Bab 48 Kenangan Masa Kecil
Sejak hari itu, aku gak ketemu lagi sama **Zhu Fengming**.
Dia kayaknya beneran ngambek.
Setelah **Su Xiaoman** tahu, dia juga marahin habis-habisan, mikir aku ini teman yang lupa daratan.
**Zeng Shao** yang biasanya gak mau terima, ngerasa bukan karena lihat warna terus lupa teman, tapi emang harus gitu.
Antara dia sama **Gu Qingrong**, itu kan boongan, jadi pas kena tuduh **Su Xiaoman**, dia cuma senyum kecut, natap dia, kelihatan serius, terus bilang: "Ini bukan lupa teman."
"Kenapa enggak?" **Su Xiaoman** ngangkat alis.
"Karena antara aku sama **Gu Qingrong**..." Dia senyum, "bukan karena warna."
"..."
Duh, kok kedengarannya agak aneh, ya?
Tiga hari kemudian, dia masih gak ketemu **Zhu Fengming**. Dia juga tahu kalau dia ngambek, jadi dia harus bawa makanan kesukaan dia ke rumah dan minta maaf langsung.
Biasanya, selain kelas, **Zhu Fengming** bukan orang yang betah di kamar.
**Zeng Shao** udah tahu jadwal kelas mereka. Setelah kelas pertama siang ini, **Guru** sekolah bakal ngatur siswa desain kapal dari jurusan desain mereka buat pergi ke Kota Arial, ke Kota Seni.
Selain beberapa departemen animasi dan desain arsitektur lainnya, ada juga museum seni kapal yang didedikasikan buat sejarah perkembangan kapal di China, yang isinya berbagai model desain kapal.
Kebetulan dia gak ada kelas siang, jadi dia ikut sama anak-anak jurusan.
Sesampainya di Kota Seni, mereka semua misah dan jalan-jalan sendiri.
**Zhu Fengming** masuk ke Museum Seni Kapal sama teman-teman sekamarnya. Mereka jalan santai, sambil lihat-lihat.
Di antara tiga teman sekamar itu, ada cowok tinggi kurus yang banyak omong. Pastinya, orang itu emang banyak tahu soal ini. Dia ngomong terus dari tadi. Dari jauh, kayak tukang cerita.
**Zhu Fengming** dan yang lain awalnya juga semangat dengerin, tapi lama-lama bosen, jadi mereka nyuruh dia diem.
**Zeng Shao** jalan di belakang mereka dan gak maju buat ganggu.
Setelah ngikutin mereka selama satu jam, tiba-tiba, mereka berempat berhenti.
**Zhu Fengming** kayaknya denger apa yang dibilang temen sekamarnya dan ngikutin arah pandang mereka.
**Zeng Shao** ngumpet di pojokan. Beberapa saat kemudian, pas dia ngintip lagi, dia nemuin **Zhu Fengming** dan keluarganya gak ada di tempat.
"Pada kemana, sih?" Dia curiga. Pas dia keluar buat nyari, tiba-tiba ada suara dari belakang dia-
"Tadi bukannya kamu di sana?"
Nengok, ternyata **Zhu Fengming**.
Wajah **Zhu Fengming** datar, mukanya masih asem, kayak orang lain punya utang jutaan.
"Aku..."
Ini pertama kalinya dia lihat muka dia se-asem ini. Dia jadi takut dan mikir buat kabur aja sekarang.
"Sini!"
Pas dia gak tahu harus kabur atau hadapin kemarahan dia langsung, **Zhu Fengming** akhirnya bersuara dan manggil dia.
**Zeng Shao** ngikutin dia selangkah demi selangkah. Dia gak berani gerak atau bikin suara. Dia nurut banget kayak anak kucing.
Mereka berdua jalan beriringan.
Gak tahu dia mikirin apa. Saat ini, dia udah item ungu, dan gayanya kayak siap berantem kapan aja.
Akhirnya, **Zhu Fengming** bawa dia ke sebuah...
Taman bermain?
"Ayo, main game." **Zhu Fengming** natap dia.
"Hah?"
"Kalau kamu menang, aku bakal biarin kamu ngomong."
"..." dia nahan diri, "Gak perlu, kali?"
"Gimana gak perlu?! Nanti aku malu di depan **Gu Qingrong**, dan kamu masih belain dia! Emang aku bukan saudara terdekat kamu lagi?!"
"Kamu juga bukan saudara aku."
"Saudara tiri gak bisa, gitu?"
Pertama kalinya dia tahu kalau orang ini ngambek, beneran nyeremin dan pelit!
"Ayo, ayo." **Zeng Shao** naruh barang-barangnya, duduk di mesin game dan ngulurin tangan ke dia, "Sini duitnya."
Dia udah beli koin game dan ngasih ke dia, sambil bilang, "Dua dari tiga game, kalau aku menang, kamu dengerin aku."
"Kalau kamu nyuruh aku sama **Gu Qingrong**, mending gak usah repot-repot, percuma."
**Zhu Fengming** tahu dia gak bisa ngalahin dia dan gak jawab omongan dia. "Gak usah khawatir, aku ngambek sama kamu. Kali ini aku gak mau ngambek lagi!"
"Oke." Dia ngangkat alis. "Ayo, mulai."