Bab 47
Sudut Pandang Aurelia
"Maaf, gue siap," gue buru-buru keluar sambil membuka pintu kamar hotel gue.
Bailey ngeliatin gue dari atas sampai bawah sementara Faith nunjukin ekspresi jijik yang kentel banget.
"Seriusan lo mau ketemu Hanna kayak gitu?" tanya si cewek berambut cokelat, sambil nunjuk ke pakaian gue tadi malam.
Gue memutar bola mata ke arah mereka.
Gue cuma pengen ketemu Hanna dan mastiin dia baik-baik aja.
"Gue udah sikat gigi, lumayan daripada nggak sama sekali," kata gue sambil jalan keluar dari kamar.
Bailey ngehalangin gue, mendorong gue balik ke kamar hotel. Gue belum sempat protes, dia udah nge-push gue ke kamar mandi yang gede banget.
"Oke, sekarang kerjain semua yang ada di daftar," jawabnya sambil nutup pintu di belakang gue.
Ugh.
Gue mendekatkan lengan yang pake hoodie ke hidung dan menciumnya.
Oke.
Mungkin mereka ada benernya.
-
Setelah mandi kilat, Faith ngetok pintu kamar mandi dan ngasih gue setumpuk pakaian yang terdiri dari hoodie biru kerajaan, celana jeans robek hitam, dan Converse putih tinggi.
Pas gue udah selesai pake baju, dia menyisir rambut hitam gue yang kusut dan ngebagi rambut gue belah tengah, ngebuat rambut gue bergelombang semaksimal mungkin.
"Dia udah siap, B!" Faith teriak dari dalam kamar mandi.
Gue nutup telinga karena suara dia yang kenceng banget, gema di kamar mandi makin memperburuk keadaan.
Cewek berambut cokelat itu ngintip kepalanya ke kamar mandi cuma buat senyum.
"Jauh lebih baik," pujinya.
Dia ngelirik ponselnya, matanya langsung melebar pas dia ngegulir layarnya ke atas.
"Guys, kita harus cepetan," katanya ke kita.
Gue mengernyitkan alis ke cewek aneh itu sementara Faith memutar bola mata.
"Sayang, kayaknya lo nunjukin sisi kudet lo deh," kata si cewek pirang dengan nada datar.
Si cewek berambut cokelat nggak peduliin kita berdua dan cepet-cepet ngegiring kita keluar dari kamar mandi.
Pas gue keluar dari kamar mandi, gue ngambil kotak kecil warna merah darah dan jaket musim dingin hitam sebelum ngikutin Bailey keluar dari kamar hotel gue.
-
Sudut Pandang Hanna
"Apa tingkat nyeri lo masih sama?" tanya seorang perawat yang nggak gue kenal.
Dia ngunyah permen karet di telinga gue, dengan keras, harus gue tambahin.
Dia megang clipboard, dengan semua informasi medis gue di atasnya, tapi dia bahkan nggak nulis apa pun.
Dia lagi gambar naga sialan.
Singkatnya, dia nggak peduli sama pekerjaannya.
Kalo dia nggak peduli sama pekerjaannya, kenapa gue harus peduli?
"Kaki gue patah di dua tempat berbeda dan ditembak di lengan tujuh jam yang lalu, menurut lo gimana?" tanya gue dengan lesu sambil natap perawat itu dengan ekspresi wajah kosong.
Dia langsung tegang dan ngelirik gue dengan ekspresi wajah kaget.
"Ada beberapa orang yang mau ketemu lo, nanti kita suruh mereka masuk," katanya dengan nada suara yang sedikit panik.
Mata hazel gue yang lelah ngikutin badannya pas dia mundur keluar dari kamar rumah sakit.
Putri nggak tau diri sialan.
Apa dia nggak tau betapa beruntungnya dia bisa punya pekerjaan tetap?
Banyak banget orang Amerika yang berdoa minta pekerjaan dengan penghasilan tetap!
"Selamat siang, sayang," Ibu Hanna nyapa gue pas dia masuk kamar, Ibu Hanna ngikutin di belakangnya dengan perban dan gendongan di lengannya.
Gue noleh buat ngadepin dua cewek itu dengan ekspresi wajah tanpa emosi yang sama kayak yang gue kasih ke perawat.
Mereka duduk dengan canggung di samping tempat tidur pas gue nggak nyapa mereka balik, apalagi senyum.
"Dengerin, kita ngerti kalo kita mungkin bukan orang favorit lo saat ini, tapi kita rahasiain ini dari lo buat lindungin lo," Ibu Hanna bilang ke gue.
Gue memalingkan muka dari dua cewek itu, jadi gue ngadep tembok putih di depan gue.
"Gimana cara 'lindungin gue' dengan nyembunyiin informasi penting banget dari gue?" tanya gue.
Gimana kalo mereka nggak dateng tepat waktu?
Gimana kalo hal yang lebih buruk terjadi dan nggak ada saksi?
Gue denger Ibu Hanna ngeluarin napas sedih bikin hati gue sakit.
"Apa lo sadar begitu lo tau tentang apa yang kita lakuin, lo jadi target, khususnya dari Ava dan ibunya?" Ibu Hanna nanya gue.
Gue sedikit tegang pas kata-katanya kena banget ke gue.
Dia bener.
Kalo gue nggak turun ke bawah dan ngejar Aurelia dan Ava, siapa yang tau apa yang bakal terjadi?
Gue bisa aja kehilangan dia.
Dan memori terakhir yang kita punya bareng adalah gue nuduh dia bohong ke gue.
Gue jahat banget.
Gue noleh buat ngadepin cewek yang senyum lemah itu.
Gue gigit bibir bawah gue sambil berusaha nahan air mata gue yang tiba-tiba mau keluar.
Gue hampir kehilangan cinta dalam hidup gue karena keputusan yang kewalahan, impulsif, dan cuma sesaat.
"Lo tau, dulu gue juga kayak lo," Ibu Hanna nyeletuk lagi, air mata jatuh di pipinya.
"Remaja bingung yang lagi jatuh cinta," dia menggantung kata-katanya bikin gue senyum.
Gue nggak bisa nahan air mata gue yang mulai jatuh di wajah gue dan netes ke gaun rumah sakit biru muda gue.
"Gue akhirnya tau cewek yang gue cintai itu bukan cewek yang gue kira sebelumnya, tapi cinta gue nggak pernah goyah ke dia," Ibu Hanna jelasin.
Ibu Hanna ngelirik ke arah cewek itu dan ngasih ekspresi wajah penuh cinta pas Ibu Hanna terus senyum ke gue.
"Apa yang mau lo bilang?" gue tersedak di antara isak tangis kecil.
Dia tertawa karena ini dan meraih tangannya buat ngapus sebagian air mata gue.
"Jangan lepasin dia karena percayalah," dia jeda.
Ibu Hanna noleh buat ngadepin Ibu Hanna gue, senyum pas dia kepergok lagi asyik mengagumi dirinya sendiri.
"Lo nggak akan nyesel," dia selesai dengan nada suara yang menjanjikan.
Orang Tua Hanna dan gue ngobrol sebentar lagi, cuma pertanyaan standar 'gimana perasaan lo' gitu deh, sebelum keluar dari kamar rumah sakit.
Aurelia dan gue nggak punya hubungan yang sempurna, tapi gue seharusnya nggak ngambil keputusan impulsif dan gegabah buat putus sama dia.
Dia nggak akan pernah ngelakuin sesuatu buat sengaja nyakitin gue.
Selain itu, gue seharusnya udah berusaha liat semua situasi ini dari sudut pandang dia.
Walaupun gue hampir nggak tau apa-apa tentang 'geng' dan 'ketua geng', gue harusnya udah berusaha sebaik mungkin.
Bukannya Aurelia juga sakit hati?
Dia pantas dimaafkan dan gue berhutang maaf padanya.
Gue lagi nyari channel televisi pas seseorang ngetok pintu. Gue kasih izin verbal buat mereka masuk, cuma pintunya langsung kebuka dan nunjukin teman-teman gue.
Mereka dateng!
Gue ngasih mereka senyum kecil karena mata gue lagi perih karena nangis bareng Ibu Hanna.
"Hanna banana!" Bailey bilang dengan antusias pas dia masuk kamar rumah sakit.
Senyum gue melebar pas dia jalan ke arah gue dan berusaha meluk gue.
"Hati-hati, itu lengan dia yang cedera!" Faith teriak dengan nada panik pas dia nunjuk ke lengan gue yang diperban ketat.
Bailey nggak peduliin dia pas dia meluk gue erat, ngindarin lengan gue sebelum mundur dan duduk di samping tempat tidur gue, Faith dan Aurelia gabung sama dia.
Gue ngelirik ke arah cewek berambut hitam itu, cuma buat nyadar kalo dia lagi menganalisis badan gue yang babak belur dengan ekspresi wajah khawatir.
Gue ngerasain hati gue sakit kesakitan saat ekspresi bersalah yang luar biasa menetap di mata abu-abunya.
Gue dengan canggung menggigit bibir bawah gue dan mengalihkan perhatian gue balik ke Bailey dan Faith.
"Gimana rasa sakitnya?" Bailey nanya gue dengan ragu-ragu, nggak yakin apa dia mau tau jawabannya.
"Dua belas," kata gue dengan dramatis sambil nunjuk ke grafik di seberang gue yang cuma sampe sepuluh.
Dia ngangguk dengan tawa kecil.
Kita semua duduk dalam keheningan yang canggung, Aurelia dan gue saling lirik diam-diam pas kita mikir yang lain nggak liat.
"Kalian mau makan sesuatu nggak, gue pikir sekarang jam makan siang?" Faith menyela.
Dia, nggak begitu diam-diam, menyikut Bailey pas dia bangun bikin cewek berambut cokelat itu juga berdiri.
Gue ngangguk sambil mengernyitkan alis ke mereka.
Kenapa mereka bersikap aneh tiba-tiba?
"Oke, gue bakal ambil sepotong pizza kesukaan lo dan gue bakal cari sesuatu yang ramah vegan buat lo," Bailey dengan cepet nyeletuk pas dia nunjuk dari gue ke cewek berambut hitam itu.
Sebelum gue sempet nanya kenapa mereka bersikap curiga banget, mereka hampir kesandung satu sama lain buat keluar dari kamar.
"Idiot sialan," Aurelia bergumam pelan pas pintu rumah sakit nutup di belakang dua cewek itu.
Gue menghela napas, main-main sama sprei putih.
Gue harus manfaatin kesempatan ini buat minta maaf ke dia.
"Kita perlu ngomong," gue bilang ke dia.
Gue lagi nggak ngeliat dia, jadi gue nggak tau ekspresi wajah dia kayak gimana, tapi gue tau kalo gue denger dia tersentak.
"Oke," dia setuju dengan nada suara yang rentan pas dia berdiri dan jalan ke arah gue, duduk di dekat pinggul gue.
Gue noleh buat ngadepin cewek bermata abu-abu yang khawatir dengan ekspresi wajah gugup.
"Gue mau mulai dengan minta maaf ke lo, gue nggak seharusnya marah ke lo kayak gitu," gue mulai.
"Gue harusnya ngasih lo kesempatan buat jelasin semuanya ke gue dan berusaha liat semuanya dari sudut pandang lo sebelum ngambil keputusan akhir," gue meracau.
Dia tertawa karena kegugupan gue bikin gue berhenti ngomong.
"Nggak, ini salah gue," dia bilang ke gue.
"Gue harusnya bilang ke lo apa yang gue lakuin pas gue sadar lo itu anaknya bos gue," dia jelasin ke gue.
Gue langsung menggelengkan kepala.
"Nggak, gue nggak seharusnya bikin lo ngerasa nggak enak karena terlibat sama hal itu, itu nggak mendefinisikan lo sebagai pribadi," gue menyela.
"Tapi itu bagian dari gue," dia bilang pelan.
Gue pake lengan gue yang baik buat meraih dan menggenggam tangannya yang dingin, yang lagi ada di tempat tidur, sebelum menjalin jari-jari kita.
"Gue cinta sama lo, pas gue bilang gitu gue maksud semua bagian dari lo, bukan cuma yang baik-baik aja," gue bilang dengan nada jujur.
Dia senyum karena ini, ngangkat tangan gue buat naruh ciuman lembut di atasnya.
"Gue juga cinta sama lo," dia bilang dengan senyum yang jujur.
Gue senyum ke arah dia.
Dia terlalu baik buat jadi nyata.
Kita tiba-tiba pisah pas kita nyadar tatapan yang kita kasih ke satu sama lain.
Dia bukan milik gue lagi.
Gue udah memperjelas itu dua hari yang lalu pas gue tau rahasianya.
"Jadi, apa artinya ini buat hubungan kita?" gue nanya dia dengan canggung sambil mulai main-main sama sprei rumah sakit gue lagi.
"Sebenarnya," katanya sambil mulai ngeluarin sesuatu dari sakunya.
Gue noleh buat ngadepin dia, cuma nafas gue tersentak pas dia ngeluarin kotak merah gelap dari saku mantelnya.
Nggak.
Dia bercanda.
"Gue mau ngasih ini ke lo," katanya ke gue.
Dia membuka kotak yang indah itu, cuma buat nunjukin sesuatu yang lebih indah lagi.
Di dalam kotak ada cincin perak berbentuk infinity.
Sesuatu yang sederhana tapi punya banyak makna.
"Aurelia, gue-" gue tersedak berharap ini semacam lelucon.
Dia terkekeh karena reaksi gue.
"Gue tau lo baru lima belas tahun, tapi ini cincin janji," katanya ke gue.
Gue liat ke atas jadi mata hazel gue yang berkaca-kaca menatap mata abu-abunya yang cerah.
"Hanna, selama lima bulan terakhir kenal lo, gue bisa bilang lo nggak akan pernah berhenti bikin gue takjub," dia mulai.
Gue menyambut putaran air mata yang baru dengan pelukan batin, ngebiarin mereka keluar.
"Entah itu dari senyum lo yang bikin ketagihan, ekspresi wajah lo yang menggemaskan, atau cara lo yang menarik buat nunjukin penghargaan dan kasih sayang lo buat orang-orang di sekitar lo, lo lakuin semuanya dengan niat baik," dia melanjutkan.
"Pas gue pindah ke sini gue berharap semuanya bakal sama kayak sekolah-sekolah lain yang pernah gue datengin, membosankan dan nggak ada apa-apanya, tapi pas mata gue tertuju ke lo, gue bersumpah gue liat malaikat untuk pertama kalinya," dia ngasih tau gue bikin gue ngeluarin isak tangis tersedak lagi.
"Dari sana perasaan gue ke lo cuma tumbuh sampe kita terpaksa ngerjain proyek di perpustakaan, saat itulah gue seratus persen tau kalo gue jatuh cinta sama lo," dia senyum dengan tatapan mengenang di matanya.
"Lo punya penghalang tersembunyi yang terpancar dari lo yang nggak ada orang lain yang bisa menandingi, tapi pas lo akhirnya ngebiarin gue masuk," dia jeda sebentar, menggigit bibirnya.
Gue gigit juga bibir gue sambil ngapus air mata lama gue dan ngebiarin yang baru keluar dan menggantikannya.
"Sialan Hanna, gue tau nggak ada malaikat yang lebih baik buat gue," bisiknya pelan.
"Jadi, gue tau ini waktu yang paling buruk," dia menggoda bikin gue ketawa ke arah dia.
"Tapi, Hanna Rose Wilder, kalo lo nerima cincin ini gue janji nggak akan pernah ngebiarin lo lolos lagi karena 'putus' yang kita punya ini udah jadi siksaan murni," dia selesai dengan ekspresi wajah yang sedikit takut.
Gue ambil tangan gue yang baik dan naruhnya di pipinya, mendekatkan wajahnya ke wajah gue sebelum dengan lembut menaruh ciuman penuh gairah di bibirnya.
Gue ngerasain dia dengan lembut menggigit bibir bawah gue bikin gue senyum dan gue menjauh dari dia, ninggalin tangan gue di pipinya.
"Gue benci lo pas kita pertama kali ketemu," kata gue, bikin dia ketawa ke arah gue.
"Gimana sekarang?" Dia menggoda, menaruh kecupan di bibir gue.
Gue memutar bola mata ke arah kebodohannya, senyum dalam prosesnya.
Gue ambil cincin dari kotak dan naruhnya di jari manis gue, senyum karena pas banget.
"Apa itu ngejawab pertanyaan lo?" gue menggoda balik, noleh buat ngadepin cewek berambut hitam yang terhibur itu.
Mata abu-abunya berkedip buat natap mata hazel gue.
"Gue cinta banget sama lo, putri," katanya ke gue dengan tatapan murni di matanya.
Hati gue melompat dengan kegembiraan karena ini.
Gue senyum, mendekatkan wajahnya ke wajah gue lagi.
"Gue juga cinta sama lo, Kingsbury," gue bilang sebelum menghubungkan bibir kita.
Kita berdua aneh.
Dia baru aja masuk ke sini dengan cincin janji dan 'melamar' gue pas gue lagi tiduran di kamar rumah sakit.
Gue nggak bisa bilang gue pernah denger ada orang ngelakuin ini sebelumnya.
Tapi gue nggak akan minta yang lebih.
Tidak peduli betapa menjanjikan kelihatannya.
Karena Aurelia Kingsbury, dan cuma Aurelia Kingsbury, orang yang rela gue kasih hati gue.
Dan gue akan ngelakuin semuanya lagi.
Selesai.