107
Jeda dua detik.
"Kamu udah kenal dia dari kecil, Val," ibunya berusaha mengingatkannya, khawatir kalau Valerie lupa fakta itu. "Nikah sama orang yang udah kamu kenal kan lebih gampang?"
Rasanya familiar, soalnya Valerie udah pernah denger ini sebelumnya.
Bukankah si petarung—Pedro Viscount, bilang hal yang sama?
"Mama."
"Putusin cepet, Val." Sepertinya ibunya gak lagi mau negosiasi, soalnya gak peduli berapa kali Valerie nolak, pertanyaan itu pasti muncul lagi. "Versa sama Gosse juga dukung hubunganmu sama Pedro, emang gak cukup buat yakinin kamu?"
Valerie diam.
Sunyi.
'Kamu beneran dukung hubungan aku, Gosh?'
"Apa Go—maksudnya, mereka bilang gitu?" tanya Valerie dengan dada berdebar. Dia gak bisa jelasinnya, tapi jantungnya berpacu.
"Tentu saja," kata suara di ujung telepon. "Gosse bahkan bilang Pedro itu pria yang tepat buat kamu. Dia nyesel kamu keras kepala nolak perjodohan ini."
Kedengarannya cuma rangkaian kata-kata, tapi entah kenapa itu nusuk banget buat Valerie Genneth.
Dia hancur.
'Jadi gini akhirnya, Gosh? Dan kamu nyuruh aku nikah sama orang lain?'
"Val, kamu masih di sana?" Panggilan ibunya membuyarkan lamunan Valerie, bikin dia tersentak pelan.
Dia berusaha keras buat sadar lagi dari kesadaran yang hampir menguap ke awan, dengan rasa sakit yang masih kerasa.
Bahkan setelah bertahun-tahun, masih sama aja.
"Masih di sini, Ma." Valerie mengusap dahinya pelan, meraih gagang cangkir yang gak jauh dari tempat dia meringkuk. "Aku bakal pertimbangin sekali lagi. Kasih aku waktu ya?"
Valerie gak bisa lihat, tapi sekarang ada sedikit senyum di sudut bibir ibunya atas harapan yang masih tersisa.
Paling gak, anak bungsu keluarga Genneth bersedia mempertimbangkan menerima perjodohan sekali lagi.
Sepertinya nyonya besar Genneth harus banyak berdoa kali ini, soalnya dia dan seluruh keluarga bener-bener pengen perjodohan yang udah lama ini jadi kenyataan.
Meski sempat tertunda karena hilangnya Pedro selama setahun terakhir, kedua keluarga tetap bertekad buat menyatukan kedua anak mereka.
"Bener, Val?!" seru ibunya bikin Valerie senyum sebentar. Jelas banget kalau nada suara wanita yang melahirkannya itu beda sekarang.
"Janji ya kamu pertimbangin ini dengan kepala dingin," dia memohon lagi. "Gak perlu buru-buru, dan pikirin lagi pendapat kakak iparmu tentang Pedro yang ngerasa dia lebih dari cukup buat kamu."
Valerie menghela napas.
"Gak masalah, Val," ibunya masih berusaha nenangin. "Kalau pun telat, gak apa-apa. Aku yakin Pedro balik karena dia udah siap, menurutmu gimana? Lagipula, kamu sama dia kayaknya cocok banget. Kasih Mama jawaban yang enak ya?"
Tentu saja cuma Valerie yang tahu betapa susahnya buat dia ngebiarin pria lain masuk dan menyapa hatinya.
Udah lama dia milih buat ngunci hatinya rapat-rapat, soalnya ada rahasia besar yang masih menggantung di sana.
Fakta kalau hatinya diisi sama seseorang yang gak seharusnya ada di sana bikin Valerie ketakutan, tapi lupa sama seseorang emang gak pernah gampang.
"Aku pikirin, Ma," kata Valerie. "Pedro pulang?"
Setelah kepergian Pedro, Valerie gak lagi menghubungi si petarung. Dia ngirim pesan sesekali, tapi gak pernah seintens dua orang yang mau nikah.
"Belum, dia belum dateng. Kamu ngarep dia dateng? Atau kamu yang harus kunjungan ke kediaman Viscount, Val?"
"Gak perlu," Valerie buru-buru menyela. Sampai dia mutusin, lebih baik buat keluarga mereka buat gak ambil tindakan apa pun. "Aku hubungin Pedro nanti. Aku telepon Mama kalau aku udah putusin. Oke?"
Dia tersenyum lebih lebar lagi, berharap ada sedikit celah kali ini.
"Oke, Val." Suaranya merendah. "Jaga diri, dan jangan sampe telat makan. Pulang kalau kamu ngerasa kesepian, hmm?"
"Iya, ngerti, Ma. Aku baik-baik aja."
"Kalau gitu, Mama matiin teleponnya ya. Udah lumayan malem, istirahat sana."
Valerie kembali meneguk kopinya di sekelilingnya, tanpa sadar mengangguk samar meskipun ibunya gak bisa lihat.
"Kamu juga, Ma," kata wanita itu. "Jaga diri, jaga kesehatan."
"Oke, Val. Aku tutup, oke?"
"Hm mh."
Menurunkan tangan yang sedari tadi memegang ponsel, Valerie membiarkannya bersandar di pahanya.
Melirik kopinya yang masih tersisa sepertiga cangkir, dia menghela napas.
Berat, seakan ada batu besar yang menahannya di sana.
Genggaman pada perangkat datar itu mengencang, saat tatapan hijau kebiruan Valerie yang gila menusuk jendela.
'Jadi, harusnya aku nikah, Gosh?'
Dia tertawa sumbang.
Garing.
'Apa menurutmu Pedro bakal bisa buka hatiku? Apa kamu?'
Melihat ke bawah sebentar, Valerie tampak tersenyum tipis.
"Jadi, apa ini akhir dari perasaan ini, Gosh?" gumamnya diiringi embusan angin.
Sebuah kalimat yang berisi satu-satunya pertanyaan yang bisa dipikirkan Valerie, dengan jawaban yang gak akan pernah dia dapatkan.
Soalnya sebenarnya, Gosse Armour masih di sana.
Di lubuk hatinya.