Bab 42
THE TWIST
Roxy sama Bella udah nyisirin seluruh area sekolah, nyari ke setiap sudut dan tempat persembunyian rahasia yang Tina tau bakal dia datengin kalo dia lagi sedih atau ada masalah di rumah, apalagi sama Ayahnya. Tapi dia gak keliatan juga. Walaupun mereka ngikutin dia cepet-cepet, kayaknya kecepatan sama waktu mereka gak cukup cepet.
"Kemana sih dia?" tanya Roxy pas mereka berhenti di depan perpustakaan sekolah– desahan kelelahan keluar dari bibirnya, sementara matanya celingak-celinguk nyari di sekitar mereka.
"Kayaknya mending kita balik ke kelas deh," saran Bella. "Nyonya Chio gak bakal suka kalo kita makin telat dari ini," katanya. "Lo tau kan gimana dia kalo urusan kayak gini."
Roxy otomatis ngecap bibirnya sambil matanya masih nyari-nyari, jarinya ngusap rambutnya. "Oke," dia menghela napas, pandangannya balik lagi ke Bella. Tanpa ngomong apa-apa lagi, mereka langsung cabut.
"Atau… menurut lo dia pulang?" Bella ngomong, kedengerannya agak ragu-ragu pas mereka nyampe di tikungan koridor yang nyambung ke lorong kelas mereka.
"Oh?" Roxy kaget, tiba-tiba ngerasa bodoh. "Kenapa gue gak kepikiran ya?" dia bergumam, suaranya makin menjauh.
Setelah beberapa menit lari-larian di lorong, akhirnya mereka dorong pintu kelas, masuk dengan santai pas semua mata langsung ngeliatin mereka, termasuk guru mereka. Rowan, yang hampir gak pernah ngeliat mereka berdua tanpa Tina setiap hari– alisnya spontan berkerut, keningnya mengernyit karena khawatir.
Dia kenal banget sama Tina~ dia tau Tina kayak ngapalin punggung tangannya sendiri. Dulu mereka temenan deket banget pas kecil gara-gara persahabatan orang tua mereka. Dia tau hubungan buruk antara Tina dan orang tuanya, terutama sama Ayahnya. Dulu dia sering jadi tempat curhat, penasihat, dan tempat Tina bisa curahin semua emosinya kalo dia lagi down atau salah paham sama orang tuanya. Tapi itu berubah pas Tina mulai bertingkah aneh cuma buat narik perhatian mereka; lupa sama perasaan orang yang beneran peduli sama dia. Dia tau ada jiwa yang hangat dan baik di balik tingkah lakunya yang kasar itu. Jadi, ya– dia peduli sama dia. Kalo bukan karena hal lain, ya sebagai temen masa kecil.
Nyonya Chio, yang kayaknya gak tertarik sama alesan keterlambatan mereka berdua– cuma nyuruh mereka ke tempat duduk mereka, yang agak gak biasa dari dia. Di sisi lain, Rowan gak bisa berhenti ngeliatin mereka pas mereka duduk di meja, rasa khawatirnya makin menjadi.
Phidel bener-bener kebalikan dari Rowan– bibirnya otomatis membentuk senyum miring, kepuasan nyebar di wajahnya; natap punggung mereka dengan intens.
"Menurut lo mereka bakal keluar gak, cepet atau lambat?" tanya Phidelia, ganggu konsentrasi saudarinya.
Phidel dengan cekatan ngelirik dia. "Gak kayaknya," dia senyum. "Tapi setidaknya mereka sekarang tau gimana rasanya," tambahnya, ngasih Phidelia tatapan penuh arti pas dia ngalihin pandangannya balik ke papan tulis.
Ujung matanya spontan ngeliat Rowan natap dia dengan tatapan bingung. Dia langsung noleh ke dia sambil miringin kepalanya, nanya.
"Lo gak papa?" kata Rowan refleks, gak yakin sama cewek di depannya. "Lo kayaknya ngomong sendiri. Lo…" dia ngomong sambil berhenti di tengah kalimatnya– nunduk ke arah Phidel sambil ngambil tangannya ke dahi Phidel buat ngecek suhu tubuhnya; bikin dia kaget. "panas ya?" tanyanya.
Phidel ngerasa wajahnya merah saat itu juga, dan dia membeku di tempatnya. Phidelia gak bisa nahan diri buat gak ngakak– nutup mulutnya dengan tangannya; yang bikin Phidel balik ke dunia nyata. Tanpa sadar, dia ngejauhin tangan Rowan seketika~ langsung ngalihin pandangannya balik ke papan tulis.
"Gue gak papa," jawab dia tanpa ngeliat Rowan– wajahnya kebakar malu.
"Wih…" Phidelia berseru, nyender ke arah saudarinya. "Gue bisa liat ada yang mukanya kebakar. Suka ya?" tanyanya dan dibales tatapan tajam. "Ah," dia senyum, balik ke posisi semula. "Itu sih bisa bikin kucing mati," gumamnya sambil nyengir.
******
Lucas beneran lagi hectic banget di sekolah gara-gara semua tugas proyek dan kegiatan sekolah– jadi pulang lebih awal kayak biasanya; pengen istirahat buat ngisi energi. Turun dari mobil pas supirnya berhenti, alisnya berkerut– nunjukin tatapan bingung~ pas ngeliat mobil Tina udah parkir di depan rumah.
Dia jalan dengan langkah pendek ke arah pintu masuk; natap mobil itu dengan curiga. "Gak biasanya dia kayak gini," komentarnya, masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, orang tua mereka gak ada di rumah. Suara berisik peralatan dapur dari dapur; pas nyampe di aula bikin dia lari ke sana– tau banget siapa pelakunya.
"Selamat datang Lucas," Nenek Courtney bilang pas ngeliat Lucas masuk ke dapur sambil dia sibuk sama tugasnya.
"Makasih, Nenek," jawabnya, masih masang tampang curiga. "Nenek kebetulan liat gak pas Tina pulang dari sekolah?" tanyanya.
"Yah, iya," Nenek Courtney buru-buru ngomong sambil matanya fokus sama yang dia kerjain. "Dia dateng sekitar satu setengah jam yang lalu," katanya. "Gue yakin ada sesuatu yang terjadi di sekolah. Moodnya lagi gak bagus," dia ngomong.
Lucas ngangguk curiga, "Oke," katanya, balik badan. "Gue bakal ngecek dia pas mau ke kamar," katanya di balik bahunya dan langsung pergi.
Dengan malas, dia naik tangga, masuk ke koridor yang nyambung ke semua kamar di lantai atas. Dengan struktur kamar mereka, kamarnya duluan baru kamarnya Tina. Dia langsung menuju pintunya, mikir buat naro tasnya dulu sebelum ngecek adiknya, tapi terus berubah pikiran.
*****
Tina lagi tiduran di kasur, masih pake seragamnya – natap langit-langit dengan tangannya di dahi pas dia denger ketukan pintu yang familiar.
"Pergi sana Lucas," teriaknya, balik badan sambil narik selimutnya nutupin kepalanya.
Lucas yang lagi berdiri di sisi lain pintu berhenti, menghela napas. Tina saat itu mikir dia udah pergi, tapi terus bunyi lagi. Kali ini, lebih keras dari sebelumnya.
"Oke, oke," kata Tina, ngilangin selimutnya dari badannya pas dia loncat dari kasur– duduk tegak sambil ngeliatin pintu dengan tatapan tajam; ejekan keluar dari bibirnya.
Setelah beberapa menit nunggu di balik pintu yang tertutup, akhirnya pintu itu kebuka~ nunjukin wajah pucat Tina dan mata melotot.
"Hei…" Lucas bergumam, kedengerannya lumayan khawatir. "Lo nangis ya?" tanyanya dengan tatapan prihatin sambil ngeliatin adiknya dari atas sampe bawah. "Lo bahkan belum ganti baju. Ada sesuatu yang terjadi di sekolah ya?" dia terus nanya. "Atau ini soal yang lo lakuin? Nenek Courtney bilang lo pulang lebih awal dari biasanya," dia lanjut ngomong tapi gak dapet jawaban dari adiknya.
Tina yang mulai kesel sama pertanyaan kakaknya yang gak ada abisnya menghela napas. "Pergi aja sana Lucas," jawabnya dan tanpa nunggu reaksi kakaknya – membanting pintu di depan mukanya; ninggalin dia di luar. "Gue mau sendiri," teriaknya, menuju ke kasur dan ngelempar dirinya ke kasur sekali lagi.