Bab 22
"Harus, ya?" Aku tanya dia.
"Ya, seratus persen," jawab Faith sambil ngambil sepotong kue cokelat.
"Kalo aku jadi kamu sih, aku bakal banget nerima tawarannya," aku ngambil segelas buah campur.
Nanas sama delima.
Ironis banget.
"Tapi gak bakal jadi aneh gitu, ya, maksudnya kita kan belum temenan banget," aku masih mikir kebanyakan.
"Kalian tuh udah temenan, malah sering banget main bareng tiap hari," kata Faith sambil ketawa bikin aku muter mata, trus kita berdua ngambil sepotong besar pizza pepperoni.
"Jawab aja napa," kataku pas antrean tiba-tiba berhenti.
"Gak bakal jadi aneh kalo kamu gak bikin jadi aneh," katanya.
"Bener juga sih, lagian kan cuma seks, apa sih yang paling buruk bisa terjadi?" Aku ngangkat bahu.
Kamu bisa aja jatuh cinta sama dia.
Salah.
Kita masukin nomor makan siang kita sebelum keluar dari antrean dan jalan keluar ke meja makan siang yang udah ditentuin.
"Aku gak bau cheeseburger! Hanna, sini, cepetan cium aku!" kata Bailey dengan ekspresi muka yang kesel banget, sementara Chadley ketawa ngakak sampe mukanya merah.
"Dari sini juga kecium kok, aku udah tau," aku becanda bikin Chadley ketawa makin kenceng, sementara Bailey natap aku sinis.
"Becanda, B," kataku sambil jalan ke dia dan ngendus lengannya yang terulur.
"Kamu bau kopi," kataku sambil duduk di samping si iblis berambut hitam.
"Makasih," kata Bailey dengan bangga, sementara Faith duduk di samping cewek gila itu.
"Kita ketinggalan apa aja nih?" tanya Faith sambil ngambil gigitan dari kuenya.
Kayaknya dia makan makanan penutup dulu hari ini.
"Chadley nyoba 'ngerjain' Bailey dengan bilang dia bau cheeseburger," jawab Aurelia sambil memutar mata, sambil nyolong nanasku.
"Eh, itu punya aku!" seruku sambil noleh ke pelaku.
Dia ngelihatin aku pelan-pelan. Matanya berhenti di beberapa tempat lebih lama dari yang lain, bikin aku menggigil nikmat.
"Percaya deh, kamu gak mau," katanya dengan nada yang menggoda, bikin aku mengerutkan dahi sampe aku ngerti maksudnya.
Dia beneran-
Aku menutup muka dengan tangan karena malu.
Dia hampir aja bilang kalo aku enak.
Aku bangga dia mikir gitu, tapi harusnya dia gak usah bilang sendiri!
"Ada yang ngerasa ketegangan seksual di meja ini?" goda Faith bikin Bailey dan Chadley ketawa.
"Berisik deh, Faith," aku mengeluh sambil nusuk garpu ke potongan nanas dan nyumpel ke mulutku.
"Gak usah dengerin dia, tau kan gimana sih, orang yang hobinya nurutin kemauan sendiri itu," kata Aurelia sambil nyengir, bikin aku ngelempar garpuku.
"Udah, cukup," kataku sambil narik pergelangan tangan Aurelia dan menjauhkannya dari meja.
"Wah, nakal nih," godanya sambil aku narik dia ke lorong dan menuju kamar mandi.
Aku gak peduli sama cewek yang pikirannya mesum itu, sambil narik dia masuk kamar mandi dan ngecek dulu udah kosong belum.
Begitu yakin udah kosong, aku dorong punggung cewek berambut hitam itu ke tembok bata yang dicat, bikin dia mengerang, sambil aku pegangin tangannya di atas kepala.
"Lihat, siapa yang jadi 'bottom' sekarang," godaku sambil nyengir.
"Tetep kamu," jawabnya, bikin aku mengerutkan dahi.
Tiba-tiba dia narik pergelangan tanganku dan ngebalik kita, jadi punggungku nempel ke tembok.
Dia membungkuk dan pelan-pelan menggosokkan bibirnya yang lembut ke sisi leherku, menggoda. Dia lakuin ini beberapa detik bikin aku mengerang frustrasi.
Kenapa lama banget sih?!
"Kita punya sepuluh menit, mau nge-sex apa gak nih?" kataku, udah gak sabar sama godaannya.
"Kukira kamu gak bakal nanya, princess," godanya.
Dia terus megangin pergelangan tanganku di atas kepala, sambil nuntun aku ke meja wastafel. Aku kasih dia ekspresi bingung lewat cermin, cuma dibales senyuman sebelum aku dibungkukkan paksa di atas meja granit.
Aku tersentak karena perubahan posisi yang tiba-tiba, tepi meja menusuk tulang pinggulku. Dia lepasin tangannya dari pergelangan tanganku cuma sedetik, trus narik lenganku ke belakang dan megangin dengan kuat.
"Begini caranya, ya," katanya dengan nada dominan bikin aku menggigit bibir bawahku, sementara inti tubuhku pengen banget ngerasain sesuatu.
Harusnya dia pake nada ini lebih sering.
Panas.
"Kamu harus tetap pegang tangan di belakang, kalo kamu coba gerakin, kamu bakal keluar dari sini dengan pipi merah," katanya sebelum menampar bokongku dengan keras, bikin aku mengerang.
Aku gak ngelewatin caranya dia ngelihat bokongku yang bergoyang karena kekuatan yang tiba-tiba itu.
"Kamu cuma boleh manggil aku 'daddy', kalo salah, kamu bakal keluar dari sini dengan pipi merah," lanjut cewek itu, sambil menampar keras bokongku yang lain, bikin aku mengerang lagi.
Sial.
Kita belum mulai seks, aku udah hampir klimaks.
"Kamu gak boleh mengerang terlalu keras, kalo kamu terlalu keras, kamu bakal keluar dari sini dengan pipi merah," dia selesai ngomong sambil nampar masing-masing bokongku.
Paha aku gemetar dikit di meja.
"Sial," aku berbisik, ngerasa celana dalemku udah hancur.
Aku udah bisa nebak kalo aku gak bakal tahan lama.
"Ngerti, gak?" dia nanya bikin aku dengan keras kepala memutar mata padanya lewat cermin.
Aku gak punya waktu buat ini.
Dia menampar lebih keras ke pipi bawahku, bikin aku mengerang karena antisipasi.
Hormon sialan.
"Aku nanya, princess," katanya.
Gak usah pake nanya! Beneran?!
"Iya, aku ngerti," jawabku sarkas bikin dia mengangkat alisnya ke arahku.
"Apa?" tanyaku bikin dia nyengir sambil dia narik tangannya ke bokongku lagi.
Sial.
Bokongku pasti bakal sakit nanti.
"Aku gak bakal manggil kamu 'daddy'," kataku dengan penuh tantangan sambil natap dia lewat cermin.
Dia nyengir karena ini.
"Kalo gitu, aku gak bakal main jari sama kamu, deh," jawabnya sambil menampar bokongku yang udah memerah.
Ugh.
Aku beneran pengen banget di-sex.
Tapi aku gak mau manggil dia nama konyol itu.
Prioritas sialan.
"Sial, oke," aku mengerang keras.
"Daddy," aku bergumam cepat.
Dia mengangkat alis padaku lewat cermin.
"Maaf, tadi apa?" godanya bikin aku melotot padanya lewat cermin.
Aku benci banget dia sekarang.
"Daddy," aku bergumam sedikit lebih keras, sementara jari-jarinya yang terampil mulai bermain dengan karet pinggang celanaku.
Ya Tuhan.
Ini memalukan banget.
Gimana kalo ada orang masuk, liat aku lagi dibungkukkin di atas meja, manggil iblis ini 'daddy'?
"Aku gak denger," dia terus menggoda sambil dia pelan-pelan membuka kancing celanaku.
Udah deh.
Aku udah gak tahan sama godaan dia.
Aku cuma mau di-sex di atas meja ini, sampe aku susah napas karena enak banget.
"Aku beneran bilang 'daddy' kamu sialan- fuuucckk," kataku mulai kesal, cuma melepaskan erangan panjang saat dia mendorong celana dalamku yang udah rusak dan menusuk dua jarinya ke dalam diriku.
Ya Tuhan.
Aku gak tau kapan dia narik celanaku, tapi sekarang lagi nyangkut di atas lututku, sementara jari-jari Aurelia mulai ngebut banget di dalam saluranku yang sempit.
"Sial, kamu lebih sempit di posisi ini," dia mengerang dengan tatapan gelap di matanya, saat aku melepaskan erangan yang gak kedengeran di meja.
Aku ngerasa dindingku yang sempit terus-menerus mencengkeram jarinya bikin lengannya goyah.
"L-L-Lebih cepet," aku mengerang, mendekati puncak lebih cepat dari sebelumnya.
Aku udah masturbasi puluhan kali, tapi gak pernah klimaks secepat dia bikin aku.
Mungkin karena aku udah horny seharian.
Mungkin karena buku-buku jarinya menggesek sesuatu di dalam diriku, bikin bintik-bintik hitam menari di pandanganku.
Mungkin keduanya.
Aku mengeluarkan desahan saat dia menggulung jarinya di dalam diriku.
Ya Tuhan.
Aku bisa ngerasain semuanya!
"Sial, ini ngegenggam aku keras banget," katanya, mengacu ke dinding kemaluanku saat dia berusaha mempercepat.
Oh, tidak.
Ini terjadi.
Pahaku mulai bergetar hebat di meja, bikin pinggulku naik buat coba ngerasain dia lebih banyak.
"A-Aku lagi," aku mencicit, cuma menerima tamparan keras di bokongku yang udah merah oleh salah satu tangannya, sementara yang lain terus ngebut di dindingku yang semakin menyempit.
Aku mencengkeram tepi meja saat seluruh tubuhku mulai bergetar hebat di meja.
Sial.
"Sial," suaraku retak saat aku meremas pahaku lebih erat, menjebak jarinya di dalam diriku, dan melepaskan penyebab keteganganku ke jari-jarinya yang basah.
Aku terus bergetar saat dia menggunakan jempolnya buat memijat punggung bawahku.
"Gitu, good girl," katanya lembut saat aku memejamkan mata dan menunggu 'sex'-ku berhenti mencengkeram jarinya.
Kita diam saat dia pelan-pelan ngeluarin jarinya dari saluranku yang sensitif.
Aku mendesis begitu mereka keluar dari saluranku yang mencengkeram, dia dengan rakus menjilatnya bersih sebelum mencuci tangannya.
Sial.
Aku capek.
Dia mengeringkan tangannya dan masuk ke salah satu bilik.
Dia beneran lagi pake kamar mandi sekarang?!
Aku beneran lagi dibungkukkin di atas meja di kamar mandi umum!
Seseorang bisa masuk kapan aja!
Tiba-tiba dia keluar dari bilik dengan gulungan tisu di tangan.
Aku malu saat dia berjongkok biar sejajar dengan bibir bawahku sebelum mengambil segenggam tisu tipis dan menyeka aku bersih.
Aku terus memerah malu saat aku membiarkannya membersihkan kekacauan yang dia sebabkan.
Begitu selesai, dia membuang tisu bekas dan narik celanaku.
Aku diam-diam berdiri, menyandarkan punggung bawahku ke meja, cuma biar dia mengancingkan celanaku dan ngambil kue yang dibungkus dari saku jaketnya.
Aku mengangkat alis padanya saat dia ngasihnya ke aku.
Dia beneran mau ngeracunin aku sekarang?
"Aku beli yang ekstra, jaga-jaga kalo kamu nyerah, kita harus mastiin kamu punya cukup energi buat ngejalanin sisa hari ini," katanya dengan senyum kecil, bikin jantungku berdebar di dadaku.
Tunggu apa?!
Dia beliin aku kue?
Dia beliin aku kue.
Aku kasih dia senyuman saat aku nerima makanan bundar yang lezat itu.
"Uh, makasih kuenya," aku jawab dengan canggung, gak tau mau bilang apa.
Aku barusan ngeseks sama musuhku yang seharusnya buat kedua kalinya.
Ya ampun, muka aku mungkin ada tulisan 'sex' di atasnya.
Aku beneran ragu ini situasi yang normal buat ada di dalamnya.
"Sama-sama, princess," jawabnya, mata abunya gak pernah lepas dari mukaku.
Aku dengan canggung berdeham dan melihat ke converse-ku.
"Kita harus balik, aku gak mau mereka mikir kita udah ngeseks," aku buru-buru bicara saat aku keluar dari kamar mandi.
Aku diam sambil menggigit kuenya dan jalan di lorong yang kosong.
Sepuluh menit lagi istirahat makan siang kita.
Wow.
Kita habis total tujuh menit di kamar mandi dan gak ada satu orang pun yang masuk sekali pun?!
Gimana dia bisa bikin aku klimaks sekeras itu, secepat itu?!
"Kamu diem banget," komentar Aurelia menggoda saat dia nyenggol aku dengan sikunya.
Dia bener.
Aku harus bilang apa?
"Lagi mikirin apa?" tanyanya dengan tulus saat kita mendekati kafetaria.
Aku ngintip lewat jendela kaca dan ngeliat temen-temen kita ngasih kita tatapan yang tau banget.
"Gak ada," jawabku, gak mau ngomongin keadaan mentalku yang lagi bingung.
"Aku gak bakal maksa kamu buat cerita," dia meyakinkan saat dia menyadari sedikit urgensi di suaraku.
Aku noleh ke dia, cuma buat ngelihat kejujuran tertulis di semua ekspresi wajahnya.
Aku kasih dia senyuman terima kasih saat kita masuk ke kafetaria yang kacau.
Kita jalan ke pintu kaca yang nuntun kita ke luar, cuma buat sadar temen-temen kita lagi ngasih kita ekspresi muka yang campur aduk.
"Aku tau," kata Faith dengan sombong.
Sabar, Nancy Drew.
"Kamu bener," kata Bailey dengan ekspresi kaget.
Ya udah, setidaknya Bailey udah balik normal.
"Kalian beneran ngeseks, ya?" kata Chadley dengan penasaran, bikin Bailey dan Faith nampar lengannya.
Aku beneran gak punya kata-kata buat perkembangannya.
Aku diam aja saat Aurelia dan aku duduk di bangku besi.
"Aku gak ngeseks, gak cerita-cerita," kata Aurelia, bikin aku keselek pizza-ku.
Dia serius sekarang?!
"Berisik, Kingsbury," tegurku saat aku berusaha berpindah tempat duduk secara diam-diam.
Sial, bokongku kebakar.