Bab 6: Bertemu Raja Naga yang Terkutuk
Istana Whitebrook
Amelia
Keesokan harinya, Kakek dan aku pergi ke istana Whitebrook bareng teman baru kita, Aoi. Aku masih nggak yakin dia datang dari mana, tapi dia lumayan imut, sih. Kita sampai di pintu masuk dan satpamnya kenal Kakekku karena dulu dia satpam juga beberapa tahun lalu sebelum aku lahir. Kita sampai di aula masuk dan kita lihat pemandu wisata, Harry, teman lama Kakekku.
"Johnny! Senang ketemu kamu!"
"Senang ketemu kamu lagi, Harry," kata Kakek sambil dia dan Harry berpelukan erat.
Harry melihatku dan dia tersenyum padaku.
"Mata saya pasti salah lihat, tapi, apakah itu Amelia kecil di sana?"
"Bener banget," Kakek ngomong sambil senyum.
Harry tertawa dan dia pegang tanganku dan dia bilang ke aku.
"Nggak nyangka, kamu udah gede, sini putar badan biar aku bisa lihat kamu dengan jelas."
Aku berputar dan Harry berkomentar.
"Dia mirip banget sama Maria, ya?" Harry nyadar Aoi lagi duduk di bahuku.
"Kamu nemuin dia di mana?"
"Oh, teman baruku, aku nemuin dia kemarin di taman istana."
"Kamu beneran?"
Aku ngangguk dan Harry mencoba mengelus kepala Aoi tapi, dia malah ngegeram ke Harry. Harry narik tangannya dan itu bikin aku kaget.
"Kamu kenapa?" tanyaku ke Aoi dan Kakek langsung nyaut.
"Oh iya, aku hampir lupa. Rubah berekor ganda dikenal sangat melindungi majikannya dan sepertinya Aoi salah satunya."
Aku kaget dan aku elus bulu Aoi dengan lembut.
"Aoi, nggak apa-apa. Harry teman kok."
Aoi berhenti ngegeram dan dia loncat ke bahu Harry.
"Wah! hahaha! Wah, kamu sekarang ramah, ya?" kata Harry sambil dia elus bulu Aoi dengan lembut.
"Kamu bilang nemuin dia di mana?"
"Aku nemuin dia di taman istana kemarin. Aku sama teman-teman sekelasku ikut studi tur ke sini bareng dosen kami dan itu teman terbaikku dan aku nemuin dia. Aku nggak tahu harus gimana sama Aoi jadi aku putusin buat bawa dia pulang dan cerita ke Kakek tentang dia."
"Dan sekarang kamu di sini, ya? Aku bisa bantu apa?"
"Harry, kamu inget nggak di mana Raja biasa nyimpen hewan peliharaannya kayak Aoi di sini?"
Harry mikir sebentar dan dia inget sesuatu.
"Dia biasa nyimpen mereka di ruang tahta tempat keluarga kerajaan mereka biasa mengunjungi Raja dan milih rubah berekor ganda. Kamu bisa coba di sana dan lihat apakah Aoi punya keluarga di sana."
Aku ngangguk dan kita mau pergi sampai Harry ngehentiin kita sebentar.
"Oh, dan peringatan, jauhi zona bahaya. Mereka dilarang dan berbahaya sekarang."
"Mengerti, ayo, Amelia."
"Oke, aku ikut," kataku sambil nyusul Kakek.
Kita jalan di lorong beberapa saat dan setelah beberapa belokan, kita nemuin ruang tahta. Kita lihat-lihat dan itu keren banget dan aku lihat tahtanya. Aku mendekati tahta dan aku lihat spanduk di atas kita. Spanduknya biru dan ada naga putih di tengahnya
"Spanduk itu mewakili pasukan Whitebrook dan pembunuhan naga pertama Raja."
Kakek jelasin ke aku dan aku taruh Aoi di tanah.
"Oke, Sobat, sana cari keluargamu."
Aoi nggak bergerak, dia cuma natap aku dan dia duduk di tanah. Aku bingung dan Kakek bilang ke aku.
"Kasih dia waktu, Aoi mungkin lagi mikir di mana mereka."
"Oke."
Kakek dan aku lihat-lihat ruang tahta beberapa saat dan kita masuk ke ruangan berbeda yang ada di dekatnya. Kita masuk ke perpustakaan dan kita kagum pas lihat buku-buku perpustakaan kuno. Aku lihat potret yang tergantung di dinding dan aku dekatin buat lihat lebih jelas. Kakek juga sama dan dia senyum kecil.
"Raja Dominic, dulu seorang raja dan Pembasmi Naga dan kemudian dia jadi Raja yang kena kutuk."
"Kakek, menurut Kakek Raja masih hidup nggak? Maksudku setelah denger cerita tentang Leila sang penyihir yang mengutuk dia selamanya, mungkin aja bener."
"Kamu mungkin bener, lagipula Aoi nggak akan ada di sini...sekarang?" Kakek ngomong sambil dia lihat ke bawah dan dia nyadar Aoi udah menghilang.
Aku lihat-lihat dan Kakek bilang ke aku.
"Amelia, dia pergi ke mana?"
"Aku nggak tahu, dia ada di belakangku pas kita ke sini."
"Ayo kita cari dia, aku bakal balik ke aula masuk dan lihat apakah Harry udah lihat apa-apa, kamu nggak apa-apa nyari di sini sendiri?"
"Aku nggak apa-apa, aku bakal telepon Kakek kalau aku nemuin dia."
"Oke dan hati-hati."
Kakek bilang sebelum dia turun. Aku jalan di koridor sambil manggil Aoi dan sejauh ini, aku nggak bisa lihat dia. Tiba-tiba, aku lihat dia lari menjauh dariku dan dia belok.
"Aoi! Balik!"
Aku kejar dia dan pas aku belok, dia udah nggak ada. Aku bingung awalnya sampai aku lihat Aoi ngintip dari pintu yang nggak aku lihat sebelumnya. Aoi ngeong ke aku sebelum masuk ke dalam ruangan. Aku ikutin dia dan pas aku masuk, pintunya ketutup sendiri. Aku pikir itu cuma lelucon bodoh tapi, pas aku coba pegang gagang pintunya, aku ngerasain dinding yang kokoh. Aku usap-usap dindingnya dan aku tepuk-tepuk telapak tanganku beberapa kali tapi, nggak ada apa-apa.
"Kakek! Kakek! Kakek bisa denger aku?!" Aku panggil dia tapi, dia nggak jawab.
Aku ambil HP-ku dan aku coba telepon dia tapi, aku nggak dapat sinyal. Aku lihat-lihat dan gelap gulita jadi, aku nyalain senter di HP-ku dan aku ikutin Aoi karena dia mungkin tahu jalan keluarnya. Aku turun tangga dan Aoi terus ngeliatin aku buat mastiin aku masih ngikutin dia.
Pas aku jalan di terowongan, mulai terang dan aku lihat beberapa obor di dinding. Aku matiin senter dan aku lihat Aoi.
"Aoi, kamu mau bawa aku ke mana?"
Aoi ngeong ke aku dan dia lari di depanku. Aku kejar dia dan kita sampai di pintu keluar. Aku singkirin semak-semak yang udah tumbuh dan cahaya masuk ke mataku. Aku pake punggung tanganku buat nutup mata dan begitu agak meredup, aku kaget pas lihat pemandangannya.
Tanahnya ditutupi padang rumput dan pegunungan. Ada danau biru kristal yang penuh dengan berbagai jenis burung dan beberapa makhluk aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku pelan-pelan keluar dari semak-semak dan aku lihat-lihat lagi. Aku nggak bisa berhenti kagum sama indahnya bunga dan pemandangannya. Aku lihat beberapa makhluk aneh dan beberapa dari mereka adalah makhluk mitos yang udah aku baca di buku tapi, nggak pernah seumur hidup aku bisa lihat mereka dengan mata kepalaku sendiri.
Tiba-tiba, Aoi lari ke aku dan dia narik celanaku. Aku ikutin dia dan ada lebih banyak rubah berekor ganda dan mereka dalam berbagai warna. Aku senyum ke mereka dan aku berlutut di tanah. Rubah-rubah kecil itu lari ke aku dan mereka sentuh hidung kecil mereka di tanganku dan salah satunya coba naik ke bahuku bikin aku ketawa.
"Mereka kayaknya suka sama kamu," Sebuah suara ngomong dari belakangku.
Aku balik badan dan aku lihat seorang pria. Dia punya rambut pirang kotor, mata hijau, dan kulit kecoklatan. Pakaiannya terdiri dari jaket trenchcoat, kemeja abu-abu gelap, celana kulit, dan sepatu bot cokelat. Aku nggak bisa berhenti natap mata pria ini dan dia senyum ke aku.
"U-um..." Aku gagap dan aku nggak yakin harus ngomong apa ke dia.
"Jangan takut sama aku, sayangku. Aku nggak akan nyakitin kamu."
Pria tampan itu datang ke aku dan dia nawarin tangannya ke aku. Aku pegang tangannya dan dia bantu aku berdiri.
"Kamu siapa dan aku di mana?"
"Ini kerajaanku. Aku nyebutnya Krotlas. Ini tempat di mana semua makhluk mitos kayak rubah berekor ganda bisa hidup damai dan bersembunyi dari masyarakat. Aku pemimpin mereka."
"Wah, tapi, kok bisa kamu-"
Kalimatku terpotong pas aku denger suara auman dari langit. Aku kaget dan sesaat langit jadi gelap dan pas aku lihat ke atas, aku lihat kadal besar bersayap dan aku sadar itu naga. Aku kaget dan naga itu mendarat di samping kita. Naganya biru es dan matanya keemasan.
Aku sembunyi di belakang pria berambut pirang itu dan dia mulai cekikikan.
"Tenang, Axel teman aku."
"Teman?!"
Aku teriak kaget sampai kabut tiba-tiba muncul di sekitar naga dan kemudian menghilang. Aku ngintip dari bahu pria berambut pirang itu dan aku lihat seorang pria berambut perak muncul dari kabut dan dia nggak pake baju. Aku merah padam dan pria berambut pirang itu nutup mataku.
"Axel! Demi Tuhan! Pake baju! Ada cewek di sini!"
"Oh maaf! Salahku...tunggu, cewek?!"
"Axel!"
Aku denger pria berambut pirang itu teriak. Aku nunggu beberapa saat sampai akhirnya mataku dibuka.
"Maaf, kamu harus lihat itu."
"Aku, uh, nggak lihat apa-apa," kataku ke dia.
Aku lihat pria berambut pirang itu dan aku tanya dia.
"Apakah pria itu...naga?"
"Uh, iya, aku lupa bilang kita punya naga di sini dan ya, mereka bisa berubah jadi manusia. Itu semua karena Leila-"
Pria berambut pirang itu berhenti ngomong dan aku tahu apa yang mau dia bilang.
"Leila? Maksudnya penyihir yang mengutuk Raja istana Whitebrook?"
"Kok kamu tahu tentang itu?"
"Bukan cuma aku, semua orang di kota Orion tahu tentang legenda itu tapi, yang lain, mereka pikir itu mitos."
Pria berambut pirang itu nyengir ke aku dan dia bilang ke aku.
"Dan kamu pikir itu mitos?"
"Setelah apa yang aku saksikan? Nggak, dan lagipula, aku selalu percaya cerita tentang Raja yang kena kutuk itu bener termasuk Kakekku."
"Aku ngerti, ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu."
"Nama aku Amelia, nama kamu siapa?"
Pria berambut pirang itu buang muka sebentar seolah-olah dia nggak yakin harus ngasih tahu aku tapi, dia senyum ke aku setelahnya.
"Aku punya banyak nama selama berabad-abad tapi, ada satu nama yang nggak pernah aku lupain. Nama aku Dominic, aku pernah dikenal sebagai Raja istana Whitebrook."