35
Makan malamnya berjalan jauh lebih mulus dari yang Luana bayangkan.
Rumor yang beredar tentang betapa dihormati dan baiknya keluarga bangsawan Lueic, ternyata benar.
Selain mendapat sambutan hangat dari ibunya Rey, ayahnya cowok itu juga melakukan hal yang hampir sama. Ryan menyapa Luana dengan senyum hangat, meskipun sang tuan besar tidak menunjukkan kedekatannya dengan jelas.
Gak kayak Patricia, yang ngasih pelukan hangat dan gak kaku, Ryan masih menjaga jarak dari menantu laki-lakinya. Meski begitu, Luana punya tempat yang cukup bagus di keluarga Rey.
Hampir dua jam berlalu, kebanyakan diisi dengan perkenalan antara Luana dan keluarga bangsawan.
Kata-kata sanjungan dan ucapan selamat terus berterbangan, dan Luana benar-benar jadi pusat perhatian di acara makan malam itu.
Kalimat yang diucapkan anggota keluarga ke Luana hampir sama semua.
'Kamu kelihatan cantik banget, Nyonya Lueic. Semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan.' -Hera, sepupu jauhnya Rey.
'Gue gak nyangka Rey se-pintar ini milih istri.' -Louis, paman Rey.
'Selamat atas pernikahan kalian Luana, semoga selalu bahagia ya. Kalo ada waktu, mampir ke Dortmund ya.' -Alana, bibinya Rey.
'Gue kan temenan sama Rey dari kecil, dan gak nyangka dia akhirnya punya istri. Selamat buat kalian berdua!' -Doven, iparnya Rey.
'Rey emang dingin di luar, tapi sebenernya dia orangnya hangat kok. Semoga rumah tanggamu selalu bahagia ya, Luana.' -Gaby, bibinya Rey.
Dan banyak lagi ucapan selamat yang Luana terima, dari orang-orang yang bahkan namanya aja udah lupa. Berada di tengah keluarga besar Rey yang dia kira bakal canggung, tapi untungnya Rey menepati janjinya untuk selalu ada di sampingnya.
Membantu Luana bersosialisasi, dan dengan sigap menjawab pertanyaan yang mungkin sulit dijawab olehnya. Sampai akhirnya mereka berdua duduk di salah satu meja bundar, istirahat sejenak dari kerumunan orang di aula makan malam.
"Kamu hebat banget," puji Rey, menatap bangga ke arah Luana yang sama sekali gak salah.
Luana mengangkat kepalanya, membalas tatapan tajam Rey.
"Syukurlah kalau gitu," kata cewek itu. "Gue selalu khawatir bakal bikin salah, tapi kayaknya semuanya berjalan lancar, ya?"
Kali ini giliran Rey yang menganggukkan kepalanya, menampilkan senyum tipis di wajahnya.
"Bener banget. Kamu udah hebat banget, dan sekarang gue yang akan melakukan apa yang harus gue lakukan."
Luana menatap Rey dalam diam selama beberapa detik, seolah dia berusaha memahami apa yang baru saja dikatakan oleh sang bangsawan.
"Maksud gue, gue akan berusaha buat kita balik ke mansion secepatnya," lanjut Rey menjelaskan. Cowok itu beneran gak mau Luana salah paham. "Lagian kerjaan gue udah nungguin."
"Oh gitu," kata Luana singkat. "Oke deh. Terserah kamu aja."
Rey masih tersenyum saat cowok itu bergerak meraih minumannya. Menjulurkan gelasnya di depan Luana, Rey menunggu sampai Luana melakukan hal yang sama.
Suara gemerincing dua gelas beradu terdengar di antara mereka, sampai keduanya menyesap minuman itu.
Merasakan suasana yang kembali terasa aneh, karena ini pertama kalinya mereka duduk dan mengobrol seperti teman. Gak ada perdebatan, gak ada nada tinggi yang melengking.
Layaknya pasangan suami istri, Rey dan Luana melakukan yang terbaik untuk menunjukkan bahwa mereka saling mencintai di hadapan keluarga besar.
Seperti sebuah sandiwara, mereka berdua sudah tenggelam dalam kepura-puraan yang menguasai.
***
Makan malam akhirnya berakhir saat hampir pukul sepuluh malam.
Beberapa anggota keluarga yang datang dari luar kota memilih untuk menginap di mansion, karena kediaman utama memiliki lusinan kamar yang gak rutin ditempati.
Yang lainnya yang datang dari kota yang sama memutuskan untuk pulang malam itu. Lambaian tangan mengiringi kepergian beberapa anggota keluarga, disusul dengan raungan mobil yang mengantre untuk keluar dari gerbang.
Luana akhirnya naik ke lantai dua, berdampingan dengan Rey yang kini berada di sampingnya.
"Ini pasti melelahkan buat kamu, Luana," kata Patricia sesaat sebelum Rey dan Luana menaiki tangga. "Istirahat yang banyak, dan semoga mimpi indah ya. Besok pagi aku di taman, gabung aja kalau kamu gak keberatan, oke?"
Luana tentu saja menganggukkan kepalanya, membalas pelukan Patricia yang terlalu hangat. Sampai sekarang langkahnya semakin dekat ke kamar, Luana membiarkan Rey mendorong pintu perlahan.
Suara pintu yang tertutup membuat Luana tersentak, karena lagi-lagi dia harus berada di kamar tertutup bersama Rey berdua.
Suasana canggung kembali muncul, ketika sekarang Rey bahkan tampak bingung harus berbuat apa.
"Kamu bisa istirahat," kata cowok itu. "Tidurlah di kasur gue, dan gue tidur di sofa."
Bukan tanpa alasan Rey berkata demikian. Tapi cara Luana tersentak saat disentuhnya membuatnya bertanya-tanya apakah kejadian di pulau malam itu telah meninggalkan kesan buruk pada dirinya.
Luana berbalik, mendapati Rey masih berdiri gak jauh dari pintu.
"Gak usah," katanya tiba-tiba.
Bola mata Rey bergerak sempurna, menatap Luana dengan tatapan campuran antara kebingungan dan penyelidikan.
Menggosok-gosokkan kedua tangannya, Luana membuka suaranya lagi.
"Ini kan kamar kamu, Tuan Rey," kata cewek itu. "Lagian ini bukan malam pertama kita harus tidur bareng, jadi kita bisa ngelewatin apa yang kita lewatin di Heidelberg dulu."
Ingatan Rey kembali ke saat itu, ketika dia dan Luana tidur di ranjang yang sama untuk pertama kalinya. Gak ada yang terjadi di antara mereka, dan sepertinya akan terus begitu.
"Kamu gak keberatan?" tanya Rey ragu-ragu.
Luana menghela napas lagi, dan Rey gak bisa menebak kilatan apa yang ada di mata istrinya itu.
"Gak masalah," katanya lagi. "Lagian kita bakal segera pulang kan?"
Mengambil waktu sejenak sebelum Rey mengangguk. "Oke. Kamu mau bersih-bersih dulu?"
Luana menganggukkan kepalanya, diikuti tubuhnya yang berbalik untuk berjalan menuju kamar mandi. Rey sendiri memilih untuk melangkah ke balkon, mengeluarkan sebatang rokok dan korek api dari saku celananya kemudian.
Dengan sengaja membuka jendela lebar-lebar, Rey membiarkan angin malam berhembus masuk untuk mendinginkan tubuhnya. Bukan hanya tubuhnya, tapi ia berharap angin itu akan membantunya berpikir jernih.
Setelah beberapa belas menit kemudian, Luana akhirnya keluar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar. Riasan minimalisnya sudah sepenuhnya terhapus, menyisakan wajah polos tanpa riasan sama sekali.
Kelihatannya dia baru selesai mandi, dengan rambutnya yang masih setengah basah.
"Udah selesai, Tuan Rey," panggil Luana dari dalam, membuat Rey berbalik dengan kedua tangannya masih bertumpu di pinggang.
"Oke."
Melewati Luana, Rey sempat melirik cewek itu sekilas. Tapi Luana tampak berusaha menghindari tatapan mereka, sampai akhirnya Rey melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Membiarkan air mengalir di tubuhnya, Rey berbincang dengan dirinya sendiri. Berbicara sendiri, berharap mereka akan mampu mengatasi situasi ini di masa depan.
Hampir dua puluh menit kemudian, akhirnya giliran Rey keluar dari kamar mandi. Memegang handuk berukuran sedang di kepalanya, sang bangsawan mengeringkan rambutnya yang juga masih setengah basah.
Tapi bola matanya menemukan Luana yang sekarang sedang duduk di balkon, dengan kepalanya menengadah ke atas.
"Kamu lagi ngapain, Luana?" tanya Rey mendekat.
Luana menolehkan kepalanya, tersenyum singkat saat mendapati Rey sudah berdiri di belakangnya.
"Ah, udah selesai?" katanya lembut. "Gak ngapa-ngapain, cuma lagi lihat bintang."
Rey secara refleks melihat ke atas, membiarkan bola matanya bertemu dengan banyaknya bintang di sana. Langit yang semakin gelap kini diiringi dengan kerlipan cahaya, yang sedang diperhatikan Luana sekarang.
"Boleh gue duduk di sini?" Rey tergagap sedikit, sepertinya sudah selesai dengan handuk yang berlalu di rambutnya.
Luana tidak menjawab dengan suara, tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. Dia memeluk lututnya, dengan kepalanya yang sekarang diangkat perlahan.
Gak butuh waktu lama bagi Rey untuk mengambil posisi di samping Luana, sekarang duduk berdampingan dengan wanita yang menjadi istrinya itu.
Angin yang berhembus menjadi satu-satunya suara, saat Rey mencuri pandang pada Luana dengan ragu-ragu. Sementara itu, yang diperhatikan sepertinya gak memperhatikan, karena ia sibuk melihat ke atas.
Rey berdeham pelan untuk mencoba memecah keheningan, sebelum ia membuka suaranya.
"Boleh gue nanya sesuatu?"
Luana menggerakkan kepalanya perlahan, membalas tatapan yang tertuju lurus padanya.
"Hmm? Apaan?"
Rey menarik napas, mengeluarkan desahan kecil saat cowok itu melanjutkan. Mengajukan pertanyaan yang gak pernah Luana duga, menyebabkan ia tersentak tanpa sadar.
"Seberapa banyak lo tau tentang Beatrice Collins --mantan tunangan gue?"