Bab 19: Aku Akan Melindungimu
Rumah Tangga Saumoux
Amelia
Aku lagi di kota, belanja buat ulang tahun Kakek-Nenek yang minggu depan. Mereka juga mau bulan madu kedua. Dominic mutusin buat ikut nemenin, buat mastiin Xaldin atau anak buahnya gak ngumpet-ngumpet di bayangan buat nyerang tiba-tiba.
"Gue gak tau mau beliin apa buat Nenek, tahun lalu gue beliin dia lilin Yankee sama gelang baru."
"Kenapa gak beliin lagi aja, sama cokelat?"
"Dulu sih pas umur enam belas, tapi makin gede, dia bilang lagi jaga 'bentuk' tubuhnya. Bentuk apaan?"
Dominic nahan ketawa pas gue ngomong gitu. Dia berdehem, terus dia bilang ke gue.
"Denger, gue ada ide, kenapa gak beliin dia bunga, lilin wangi, sama kartu ucapan. Lagian, gue yakin Kakek-Nenek lo gak bakal masalah dikasih apa aja buat ulang tahun mereka."
Dia bener, dan kita lanjut jalan-jalan di mall sampe dapet kado buat ulang tahun Kakek-Nenek. Ngomongin ulang tahun, tanggal kematian Ibu gue sama ulang tahun gue juga bentar lagi.
"Ada apa, Amelia?" Dominic nanya.
"Gak papa sih, cuma lagi mikir aja."
"Cerita dong."
Dominic masang muka melasnya, terus gue bilang ke dia.
"Ya, ulang tahun gue sama hari kematian Ibu gue bentar lagi."
"Oh...iya, dia meninggal setelah ngelahirin lo, maaf ya gue nanya."
Gue senyum ke Dominic dan gue bilang.
"Gak papa, lo cuma khawatir sama gue."
"Ngomong-ngomong, lo mau ngapain abis belanja?"
"Gak banyak. Sarah sama gue udah rencana mau keluar malem ini, tapi dia bilang harus beli perlengkapan buat universitas yang dia lamar, terus dia mau jalan sama Jason abis itu."
"Oh, gitu."
Dominic ngomong sambil nyengir.
"Kalo gitu, kenapa gak nginep di Krotlas lagi?"
"Boleh juga, tapi lo mau ngapain?"
"Gak ada apa-apa sih, tapi, inget bawa baju renang lagi."
"Kita mau liat yang-lo-tau-kan lagi?"
Gue ngomong gitu soalnya kita lagi di tempat umum dan gue gak mau ngomong kata 'duyung' keras-keras.
"Enggak, malah lebih bagus, Krotlas punya mata air panas dan Kakek-Nenek lo mau pergi, terus Xaldin balik lagi, gue pikir lo butuh relaksasi."
"Oh ya? Lo ngomong gitu biar bisa liat badan gue lagi, ya?" Gue nanya dengan nada ngejek.
Dominic salting dan dia buang muka dari gue.
"Gak sama sekali. Gue cuma ngomong gitu doang."
Gue cekikikan pas liat mukanya, terus gue rangkul dia dan bilang.
"Gue cuma ngejek, sumpah, gue tau lo cowok baik-baik."
"Gue pengen bisa bilang gitu juga tentang cowok-cowok lain yang belum punya pasangan."
"Bener, setidaknya lo ada buat jagain gue."
Dominic senyum terus dia rangkul bahu gue pas kita jalan pulang. Pas udah sampe, gue sembunyiin kado-kado itu di bawah kasur, soalnya itu tempat terakhir mereka nyari. Gue ambil tas ransel gue dan gue masukin baju tidur, bikini, sama perlengkapan lain yang gue butuhin soalnya gue mau nginep di Krotlas.
Gue telepon Sarah dan gue nanya.
"Hei Sarah, bisa bantuin gue gak? Gue mau nginep di tempat Dominic dan gue gak mau Kakek-Nenek tau."
"Tenang aja, gue ngerti kok. Gue bantu lo."
"Makasih, bro."
Gue ngomong sambil senyum sebelum matiin telepon. Gue simpen hp gue terus gue ambil tas gue. Gue turun ke bawah terus Kakek nanya.
"Mau kemana?"
"Mau ke tempat Sarah, Jason batalin kencan mereka dan dia lagi sedih banget sekarang. Dia udah gak sabar banget nunggu kencan mereka."
"Oke deh, salam buat dia ya."
Gue keluar rumah dan gue nghela napas lega. Dominic nemuin gue di tikungan dan dia nanya.
"Dia curiga gak?"
"Enggak, Sarah lagi nutupin gue lagi."
"Bagus, sekarang ayo pergi."
Gue ngangguk dan kita pergi ke Krotlas. Setelah sampe di mansion dan masuk ke kamar Dominic, gue naro tas ransel gue di kasur terus dia bilang.
"Gue tunggu di bawah ya, lo siap-siap dulu."
"Oke."
Gue ngomong sambil senyum sebelum gue siap-siap. Pas udah ganti baju pake training, gue turun ke bawah dan gue liat Dominic dan dia gak dalam wujud naga.
"Jadi, mata air panasnya di mana?"
"Gue tunjukin."
Dominic pegang tangan gue terus dia nuntun gue lewat hutan sampe mulai terasa lebih hangat. Dominic bantuin gue jalan di medan yang gak rata terus kita sampe di mata air panas. Gue senyum liat pemandangannya. Gue liat beberapa naga termasuk bayi-bayinya. Yang dewasa lagi istirahat di air hangat sementara bayi-bayinya sibuk berenang di air.
"Keren banget."
"Gue tau. Naga-naga di sini bukan shifter kayak kita."
"Jadi mereka kayak naga biasa dan mereka gak bisa berubah jadi manusia kayak lo?"
"Yap, dan naga-naga ini namanya Naga Mata Air Panas soalnya ini wilayah mereka. Mereka gak masalah ada pengunjung yang gabung sama mereka selama kita gak dianggap ancaman."
Gue ngerti dan gue nanya.
"Penasaran nih, ada minuman yang bisa diminum manusia gak?"
"Udah gue siapin."
Dominic ngomong sambil nyengir sebelum ngeluarin sebotol sampanye sama dua gelas sampanye.
"Kita mau ngerayain apa?" Gue nanya.
"Ngehabisin waktu berdua sama lo."
"Aw~ lo baik banget."
Gue ngomong sambil ngusap pipinya bikin dia ketawa kecil.
"Gimana, cuma mau diem aja liatin naga atau mau nyebur?"
"Gue mau nyebur, gak papa kan?"
Dominic ngangguk terus dia liatin naga-naga yang lain.
"Ngapain lo liatin?! Jangan liatin pasangan gue!!"
Naga-naga itu ngerti dan mereka buang muka sementara gue buka training gue. Gue hati-hati masuk ke air dan gue duduk terus nyenderin punggung gue ke permukaan yang berbatu. Dominic gabung sama gue setelah buka baju dan pake celana renang. Dia duduk di samping gue dan dia ambil dua gelas sampanye buat kita. Dia buka botolnya dengan suara 'pop' terus dia tuang ke gelas.
"Makasih ya Dominic, gue beneran butuh ini."
"Bagus, gue seneng lo nikmatin."
Tiba-tiba, salah satu anak naga berenang ke arah gue terus dia ngeluarin suara 'purr' kecil sebelum naik ke bahu gue.
"Hei! Ngapain lo?"
"Gak papa, setiap kita nyebur di mata air panas, anak-anak naga penasaran dan mereka suka mijitin kita."
"Beneran?"
Gue nanya sebelum gue ngerasa ada anak naga lain berenang di samping gue terus mereka mulai ngusap-ngusap bahu gue. Awalnya gue kaget, tapi, terus gue mulai rileks.
"Wow...enak banget..."
"Tuh kan? Gak semua cakar kita tajam dan mematikan."
"Lo bener..." Gue ngomong dengan nada santai sambil minum sampanye.
"Naga Mata Air Panas itu naga yang gak mengancam, kecuali mereka merasa terancam. Sama kayak naga air, mereka nguasain air yang lebih hangat sementara naga air ngontrol air yang lebih dingin."
Gue ngerti dan dua naga itu terus mijitin bahu gue.
"Nama anak-anak kecil ini siapa?"
"Yang di kiri lo namanya Guntur dan yang satunya Badai."
"Tebak deh, kembar?"
"Yap."
Guntur dan Badai menggonggong senang sebelum Badai mutusin buat ngejilat muka gue bikin gue cekikikan. Tiba-tiba, kita liat naga mata air panas ukuran sedang munculin kepalanya dari air sebelum Guntur dan Badai turun dari bahu gue dan berenang ke naga itu. Gue kaget dan Dominic bilang ke gue.
"Itu ibunya, Perak."
"Dia cantik."
"Gak secantik lo."
Gue senyum ke Dominic sebelum gue geser deketan sama dia. Gue nyenderin kepala gue di bahunya pas dia rangkul gue. Dominic cium puncak kepala gue bikin gue senyum dan gue liatin dia sebelum dia mendekat buat cium bibir gue. Dominic cium bibir gue terus dia narik gue ke pangkuannya. Dominic meluk gue erat-erat dan dia bilang ke gue.
"Gue janji...gue bakal lindungin lo dari Xaldin."