47
Kaki Nyonya Luana mulai kesemutan.
Berada di posisi yang sama selama beberapa puluh menit, malah bikin kaki Luana mulai berasa kebas, meski pelan-pelan.
Berusaha tetap duduk tanpa gerak biar nggak ganggu Rey yang lagi tidur, Luana berkali-kali gigit bibirnya buat ngilangin sensasi kebas itu.
Sampe sedetik kemudian dia nggak tahan, terus nyoba buat gerakin kakinya pelan-pelan. Gerakan yang malah ngebangunin Rey dari tidurnya yang pulas, yang disusul sama manik mata yang melebar sempurna.
Kenapa Luana ada di pangkuanku?
Itu pertanyaan pertama yang muncul di benak sang bangsawan, tapi dia sepertinya nggak ada niatan buat nurunin Luana dari sana.
Mengangkat kepalanya sedikit demi sedikit, bola mata Rey bertemu sama manik mata Luana kemudian.
"Kamu... Udah bangun?" tanya Luana terbata-bata. Keliatan banget kalo dia lagi nahan sesuatu, yang ditunjukkin sama kerutan yang tercetak jelas di dahinya.
"Kamu nggak apa-apa?"
Mengangkat sudut bibirnya, Luana meringis pelan. "Kaki aku kram... Dua-duanya."
Denger curhatan si cewek, Rey kembali terkejut. Berkedip sambil berusaha bantuin Luana gerak, Rey lagi mikirin cara terbaik biar Luana nggak kesakitan.
"Sabar ya," bisik Rey.
Dengan gerakan cepat pria itu merendahkan tubuhnya, menyelipkan lengan kokohnya di antara kaki Luana yang kaku.
Sentuhan Rey di sana bikin Luana meringis lagi, ngerasain kebas yang merambat naik ke pahanya sekarang. Dengan perasaan aneh lain yang merayap masuk ke dadanya sekarang.
"Sakit?" Rey memalingkan kepalanya. "Sabar bentar lagi ya."
Luana kembali menggigit bibirnya, tepat ketika Rey bergerak cepat buat mengangkat tubuh mungil pelayan itu ke dalam gendongannya. Memindahkan Luana buat duduk di sofa, Rey membantu istrinya buat meluruskan kakinya.
"Masih kebas?" Kali ini Rey yang berlutut di lantai, dengan tubuhnya yang diposisikan sempurna berhadapan dengan Luana.
Luana memijat kakinya dengan lembut, melawan rasa kebas itu sekuat tenaga. Agak sakit sih, tapi dia baik-baik aja.
"Aku panggil pelayan aja." Rey baru aja mau berdiri, tapi kali ini lengan Luana secara refleks menahan lengan pria itu.
Menggelengkan kepalanya, Luana memberi penolakan yang agak halus.
"Aku nggak papa," katanya meyakinkan. "Memang berasa kebas, tapi nggak sakit sama sekali."
Rey menghela napas sebelum kembali berlutut di lantai. Menatap Luana dengan tatapan bersalah, sang bangsawan berdeham pelan.
"Maaf ya aku ketiduran," kata pria itu, terdengar tulus. "Kalo aku nggak ketiduran, kamu nggak bakal ngerasain kebas kayak gini. Kamu beneran nggak apa-apa?"
Luana mengangguk cepat, di sela-sela tangannya yang masih memijat kakinya dengan lembut.
"Kamu keliatan capek banget, Tuan Rey," jawabnya. Mata mereka bertemu, saat Luana kembali bersuara.
"Kamu harus jaga kesehatan kamu," lanjut Luana. "Kerja emang bikin kamu banyak duit, tapi percaya deh, tidur yang nyenyak nggak bisa dibeli pake uang sebanyak apapun."
Rey terdiam saat mendengar Luana berkata demikian, dalam hati setuju dengan apa yang baru saja diucapkan istrinya. Dia memang seseorang yang workaholic, bahkan cenderung seorang perfeksionis.
Nggak jarang Rey tenggelam dalam tumpukan pekerjaan sampai lupa waktu, bahkan lupa buat memberi asupan terbaik buat tubuhnya yang dipaksa bekerja keras.
Dan dia tentu aja udah sering denger nasihat serupa kayak gini sebelumnya, tapi entah kenapa kata-kata Luana kali ini terdengar beda. Nggak kedengeran kayak nasihat, tapi lebih mirip permintaan.
"Kamu mau aku kurangin kerjaan?" tanya pria itu dengan tatapan yang masih terpaku. "Kalo kamu minta, ya bakal aku lakuin."
Luana mengangguk cepat, meski pertanyaan Rey terdengar bermakna ganda.
"Tentu aja," kata Luana tanpa berkedip. "Kamu udah kaya juga sih, nggak perlu ngorbanin kesehatan demi numpuk pundi-pundi."
Rasa kebas itu udah hilang sepenuhnya saat Luana menurunkan kakinya pelan-pelan ke lantai. Dia udah ngerasa jauh lebih baik, dan bersyukur karena dia nggak bikin heboh cuma gara-gara kakinya kebas.
Luana kira percakapan udah selesai, tapi Rey kayaknya nggak setuju. Karena sekarang pria itu terdengar berbicara.
"Aku harus kerja keras biar kamu nyaman," kata Rey kali ini. Kalimat itu menarik perhatian Luana, memaksa dia buat kembali menatap Rey yang masih berlutut di lantai.
Memperhatikan Rey dengan seksama, Luana memilih buat tetap diam selama beberapa detik.
"Sebagai Nyonya Luana, aku nggak mau kamu kekurangan apapun," lanjut Rey. Tangan pria itu bersandar di pahanya, saat Luana tanpa sadar membelalakkan mata dan berkedip.
"Tuan, aku nggak --"
"Aku tahu," kata Rey cepat.
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, Rey mengecek dan memastikan nggak ada orang lain selain mereka berdua di sana.
"Aku tahu ini cuma sementara," kata sang bangsawan lagi. "Tapi aku berutang banyak sama kamu, dan aku harap kamu akan memanfaatkan semua fasilitas yang akan aku sediakan."
Luana masih belum paham arah pembicaraan Rey ini. Pria di hadapannya baru aja bangun dari tidur, tapi kenapa nadanya terdengar begitu serius?
"Terima semua yang aku kasih," ulang pria itu. "Nikmatilah waktumu sebagai Nyonya Luana, bahkan jika kamu memilih buat... pergi. Pergi."
Ada nada keraguan dalam suara Rey barusan, meski pria itu nggak tahu apa Luana bisa mendeteksinya atau nggak.
Tercipta keheningan di antara keduanya saat mereka bergumul dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya Luana yang bersuara lebih dulu kali ini.
"Uhm, baiklah," jawabnya ragu-ragu. "Apa yang harus aku terima dari kamu?"
Rey menghela napas lega, saat ia bergerak buat bangkit dan mengambil tempat duduk tepat di samping Luana.
Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, Rey mengangkat sebuah kartu hitam dengan tulisan tinta emas di atasnya. Menyerahkan kartu itu pada Luana, Rey seketika menyampaikan maksudnya.
"Ini kartu kamu, jadi kamu bisa gunain sesuka hati kamu," kata pria itu. "Pake buat belanja, bersenang-senang, atau apa aja. Kartu ini masih punya limit sekitar 500.000 euro, jadi habisin."
Luana terkejut saat mendengar jumlah yang disebutkan Rey, karena dia nggak pernah membayangkan uang sebanyak itu. Jangankan lima ratus ribu euro, gaji lima tahunnya aja nggak nyampe lima puluh ribu euro.
Meskipun ragu-ragu, Luana akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia nggak tahu harus menggunakan kartu itu buat apa, tapi mau nggak mau dia harus menerimanya biar percakapan ini selesai.
"Baiklah," kata Luana akhirnya. "Aku terima ini, terima kasih."
Rey sempat tersenyum tipis, berharap Luana benar-benar menikmati semua hal kayak bangsawan lainnya. Dia nggak tahu apa Luana udah punya kekayaan begitu banyak sampai nggak minta sama sekali, atau karena dia nggak mau terlalu terlibat dengannya.
Tapi Rey malah ingin melibatkan mereka sebanyak mungkin, meski alasan dia melakukan itu masih samar.
"Aku senang kamu akhirnya mengerti," sapa Rey bahagia. "Ah, ya, dan satu lagi...."
Luana masih menatap kartu hitam itu, kemudian memalingkan kepalanya ke arah Rey. "Ya?"
Rey berdeham pelan. "Aku denger kamu punya kartu nama temennya Rouletta. Apa kamu mau ikut klub?"
Luana udah hampir lupa sama perkumpulan itu, tapi dia ingat masih menyimpan kartu nama yang dikasih Rouletta di Leipzig dalam laci.
"Ah, soal itu--"
"Kamu mau nyobain?" tanya Rey dengan mata berbinar. "Punya perkumpulan bakal bikin kamu dikenal dan dihormati, dan kamu punya teman buat gesek kartu kamu."
Luana menghela napas lagi. Bola matanya berputar, yang disusul anggukan paksa. Tapi begitulah kehidupan para bangsawan kelas atas, meski Luana nggak pernah berpikir buat jadi salah satunya.
"Baiklah," kata Luana akhirnya. Wanita itu tersenyum tipis.
"Kamu bisa menghubungi dia," kata Rey. "Aku akan mengantarmu ke tempatnya besok sore, jika dia bisa menemuimu besok. Aku akan pulang lebih awal."
Dan lagi-lagi Luana cuma bisa mengangguk samar. "Oke."
Rey tampak semakin bersemangat, yang ditandai dengan senyum yang semakin melebar.
"Kalau begitu, aku naik ke atas dulu," kata Luana. Kartu itu masih di tangannya, dia pegang dengan segenap raga dan jiwa serta ketakutannya.
Rey juga bangkit dari sofa. "Oke."
Luana berjalan lebih dulu, berencana buat mencari kartu nama Rouletta yang dikasihnya tempo hari. Mungkin setelah ini dia akan menelepon.
Tepat saat kaki Nyonya Luana menginjak anak tangga pertama, suara Rey kembali menggema di belakang.
"Luana!"
Secara refleks membalikkan tubuhnya, Luana menatap Rey yang sekarang berdiri tegak. Jas pria itu terbuka, memperlihatkan kemeja yang sedikit kusut.
"Pin-nya adalah tanggal pernikahan kita," kata Rey dengan nada setengah berbisik. Suaranya bergema di ruang tamu yang luas itu, saat Luana menyipitkan mata nggak mengerti.
"Hah?"
Rey mengambil beberapa langkah maju, kini semakin mendekat ke arah istrinya yang entah bagaimana tampak cantik meski dalam situasi apapun.
"Pin-nya," ulang pria itu. Karena jarak semakin memendek, Luana bisa mendengar Rey dengan jelas.
"Pin-nya adalah enam digit tanggal pernikahan kita," ulang sang bangsawan. "Biar kamu gampang mengingatnya."