BAB 47
Risiko Diambil
Gak lama kata-kata itu keluar dari mulut Phidelia, mereka sadar Petugas Keamanan itu keluar dari ruang kontrol dengan tergesa-gesa– mengingat, dia satu-satunya yang ada saat itu karena temannya belum datang. Meskipun dia seharusnya gak ninggalin posnya, dia gak punya pilihan lain karena itu penting banget.
Di sisi lain, mereka berdua ngelihat ini sebagai kesempatan emas– untuk memperbaikinya; doa yang dijawab. Nonton dia belok di sudut koridor lain, mereka keluar dari tempat persembunyian mereka dan lari ke tempat yang mereka tuju secepat mungkin.
Sampe di pintu, Phidel pelan-pelan dorong pintunya– ngintip duluan sementara Phidelia tetep nempel di belakangnya, ngawasin kalau ada orang. Pas yang pertama yakin gak ada orang di dalem, dia masuk dengan yang kedua tepat di belakangnya.
Dengan cepat ngecek ruangan– ngecek ada kamera tersembunyi atau enggak, Phidelia nyamperin komputer yang ada di sudut kanan ruangan. "Kita harus nemuin sesuatu di sini," katanya sambil duduk di salah satu kursi di depan mesin rumit yang nampilin semua sudut dan blok sekolah, kecuali, area parkir di luar dan hutan di belakang gedung sekolah.
Pikiran menghitung otomatis muncul di wajah Phildel saat dia menyipitkan matanya ke keyboard dan tombol kontrol lain yang ada di setelan itu. Orang bisa dengan mudah baca dari ekspresinya analisis dan usaha yang dia lakukan saat jarinya bergerak di atas tombol, menyeimbangkan pandangannya antara tombol dan layar. Phidelia, di sisi lain, tetep ngawasin pintu saat dia berdiri di bahu adiknya– menyeimbangkan pandangannya antara dia dan pintu masuk.
"Lo yakin lo tau apa yang lo lakuin?" Suara Phidelia mengganggu konsentrasi yang pertama, tapi bukannya jawab, dia tetep fokus karena semua yang dia tonton dari semua film detektif itu kebanjiran di pikiran.
Bukannya dia ngabaikan adiknya, tapi dia terlalu fokus sama apa yang dia lakuin sampe-sampe dia hampir gak denger adiknya. Kayak dia udah masuk ke dunia detektifnya sendiri.
"Kalo gue bener," Phidel bergumam secara spontan sambil ngeklik file seolah-olah dia baru denger pertanyaan adiknya. "Ini harusnya ngasih kita sesuatu," lanjutnya dengan mata tertuju pada salah satu layar sambil nunggu video yang dimuat.
Semenit kemudian, isinya mulai kebuka sementara fokus mereka gak goyah– nangkap setiap detail kecil yang bisa mereka liat, tapi ada yang aneh sama keseluruhan video itu. Phidel muterin lagi beberapa kali cuma biar dia bisa tau apa yang salah, tapi malah bikin dia bingung.
Saat itu, wajah Phildelia makin jelas karena pikiran muncul.
"Gue rasa ada bagian video ini yang udah dihapus atau diedit," dia menyoroti, nunjuk waktu video yang ada di bawah layar. "Yang terakhir gue inget, Tina dan temen-temennya masuk ke kamar mandi."
Dengan kritis ngeliatnya, Phidel sadar perubahan yang adiknya kasih tau. Dia mau ngomong sesuatu pas pintu berderit bikin dia kaget dari kursinya; dengan cekatan ngembaliin layar komputer yang dia pake ke layar awal sambil dia lari ke tempat persembunyian terdekat di antara beberapa meja– diikuti oleh Phidelia.
Gak lama mereka jongkok buat sembunyi, mereka denger langkah kaki memenuhi ruangan yang sepi. Ngedengerin dengan hati-hati, mereka sadar itu cuma satu orang. Sebentar, Phidel bersyukur, tapi dia harus mikir gimana caranya kabur cepet sebelum ketangkep.
Sebelum dia sempet ngomong apa-apa, Phidelia lari– ngilang lewat pintu ruangan dalem yang lebih kecil yang kayaknya gudang; terletak di sudut jauh ruangan utama.
"Hei," yang pertama berbisik keras, ngecap bibirnya, tapi adiknya udah pergi sebelum dia tau. Dia otomatis ngegigit bibirnya karena frustrasi nyerbu dia– gak yakin apa yang adiknya lakuin.
Semenit berikutnya dateng dengan suara keras yang hampir bikin dia kaget dari tempatnya, dengan naluri dia dengan cekatan ngalihin pandangannya ke arah suara itu.
"Apaan sih…" dia denger Petugas Keamanan itu ngomong sambil dia kaget dari kursinya– kursinya bikin suara bergesekan di ubin keras saat dia lari ke ruangan tempat suara itu berasal.
Saat itu, dia ngerasain adiknya di sampingnya. Dia cepet balik badan buat nemuin adiknya senyum ke dia.
"Ayo," Phidelia berbisik. Tanpa peringatan, dia narik adiknya dan mereka lari keluar ruangan secepat kaki mereka bisa bawa mereka. Mereka berdua gak nyadar udah berapa lama mereka pergi sampe bel berdering di seluruh koridor; ngumumin istirahat pagi mereka.
"Fiuh," Phidel menghela napas saat mereka masuk ke koridor yang mulai dipenuhi siswa. "Itu deket banget," lanjutnya, berbagi analisis dan kemungkinan situasi yang bisa dikaitkan dengan apa yang mereka liat. Dalam semua itu, dia tau Tina ada hubungannya.
Dan itu ngejelasin kenapa sekolah begitu rahasia tentang seluruh masalah ini. Bahkan gak usah ngomongin polisi yang hampir gak ngapa-ngapain buat nyari tau lebih lanjut. Tapi dia harus ngumpulin bukti yang cukup. Apapun masalahnya, dia bakal bikin pembunuh adiknya bayar atas kesalahan mereka– bahkan jika dia harus ngambil tindakan sendiri, dan resolusi terdalam inilah yang gak Phidelia ketahui.
********
Setelah beberapa kali jalan-jalan di koridor, mereka akhirnya sampe di kantin. Dia sama sekali gak kaget pas dia sampe di aula buat nemuin hampir semua orang udah duduk. Di antara kerumunan yang berisik, dia ngeliat Claire dan Rowan bareng dua temen Rowan duduk di ujung kiri aula. Phidelia yang udah ngeliat mereka sebelumnya, nyamperin mereka seolah-olah dia bisa diliat.
Phidel di sisi lain, biarin pandangannya jalan ke konter tempat Staf Dapur berdiri dan yang paling dia senengin– ngeliat Tina. Kali ini, tanpa temen-temennya. Senyum jahil otomatis muncul di wajahnya saat alisnya naik dengan tantangan.
Tanpa ragu, Phidel jalan ke konter– ngambil nampan saat dia berdiri di samping Tina yang hampir gak sadar keberadaannya.
"Gue liat lo kerja bagus nyembunyiin apa yang lo lakuin," yang pertama ngomong, ngasih nampannya ke Staf Dapur saat pandangan Tina beralih ke dia.
Dengan Staf Dapur udah pergi, Phidel ngalihin seluruh pandangannya ke Tina. "Atau gue salah?" tambahnya, ngasih tatapan yang tau semua sambil bibirnya membentuk senyuman tipis.
Sementara itu, tatapan yang terakhir tetep dingin dan mengancam tapi ditutupi sebaik mungkin.