Bab 11
TEMAN-TEMAN YANG PEDULI
Nggak lama Phidelia duduk tenang, guru udah masuk kelas, dan pelajaran dimulai. Rowan yang nggak gitu percaya sama cerita Phidelia kepleset di tangga, terus-terusan curi pandang nggak enak ke dia, tanpa Phidelia sadar. Belum lagi dia yang merintih dan meringis nggak nyaman di kursinya selama 10 menit terakhir sejak pelajaran dimulai, dan itu bikin dia kesel banget.
Dia sedikit ngintip ke bawah meja, ngecek kaki Phidelia yang kayaknya bengkak, dan dia sadar kaki itu makin lama makin bengkak. "Woy," dia nyolek Phidelia. "Lo harus ke UKS, periksa kaki lo. Lo terus-terusan ngeringis nggak nyaman," bisik Rowan.
Phidelia mikir kalau nanti dia bakal ditanyain gimana ceritanya, dan sebagainya, makanya dia ragu-ragu. "Nggak apa-apa, Rowan, gue baik-baik aja," dia meyakinkan dan lanjut nulis catatan. Rowan kesel banget sama sikap Phidelia, dan nggak bisa nahan diri buat nggak ngamuk.
"Ini tuh–nyebelin banget, Delia." Dia ngegebrak meja pake tangannya, terus ngebanting pennya, bikin Phidelia kaget. "Permisi, Nyonya Houston." Dia ngangkat tangan, narik perhatian seluruh kelas.
"Ya–Rowan?" Bu Houston berhenti nulis di papan tulis dan ngalihin pandangannya ke Rowan. "Kamu ngapain, Rowan?" Phidelia berbisik, megangin tangan Rowan tapi Rowan nggak peduli.
"Maaf, Bu Houston, tapi boleh nggak saya kirim Phidelia ke UKS? Kakinya sakit pagi ini."
"Tentu saja, Rowan." Dia tersenyum, "Kamu harus lebih hati-hati, Phidelia," dia ngarahin pandangannya ke Phidelia. "Hal-hal kecil ini bisa jadi masalah besar kalau kita nggak obatin dengan benar, Mm..?"
"Iya, Bu," jawab Phidelia sambil senyum kecut, ngelirik Rowan.
"Oke kalau gitu." Dia balik natap Rowan. "Kamu boleh pergi sekarang." dia ngasih izin dan Rowan berdiri dari kursinya dan ngebantu Phidelia berdiri. Dia mau beresin bukunya ke tasnya, tapi Lilly nawarin buat beresin, jadi mereka ninggalin semuanya dan Rowan megang tangan Phidelia dan ngebantu dia keluar kelas; jalan satu kaki.
Pemandangan Rowan sama Phidelia keluar kelas bikin Tina kesel banget, pengen banget ngejambak Phidelia di tempat kalau dikasih kesempatan.
"Oke, ayo kita lanjut pelajaran." Guru balik lagi ke papan tulis buat lanjutin pelajaran, tapi Tina nggak bisa fokus. Dia terus-terusan curi pandang ke pintu, mikirin apa yang harus dia lakuin ke Phidelia.
*****
Pas keluar kelas, mereka jalan di koridor yang mengarah ke UKS, dengan tangan Phidelia melingkar di bahu Rowan dan jalan pelan-pelan di setiap langkahnya.
"Buat apa sih itu, Rowan?"
"Harusnya itu pertanyaan gue, Delia. Lihat kaki lo bengkak kayak gitu, dan lo malah bikin alesan. Bilang sama gue, kenapa lo takut banget ke UKS. Hah?"
"Ya, gue–Um–" dia ngecap bibirnya. Tiba-tiba ngerasa nggak punya kemampuan, karena nggak ada penjelasan yang bisa dia kasih buat nutupin kebohongannya. "Udah deh, berenti ngeluh," dia ngecekin. "Kita udah mau ke UKS dan itu harusnya jadi akhir dari semuanya. Kenapa lo tukang ngeluh banget sih?" dia ngejek.
Rowan cekikikan dan sedikit ngegeleng. "Lo harusnya lebih khawatir sama diri lo sendiri, Delia. Lo jago banget bohong," dia cekikikan ngelihat ekspresi kaget Phidelia. "Tuh–, gue dapet lo,"
Phidelia natap dia dan ngakak, "Gila." Dia sedikit mukul tangan Rowan, ngegeleng.
"Tapi serius, Delia," Rowan bergumam dengan tatapan datar. "Lo harusnya coba buat jaga diri lo baik-baik dan berenti mikirin orang lain, oke?"
"Oke, oke." Phidelia tersenyum. "Apapun yang bikin gue nggak kena masalah sama lo, bakal gue lakuin." Dia bercanda dan mereka berdua cekikikan pas belok ke UKS. Mereka pelan-pelan buka pintu, kelihatan cewek rambut cokelat kemerahan di usia pertengahan 20-an lagi duduk di belakang meja; lagi ngerjain beberapa berkas.
"Selamat pagi, Nona Florida," Rowan ngomong pas dia jalan ngelewatin dia bareng Phidelia ke kasur.
"Selamat pagi, Rowan." Dia berdiri dan nyusul mereka. Rowan ngebantu Phidelia duduk di kasur dan Nona Florida jongkok di depan kaki Phidelia yang bengkak, meriksanya. "Apa yang terjadi sama dia?" dia nanya sambil ngelihat Rowan yang berdiri di samping mereka.
"Ya, gue kepleset di tangga," Phidelia nyahut dan Nona Florida ngelihat Phidelia terus ke kakinya. "Lo yakin kepleset?" Dia berdiri, natap Phidelia nggak percaya, "Kepleset kayak gimana sih itu? Kayaknya lebih kayak ada kekuatan yang kena kaki lo daripada kepleset."
Dia geser ke laci tempat obat-obatan buat salep, pereda nyeri, dan obat tidur. "Siapa nama lo?" dia nanya, balik ke mereka.
"Gue Phidelia, tapi temen-temen gue manggil Delia," Phidelia jawab, natap Nona Florida pas dia naruh obat di sampingnya.
"Nama yang bagus." dia ngasih obat tidur dan pereda nyeri ke dia sama segelas air. "Minum itu, itu pereda nyeri dan obat tidur. Buat ngurangin rasa sakit dan juga bikin lo istirahat, karena lo nggak perlu pake kaki lo buat 3 jam ke depan biar lebih cepet sembuh."
Phidelia ngangguk dan minum obatnya. "Bagus." Nona Florida ngambil gelas air dari dia dan naruh di laci samping kasur. Dia ngambil salep dan jongkok di depan kaki Phidelia. "Bilang ke gue kalau sakitnya nggak tertahankan," dia nyuruh dan Phidelia ngangguk. "Dan kamu, Rowan," dia ngelihat ke dia. "Kamu boleh balik ke kelas kamu."
"Nggak, Nona Florida." Dia buru-buru bergumam, "Gue bakal nunggu sampai dia selesai perawatan." Dia duduk di samping Phidelia. "Oke deh." dia mengangkat bahunya, "Terserah kamu." Dia lanjut ngolesin salep di kaki Phidelia. Phidelia meringis di setiap sentuhan, dan beberapa menit kemudian, mereka selesai.
"Selesai." Dia mengangkat bahunya. "Kamu bisa istirahat sekarang." dia ngomong sambil tersenyum dan balik lagi ke mejanya.
"Sini, biar gue bantu." Rowan berdiri dan ngerapiin bantalnya. "Kamu bisa istirahat sekarang." Dia ngebantu Phidelia naro kepalanya di bantal dan pelan-pelan ngangkat kakinya di kasur juga. "Makasih," Phidelia bergumam sambil tersenyum dan dalam sekejap mata, dia ketiduran.
Rowan natap dia sebentar dan tersenyum, narik selimutnya terus dia tiduran di kasur di sampingnya. Dia tiduran miring, ngelihat Phidelia yang udah tidur pulas.
Jam berlalu dan nggak lama, bel bunyi buat istirahat makan siang. Claire cepet-cepet beresin bukunya dan lari keluar kelas buat nyari Phidelia. Dia buru-buru jalan di lorong ke koridor dan nggak lama nyampe di kelas Phidelia buat nemuin temen-temennya keluar kelas. Dia sabar nunggu di luar buat Phidelia tapi nggak ada tanda-tanda dia. Dia meremehkan, mau masuk kelas pas ngelihat Tina dan temen-temennya keluar. Dia cepet-cepet balik badan, nyembunyiin mukanya dari mereka dan mereka ngelewatin dia tanpa nyadar. Pas mereka ngelewatin, dia masuk ke kelas. Saat itu, dia ketemu Lilly. "Permisi," dia nahan Lilly. "Maaf ganggu, tapi gue nyari Phidelia."
"Oh, dia di UKS."
"UKS?" dia nanya, kaget banget karena dia baik-baik aja pas mereka datang tadi pagi.
"Iya, kakinya bengkak jadi dia harus ke UKS."
"Oke, makasih banyak," dia jawab dan lari keluar, buru-buru di koridor siswa yang rame ke UKS. Dia ngebanting pintu dan buru-buru masuk. "Selamat pagi, Nona Florida," dia buru-buru bergumam, ngebut ngelewatin dia. Nona Florida ngelihat ke belakangnya, "Oh, Claire," dia cekikikan, sedikit ngegeleng dan balik lagi ke pekerjaannya.
Rowan udah bangun dan ngecek Phidelia pas Claire nyampe di kasur Phidelia. "Woy!" dia ngomong, berhenti tepat di belakang Rowan. Rowan berbalik dengan cepat ke dia. "Kamu siapa?" dia nanya. Rowan cekikikan, ngepalin tangannya di dadanya. "Harusnya itu pertanyaan gue buat kamu?" Dia nanya, ekspresinya datar.