Bab 5: Aoi; Rubah Berekor Ganda
Istana Whitebrook
Amelia Saumoux
Hari berikutnya setelah kemarin ada yang nyelonong masuk, Kakek masang kamera keamanan dan mulai pasang waktu aku berangkat pagi ini. Hari ini, aku dan kelas mau *field trip* ke istana Whitebrook dan syukur banget kali ini siang, bukan malam. Aku duduk di samping Sarah pas kita naik bis ke istana dan aku masih gak bisa hilangin perasaan kalau ada yang ngawasin aku.
"Sarah, ada gak sih orang di sekitar sini yang menurutmu mencurigakan?"
Sarah celingak-celinguk terus bilang ke aku.
"Gak ada, kenapa?"
"Sejak perjalanan kecil kita ke istana terakhir kali, aku gak bisa hilangin perasaan kalau ada yang nguntit aku."
"Ooh~" Sarah ngejek sambil aku geplak bahunya. "Aduh!"
"Gak lucu, aku serius. Ini mulai bikin aku panik, ini gak pernah terjadi sebelumnya."
"Oke, oke, maaf. Kamu tahu gak siapa kira-kira?"
"Gak tahu, makanya aku butuh kamu nempel kayak lem setiap saat. Ngerti?"
"Ngerti."
Sarah ngomong sambil senyum. Kita sampai di istana dan begitu sampai, pemandu wisata ngebolehin kita masuk ke istana dan aku bersyukur kelihatannya gak seseram waktu kita ke sini terakhir kali.
"Sekarang perhatikan ya anak-anak, untuk pelajaran kali ini kita akan keliling istana dan kalian semua akan cari tempat buat gambar istana. Kalian boleh gambar di dalam istana atau di luarnya, tapi, ingat? Jauhi zona bahaya, itu gak boleh diakses dan kalian dilarang keras mendekati area itu. Kita gak mau ada yang kecelakaan selama kita di sini, iya kan, Ryan?"
Ryan kaget pas guru manggil dia dan dia ketawa gugup sementara kita semua ngetawain dia. Aku dan Sarah nempel terus sambil keliling istana buat cari tempat buat mulai gambar dan akhirnya kita nemu tempat. Kita ada di taman istana. Kita duduk di bangku dan mulai gambar.
Aku terus-terusan ngeliatin taman dan aku gambar versi taman istana yang menurutku udah rusak sama rumput liar dan bunga yang mati.
"Sedih ya?" aku buka suara.
"Apaan?" Sarah nanya sambil kita terus gambar.
"Tempat ini dulunya istana yang indah, penuh kehidupan dan mereka punya Raja buat memerintah semuanya. Tapi, pas dia menghilang, semuanya jadi rusak dan buat orang-orang yang tinggal di sini, mereka gak tahu harus gimana. Mereka ninggalin tempat ini dan akhirnya rusak."
"Ya, begitulah ceritanya, Amelia. Kadang kita gak bisa terus-terusan di satu tempat yang kita sebut rumah dan kalau waktunya tiba, kita harus pindah."
Aku ngeliatin Sarah kaget dan dia kelihatan sedih entah kenapa. Aku berhenti gambar dan aku nanya dia.
"Sarah, ada sesuatu yang kamu gak kasih tahu aku ya?"
Sarah tahu kalau aku bisa baca emosinya dia kayak buku dan terus dia menghela napas sedih. Dia naruh buku sketsanya dan dia natap aku langsung.
"Amelia...aku mau pindah ke kota lain."
Mata aku membelalak kaget dan aku nanya dia.
"Apa?! Kenapa?!"
"Ingat waktu aku bilang kalau aku daftar ke sekolah seni di Kanada? Nah, aku dapat suratnya hari ini dan aku diterima. Setelah aku lulus kuliah, aku bakal pindah ke Ontario."
Aku gak tahu harus ngomong apa ke dia. Sebagian dari aku sedih karena sahabat terbaik dan teman masa kecilku mau pindah dari aku dan aku gak akan pernah ketemu dia lagi, tapi, sebagian lagi dari aku senang buat dia.
"Sarah, jujur aku gak tahu harus ngomong apa, itu berita bagus."
"Aku tahu, tapi, aku gak mau ninggalin kamu sendirian. Kita udah kayak saudara sejak kecil."
"Aku gak sendirian kok, aku punya kakek-nenek dan kayak yang pernah Nenek bilang. Suatu hari aku bakal nemuin seseorang yang spesial yang bakal sayang sama aku."
Sarah senyum ke aku terus dia meluk aku.
"Aku bakal kangen banget sama kamu."
"Aku juga."
Kita saling menjauh dan kita berdua senyum sedih. Tiba-tiba, aku denger ada yang nendang batu di tanah. Aku berdiri dari bangku dan aku teriak.
"Siapa di sana?!"
Sarah celingak-celinguk dan dia bilang ke aku.
"Gak ada siapa-siapa, mungkin kamu salah denger."
"Enggak, aku denger sesuatu."
"Kamu paranoid deh."
Sarah komentar sampai kita denger semak-semak berdesir.
"Siapa di sana?!" aku manggil mereka.
Sarah juga denger semak-semak berdesir terus dia bilang ke aku.
"Santai aja, mungkin rubah atau burung."
Aku ngeliatin Sarah mendekati semak-semak terus dia menjerit pas ada sesuatu yang loncat ke dia dan bikin dia jatuh ke lantai.
"Apaan, Sarah?!" aku teriak ke dia.
Makhluk kecil yang udah menerkam dia itu rubah. Bulunya putih dengan bulan sabit emas di dahinya dan entah kenapa, dia punya dua ekor.
"Itu...rubah?" aku nanya dengan nada kaget.
Rubah kecil itu ngeliatin aku terus rubah itu lari ke aku sebelum melompat ke pelukanku. Aku nangkap rubah kecil itu tepat waktu terus dia naik ke bahuku dan mulai gosok-gosok kepalanya ke pipiku bikin aku geli.
"Wah, kamu ramah banget ya, si kecil."
Sarah berdiri dan dia bersihin debu dari bajunya dan dia bilang ke aku.
"Dia gak ramah waktu nerjang aku, tapi tetap aja, aku belum pernah lihat bayi rubah berekor dua sebelumnya. Kamu kira dia dari mana?"
Sarah nanya aku sambil dia usap-usap kepala rubah itu dengan lembut.
"Gak tahu, tapi, dia lumayan imut sih."
"Kamu mau ngapain dia? Dia nempel banget sama kamu."
"Hmm...gak tahu. Kayaknya aku harus bawa dia pulang dan tunjukin ke Kakek, mungkin dia bisa kasih tahu aku lebih banyak tentang rubah berekor dua ini. Mungkin dia salah satu makhluk mitos yang dulu ada sebelum Raja Whitebrook berubah jadi naga."
"Kedengarannya bagus, tapi, mending kamu sembunyiin dia sebelum ada orang lain yang lihat dia."
Aku ngangguk terus kita beresin barang-barang kita. Aku buka tas aku dan aku bilang ke rubah kecil itu.
"Ayo, si kecil, masuk."
Rubah berekor dua itu ngeliatin aku bingung terus aku senyum ke dia.
"Jangan khawatir, ini cuma sampai kita pulang setelah *trip* selesai. Kita gak boleh biarin orang lain lihat kamu dan ngambil kamu dari aku."
Rubah kecil itu ngerti dan terus dia loncat ke tas aku. Aku resleting tas aku, tapi, aku biarin sedikit kebuka biar rubah kecil itu bisa napas dan dia bisa nongolin kepalanya biar bisa lihat.
"Ayo, kita pergi."
Sarah bilang ke aku sebelum kita ninggalin taman buat cari guru dan teman sekelas kita. Setelah *field trip* selesai, aku pulang dengan teman baru aku.
Aku sampai di rumah tanpa harus takut sama penguntit aku terus rubah kecil itu nongolin kepalanya dari tas aku.
"Suka ya?" aku nanya dia sebelum dia keluar dari tas aku dan duduk di bahuku.
Tiba-tiba, Kakek turun dari tangga dan dia ngeliatin teman baru aku.
"Halo, Amelia, siapa teman barumu?"
"Percaya gak percaya, si kecil ini rubah berekor dua dan aku nemuin dia di istana. Aku gak tahu di mana ibu atau saudara-saudaranya dan dia jelas nempel sama aku."
Rubah itu mendengkur kecil sambil gosok-gosok kepalanya ke pipiku. Aku senyum ke rubah kecil itu terus Kakek juga ngelus dia.
"Rubah berekor dua ya? Aku ingat pernah lihat fotonya ini di suatu tempat, tunggu sebentar."
Kakek menjauh dari aku terus dia mendekati rak buku sebelum dia ambil buku. Itu buku merah dan judulnya 'Ensiklopedia Makhluk Bersejarah Orion'. Kakek buka buku itu dan dia balik beberapa halaman terus dia senyum kecil.
"Ah-ha! Ketemu," Kakek nunjukin halaman itu ke aku dan aku baca keras-keras.
Rubah berekor dua adalah ras khusus yang berasal dari Jepang. Beberapa dari mereka dikenal punya sembilan ekor, bukan dua, tapi dua ekor adalah ras khusus. Rubah berekor dua kecil, tapi, mereka digunakan buat jadi hewan peliharaan yang hebat buat keluarga kerajaan dan mereka sangat setia sama mereka. Mereka dikenal punya warna tertentu di bulunya.
Warna bulu yang paling umum biasanya pirang keemasan dan mereka punya bulan purnama hitam di dahi mereka, tapi warna yang langka adalah rubah berekor dua hitam yang punya setengah bulan emas di dahi mereka dan rubah berekor dua putih yang putih dan mereka punya bulan sabit biru di dahi mereka.
"Jadi itu kamu?" aku nanya rubah itu dan dia jilatin wajahku.
Aku ketawa kecil terus aku gendong rubah itu.
"Aku gak ngerti sih, kalau makhluk ini ada di zaman Raja yang terkutuk, kenapa si kecil ini masih ada? Sekarang kalau dipikir-pikir..." aku perhatiin rubah berekor dua itu lebih dekat dan aku sadar sesuatu.
"Aku kayak pernah lihat makhluk ini di suatu tempat."
"Aku tahu di mana," Kakek bilang ke aku sambil nunjukin foto Raja dan dia punya rubah berekor dua putih yang sama di pelukannya.
"Oh, jadi Raja Whitebrook punya rubah berekor dua, kalian setia ya?" aku ngomong sambil senyum.
Rubah berekor dua itu mendengkur ke aku sebelum dia naik ke bahuku dan duduk di atas kepalaku.
"Hahaha!! Dia suka sama kamu. Kamu bilang nemuin dia di mana?"
"Aku nemuin dia di taman istana, kenapa?"
"Ya, kalau kamu nemuin si kecil di sana, berarti ada kemungkinan ada lebih banyak lagi, gimana kalau kita balik lagi ke istana besok? Kan akhir pekan."
"Kedengarannya bagus buat aku, Kakek. Sekarang buat kamu si kecil..." aku ngambil dia dari kepalaku dan aku ngeliatin mata birunya yang lucu itu. "Aku harus mikir nama buat kamu sampai kita nemuin keluargamu, gimana kalau...Aoi?"
Aoi kayaknya suka nama itu pas dia tegakin telinganya dan goyang-goyangin ekornya.
"Aku rasa dia suka nama itu, kamu dapat ide dari mana?"
"Gampang, bahasa Jepang kasih aku inspirasi dan Aoi artinya biru dan karena si kecil ini punya bulan sabit biru dan mata biru yang berkilau, masuk akal kalau manggil dia gitu."
"Pengamatan yang bagus, tapi, jauhkan dia dari pandangan Nenekmu. Kamu tahu kan alerginya dia kalau soal hewan peliharaan."
Aku ngangguk setuju sebelum naik lagi ke atas dengan Aoi di pelukanku. Begitu sampai di kamar, aku ganti baju pakai piyama dan aku masuk ke selimut.
"Selamat malam Aoi, sampai jumpa besok pagi."
Aku matiin lampu di meja samping tempat tidur dan aku tidur dengan Aoi meringkuk di sampingku.