24
Perjalanan ke pulau itu nggak makan waktu lama. Cuma sekitar 1-1.5 jam di laut, dan kapal mulai merapat di salah satu pelabuhan yang lebih kecil daripada yang di Heidelberg.
Luana menikmati gimana kapalnya melambat, soalnya dia nggak beranjak dari kursinya di kabin utama.
Rey nggak nemenin dia selama perjalanan. Tapi dari sudut matanya, dia bisa lihat siluet dua cowok yang milih buat di ruangan lain. Dua cowok itu Rey dan Jovi, yang kayaknya masih sibuk kerja.
Pas banget kapalnya bener-bener berhenti, Rey bangkit dari kursinya dan nyamperin Luana.
"Ayo turun, kita udah sampe," kata dia.
Luana masih celingak-celinguk, ngelihat gimana pasir putih dari garis pantai menyebar buat nyambut mereka.
Dari posisinya sekarang, dia bisa lihat beberapa gazebo dengan payung yang dibuka lebar. Beberapa cewek dan cowok juga udah dateng ke pulau itu duluan, kayaknya lagi siap-siap buat kembang api malam ini.
Ngangguk, Luana bangkit buat ngikutin di belakang.
Jalan pelan-pelan buat menyusuri sisi kapal, Rey udah lebih dulu loncat buat ganti tempat. Cowok itu balik badan, tanpa basa-basi ngulurin tangan ke Luana.
"Pegangan tangan gue," kata si bangsawan. "Jaraknya lumayan jauh nih. Kalo lo jatoh, ntar malah bikin gue repot."
Luana menyipitkan mata, tapi dia nggak bersuara. Menerima uluran tangan Rey, cewek itu genggam tangan Rey erat-erat pas dia lompat ke bawah.
Luana mendarat dengan baik banget, sampe dia sadar kalau pasirnya sekarang nempel di sepatu datar yang dia pake.
Tangan mereka masih saling genggam, pas tiba-tiba ada suara nyapa mereka.
"Woi, pengantin baru!"
Seketika Rey dan Luana nengok, disusul Jovi yang juga nggak jauh dari posisi mereka.
"Udah sampe nih? Gimana perjalanannya?"
Cowok berambut panjang nyamperin Rey, sambil senyum di wajahnya yang kelihatan agak sangar. Bola mata cowok itu berwarna kebiruan, kontras sama tatapan sombong di wajahnya.
Rey mendekat, ngebiarin cowok itu nepuk pundaknya.
"Semuanya lancar, Jack," jawab Rey sekarang. "Yang lain udah dateng belum?"
Cowok tinggi yang namanya Jack ngangguk, sekarang ngelirik Luana yang lagi berdiri persis di sebelah Rey.
Bola matanya yang kebiruan kayaknya lagi merhatiin cewek itu dari ujung kaki sampe ujung rambut, disusul senyuman pas dia sadar gimana Rey genggam tangan Luana erat-erat.
"Jadi ini Nyonya Lueic?" tanya Jack berusaha akrab.
Luana meringis pelan, ngasih lirikan cepet ke Rey yang sekarang noleh ke arahnya.
Tangan kiri cewek itu masih di genggaman Rey, dan kayaknya si bangsawan nggak ada niat buat ngelepasinnya.
"Kenalin istri gue, Luana Lueic," kata Rey ke temennya Jack, yang juga orang yang bertanggung jawab buat kembang api malam ini.
Jack masang senyum, ngulurin tangan buat nyapa Nyonya Lueic kali ini.
Luana bikin Rey ngangguk pelan, kayak ngasih izin buat bales sapaan Jack.
"Gue Jack Miller," kata cowok bermata biru itu. "Senang ketemu lo, Luana, dan semoga lo nikmatin pestanya malam ini."
Luana narik sudut bibirnya buat membentuk senyuman, ngebiarin Jack nyapa dia dengan salaman sekarang. Jack udah manggil Luana dengan nama panggilan santai, sama kayak gimana cowok itu manggil Rey.
"Makasih, Jack."
Rey masih belum ngelepasin jabat tangannya sama Luana tadi, saat ini cowok itu kayaknya lagi berencana buat pergi dari sana.
"Istri gue mungkin capek," kata Rey dengan ramah. "Lo nyiapin kamar buat kita?"
Jack ketawa beberapa saat, pas sekarang cowok itu kayak ngedipin mata ke Rey.
"Tentu aja, Bro!" serunya dengan gembira. "Lo pusat perhatian malam ini, jadi siap-siap sebelum pesta kita mulai nanti. Ayo, gue anter ke kamar pengantin lo!"
Luana sekilas ngelirik Rey, ketemu pandangannya saat matanya menusuk ke arahnya. Jovi ngejauh dari mereka berdua, berdiri tepat di belakang Rey dan Luana dengan waspada.
Luana mendekatkan wajahnya ke Rey, berencana buat berbisik pelan ke cowok itu.
"Lo nggak ada rencana buat ngelepasin tangan gue?" tanyanya dengan nada rendah. Dia udah berusaha nge longgarin genggaman, tapi tangan Rey malah makin erat.
Jack udah ngebut jalan, pas Rey noleh kepalanya balik ke arahnya, bikin wajah mereka jadi deket banget.
"Nggak ada," jawab Rey cuek. "Cuma akting kayak lo istri gue, soalnya bakal banyak mata yang merhatiin lo nanti."
Luana masih belum ngalihin pandangan, kali ini menyipitkan mata saat dia nunggu penjelasan lebih lanjut dari si bangsawan.
Rey narik Luana buat mulai jalan, ngikutin jejak yang ditinggalin Jack di depan.
Setidaknya mereka punya waktu buat siap-siap dan santai sebelum kembang api dimulai, dan Rey udah berencana buat olahraga setelah ini.
"Lo mungkin bakal dicegat banyak orang, dan lo nggak bakal bisa kabur kayak waktu di makan malam," kata Rey lagi. "Pastikan lo tetep di bawah pengawasan gue atau Jovi, dan jangan minum kebanyakan."
Genggaman tangan menguat saat keduanya jalan di sepanjang pasir menuju ke bagian dalam pulau.
Angin sepoi-sepoi berhembus dengan dingin, bikin pohon-pohon tinggi seakan-akan melambai dengan daun-daunnya yang bergerak selaras.
Rey dan Luana masih bergerak di saat yang sama, pas Jovi sekarang merhatiin kedua majikan dari belakang.
Bergumam pas dia sadar gimana majikannya ngegenggam tangan cewek itu erat-erat, Jovi kayaknya lagi tenggelam dalam pikirannya sendiri.
'Nyonya Luana adalah cewek yang dipegang sama majikan selain Nona Beatrice,' gumam Jovi dalam hati.
Orang kepercayaan Rey pasti tahu apa yang terjadi di upacara pernikahan, dan dia satu-satunya yang tahu kalau Luana bukan cewek yang seharusnya jadi nyonya mereka.
Ketiadaan Beatrice pasti ninggalin luka yang menganga di hati majikannya, dan Jovi kurang lebih bisa ngerti kenapa Rey masih ngejaga diri dari cewek pengganti itu.
Beberapa langkah dari sana, Jovi tersentak pas alat di saku celananya berbunyi.
Berhenti melangkah sejenak, Jovi ngeluarin ponsel dan ngegesek layarnya.
"Ngomong," katanya ke ponsel.
"Jov, gue berhasil lacak pacar majikan lo," kata suara cowok di seberang sana.
Tubuh Jovi langsung kaku, tapi matanya tertuju lurus pada siluet tubuh Rey dan Luana yang makin menjauh.
"Ceritain lebih jelas!"
"Salah satu anak buah gue ngelihat cewek yang mirip Nona Beatrice, persis di lepas pantai utara Perth. Gue masih mastiin identitasnya. Tapi kalo emang dia, bukannya lo harus siap-siap buat jemput dia?"
Jovi dengerin baik-baik perkataan temannya. Pikirannya berputar, mikir apakah dia harus ngasih tau Rey info ini atau nggak.
"Pastikan dulu identitasnya," pinta Jovi. "Dan jangan kasih tau yang lain, gue nggak mau berita ini bocor kemana-mana."
Orang yang diajak bicara Jovi jawab dengan tegas, sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Masih megang ponsel di tangannya, pandangan Jovi nggak bergeser dari Rey dan Luana yang sekarang mulai belok ke kanan.
Ngecengin ponsel, Jovi balik lagi ke pikirannya sendiri.
"Apa gue harus kasih tau berita ini, Tuan Rey?" tanya cowok itu pelan.
Cuma angin yang berputar di sekelilingnya, dan Jovi tahu itu nggak bawa jawaban.
"Atau haruskah gue biarin Nona Beatrice menghilang, saat lo kayaknya lagi tertarik sama Lady Luana sekarang?"