Bab 24: Xaldin & Amelia
Luxas
Amelia
Xaldin megang tangan aku pas dia nuntun aku ke rumahnya, atau lebih tepatnya alam yang dia buat. Kita sampai di bangunan tua terus dia buka terowongan rahasia.
"Kita mau kemana?"
"Ini pintu rahasia ke tempat yang mau aku ajak."
"Kayak Krotlas?"
"Iya, tapi beda dikit. Ayo."
Aku cekikikan pas dia nuntun aku sambil megang tangan, terus ngebawa aku masuk ke alam itu. Kita jalan ngelewatin semak-semak dan Xaldin baik banget, dia singkirin beberapa semak buat aku. Begitu kita udah ngelewatin semak-semak, Xaldin megang kedua tangan aku terus dia bilang ke aku.
"Kita hampir sampai, hati-hati ya."
Xaldin ngangkat aku ke gendongannya pas kita nemu genangan air. Aku cekikikan pas dia lakuin ini terus dia nurunin aku ke tanah.
"Nih, kita udah sampai."
Mata aku langsung gede banget pas aku ngeliat alamnya. Indah banget. Ada langit malam bertabur bintang sama bulan purnama. Kastilnya, agak serem sih, tapi keren juga buat diliat, gelap dan keliatan kuno banget. Ada hutan gede dan pas kita menuju kastil, kita ngeliat beberapa hewan yang aku tebak sih makhluk-makhluk ajaib.
"Tempat ini keren banget!"
"Aku seneng kamu suka."
"Makhluk ajaib apa aja yang kamu punya di sini?"
"Yah, termasuk beberapa naga, kita punya beberapa makhluk nokturnal atau bisa dibilang makhluk malam. Kayak Vampir, manusia serigala, sama ghoul."
Aku nelen ludah pas dia bilang gitu, yang bikin dia ketawa kecil.
"Santai aja, gak ada yang perlu dikhawatirin. Mereka gak bahaya kecuali mereka ngeliat kamu sebagai ancaman."
"Janji?"
"Janji, dan tentu aja, kita punya beberapa makhluk yang lebih ramah."
"Beneran? Kayak apa?"
"Nanti aku tunjukin."
Xaldin megang tangan aku terus dia nuntun aku ngelewatin hutan. Beberapa saat kemudian, aku ngeliat cahaya biru muda di kejauhan sebelum Xaldin nunduk.
"Xaldin, kamu ngapain- ah!"
Xaldin tiba-tiba narik aku ke bawah semak-semak terus dia nekenin jarinya ke bibirnya buat nyuruh aku diem.
"Kamu harus diem banget. Orang-orang ini gak terlalu suka sama orang asing kecuali mereka gak tersinggung."
"Maksudnya?"
"Nanti aku tunjukin, tapi, kamu harus diem ya."
Aku ngangguk terus kita merangkak ngelewatin semak-semak sampe kita nemu danau dan aku ngeliat hal yang paling keren. Pikiran pertama aku, mereka itu pegasus, tapi, mereka bersinar terang banget, hampir kayak malaikat dalam wujud hewan.
"Mereka cantik, apa mereka pegasus?"
"Agak mirip, tapi mereka ini paling langka. Di Rusia, mereka dikenal sebagai Svetyashchiysya pages (Pegasus Bercahaya)."
Aku kagum pas dia bilang gitu.
"Mereka keren...bisa kita deketin?"
"Bisa, tapi, kamu harus hati-hati. Mereka gampang tersinggung kalau kamu gak nunjukin rasa hormat."
"Gimana caranya?"
"Cukup tunduk ke mereka, dengan gitu mereka gak akan ngeliat kamu sebagai ancaman terus mereka bakal nyamperin kamu dan ngecek kamu, abis itu mereka bakal mulai ngusap-ngusap kamu sebagai cara mereka nunjukin kasih sayang."
"Oke, gak ada tekanan."
Xaldin dan aku hati-hati keluar dari semak-semak terus salah satu pegasus bercahaya ngeliat kita. Xaldin ngeberhentiin aku terus dia berbisik.
"Pelan-pelan dekatinnya dan tunduk ke dia."
Aku ngangguk sebelum aku pelan-pelan nyamperin pegasus bercahaya itu terus aku tunduk ke dia. Aku ngelirik makhluk itu dan dia nginjek-nginjek kakinya beberapa kali dan mendengus ke aku.
"Amelia, mundur pelan-pelan."
Aku mundur dari dia sampe aku nginjek ranting. Aku kaget dikit dan aku diem sambil tetep tunduk ke dia.
Pegasus bercahaya itu pelan-pelan jalan ke arah aku terus aku ngerasain moncongnya di wajah aku sebelum dia mulai ngusap-ngusap aku. Aku kaget awalnya, tapi, aku mulai cekikikan setelahnya.
"Yah, abis ngecek aku, kamu gak terlalu buruk juga ya, cowok?" Aku bilang ke dia sambil ngelus-ngelus wajahnya.
"Dia emang suka sama kamu," komentar Xaldin.
"Sayang banget orang lain gak ngeliat mereka kayak gini."
"Kenapa emangnya?"
"Kenapa menurut kamu? Setiap kali ada orang yang deketin makhluk-makhluk ini, mereka akhirnya nyerang orang itu, tapi, mereka ini makhluk yang salah paham."
"Apa karena penampilan mereka dan gimana beberapa orang berinteraksi sama mereka?"
"Tepat banget, tapi, dengan pendekatan yang tepat mereka gak terlalu buruk."
"Aku ngerti, tapi, penasaran nih, apa mereka ngebolehin beberapa orang buat naik mereka setelah mereka ngecek buat mastiin kita bukan ancaman?"
Pas aku bilang gitu, pegasus bercahaya itu mendengus terus dia ngambil posisi tunduk dengan naruh satu lututnya di tanah sementara yang lain direntangin.
"Kayaknya kamu udah dapet jawabannya."
Xaldin bilang ke aku sebelum aku hati-hati nyamperin dia terus aku naik ke punggung pegasus bercahaya itu sebelum dia berdiri dengan benar.
"Pegangan yang kenceng, Amelia. Mereka ini bisa terbang lebih cepet dari sepupu mereka, pegasus putih."
Aku megang surai makhluk itu sebelum dia mulai lari dan ngepak-ngepakin sayapnya. Kita terbang ke langit dan Xaldin gak bohong pas dia bilang mereka ini bisa terbang cepet. Aku harus megang surai makhluk itu sekuat tenaga pas kita terbang ngelewatin langit malam.
Aku cekikikan pas kita terbang di atas hutan dan pas kita ngelewatin kastil. Aku nikmatin pemandangannya banget sampe aku gak sadar kalau Xaldin udah naik ke punggung pegasus bercahaya yang lain dan dia terbang di samping kita.
"Nikmatin pemandangannya?"
"Xaldin! Ini keren banget! Aku belum pernah ngeliat alam seindah ini sebelumnya!"
"Aku seneng kamu nikmatin, karena ada satu tempat lagi yang mau aku tunjukin ke kamu. Pegangan."
Aku teriak kaget pas pegasus bercahaya itu nyelam ke bawah. Aku megang surai makhluk itu sekuat tenaga pas kita terbang di atas danau terus sekumpulan kuda air meloncat keluar dari air dan mereka meringkik ke kita pas mereka meloncat keluar dari air.
"Wow! Apa mereka Kelpies?"
"Mata kamu bagus, iya mereka Kelpies."
"Apa bener mereka nenggelemin anak kecil sampe mati setelah ngebolehin mereka naik punggung mereka?"
"Kadang-kadang, tapi, sejak mereka dipindahin ke sini, mereka jadi ramah sama manusia sekarang dan kapanpun mereka ngebolehin mereka naik punggung mereka, mereka ngebolehin mereka buat ambil napas."
"Dan kamu tau dari pengalaman?"
"Yep, dan itu pengalaman terbaik dalam hidup aku."
Xaldin ngomong sambil senyum di wajahnya. Entah kenapa, Xaldin keliatan imut pas dia senyum kayak anak kecil.
'Apaan sih yang salah sama aku? Dari mana perasaan aneh ini datengnya? Kenapa aku gak takut sama dia setelah semua peringatan orang tentang dia? ...Aku penasaran kalau kata 'Naga Iblis' cuma gelar bodoh dan dia juga makhluk yang salah paham juga.'
Aku nanya ke diri sendiri sambil ngelirik wajah Xaldin yang lagi senyum.
Setelah terbang ngelewatin langit dan di atas danau, pegasus bercahaya itu ngebawa kita ke kastil dan mereka mendarat di balkon.
"Apa ini tempat tinggal kamu?" Aku nanya ke Xaldin pas dia turun dari punggung makhluk itu.
"Tentu aja, aku mikir kita bisa makan malam bareng dan mungkin kamu bisa istirahat sebentar."
"Aku mau banget, makasih."
Aku ngomong sambil senyum pas Xaldin ngebantu aku turun dari punggung makhluk itu.
"Makasih buat tumpangannya ya, sampai jumpa."
Aku bilang ke mereka pas mereka terbang pergi dari balkon sebelum meringkik ke kita. Begitu mereka udah pergi, Xaldin megang tangan aku terus kita masuk ke kastil.
Aku kagum pas aku ngeliat dekorasinya. Kastilnya keliatan agak gelap dan serem, keliatan kayak sesuatu dari film Dracula. Aku harus megang lengan Xaldin sekuat tenaga pas kita jalan ngelewatin lorong.
"Jangan takut sayang, gak ada yang bakal loncat dan nakutin kamu."
"Maaf, aku gak biasa sama tempat-tempat serem kayak gini."
"Jangan khawatir, aku bakal mastiin buat bikin tempat ini lebih cerah dikit. Aku udah duduk sendirian dalam kegelapan terlalu lama."
"Kenapa? Kamu gak punya seseorang yang spesial kayak Ratu sebelum kamu jadi pengubah wujud naga?"
Xaldin senyum ke aku dan dia ngelus pipi aku setelah kita berhenti di tempat kita berdiri.
"Dulu pernah, tapi, dia jatuh cinta sama orang lain."
"Oh, maaf aku ngomong gitu sekarang."
"Jangan pasang muka sedih gitu, mana senyum yang aku suka banget itu."
Aku ngasih Xaldin senyum aku dan dia senyum balik.
"Nah, gitu dong, sekarang, gimana kalau kita makan malam?"
Aku ngangguk terus kita sampai di ruang makan di mana makan malam dengan lilin udah nunggu kita. Xaldin jalan ke ujung meja terus dia narik kursi aku.
"Makasih."
Aku bilang ke dia sebelum aku duduk dan dia duduk di ujung meja.
"Aku harus nanya, seseorang pernah bilang ke aku kalau kamu seharusnya udah mati, gimana kamu bisa selamat?"
"Seorang penyihir nyelametin aku dan pas dia lakuin itu aku ngumpet buat beberapa saat terus aku minta penyihir yang sama buat bikin alam ini buat aku dan makhluk ajaib lainnya."
"Wow, buat seseorang yang seharusnya dikenal sebagai Iblis...kamu gak terlalu buruk."
"Kamu mikir gitu?" dia nanya ke aku dengan senyum yang mempesona yang bikin aku salting.
"Mungkin..."
"Raja Xaldin, Nona Amelia, makan malam sudah siap."
Seorang pelayan ngomong pas beberapa dari mereka masuk ke ruangan dan mereka nyajiin makan malam, tapi, ternyata prasmanan.
"Aduh, aku gak bisa makan semua ini."
"Maaf, aku gak bisa mutusin kamu suka yang mana jadi aku mikir kita prasmanan aja."
"Oke, oke."
Aku ngomong sambil senyum sebelum mulai makan makanannya.