Bab 41
Sudut Pandang Aurelia
Menurutku pribadi, bangun tidur dengan pacarku dalam pelukanku adalah salah satu hal terbaik di dunia.
Pacar.
Akhirnya aku bisa memanggilnya begitu tanpa melanggar 'batas' apapun.
"Lagi ngapain?" tanya Hanna sambil keluar dari lemariku, sekarang memakai salah satu flanelku sambil mengikat rambutnya menjadi cepol tinggi.
Aku menghentikan permainanku supaya bisa melihat gadis berambut pirang itu, hanya untuk menggigit bibir bawahku melihat pemandangan di depanku.
Sial.
Dia kelihatan sangat bagus sekarang.
Dia memilih flanel hitam dan hijau yang panjangnya cukup untuk menutupi 'aset'nya dari pandangan manusia.
Aku satu-satunya orang yang tahu kalau dia nggak pakai celana dalam sekarang, tapi memilih tetap memakai bra dan garter.
Aku nggak tahu kenapa, dia emang tidur gitu aja.
"Main Minecraft, mau ikut?" tanyaku sambil menunjuk pengontrol putih di atas mejaku.
Aku udah main beberapa menit.
Aku bangun duluan, jadi aku mandi, sikat gigi, dan ganti baju.
Celana olahraga abu-abu longgar dan sport bra hitam, lebih tepatnya.
Dia mengangguk sambil berjalan ke pengontrol dan mengambilnya. Aku membuka tanganku supaya dia ikut, yang bikin dia senyum.
Dia duduk di antara kakiku, memastikan untuk menggosokkan bokong telanjangnya ke selangkanganku, yang bikin aku mendesah.
Aku meletakkan daguku di bahunya sambil memeluk perutnya dan mengakhiri permainan supaya bisa main sama dia.
-
"Berhenti, Kingsbury," dia menggerutu saat aku terus memijat pahanya.
Kami udah main Minecraft sejam dan aku bosen.
Aku meletakkan pengontrolku di sampingku sebelum meletakkan tangan yang lain di paha Hanna dan dengan lembut membukanya.
Aku memiringkan kepalaku sedikit supaya bisa melihat matanya.
Daripada kelihatan marah, dia kelihatan fokus, tapi kebanyakan tekad.
Oke.
Berarti dia nggak nggak mau.
Aku pakai salah satu tanganku untuk menjaga pahanya tetap terbuka sementara yang lain mulai pelan-pelan naik ke pahanya.
Aku perhatikan dia menggigit bibir bawahnya saat aku dengan lembut memijat tulang yang jaraknya sehelai rambut dari bibir bawahnya.
"Aku bosen, mau makan sesuatu?" tanyaku.
Aku bisa mencium bau ibu lagi bikin bacon vegan favoritku sampai ke sini, padahal pintunya ditutup.
"Nggak, aku mau mati," desaknya sambil matanya yang berwarna hazel nggak lepas dari layar televisi yang menyala.
Aku memutar bola mata pada si pirang sambil pelan-pelan menggerakkan tanganku ke atas sehingga aku dengan lembut menggosok bibir bawahnya, menghindari gumpalan saraf kecilnya.
"Kenapa kamu horny banget?" Dia menggerutu lagi sambil mulai membunuh kambing.
Um, oke.
Agresif banget?
Aku tertawa pelan di lehernya saat dia dengan cepat semakin basah, memungkinkan jariku dengan mudah mengitari bibir merah mudanya.
Aku kaget dia nggak sensitif mengingat lima orgasme yang udah aku kasih tadi malam.
Aku merasa dia rileks di depan tubuhku.
"Satu, aku selalu horny kalau lagi sama kamu," kataku apa adanya.
Aku dengan menggoda mengusap jari tengahku di selahnya yang bikin dia tersentak.
"Dan dua, kamu juga sama," godaku.
"Diam, Kingsbur-" dia mau ngomong, cuma aku mengangkat tanganku untuk dengan lembut mengusap gumpalan saraf sensitifnya.
Dia tersentak kaget, rahangnya jatuh dalam prosesnya.
Aku menyeringai puas saat tatapannya sedikit beralih dari layar, tapi nggak cukup sampai dia berhenti main.
Hmm.
Aku lihat dia punya kontrol diri hari ini.
Aku jelas nggak komplain.
Lebih seru buatku.
Aku ganti tangan jadi tangan yang tadinya cuma diem di pahanya sekarang mengusap klitorisnya yang berdenyut.
Aku lihat wajahnya dan perhatikan dia menggigit bibir bawahnya tapi tetap terus main game.
Aku pindah tangan yang nggak dipakai ke bibirnya yang basah dan tersenyum.
Dia emang punya banyak kontrol diri pagi ini.
Aku pakai tanganku untuk membelah bibirnya, ngasih aku pemandangan sempurna dari memeknya yang basah.
Sial.
Aku bisa makan ini seharian dan nggak akan pernah bosen.
Aku bawa jari tengahku ke atas untuk dengan lembut merangsang jalan masuknya yang basah.
Hanna merintih saat ujung jariku menyentuhnya. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku sebelum membuka pahanya sedikit yang bikin aku menyeringai.
Kita udah sampai di suatu tempat.
Aku mutusin buat langsung aja karena aku udah mengusap gumpalan sarafnya beberapa menit. Aku ambil jari yang lagi merangsang lubangnya yang sempit dan pelan-pelan mendorongnya masuk, cuma untuk meluncur masuk dengan mudah karena dia basah banget.
Dia merintih dan mengepal di sekeliling jari tengahku saat dia membunuh hewan lain untuk makanan.
Aku dorong jari ini masuk dan keluar dari dia cuma buat ngeluarinnya dan nambahin satu lagi pas dia terus main game dengan ekspresi wajah yang nggak terpengaruh.
"Fuucckk" dia mengerang saat aku pelan-pelan mendorong dua jari ke dalam salurannya yang rakus, menggenggamnya.
Aku tertawa pelan saat dia melihat ke arah tanganku, salah satunya bekerja di dalam dirinya sementara yang lain terus mengusap klitorisnya dalam lingkaran besar.
Dia balik ke game tapi gerakannya agak telat.
Dia udah nyala tapi belum sampai.
Aku terus menggerakkan jari-jariku masuk dan keluar dari dia, mempercepatnya cuma buat memperlambatnya beberapa detik kemudian.
Dia lagi menambang sesuatu saat aku mutusin buat mempercepatnya sambil meningkatkan tekanan di seksnya.
Dia tersentak, salah satu tangannya lepas dari pengontrol untuk menancapkan kukunya di lengan atasku. Aku berusaha nggak ketawa pas lihat rahangnya jatuh dan kepalanya mendongak.
Aku mengangkat alis terhibur saat seksnya pelan-pelan membengkak sebelum dengan cepat mengencang lagi, menggenggam jari-jariku erat-erat.
Dia udah mau banget sekarang.
"Udah deket, princess?" godaku dengan nada yang tahu.
Dia nggak jawab pertanyaanku saat dia terus terengah-engah dan menancapkan ujung kukunya yang hampir nggak ada ke bisepku.
Aku melengkungkan jari-jariku ke atas, dengan gerakan 'sini', dan mulai memainkannya dengan cara itu.
"Sialan, Kingsbury" dia mengerang saat matanya yang berwarna hazel memutar ke belakang.
Aku menyeringai pada reaksi ini, menjaga tekanan konstan di klitorisnya saat aku fokus ke spons bengkak di dalam dirinya.
Aku tertawa saat Hanna mulai membisikkan banyak umpatan, beberapa bahkan nggak masuk akal. Dia menutup matanya dengan senang saat aku sedikit meningkatkan kecepatanku di klitorisnya, membuat lubangnya dengan rakus mengepal dan mengendur di sekeliling jari-jariku yang basah.
Dia akan keluar kapan saja sekarang.
Aku percepat jari-jariku lagi cuma buat dia mengeluarkan suara aneh, sesuatu antara teriakan diam dan mencicit, saat seksnya membengkak di sekeliling jariku.
Pahanya mulai bergetar saat cairan hangat dan jernih menyembur di sekeliling jari-jariku.
Aku mengangkat alisku dengan terhibur saat itu terus menyembur setiap kali jariku menusuk seksnya yang bengkak, melapisi paha dalamnya.
Aku tersenyum saat dia menghabiskan waktunya di jari-jariku, bergoyang dalam prosesnya.
Beberapa detik berlalu sebelum dia mendorong tanganku dari memek basahnya dan menutup pahanya karena rangsangan berlebihan.
Aku bawa jari-jariku, yang baru aja di dalam dia, ke mulutku tanpa melewatkan detak jantung.
Hmm, manis.
Mirip jus delima sebenarnya.
Kurasa dia rasanya seperti apa yang dia minum.
Aku keluarin jari-jariku dari mulutku saat dia meletakkan pengontrolnya di sampingku, pindah untuk menindihku dalam prosesnya.
Aku menggigit bibir bawahku sebelum mengamankan tanganku di sekeliling tubuhnya yang masih gemetar.
Dia punya efek samping paling imut di seluruh dunia.
Dia meletakkan salah satu tangannya di pipiku sebelum bersandar dan menyatukan bibir kami, nggak ragu buat mencicipi dirinya sendiri di bibirku.
"Sana bersihin diri supaya kita bisa turun buat sarapan," kataku pada si pirang, menampar pantatnya dengan lembut dalam prosesnya.
Dia menyeringai ke arahku, tatapan nakal di matanya yang berwarna hazel yang bersinar.
"Atau kamu bisa lakuin itu buatku," katanya sambil matanya menatap bibirku sebelum melihat ke atas lagi.
Aku mengangkat alisku seolah-olah diam-diam bertanya padanya apakah dia serius.
Aku sangat mau.
"Aku bercanda, Kingsbury, ya Tuhan," katanya sambil menampar bahuku dengan lembut.
Aku memutar bola mata pada si pirang, bersandar dan menutup mataku supaya nggak sengaja membawanya buat ronde lain.
Atau tiga, empat, lima- kamu tahu apa? Aku beneran harus berhenti.
"Sana mandi," desahku sambil pakai semua kendali diri yang aku punya, yang nggak banyak saat ini.
Dia mutusin buat dengerin aku, turun dari selangkanganku dan berjalan ke kamar mandiku.
Sial.
Aku harus cari hobi lain.
Aku nggak bisa terus-terusan meniduri pacarku sepuluh kali sehari.
Tapi di saat yang sama, bukan berarti dia juga komplain.
Ugh.
Aku berdiri dan dengan cepat menyesuaikan celana olahragaku sebelum meraih selimut basahku. Membuka pintu kamarku dan keluar dari ruangan. Aku menutup pintu di belakangku demi Hanna dan berjalan ke bawah menuju mesin cuci.
-
"Kamu dan Hanna ke mana semalam?" tanya Faith sambil menggigit bacon.
"Iya, kamu ngajak Hanna kencan terus kalian berdua menghilang dan ninggalin kita buat beresin," tambah Bailey sambil mengambil seiris bacon dari piring Faith, terlalu males buat bangun dan ngambil sendiri.
Aku melihat antara si rambut pirang abu-abu dan gadis berambut cokelat dengan tatapan curiga.
"Kalian berdua 'gituan', kan?" tanyaku bikin Faith tersedak baconnya saat Bailey mencoba menyembunyikan seringainya.
Pas mereka berdua masuk ke sini, aku bisa ngerasain perubahan energi.
Faith kelihatan kayak udah 'digituin' beberapa kali dilihat dari penampilannya.
Rambutnya diikat jadi cepol malas yang cepat.
Dia kelihatan kayak udah nyoba menghapus riasan matanya tapi menyerah di tengah jalan, menyebabkan bekas maskara hitam samar di bawah garis bulu matanya.
Wajahnya merah dan memerah.
Bibirnya agak kering dan pecah-pecah.
Sial, dia bahkan punya beberapa cupang yang mengintip dari balik bajunya.
Bailey di sisi lain, dia kelihatan normal.
Nggak ada rambut yang keluar dari tempatnya.
Nggak ada kerutan di pakaiannya.
Riasannya masih utuh.
Tunggu-
Nggak mungkin-
Faith melihat ke arah Bailey dengan tatapan bertanya cuma buat Bailey ngasih dia tatapan menggoda, iris matanya lebih gelap dari biasanya.
Itu baru aja mengonfirmasinya.
Aku nggak percaya Bailey yang 'nggak gituin' Faith.
Aku bener-bener mikir kalau Faith yang bakal 'nggak gituin' Bailey.
Sial.
Aku kena 'mind fuck'.
"Udah berapa lama ini terjadi?" tanyaku penasaran sambil berusaha menyembunyikan ekspresi wajahku yang jelas kaget.
Faith nggak ngomong, malu-malu melihat ke arah piring makanannya sambil terus mengunyah seiris bacon.
"Beberapa minggu," jawab Bailey sambil mencoba menyembunyikan seringainya.
Alisku naik ke dahiku karena kaget saat aku melihat antara mereka berdua.
Kok aku nggak ngeh sama ini?
"Berapa lama 'beberapa minggu'?" tanyaku usil.
Bailey melihat ke arah gadis berambut pirang abu-abu dengan tatapan penasaran di matanya.
"Sejak nginep," jawabnya dengan sedikit ragu.
Apa sih yang sebenernya-
Ugh.
Aku benci banget betapa lambannya aku kadang-kadang.
"Yah, kalau itu berarti sesuatu, aku seneng buat kalian," kataku jujur saat keterkejutan awalnya hilang.
"Tolong jangan sebut ini ke Hanna, kamu tahu gimana dia dulu waktu dia mikir kamu dan aku suka satu sama lain," Faith mengakhiri dengan ekspresi wajah jijik yang bikin aku ketawa.
Aku masih nggak percaya Hanna mikir kalau aku mau cium Faith.
Tentu, Faith emang keren.
Tapi itu nggak berarti aku mau cium dia.
Jijik.
"Nggak masalah, tapi kamu harus bilang ke dia secepatnya," kataku ke mereka dengan tatapan yang ditujukan.
Ini adalah momen di mana pacarku mutusin buat masuk ke ruang makan sambil pakai legging dan hoodie acak, keduanya milikku.
Dia mau duduk di sampingku cuma buat aku narik dia ke pangkuanku dan memeluk pinggangnya. Dia nggak komplain sambil mulai makan semangkuk buahnya?
Kenapa dia cuma makan buah?
"Hanna, kamu tahu kan kalau ada makanan beneran di dapur, kan?" tanya Faith, balik ke sifatnya yang bebas.
Hanna memutar bola matanya ke arah Faith saat aku menggigit pancakeku.
"Pergi jauh-jauh, Harrington," jawabnya dengan sedikit kesal.
Kami bertiga akhirnya tersedak makanan saat makanan itu meluncur di tenggorokan kami yang bikin Hanna ngasih kami ekspresi wajah bingung.
Faith memerah saat Bailey dengan gugup menggigit bibir atasnya.
Aku habisin pancakeku, mendorong piring menjauh dariku saat Hanna memasukkan anggur ke dalam mulutnya.
"Hanna, Aurelia belum ngepak koper," Bailey membongkar, memecah ketegangan canggung di ruangan.
Pacarku memutar di pangkuanku sehingga kakinya tersampir di pahaku.
"Kamu ikut ke Kanada sama kita?" tanyanya.
Aku mengangguk dengan senyuman yang langsung bikin senyum lebar di wajahnya.
Dia bersandar dan meletakkan ciuman pelan di bibirku cuma buat menjauh dengan ekspresi wajah yang sedikit nyala.
Sial.
Itu beneran nggak butuh waktu sama sekali.
Aku mengangkat alis terhibur pada gadis pirang itu.
Dia melompat dari pangkuanku sebelum menarikku dari kursi.
"Aku mau bantuin dia ngepak," kata Hanna dengan nada yang sangat nggak meyakinkan yang bikin Bailey dan Faith menyeringai dengan geli.
Aku tertawa saat Hanna meraih pergelangan tanganku dan praktis menyeretku keluar dari ruang makan.
"Sampaikan ke kami dalam satu jam," kataku karena nggak butuh banyak waktu buat bikin dia keluar.
"Bikin tiga jam aja!" Hanna menyela saat kami berjalan ke ruang keluarga.
Aku tertawa pada si pirang itu.
Aku penasaran gimana dia bakal nanganin dirinya di pesawat malam ini karena dia mau keluar untuk ketiga kalinya hari ini dan sekarang baru jam sebelas pagi.
"Nggak sabaran banget sih?" godaku saat kita naik tangga.
Dia memutar bola matanya padaku saat kita terus naik tangga, dengan cepat tiba di atas.
Aku bersumpah dia ngebut pas matanya melihat kamar tidurku.
Wow.
Dia pasti horny banget.
"Diam, Kingsbury," katanya padaku.
Dia menarikku ke kamar tidurku, menutup pintu di belakang kami dan menguncinya.
Sebelum aku tahu, punggungku dibanting ke belakang pintu dan bibirnya diletakkan kasar di bibirku.
Jadi begitu cara dia mau main ini?
Oke.
Kamu yang minta ini, Hanna Wilder.