Bab 3
NASIB BURUK
Balik rumah setelah seharian penuh aktivitas, Phidel dan Phidelia langsung ngacir ke kamar mereka. Kecapekan, bahkan gak nunggu ortu mereka selesai beresin barang-barang.
Begitu nyampe kamar, mereka berdua langsung oleng ke kasur dan ambruk, langsung molor.
Setelah beresin barang, Randy nyantai ke ruang tamu, gak sadar anak-anaknya gak ada. Pas udah selonjoran di sofa, dia nyalain TV.
"Kenapa gak mandi dulu, aku buatin makanan," Jerome ngeliatin dia sambil bawa belanjaan.
"Nanti aja deh, istirahat bentar," jawabnya.
"Gak bisa, Sayang, kamu keringetan. Mandi gih, ganti baju," gumam Jerome, jalan ke dapur dengan belanjaan di kedua tangannya.
Dia naruh belanjaan di kabinet, ngambil satu-satu sambil siap-siap masak.
Randy duduk di sofa, matanya masih nempel di layar, males gerak.
"Sayang..., kamu gak mandi?" panggil Jerome.
"Aduh, dia bisa nyuruh-nyuruh banget sih," gumam Randy, bangun dari kursinya.
"Udah mau pergi aja!!"
Jerome senyum sendiri, denger suaranya yang malesan, "Gak pernah berubah, tetep aja." Dia cekikikan, geleng-geleng dikit sambil lanjut kerja.
Satu jam kemudian, Jerome udah selesai, sibuk nata meja, goyang-goyang ikuti irama hummingnya. Randy berdiri di ujung tangga, senyum sumringah, kagum sama kecantikan dan ketenangan istrinya.
Jerome nyadar, dia senyum.
"Oh, kamu udah di sini."
"Mm..." gumamnya, trus nyamperin.
Pas udah deket meja, dia narik kursi, duduk.
Saat itu, Jerome baru nyadar anak-anaknya gak ada.
"Anak-anak mana...?" tanyanya, ngeliatin sekeliling. "Gak bareng kamu?"
"Gak..., aku gak liat mereka sejak kita balik. Mungkin di kamar."
"Oke, aku samperin."
Dia buru-buru naik tangga, ke koridor, ke kamar anak-anaknya. Sepi di kamar pas dia nyampe pintu.
"Kok sepi banget ya?" gumamnya, pelan-pelan buka pintu, masuk ke kamar.
"Ya ampun..., kok bisa tidur gak makan?"
Dia ngesot ke kasur, niatnya mau bangunin buat makan malam, tapi pas liat mereka tidur nyenyak, dia berhenti.
"Kasihan anak-anakku, kayaknya kecapekan banget. Gak nunggu makan malam."
Dia selimutin mereka, cium pipi mereka sambil natap dengan senyum cerah.
"Selamat malam, sayangku...."
Dia ngesot ke pintu, matiin lampu, keluar kamar, pelan-pelan nutup pintu.
Randy duduk di belakang meja, nungguin istri dan anak-anaknya, natap tangga penuh harap. Saat itu, Jerome turun tangga sendirian.
"Oh, mereka mana? Katanya mau nyamperin?"
Turun tangga terakhir, dia menghela napas, "Iya, tapi sayang, mereka udah tidur," katanya, jalan ke kursinya, suaminya ngeliatin dia.
"Beneran...?" dia cekikikan, "Kira-kira mereka kecapekan dari semua kesenangan."
"Iya banget," dia senyum, naruh piring makanan suaminya di depannya.
"Mm..., wangi banget nih."
"Makan gih."
Dia senyum, mulai makan. Randy juga ambil sendok, mulai makan. Mereka lanjut makan dalam diam, gak lama kemudian, selesai.
Randy bantu istrinya beresin meja, bawa piring-piring ke dapur.
Mereka cuci dan bilas sebelum balik ke kamar.
Randy duduk di kasur dengan laptop di pangkuannya, ngerjain proyek dari kantor, Jerome jalan ke sisi lemari, ngambil handuknya.
"Aku mandi dulu ya."
"Oke, Sayang," jawabnya, matanya masih nempel di layar laptop, ngetik sesuatu.
30 menit kemudian, Jerome balik, nemuin Randy masih megang laptopnya. Gantung handuknya di lemari, dia jalan ke kasur.
"Udah malem, Sayang, istirahat gih," dia naik ke kasur, nyenderin kepalanya di bahu suaminya.
Randy senyum, merem matanya ke wajahnya. "Oke, Sayang," dia cium dahinya sebelum nutup laptop, pelan-pelan naruhnya di laci samping kasur.
Ngesot lagi ke kasur, Jerome pindahin kepalanya dari bahunya ke dadanya, tiduran di sampingnya. Belum juga sadar, mereka berdua udah molor.
**************
Hari Minggu, gak banyak yang bisa dikerjain di keluarga Hoods selain ritual mereka, ke gereja pagi.
Sekitar jam 12 siang, mereka balik dari gereja.
Setelah makan siang, Phidel dan Phidelia langsung lari ke kamar buat ngerjain PR sebelum Senin, sementara ortu mereka nyantai di ruang tamu.
"Hati-hati di tangga, anak-anak..." ibu mereka teriak setelah mereka lari ke kamar.
"Oke, Ma..." jawab mereka kompak, cekikikan.
Nyampe kamar, mereka ke meja belajar, ngambil buku PR.
"Cepetan sebelum Linda dan yang lain nyampe. Nania janji mau bawa anak anjingnya hari ini," jawab Phidel iseng.
"Iya, aku tau," jawab Phidelia, natap PR, mikirin soal-soalnya.
Phidel juga deketin, naruh bukunya di samping adiknya.
"Gimana kalau kita coba gini, 25x + 10= 0. Terus kita coba pindahin semua angka ke satu sisi, terus selesaikan."
"Oke, coba yuk," jawab Phidelia, mereka berdua mulai ngerjain soal, serius dan fokus.
Mereka masih ngerjain, tiba-tiba, Phidelia mulai ngos-ngosan, matanya kebuka lebar.
Phidel yang gak pernah liat adiknya kayak gitu sebelumnya langsung panik, ngerasa lemes seketika.
"Phidelia...? Kamu kenapa?" tanyanya, tapi adiknya masih ngos-ngosan. Ngelakuin apa aja gak bisa bantu adiknya, dia buru-buru keluar buat minta bantuan ortu mereka.
Mata Randy dan Jerome nempel di TV pas denger suara panik Phidel. Mereka buru-buru noleh, liat dia turun tangga, kaget.
"Ma–, Ma– bantu Phidelia. Aku gak tau kenapa, tapi dia gak bisa nafas."
"Apa....?"