Bab 43
PERPISAHAN (BAGIAN 1)
Sekolah udah selesai dan Phidelia gak bisa nahan semangatnya – akhirnya bisa kabur sebentar; kenyataan kejam dari hidupnya sekarang untuk sekali lagi ketemu keluarga. Terutama orang tua yang udah lama banget gak ketemu.
Dia duduk nempel sama saudara kembarnya di bis dengan semua semangat dan kegembiraan yang keliatan banget dari tingkah laku dan wajahnya, matanya fokus antara saudaranya dan jendela kaca yang dia dudukin. Gara-gara yang dia sendiri gak ngerti, dia gak bisa – sejak dia mati gak bisa keluar dari empat tembok sekolah kecuali pas dia pengen ngejek Tina dan gengnya; yang cuma satu-satunya kesempatan yang dia punya.
Beberapa bulan terakhir, dia ngerasa kayak terkunci dan terjebak sama kekuatan yang kuat~ dia susah banget ngejelasinnya, tapi tiba-tiba; kehadiran saudaranya ngeubah segalanya.
Dengan Phidel di sampingnya, dia sekarang bisa ngelakuin hal-hal yang udah lama dia pengenin; kayak ikut naik bis kayak anak SMA lainnya. Dari pikiran instingnya meskipun gayanya agak aneh – Phidel ngasih senyum pas mata mereka ketemu; bikin saudaranya bales senyum sambil matanya cepet-cepet balik lagi ke hapenya.
Yang terakhir pengen nanya saudaranya kenapa senyumnya lebar banget, tapi… ya, nanti dia dikira orang aneh di antara penumpang bis, jadi diputusin buat disimpan sampai mereka turun.
Setelah momen-momen tegang yang kayaknya gak ada habisnya buat Phidelia, bis akhirnya berhenti di halte mereka. Dia buru-buru turun dari bis, diikuti Phidel yang keliatan lebih tenang setelah ngelihat saudaranya – mungkin lagi nyusun rencana buat bikin Tina dan gengnya makin kejepit. Bikin mereka makin sengsara dari sekarang – nunjukin ke mereka betapa gak berdaya dan kesepiannya saudara perempuannya. Gimana rasanya ditinggal dalam gelap dan dinginnya kematian.
"Hei," Phidelia nyenggol saudaranya, ngelihat raut khawatir di wajahnya. "Lagi mikirin apa?" Dia nanya pas tatapan saudaranya ketemu sama dia.
Yang terakhir ngelihat semangat di wajah saudaranya, mutusin buat gak ngasih tau dulu sampai bener-bener yakin – biar setidaknya dia nikmatin momen ini dan gak ngerusak dengan rencana-rencananya yang bakal bener-bener ngingetin dia tentang keadaannya sekarang. "Mungkin bagus kalau disimpan dulu." Pikirnya.
Nyamarin kekhawatiran aslinya dengan senyum, dia nanya ke Phidelia kenapa dia semangat banget.
"Ketemu Ibu dan Ayah, lah." Dia nyeroscos, jelas banget semengatnya.
Phidel ngeledek alasannya, sambil geleng-geleng kepala. Saat itu, Phidelia ngelihat gerobak es krim yang emang tempat favoritnya; gak jauh dari tempat mereka turun. Secara naluri, dia lari ke tempat itu – matanya ngeliatin saudaranya yang bingung.
"Cepetan." Dia ngasih isyarat, yang langsung ditangkep Phidel. Sudut bibirnya langsung membentuk senyum dan dia ngejar Phidelia.
Dengan penjelasan dari Phidelia tentang apa yang dia mau; saudaranya beliin dua es krim. Satu buat dia sendiri dan yang lainnya buat Phidelia. Gak buang waktu lagi, mereka lanjut jalan.
Setelah beberapa kali jalan di trotoar yang rame, akhirnya mereka sampe di tujuan. Sensasi pulang lagi ke rumah ngasih hormon yang nyegerin dan nenangin buat Phidelia pas mereka masuk ke halaman.
"Aku pulang..." Phidel ngomong pas masuk pintu – diikuti Phidelia.
"Selamat datang sayang." Bibi Emma bilang pas dia masuk dari teras yang mengarah ke halaman belakang sambil bawa kotak di tangan.
"Bibi Emma–" Phidelia berseru saat itu; ngelihat Bibinya setelah lama gak ketemu. Phidel cepet-cepet ngelirik dia terus balik lagi ke Bibi mereka sambil senyum cerah di wajahnya.
"Kukira kamu bakal bareng Isla dan Jade." Bibi Emma nambahin – ngejatohin kotak yang keliatannya berat di lantai.
"Ya, itu," Phidel gumam, "Aku lagi ada urusan jadi gak tau kapan Isla pergi." Jawabnya sambil matanya nyari-nyari; ngerasa rumahnya agak sepi dengan perasaan ada yang kurang. "Ibu dan Ayah mana?" Phidel tiba-tiba nanya karena dorongan hati.
"Mereka udah berangkat." Bibi Emma jawab.
"Mereka berangkat?" Phidel dan Phidelia ngulang dengan heran. Yang pertama langsung ngelihat wajah saudaranya yang langsung kecewa, yang bikin dia gak enak juga.
"Mereka minta maaf karena pergi tiba-tiba." Bibi Emma nyela, ngelihat tatapan kecewa Phidel. "Mereka sebenernya nungguin kamu lumayan lama, sayang, tapi mereka udah telat buat penerbangan mereka. Mereka harus pergi darurat, liat dari kondisinya." Tambahnya.
Gimana pun mereka pergi, Phidel ngerasa kerugiannya udah terjadi jadi dia ngangguk aja. Pamit, dia jalan ke kamarnya diikuti Phidelia.
*******
Lucas udah duluan ke kamarnya – ninggalin saudaranya sendirian sesuai permintaannya; tau banget gak ada yang bakal bikin dia mau cerita selama dia udah mutusin pikirannya.
Setelah sekitar 30 menit, dia turun dari kamarnya ke meja makan; karena dipanggil Nenek Courtney. Secara naluri, dia ngejeburin diri ke salah satu kursi di belakang meja; ngelihat Nenek Courtney mondar-mandir di meja dengan piring-piring – siap nyajiin buat dia.
"Aku makan sendiri?" Dia nanya karena dorongan hati, gak ngelihat tanda-tanda saudaranya.
"Kayaknya gitu, Lucas." Nenek Courtney jawab tanpa ngelihat, tapi langsung gak enak sama anak muda yang udah kebiasaan makan bareng saudaranya karena orang tua mereka hampir gak pernah ada di rumah.
"Tapi Tina mana?" Dia nanya, karena rasa gak enak makan sendiri makin kerasa. "Dia gak ikut gabung?" Dia lanjut – ngebombardir Neneknya dengan serangkaian pertanyaan yang dia gak punya jawabannya.
Courtney spontan menghela nafas, duduk di kursi sampingnya; tiba-tiba kewalahan dengan semua pertanyaan.
"Gimana kalau kita gini aja." Dia bilang, ngeyakinin Lucas buat makan sama dia aja sambil nunggu Tina tenang. "Kasih dia waktu buat nenangin diri." Dia bilang, tapi ekspresi di wajah Lucas nunjukkin sebaliknya. "Jangan khawatir, dia bakal baikan kok." Dia meyakinkan; ngusap rambutnya dengan senyum di wajahnya.
Akhirnya, Lucas setuju dan ngelakuin apa yang diminta Neneknya, tapi dalam hati berharap saudaranya mau cerita lebih banyak. Setidaknya nyuarain keluh kesahnya yang pelan-pelan ngerusak hidupnya.
Kalo ada sesuatu yang paling dia pengenin, yaitu balikin lagi saudara perempuannya yang dulu baik dan penyayang – ngilangin semua kepahitan yang dia simpan yang udah jadi sisik di matanya; membutakannya dari ngelihat sendiri banyaknya orang yang bener-bener mikirin dan peduli sama dia.
Masih aneh banget buat dia gimana dia tiba-tiba berubah gara-gara orang tua mereka~ sampai-sampai jadi pembunuh. Dia merinding mikir lebih jauh tentang apa yang bisa dia lakuin kalau dia gak mau cerita.