, iyalah.
"Kedengarannya nggak kayak bercanda," gue gumam pelan.
"Kalian berdua ngasih arti baru buat kata 'lesbian', kalian bahkan belum pacaran," jawab Faith pas kagetnya karena 'diajak nikah' udah mulai hilang.
Aurelia mengangkat bahunya sementara Ibu Bailey datang di depan kita.
Kita berempat cepet-cepet masuk ke mobil Nona Harrington. Aurelia, Faith, dan gue duduk di belakang sementara Bailey duduk di kursi penumpang.
Gue mengalihkan pikiran gue dengan gerakan pohon saat ibunya menjauh dari trotoar dan keluar dari tempat parkir sekolah.
"Kue jenis apa yang mau kita bikin?" Aurelia berbisik ke gue bikin gue noleh ke cewek berambut hitam itu.
Faith sibuk banget ngeliatin jendela samping, sementara Bailey ngobrol sama ibunya soal 'bekal sekolah'.
Dia random banget.
"Nggak tahu, apa kesukaan lo?" gue nanya tulus.
Gue nggak benci Aurelia sebanyak yang gue pikirin.
Jadi, kalau gue pengen punya hubungan sama dia di masa depan, gue harus kenal dia lebih dalam.
"Kecuali punya lo," dia bercanda, ngeliatin gue dari atas sampai bawah bikin gue nge-smack bahunya.
Mesum.
Gue nggak bisa nggak salting pas perut bagian bawah gue mulai bergejolak.
"Gue suka yang ada Nutellanya di tengah, Nutella vegan," jawabnya jujur.
Menggoda.
"Sama," jawab gue.
Gue sebenernya belum pernah nyobain Nutella vegan sebelumnya, tapi gue bisa bayangin rasanya mirip sama Nutella biasa.
"Gue pribadi mikir kalau rasanya jauh lebih enak kalau buatan sendiri," kata gue sambil dia ngeliatin gue intens.
Kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu?
Kayak gue film favoritnya, gitu.
"Gue belum pernah nyobain yang buatan sendiri sebelumnya," katanya bikin mata gue membelalak.
Apaan?!
"Lo bercanda, kan?" gue nanya.
Gue harap banget dia bercanda.
"Nggak," jawabnya bikin gue senyum.
Oh.
Gue pasti jadi yang pertama buat dia.
"Kita pasti bikin," kata gue, nggak mau ada penolakan.
"Gue nggak sabar lo jadi yang pertama buat gue," dia menyeringai.
Gue natap cewek bermata abu-abu itu dengan intens pas dia ngangkat tangan gue ke bibirnya dan ngeletakkin ciuman lembut di sana.
Aduh.
Gue senyum sambil condong dan ngecup pipinya.
-
"Bisa tolong ambilin bubuk kokoa?" gue nanya cewek bermata abu-abu itu pas gue mulai ngeikat rambut pirang gue jadi sanggul kipas.
Kita udah sampai sini beberapa menit yang lalu.
Kita lepas sepatu dan udah nyaman, Aurelia bahkan ganti baju pake celana olahraga abu-abu muda dan sport bra 'Calvin Klein'.
Gue harus pake semua kekuatan nahan diri gue pas ngeliat dia buka baju.
"Udah gue bilang belum sih kalau lo kelihatan imut banget sekarang?" dia nanya, melingkarkan tangannya santai di pinggang gue yang masih pake baju.
Gue sekarang masih pake baju yang tadi dengan tambahan kacamata dan sanggul.
"Bubuk kokoa," kata gue sambil nunjuk ke lemari tempat bubuk itu berada.
Kita lagi bikin Nutella vegan buatan sendiri.
Semoga berhasil.
Dia mendesah sambil nengok ke belakang, ngasih gue pemandangan sempurna jakunnya, sebelum ngelepasin gue dan jalan ke arah bubuk kokoa.
Gue jalan ke arah kulkas tempat gue ngambil susu almond dan mentega nabati.
Gue berasumsi orang tua gue baru aja beli ini karena kita belum pernah punya ini di kulkas sebelum kita ketemu Kingsbury.
Saat gue naruh bahan-bahannya di meja, Aurelia ngeliatin gue aneh.
"Sejak kapan lo suka susu almond?" dia nanya.
Sejak dulu banget.
Tapi kan nggak kayak kita pernah ngobrol soal preferensi susu gue sebelumnya.
Gue benci semua jenis susu yang berasal dari hewan.
Sapi, kambing, sebut aja.
Alasan gue soal ini karena susu mereka buat bayi mereka. Bayi mereka butuh susu ibunya buat tumbuh, sama kayak kita pas masih bayi.
Kapan pun gue ngeliat orang minum susu hewan, gue nggak bisa nggak pengen muntah.
"Gue selalu suka susu almond, tapi resepnya nggak bakal berhasil kalau gue pake susu biasa," kata gue sambil mengangkat bahu.
Mereka harus bikin lebih banyak resep yang inklusif.
Gue pengen banget nyobain resep yang butuh susu beras atau susu oat.
Gue ngerasa itu bakal jadi tantangan buat gue sebagai pembuat kue.
Gue ngulurin tangan gue cuma buat dia naruh bubuk kokoa di sana bikin gue senyum.
Ini bakal seru.
-
Waktu berlalu dengan lancar.
Gue gabungin dan campur adonan kue sementara Aurelia nggak berhenti ngegombalin gue atau pura-pura jadi koki pembantu gue.
Sejauh ini dia berhasil bikin gue salting lima kali dan berhasil nyiapin Nutella buatan sendiri dengan aman, yang rasanya enak banget.
"Ambil sendok dan tuangin Nutella ke kue ini," kata gue ke dia pas gue ngambil adonan kue dan naruh di loyang yang udah diolesi minyak.
Aurelia dengan diam-diam nurut pas dia jalan ke arah laci sendok garpu dan ngambil sendok plastik, nggak mau terlalu banyak nyuci piring setelahnya.
Dia balik lagi ke gue dan ngambil Nutella oles sebelum ngeratain adonan kue gue dan naruh sesendok kecil selai hazelnut buatan sendiri di atas adonan yang belum dimasak.
Ada ekspresi konsentrasi di wajahnya pas dia ngerjain tugas yang gue kasih.
Kalau gue jujur, dia kelihatan hot banget sekarang.
Tenang, Wilder.
Dia beneran ngeseks sama lo pagi ini.
Tiga kali!
"Selesai," katanya, efektif bikin gue keluar dari pertempuran batin gue.
Gue ngeliat ke kue-kue itu dan senyum.
Dia beneran bagus banget ngerjainnya.
Gue ambil alih dan naruh lebih banyak adonan kue di atas Nutella.
Aurelia diam-diam melingkarkan tangannya di pinggang gue, dari belakang, bikin gue kaget.
"Lo ngapain, Kingsbury?" gue nanya sambil nerusin tugas gue.
"Melukin cinta dalam hidup gue," dia bergumam sambil nunduk dan naruh dagunya di bahu gue.
Gue mencibir, bikin dia mengerutkan dahi.
"Kita baru kenal dua bulan, Kingsbury," kata gue.
Kita ketemu di pertengahan Agustus dan sekarang pertengahan Oktober.
Nggak mungkin banget dia cinta sama gue.
Apalagi kita bahkan belum pacaran.
"Gue nggak bohong, putri," katanya bikin gue membeku saat gue nyelesain kue terakhir.
Gue pelan-pelan balik badan buat ngadepin cewek berambut hitam itu.
Ekspresi wajahnya serius, ngasih tahu gue kalau dia tulus.
"Lihat mata gue dan bilang gimana gue bikin lo ngerasa," gue menuntut, harus tahu apa yang bakal gue hadapi.
Cewek bermata abu-abu itu ngelepasin tangannya dari gue bikin hati gue kayak mau copot cuma buat berdetak lebih cepet pas dia ngegenggam tangan gue yang kena adonan kue dengan erat.
"Hanna Wilder, lo bikin gue gila," dia mulai.
"Goda-godaan dan omongan lo yang nggak berhenti bikin gue nggak bisa tenang," katanya bikin senyum tipis muncul di wajah gue.
"Kecantikan lo nggak terjangkau, dari rambut pirang panjang lo sampai berbagai macam sepatu converse putih lo, lo nggak pernah berhenti bikin gue kaget setiap kali mata gue ngarah ke lo," dia nerusin bikin gue ketawa.
Gue emang punya banyak banget sepatu converse putih.
"Gue suka cara lo peduli sama saudara dan orang tua lo walaupun mereka nggak selalu nyadar," dia istirahat sebentar, pandangan penuh pertimbangan di wajahnya.
"Jadi, gimana lo bikin gue ngerasa?" dia ngulang pertanyaan gue.
"Lo bikin gue ngerasa kayak remaja yang terpesona," dia mutusin bikin gue ketawa.
"Remaja yang terpesona?" gue nanya penasaran.
"Yap, karena kapan pun mata gue ketemu mata lo, gue langsung keingetan semua alasan gue jatuh cinta sama lo," dia nyelesain bikin gue cemberut.
"Kenapa sih lo harus jadi orang yang jago ngomong?" gue bercanda, berusaha buat nggak nangis karena pengakuannya.
Dia senyum karena ini, condong buat ngeletakkin ciuman lembut di dahi gue.
"Jadi, gue lagi mikir," dia mulai lagi bikin gue mengangkat alis ke arahnya.
Gue udah nggak suka arahnya.
"Kalau lo nggak benci-benci banget sama gue, gue harap lo mau nerima gue ngajak lo kencan?" dia ngasih saran.
"Tergantung kita mau ke mana," gue ngeledek balik, berharap dia ngasih gue lebih banyak informasi.
"Itu kejutan, kalau lo setuju buat kencan, tentu saja," katanya nggak mau maksa gue buat sesuatu yang mungkin nggak gue suka.
"Oke, gue bakal kencan sama lo, kalau lo kasih tahu gue dress code-nya," jawab gue sambil menyeringai bikin dia memutar mata.
"Pake sneakers," itu aja yang dia bilang bikin gue ngangguk.
Gue ngelepas tangan gue dari tangannya karena adonannya sekarang udah hangat dan lengket.
"Kita mungkin harus cuci tangan sebelum nerusin," kata gue.
"Lo mungkin bener," dia setuju sambil ngikutin gue ke arah wastafel.
Gue harap kue-kue ini jadinya lumayan enak.
Gue belum pernah bikin kue pake Nutella vegan buatan sendiri sebelumnya.