Bab 20
UNTUK MENGHADAPI KEMATIAN
Rio udah duduk di samping Phidel di ranjang UKS selama satu setengah jam ini, dan dia masih pingsan. Dia terus-terusan ngeliatin Phidel dengan khawatir dan bingung sama situasinya.
"Sebenernya apa yang terjadi sama dia, Rio?" Mina, si perawat sekolah, nanya sambil jalan ke ranjang, ngecek denyut nadi Phidel.
"Aku juga bingung, Nona Mina. Dia baik-baik aja waktu kita berangkat sekolah pagi ini. Bahkan Cora dan Luna bisa jadi saksi, kita kan ada tugas yang harus dikerjain bareng buat proyek kita. Kita mau ke perpustakaan buat nyelesainnya pas hal ini terjadi," jelas Rio.
Nona Mina natap Phidel dengan berpikir dan menghela napas. "Aku gak liat ada yang salah sama dia, Rio. Apa dia lagi stres atau gimana?"
"Gak tau juga, Nona..." jawabnya. Mereka masih mikir, nyari tau apa yang bikin dia pingsan, pas Rio ngeliat wajah Phidel lagi dan kaget ngeliat air mata netes. "Eh, Del–" dia ngomong sambil berdiri kaget. "Bangun Del, ada apa sih?" Dia khawatir banget, sedikit ngeguncang Phidel buat bangunin dia tapi gak berhasil. "Apa aku harus nelpon orang tuanya, Nona?" Rio cepet-cepet ngeliat Mina yang keliatan kaget.
"Hmm...," dia bergumam, akhirnya bersuara. "Gak usah deh. Nanti mereka panik. Mending kita tunggu sebentar, liat ada perubahan gak, baru kasih tau. Lebih baik gitu," jelas Nona Mina. "Ngomong-ngomong, aku rasa kamu harus balik ke kelas. Nanti aku kabarin kalau ada apa-apa."
Rio ngeliat Phidel yang pingsan sekali lagi, ragu mau pergi, tapi dia udah ketinggalan pelajaran, yang berarti nilai dia berkurang. "Oke, Nona–," dia berdiri. "Kabarin aku ya kalau ada apa-apa. Cora sama Luna juga nanti mampir."
"Siap," jawab Nona Mina sambil ngangguk, dan Rio keluar dari UKS, ngeliat Phidel sekali lagi sebelum akhirnya nutup pintu di belakangnya. Nona Mina juga ngecek infus dan keadaan Phidel secara umum sebelum balik ke kelasnya.
*****
Satu pelajaran udah lewat, dan Phidelia belum balik juga. Gak kayak biasanya. Dia gak pernah bolos kelas, bahkan pas lagi parah sama asma-nya. Rowan terus mondar-mandir gelisah, gak bisa mikir jernih, duduk di kelas gak ngapa-ngapain. Ditambah lagi, Tina dan teman-temannya yang dia curigai juga ada di kelas, bikin dia susah buat mikir apa pun. "Gak, gak ada yang bener," gumamnya dalam hati, langsung berdiri. "Ada yang liat Phidelia?" dia nanya, bikin semua orang nengok ke dia. Satu kelas natap dia curiga selama beberapa detik sebelum saling bisik-bisik bingung. Saat itulah, kelas sadar kalau dia gak ada di kelas untuk pertama kalinya. "Oh iya," Martin, salah satu temen mereka, ngomong. "Dia juga gak ada di kelas Nyonya Forson. Kemana ya dia?" tanyanya.
Satu kelas juga bingung. Tina dan teman-temannya diem aja, pura-pura gak tau apa-apa. "Apa dia bolos?" tanya Caroline.
"Gak kayaknya, Carol." Penelope buru-buru nyaut, "Phidelia gak pernah bolos sekolah kayak kamu," tambahnya, dan Caroline mencibir. Rowan di sisi lain, ngeliat Tina dan teman-temannya sekali lagi karena dia sebelumnya ngerasa ada yang aneh sama mereka, tapi sekarang, mereka keliatan baik-baik aja dan gak terlalu mencurigakan. "Tapi Rowan," salah satu murid manggil, menarik perhatiannya. "Kamu kan yang paling tau dia ada di mana? Kalian kan biasanya nempel terus," suaranya terdengar ragu.
"Iya, Rowan," satu kelas ngomong bareng kecuali Tina, Bella, dan Roxy.
Mereka masih mikir dan nyari tau pas guru Sejarah mereka masuk, ngeliat kelas lagi ribut. "Ada apa sih ini?" tanyanya sambil jalan ke mejanya.
"Begini, Pak," Penelope berdiri. "Ini soal Phidelia. Dia gak ada di kelas dan kita gak tau dia di mana."
"Beneran?" Guru mereka naruh bukunya di meja, menghadap kelas. "Kalian terakhir liat kapan? Dan siapa yang liat dia?"
"Saya, Pak," jawab Rowan. "Kita mau ke kantin pas dia pergi ke toilet. Sejak itu saya gak liat dia lagi. Gak yakin juga dia udah makan apa belum. Atau gimana kalau dia kambuh?" tiba-tiba dia nambahin.
Guru mikir sambil natap wajah murid-murid yang keliatan khawatir dan menghela napas. "Ini serius nih. Kalian udah coba ngecek toilet?"
Pas kata "toilet" keluar dari mulut guru mereka. Rasa panik dan cemas langsung muncul di wajah Tina, Bella, dan Roxy. "Gak, jangan toilet," Tina bergumam dalam hati. "Aku harus lakuin sesuatu cepet kalau gak mau ketahuan," pikirnya.
Saat itu, dia ngeliat wajah panik Bella dan tatapan memohonnya yang tertuju padanya. Tiba-tiba, ide muncul di otaknya. Dia sebelumnya liat Isla keluar sekolah buru-buru jadi mutusin buat manfaatin kesempatan itu. "Baru inget, Pak," dia berdiri. "Kayaknya saya liat dia keluar sekolah. Dia juga buru-buru banget. Mungkin ada sesuatu di rumah," tambahnya.
Rowan agak kaget denger Phidelia udah pergi. Menurut dia, itu gak masuk akal tapi akhirnya ngalah juga. "Oke," guru bergumam, "Kita mulai pelajaran sekarang?" tanyanya dan murid-murid menjawab serentak.
Tina menghela napas lega gak kedengeran sambil duduk lagi di mejanya. Berdoa sekolah cepat selesai biar mereka bisa lakuin apa yang harus mereka lakuin demi keselamatan mereka.
****
Nona Mina lagi duduk di belakang mejanya pas dia denger Phidel batuk. Dia langsung berdiri dan buru-buru keluar buat nemuin dia, berusaha buat duduk. "Eh–" dia ngomong sambil nyamperin ranjang Phidel. "Hati-hati," dia bantuin dia duduk.
"Apa yang terjadi sama saya, Nona Mina? Kenapa saya di sini?" Phidel nanya bingung.
"Harusnya aku yang nanya, Phidel. Apa yang terjadi sama kamu? Ada yang sakit?"
"Hmm, aku..." Phidel mulai, tapi terus, rasa sakit di kepalanya bikin dia meringis, bayangan gak jelas tentang adiknya dalam bahaya muncul di benaknya. "Phidelia," gumamnya dan langsung turun dari ranjang, lari keluar dari UKS.
"Eh!" Mina berseru, langsung nengok ke pintu saat berusaha menghentikan Phidel tapi dia udah pergi.