52
Masih meringis pelan karena cubitan di tangannya tadi, Rey sekilas melirik bekas kemerahan yang jelas tercetak di kulitnya. Kalau Luana bisa memangkas jarak di antara mereka, jangan lupa kalau dia juga bisa.
Maju dua langkah, Rey semakin mempersempit ruang yang memisahkan keduanya.
"Alasan lo mau ke sana itu apa?" Kali ini Rey yang bertanya, dengan mata menatap lurus ke wajah istrinya. "Karena ada Valerie, atau karena ada Pedro?"
Luana mengerutkan kening lagi, tidak mengerti kenapa Rey malah membawa-bawa Pedro dalam percakapan mereka. Siapa sih cowok itu?
"Kok nanya gitu sih?" Luana cemberut. "Emangnya kenapa kalau ada Pedro? Bukannya dia juga salah satu partner bisnis lo?"
Rey terkekeh ketika nama Pedro diucapkan oleh bibir lembut Luana, seolah dia tidak bisa menerima bibir itu mengucapkan nama pria selain dirinya.
Mengepalkan tangan erat-erat, Rey tetap tidak mengerti kenapa dia bisa bereaksi berlebihan seperti ini.
"Lo gak tertarik sama dia?" Rey menembak langsung ke intinya. "Lo pengen gabung klub karena ada dia, kan?"
Luana mengedipkan mata beberapa kali, menatap Rey dengan tatapan aneh dengan hati yang penuh tanda tanya.
Sebenarnya ada apa sih antara Rey dan Pedro? Kenapa Rey terlihat terlalu sensitif karena kehadiran Pedro siang ini?
Tapi semakin penasaran Luana, semakin penasaran pula dirinya.
"Terus kenapa?!" bentaknya, tidak mau kalah. "Dia baik, dan kita udah pernah ketemu. Ada di klub yang sama mungkin seru, kan gue juga udah punya temen. Dan gue suka itu."
Sengatan listrik ketiga baru saja datang, ketika Rey melebarkan matanya tidak percaya.
"Lo bilang apa?!" Rey mendengus kesal. "Lo suka sama dia?"
Luana menghela napas lagi. "Suka sama siapa?"
"Lo bilang lo suka sama dia," balas Rey dengan intonasi meninggi. "Maksud lo suka sama Pedro? Cowok itu? Bilang!"
Tapi memang setan selalu ada di antara dua manusia, saat ini Rey semakin mendesak Luana ke tembok mobil.
Dengan jarak yang semakin menyempit, Luana bisa mendengar jelas suara napas berat sang bangsawan yang terengah-engah.
Berada sedekat itu dengan Rey membuat Luana merasa canggung dan kikuk, apalagi kenangan malam di pulau kemarin masih basah.
Memundurkan tubuhnya meskipun sudah tidak ada lagi ruang di belakang sana, Luana membentuk pertahanan dengan dua tangan yang secara bersamaan berada tepat di dada bidang Rey.
Menahan pria itu, menahan segala sesuatu yang mungkin terjadi dalam beberapa saat ke depan.
"Jangan deket-deket," Luana berucap setengah berbisik kali ini, karena degup jantung di dalam dirinya semakin tidak terkendali. Apalagi sekarang dia bisa mencium parfum khas yang selalu digunakan Rey.
Maskulin, dan mungkin... Dominan.
"Kenapa gue gak boleh deket?" tanya Rey tanpa membuang waktu. "Emangnya gue bukan suami lo?"
Luana menelan ludah susah payah, mengerti kalau situasi ini tidak akan menguntungkan dirinya. Tangannya masih berusaha memberi jarak antara dirinya dan pria itu, meski dia tahu kekuatannya tidak pernah sebanding dengan sang bangsawan.
"Tapi ini bukan caranya," kata Luana masih dengan lirih. "Lo bikin gue sesek, dan gue gak bisa ambil napas. Mundur sekarang, oke?"
Luana harus memejamkan matanya erat-erat, karena wajah Rey terlalu dekat dengannya. Mata dengan iris kebiruan itu terasa tidak nyata, dan Luana tidak menyukai situasi ini.
Dia tidak mau berharap, dia tidak mau ada hal-hal yang tidak pantas terjadi antara dirinya dan pria itu.
Mendapati Luana yang terlihat sangat canggung, akhirnya Rey mundur dua langkah meskipun setengah hati.
Baru saja wanita itu berteriak dan hampir berteriak di depannya, tapi lihat kali ini bagaimana Luana seolah rapuh dan tidak melawan.
Setiap sentuhan yang terjadi di antara mereka membuat Luana lemah, karena ada kenangan buruk yang sudah cukup sial untuk tergores terlebih dahulu.
Menghela napas berat, Luana bersyukur karena Rey mau memberinya jarak.
"Gue gak bilang suka sama cowok itu," kata Luana setelah beberapa saat hening di antara mereka. "Gue bilang seru kalau punya temen, dan gue suka itu."
Lagi-lagi Rey menatapnya tajam, dengan kedua tangan yang kali ini saling bertautan di pinggangnya.
"Suka yang mana?"
Luana tidak mengerti kenapa Rey berulang kali menanyakan soal ini. Dia tidak merasa mengatakan hal yang salah, tapi kenapa Rey terlihat kesal?
Bernapas lelah, Luana kembali membuka suaranya.
"Suka fakta kalau gue udah punya temen," koreksinya. Luana diam-diam menyesali bagaimana seorang pebisnis muda yang seharusnya sukses seperti Rey punya masalah dalam berkomunikasi. "Bukan karena gue suka sama dia, tapi karena gue senang punya teman. Lo ngerti?"
Entah setan dari mana lagi datangnya, tapi yang jelas kali ini Rey tersenyum selebar mungkin.
"Ah, gitu," gumamnya nyaris tidak terdengar. "Jadi bukan karena lo suka Pedro, kan?"
Luana ingin mencubit kepala pria di hadapannya, karena sepertinya satu cubitan saja tidak cukup untuk Rey. Tapi mengingat Rey mungkin akan membalas seperti yang sudah dia lakukan terhadapnya tadi, Luana mengurungkannya.
"Gimana? Jelas, kan?" tanya Luana. "Lagian ini semua salah lo, karena lo ganggu gue ngerajut saputangan. Kalau kita gak ke sini, saputangan gue udah kelar besok pagi."
Nada merengek jelas terdengar dari kalimat Luana, tapi Rey tidak peduli akan hal itu. Karena yang terpenting, setidaknya dia sudah mengonfirmasi satu hal yang ingin dia pastikan.
Bahwa Luana tidak ke sana karena Pedro, bahwa Luana tidak ke sana untuk bersama pria itu.
"Oke deh," kata Rey kemudian. Setelah perdebatan yang tidak ada gunanya di atas, sang bangsawan akhirnya mengangguk samar. "Lo boleh ikut, tapi dengan syarat gue yang harus nganter lo setiap kali ada pertemuan. Ngerti?"
Luana tampak berpikir sejenak, tapi kemudian dia langsung mengangguk setuju. Dia tidak peduli siapa yang mengantarnya ke sana; entah Jovi, supir pribadi yang lain, atau bahkan Rey. Asalkan dia tidak disuruh jalan kaki, maka semuanya akan baik-baik saja.
"Oke. Jadi kita ada kesepakatan?"
Rey mengangguk lagi. Lagi pula, baru saja terpikir olehnya kalau Valerie Genneth adalah teman Rouletta, dan sepertinya wanita itu memang tampak baik.
Setidaknya Rey bisa memantau apa saja kegiatan pergaulan Luana, dan Valerie terlihat bisa dipercaya. Dan di sisi lain, sepertinya dia punya hubungan yang cukup dekat dengan Pedro.
"Oke," kata Rey bersemangat. "Ingat kesepakatan kita."
Luana menghela napas pelan, sebelum mengangguk setengah hati. "Oke deh, oke deh. Ayo daftar sekarang."
Rey tampak setuju akan hal itu, karena dia sudah berbalik untuk memberi jalan pada Luana.
Setengah jam yang mereka habiskan untuk berdebat ternyata cukup menguras tenaga, apalagi cubitan Luana masih meninggalkan sedikit bekas di lengan pria itu.
Menghentakkan kakinya tidak sabar, Luana sudah berjalan duluan dan meninggalkan Rey yang masih tertahan di belakang sana.
Bergumam dalam hati, Luana senang karena dirinya bisa mengeluarkan umpatan tepat di wajah sang bangsawan siang ini.
Meskipun akhirnya kembali berakhir dengan sebuah kesepakatan kuno, Luana tidak peduli. Karena senyuman hangat Valerie tadi sudah menarik perhatiannya, dan dia sangat ingin merasakan bagaimana rasanya berteman dengan wanita itu.
Menjaga kecepatan, Luana bahkan tidak menoleh ke belakang. Tangan halusnya sudah menggenggam gagang pintu dan mendorongnya terbuka untuk memasuki bangunan besar Der Beste.
"Pria aneh," bisik Luana pada dirinya sendiri. "Kenapa dia nyangkutin Pedro sama gue, padahal gue gak tertarik sama sekali sama dia. Serius!"
Nyonya Luana tampak siap untuk perkumpulan baru, meskipun satu hal lolos dari perhatiannya kali ini.
Luana mungkin lupa bahwa ketertarikan bisa datang dari banyak waktu yang dihabiskan bersama.
Dengan Pedro yang dipenuhi senyum ramah di perkumpulan mereka, apakah Luana benar-benar tidak akan meliriknya nanti?