Bab 3: Kastil Whitebrook yang Terkutuk
Istana Whitebrook
2020
Amelia Saumoux
Nanti hari itu setelah kelas kita selesai, gue balik ke tempat gue dan gue ambil barang-barang yang kita butuhin buat ngecek istana. Kayak senter, hape kita, makanan kalau-kalau laper, sama kamera kalau-kalau kita lihat sesuatu yang serem. Kata-katanya Ryan, bukan gue.
Setelah gue bilang ke kakek-nenek kalau gue udah siapin makan malam nanti dan gue bakal bikin nanti karena gue bilang ke mereka gue mau ketemu Sarah di mall. Gue ganti baju pake hoodie biru dongker, kaos item, celana jeans skinny abu-abu, sama sepatu kanvas item putih.
Gue ambil tas gue dan gue keluar rumah buat ketemu Sarah sama Ryan. Gue sampe di gerbang utama istana dan Sarah yang pertama kali dateng.
"Akhirnya dateng juga, lo lihat Ryan?"
"Nggak, gue baru aja nyampe. Mungkin dia telat."
Gue bilang ke dia sambil ngeliat jam tangan gue. Jamnya nunjukin jam 4:30 sore dan Ryan belum dateng juga. Tiba-tiba seseorang narik bahu Sarah dan dia teriak ketakutan.
"Kena lo! Hahaha!!" Ryan udah ngumpet di belakang Sarah dan nakutin dia.
"Apaan sih lo?! Bikin kaget aja!"
"Maaf, gue nggak bisa nahan diri. Ngomong-ngomong, gue nemuin jalan masuk, ayo."
"Kenapa gue punya firasat nggak enak ya?" Gue bergumam sambil ngikutin Sarah sama Ryan.
Ryan nemuin lubang di pagar besi tempat pemerintah bikin pagar di sekeliling istana dan terus kita masuk lewat situ. Kita jalan ke pintu masuk dan kelihatan serem banget dengan latar belakang langit pas matahari mau tenggelam dan beberapa kelelawar keluar dari jendela yang pecah. Sarah nelen ludah dan dia bilang ke kita.
"Mungkin ini bukan ide bagus, mending kita balik aja."
"Lo kenapa? Penakut? Kita belum masuk juga."
Ryan bilang ke dia sambil nyoba buka pintu gede dan pintunya nggak mau kebuka.
"Aduh, macet nih. Gue kira anak-anak SMA itu ninggalin pintunya kebuka buat kita."
"Aduh, sayang banget. Mending kita cabut dari sini sebelum ketangkep satpam."
"Ide bagus," Sarah nyaut sambil kita balik badan mau pergi.
Tiba-tiba, pintunya kebuka sendiri dengan suara berderit yang keras.
"Bilang ke gue kalau cuma gue yang lihat pintunya kebuka sendiri?"
"Nggak, lo nggak sendirian."
Ryan bilang ke kita sebelum ngeliat ke dalem. Gue ngintip juga ke dalem dan gue nanya ke dia.
"Lo pikir ada orang di dalem? Kayak satpam gitu?"
"Gue nggak bisa lihat siapa-siapa, gelap banget, tunggu bentar."
Ryan ngambil senternya dan terus dia arahin ke sekeliling pintu masuk utama istana dan seremnya minta ampun. Dindingnya pada runtuh, lukisan yang dulunya bagus udah robek-robek dan usang, lantainya retak dan beberapa semak tumbuh di deket dinding dan lantai.
Sarah pegangan erat di hoodie gue seolah-olah nyawa dia ada di situ pas kita pelan-pelan dan diem-diem masuk ke istana. Tiba-tiba, pintunya ketutup sendiri, bikin kita kaget.
"Uh, *tertawa kecil gugup* pasti kena angin," Ryan bilang ke kita.
"Iya, bener, angin y-ya itu mungkin penyebabnya."
Sarah ngomong dengan nada gugup di suaranya. Kita terus ngeliat-liat sekeliling dan terus Ryan bilang ke kita.
"Oke, ayo kita cek ruang tahta."
"Emang lo tau di mana?"
"Insting gue."
Gue menghela napas kesal pas kita nyari ruang tahta dan akhirnya kita nemuin. Ryan bersiul kagum pas dia ngeliat sekeliling.
"Keren, Raja yang kena kutuk pasti dulu raja yang hebat banget sampe punya semua ini. Hei cewek-cewek, lihat nih."
Ryan duduk di tahta dan dia mulai akting kayak Raja.
"Hormatilah Raja Ryan! Penguasa-"
"Penguasa orang-orang bodoh," gue komen.
"Penguasa orang-orang bodoh...hei!! Lo ngerusak momen gue!!"
Sarah sama gue ngakak pas gue manggil dia gitu dan ngeliat reaksinya. Pas banget, kita denger suara mencicit keras dari lorong. Gue nyuruh yang lain diem dan gue bilang ke mereka.
"Kalian denger itu?"
"Mungkin tikus," Sarah nyaranin.
Tiba-tiba, kita denger suara mencicit keras lagi dari lorong.
"Itu tikus GEDE banget."
Gue komen. Ryan ngambil tongkat baseball dari ranselnya, kalau-kalau kita diserang sesuatu.
"Tunggu di sini," Ryan bilang ke mereka sebelum buka pintu.
Ryan ngeliat sekeliling dan lorongnya kosong.
"Nggak ada siapa-siapa di sini."
"Lo yakin?" Sarah nanya ke dia pas kita keluar ke lorong.
"Yakin."
Gue ngeliat ke kiri dan kanan dan gue nggak bisa lihat siapa-siapa.
"Mending kita cabut dari sini."
"Belum, kita belum ngecek lantai atas."
"Serius?!"
"Cuma lihat sebentar terus kita keluar dari sini, gue janji."
Gue memutar mata dan terus kita ngikutin Ryan. Kita ngecek beberapa kamar tamu, kamar mandi, dll. Istana ini serem banget dan terus kita balik ke lantai dasar tempatnya lebih aman. Pas banget, gue pikir gue lihat sesuatu bergerak di bayangan.
"Lo lihat itu?"
"Lihat apa?" Sarah nanya ke gue pas kita ngeliat ke bayangan.
"Kita nggak lihat apa-apa, mungkin cuma tikus yang lagi ngumpet."
"Mungkin."
Gue bilang pas kita keluar dari istana sebelum satpam mulai patroli.
Istana Whitebrook
???
Gue ngeliatin para penyusup keluar dari istana. Gue mau ngejar mereka sampe gue lihat seorang gadis berambut emas yang cantik. Gue nggak tau kenapa, tapi gue ngerasa tertarik sama dia.
Gue diem-diem ngikutin dia dan terus dia sampe di sebuah rumah di kota dan nggak ngerasa nyaman karena gue nggak biasa berada di kerumunan orang banyak dan manusia tapi gue harus tau kenapa gue tertarik sama gadis ini.
Gue ngeliatin dia masuk ke rumah dan terus lampu di lantai atas nyala. Gue manjat tanaman rambat yang tumbuh di dinding dan terus gue sampe di balkon wanita itu. Gue ngeliat ke dalem jendelanya dan dia cantik.
Wanita itu punya rambut emas, mata biru, dan kulit yang kemerahan. Gue senyum sendiri dan gue mikir kalau dia bisa jadi orangnya, wanita yang bakal nyelametin gue dari mimpi buruk gue.