Bab 32
Setelah momen mengharukan Aurelia dan aku, kita berdua sepakat kalau lebih baik kita berteman, setidaknya sampai kita berdua beres sama urusan kita masing-masing.
Ibu Hanna udah stres banget selama tiga hari terakhir karena penyakitku yang tiba-tiba.
Itu beneran cuma demam doang.
Aku sekarang lagi pakai atasan hitam tanpa lengan bahan sutra yang aku paduin sama celana jeans robek-robek pinggang tinggi. Untuk sepatu, aku pilih sepatu Converse putih low top-ku, dan buat rambutku, aku cuma keritingin aja.
"Hanna, kenapa kamu udah dandan?" Ibu Hanna nanya dengan ekspresi muka bingung pas aku turun dari tangga.
Oh, iya.
Aku lupa bilang ke dia kalau aku udah mendingan.
"Aku ada sekolah," kataku sambil jalan ke dapur dan ngambil apel dari mangkuk buah kita.
Dia natap aku dengan ekspresi 'kamu udah gila ya'.
"Hanna," Ibu Hanna mau ngomong, tapi bel pintu keburu bunyi.
Syukurlah.
"Bu, aku udah jauh lebih baik dari kemarin," kataku sambil jalan ke pintu depan.
Aku buru-buru buka kunci pintu sebelum membukanya lebar-lebar, dan kelihatan Aurelia yang lagi senyum sinis sambil nyandar di kusen pintu.
Dia udah berdiri di sana berapa lama?
"Lagian, Aurelia bakal sama aku seharian," kataku karena aku tahu orang tua ku punya tempat spesial buat cewek itu.
Ibu Hanna menghela napas, naruh kepalanya di tangannya. Dia mikir beberapa detik sebelum ngasih isyarat diam-diam.
"Makasih, Bu, sayang Ibu," kataku sambil keluar rumah.
"Kamu bakal bikin ibumu gila suatu hari nanti," kata Aurelia sambil ketawa kecil pas kita jalan ke mobil Ibu Bailey.
Aku ketawa pelan dengar itu.
"Kayaknya kamu bener," aku setuju sambil mikir gimana aku udah bikin dia stres banget tiga hari terakhir ini.
Aku nyapa Bailey yang kelihatan capek dengan senyuman sebelum naik ke kursi belakang, cewek berambut hitam itu ngikutin aku.
Aku pakai kesempatan ini buat diam-diam ngintip penampilan Aurelia.
Cewek bermata abu-abu itu pakai kaus merah terbakar sama celana skinny jeans hitam robek-robek. Untuk sepatu, dia pilih sepatu Converse high top hitam putih dan buat rambutnya, dia biarin bergelombang dan dibelah samping.
"Hanna, berenti ngiler lihat Aurelia, aku butuh kopi," Bailey mengeluh capek dari kursi penumpang.
Aku lihat ke luar jendela, cuma buat sadar kalau kita ada di kedai kopi yang beda dari tempat biasa kita pergi.
Nah, itu ngejelasin gimana kita bisa sampai sini secepat ini.
-
Aku ketinggalan banyak tugas sekolah tiga hari terakhir ini, lebih banyak dari yang aku kira, yang berarti aku mungkin harus begadang buat nyelesain semuanya.
Ngomong-ngomong, sekarang lagi jam makan siang, dan semua makanannya jelek.
Pizza hari ini kelihatan kering.
Saladnya selalu nggak enak.
Dan taco-nya bau busuk.
"Gimana kalau aku pesenin Uber dan kita bisa cariin kamu makanan?" Aurelia nawarin, tapi aku geleng kepala.
Kita cuma punya empat puluh menit buat makan siang hari ini, beda sama biasanya satu jam, karena pemilihan presiden.
Kepala sekolah kita mutusin buat ngadainnya seminggu lebih awal.
"Hanna, makan aja buahku," kata Bailey sambil nunjukin ke arah gelas nanasnya.
Aku merengut lihat segelas buah murahan itu.
"Aku lagi nggak mood buat nanas sekolah," kataku.
Mereka kering dan rasanya kayak daun kebanyakan.
Aku lagi asik cemberut ketika Faith datang ke arah kita dengan canggung.
"Boleh aku ngomong sama kamu sebentar?" dia nanya aku.
Aku ngernyitkan alis, tapi akhirnya ngangguk ke dia.
Aku bangun dan dia bawa kita menjauh dari kantin, ke arah lorong yang sepi.
"Faith, kamu nggak apa-apa?" aku nanya dia pas kita terus jalan.
Aku belum pernah lihat Faith setenang atau senervous ini sebelumnya.
Tiba-tiba dia berhenti di tengah jalan dan berbalik menghadap aku, menggigit bibir atasnya dengan gugup.
"Aku nggak tahu apa yang kamu denger atau lihat, tapi aku nggak cium dia, aku bahkan nggak suka Aurelia kayak gitu-" Faith mulai ngoceh.
Aku nggak bisa nahan senyum dari muncul di wajahku karena keluguannya.
"Faith," aku mencoba menyela dia, tapi dia terus ngoceh.
"Dia bukan tipeku, aku lebih suka yang berambut cokelat- tunggu bukan itu intinya, Hanna aku menghargai kamu banget dan aku nggak akan pernah ngelakuin apa pun buat ngerusak persahabatan kita," dia selesai dengan ekspresi muka yang agak salah tingkah.
Aku jalan ke dia dan naruh tangan di area bisepnya.
"Faith, aku tahu, Aurelia cerita ke aku tiga hari lalu," aku kasih tahu dia.
Dia ngasih aku tatapan kayak rusa kebingungan sebelum senyum merekah di wajahnya.
"Kamu nggak benci aku?" dia nanya.
"Kenapa aku harus benci kamu karena ada bulu mata di matamu?" kataku bikin dia mengeluh dengan jelas jengkel sama keseluruhan situasinya.
"Bulu mata itu susah banget keluarnya," dia kasih tahu aku.
Aku ketawa lihat ekspresi mukanya yang jengkel.
Aku mau bilang ke dia kalau kita harus balik, cuma keburu ada orang yang kaget. Aku berbalik dan mataku langsung ketemu sama Chadley.
"Hai, Chadley," aku nyapa dengan senyuman tulus.
Dia nggak ngejawab pas dia narik aku ke pelukan yang menghancurkan tulang, ngangkat aku dari lantai keramik.
Oh.
Wow.
Oke.
Aku nggak bisa napas.
Aku mulai batuk, tapi jadinya aneh karena dia ngehancurin tulang rusukku.
"Chadley, lepasin dia, dia nggak bisa napas," tegur Faith.
Dia berhasil mendorong dia menjauh dari aku, ngebiarin udara masuk lagi ke paru-paruku.
Sial, itu sakit banget.
Mungkin aku harusnya nggak usah masuk sekolah.
-
"Kamu ngapain, Kingsbury?" aku menghela napas karena dia dengan buta nuntun aku lewat lorong kosong.
Kopi ku dari pagi udah mulai ilang efeknya.
Aku nggak makan siang hari ini, yang berarti aku nggak punya energi.
Pagi ini Ibu Hanna terus ngecek aku, yang aku hargai, tapi cahaya di lorong bikin aku susah tidur.
Jadi, aman buat berasumsi kalau aku mau pingsan kapan aja.
"Sst, kita hampir sampai," dia ngejawab.
Kita seharusnya ada di aula.
Di situlah pemilihan akan berlangsung.
Tapi, kita ada di sini.
Aku sekarang lagi pakai penutup mata hitam pas dia menyeret aku ke lorong menuju 'kejutan'.
Ini harus makanan.
"Kita seharusnya ada di aula," aku dengan lemah mencoba membujuk, tapi biarin dia terus menyeret aku ke lokasi yang nggak diketahui.
Dia ketawa ke aku sebelum tiba-tiba menghentikan aku dan memalingkan aku ke samping.
Aku mau nanya dia kenapa kita berhenti, cuma keburu dia mulai ngelepas penutup mataku.
Sial.
Kenapa terang banget sih?!
Ini beneran awal November.
Aku mengeluh saat cahaya terang menyerang pupilku.
Ketika mataku akhirnya menyesuaikan diri, aku berbalik ke cewek berambut hitam itu dan cuma ngasih dia ekspresi muka 'kamu serius'.
Dia beneran nutup mata aku dan nuntun aku ke lokerku.
Aku lihat benda besi sialan ini setiap hari!
"Buka aja, princess," dia kasih tahu aku, mencoba buat nggak ketawa lihat ekspresi mukaku.
Aku memutar mata ke cewek bermata abu-abu itu.
"Sumpah demi Tuhan, Kingsbury, kalau ada sesuatu yang lompat keluar dari sini," aku mengancam sambil mulai ngetik kombinasi lokerku.
Dia ketawa ke aku saat dia mau nyandar di loker di sebelahku.
Aku buka lokerku dan ngintip di sekitarnya, cuma buat mata ku langsung tertuju pada makanan.
Keinginanku udah dikabulin.
Aku pelan-pelan ngejilat bibirku pas mataku tetep tertuju pada tas kertas berlabel 'In-N-Out'.
"Aku berasumsi kalau kamu suka itu dilihat dari ekspresi matamu," Aurelia bercanda.
Aku memutar kepala untuk menghadap dia, tiba-tiba inget kalau dia berdiri di sana.
"Kamu ngelakuin ini gimana, Kamu udah sama aku dari tadi?!" aku nanya dengan nada kaget.
"Aku kenal orang," dia menggoda sambil ngedipin mata.
Dia ngambil tas makanan dan nutup lokerku.
"Ayo, guru teater bilang kita bisa pakai ruangnya," dia bilang, bikin mataku membesar.
Apaan sih-
Kok dia bisa-?
"Gimana kamu-" aku mulai bilang, cuma keburu dipotong.
"Dia punya utang budi sama aku," Bailey bilang sambil berjalan ke arah kita dengan senyum jahat.
Mereka merencanakan ini?
Aww.
Aku sayang teman-temanku.
"Nah, ayo, aku harus jaga," Bailey bilang sebelum berputar dan nuntun kita ke arah kelas.
Aku seneng banget sekarang sampai aku bisa pingsan!
Atau itu mungkin cuma karena lapar.
-
"Indah," Aurelia berkomentar saat aku makan gigitan besar dari sandwich-ku.
Aku memutar mata ke arah dia saat pipiku mulai memanas, aku naruh cheeseburger-ku dan pakai salah satu tanganku buat nutup mulutku yang berantakan.
Ugh.
Sial.
Ini rasanya enak banget.
Ketika aku beneran lapar dan akhirnya bisa makan, rasanya selalu beda.
Aku rasa makanan rasanya beda secara umum kapan pun kamu sangat lapar.
"Berenti ngomong, Kingsbury," aku bilang setelah aku nelan makanan di mulutku.
Aku lepas tangan dari wajahku ketika aku sadar dia masih natap aku.
Aku ngasih dia ekspresi muka 'kamu lihatin apa'.
Dia berdiri dari meja acak yang dia dudukin dan jalan ke arahku.
Aku sekarang lagi duduk di atas meja kayu guru teater dengan kaki bersilang ala India.
Dia berhenti di depanku dan membungkuk jadi wajah kita beberapa inci dari satu sama lain.
Tubuhku tanpa sadar membeku saat aku natap ke mata abu-abunya yang semakin gelap.
Detak jantungku langsung makin cepet saat dia menyeringai ke aku, matanya pelan-pelan turun ke wajahku.
Dia ngangkat tangannya ke sisi wajahku, bikin aku kaget.
Aku dengan bersemangat nunggu dia buat bergerak, cuma keburu dia mundur dari aku dengan seringai geli.
Rahangku jatuh terbuka saat dia menaruh ibu jarinya di mulutnya, menjilatnya dengan sensual.
"Kamu kan vegan?" aku nanya cewek itu, bikin dia mengerutkan alisnya.
"Itu saus tomat," dia bilang.
Mata ku membesar saat aku dengan canggung berbalik menjauh dari dia, jadi aku menghadap ke dinding batu bata, sebelum ngambil cheeseburger-ku dan makan gigitan lagi.
Kalau aku cuma berpura-pura kalau aku nggak mau dia ngambil aku di sini di meja ini, maka itu nggak terjadi.
Aku nggak mikir gitu caranya.
Ugh.
Ada ketukan di pintu sebelum pintu kebuka dan Bailey masuk.
"Maaf, aku nggak tahu kalau kalian-" dia mengakhiri dengan canggung, melihat dari sisi ke sisi.
Kita nggak ngelakuin seks sebanyak itu!
Aku tersipu, tapi memilih buat diem sambil makan gigitan lagi dari cheeseburger-ku.
"Ngomong-ngomong, kalian punya sepuluh menit sebelum semua orang mulai keluar dari aula," dia kasih tahu kita.
Aku ngangguk ke arah cewek berambut cokelat itu.
Aurelia berterima kasih padanya dengan senyum saat dia buang sampah.
Bailey keluar jadi dia bisa balik buat ngejaga pintu.
Aku nelan gigitan terakhir dari cheeseburger-ku sebelum nge remes kertas pembungkusku dan lompat dari meja.
Aku terlalu males buat jalan ke tempat sampah, yang jaraknya sekitar delapan kaki.
"Kamu mau aku buangin nggak?" Aurelia nanya saat dia lihat aku natap tempat sampah dengan tatapan fokus.
Aku tersenyum ke arah gerakan baiknya, tapi geleng kepala.
"Nggak, aku nggak apa-apa," aku bilang.
Aku ngangkat tanganku dan mengarahkannya dengan cara tertentu, memastikan itu sejajar di atas tempat sampah, sebelum ngelempar pembungkus dari sudut atas.
Pembungkus itu dengan mudahnya mendarat di tempat sampah, bikin aku senyum.
Kemalasan ada untungnya.
Kadang-kadang.
"Iya, kamu emang. Kapan kamu belajar itu?" dia bilang dengan ekspresi muka geli.
Aku berbalik menghadap dia dengan senyuman cerah.
"Itu bakat rahasia ku, jangan kasih tahu siapa-siapa," aku ngejawab, ngangkat jari telunjukku dan meletakkannya di bibirku dalam gerakan 'sst'.
Aurelia senyum mendengar ini, mengangguk kepala.