89
Ada hati yang kayak dipotong setengah pas Pedro ngelihat cara Rey megang tangan Luana erat banget.
Gemuruh di dadanya balik lagi, sama kayak pas dia ngerasain itu waktu Luana selalu milih balik ke Rey. Telepon dari Luana kemarin sore bener-bener bikin Pedro Viscout sadar, pada akhirnya, kalau dia emang gak punya celah sedikitpun.
Fakta kalau semua ini sia-sia, apalagi gimana Valerie udah ngingetin dia tentang cinta bertepuk sebelah tangan yang gak bakal pernah bawa kebahagiaan, akhirnya bikin Pedro ngambil keputusan penting dalam hidupnya.
Luana udah milih, dan Rey juga udah.
Insiden yang terjadi sama Luana kemarin sore, kurang lebih ngajarin Pedro kalau koneksi cinta mereka mungkin udah makin kuat dari yang dia duga selama ini. Pedro jelas tahu apa yang lagi terjadi antara Luana dan Rey—yang masih dia rahasiain, dan itu kenapa dia ada di Munich buat jadi pilihan kedua kalau-kalau dia butuh bantuan.
Tapi kayaknya gak gitu, karena Luana sama Rey milih buat tetap teguh pada pendirian mereka. Bertahan ngelawan segalanya, bertahan pada cinta yang ternyata udah mekar di hati mereka. Hati yang… Pedro gak bisa masuk sedikitpun.
Luana nyamperin, masih sambil senyum di wajahnya.
"Pedro!" dia manggil buat kedua kalinya. "Syukurlah kita gak telat!"
Genggaman tangan pasangan itu gak ngendor sama sekali, meskipun mereka sekarang udah pas di sebelah meja pojok tempat Pedro dan Valerie udah dari setengah jam yang lalu. Pamitan sama Valerie, Luana kayaknya ngehela napas lega.
"Luana, lo gak bilang mau ke sini." Valerie udah duluan ngambil langkah, meluk Luana erat-erat meskipun Rey kayaknya gak mau ngebiarin dia pergi. "Kalau kita tahu lo mau ke sini, kita bisa berangkat bareng dari tadi."
Pedro diem-diem bersyukur sekarang dia gak harus ngadepin Rey dan Luana sendirian. Kehadiran Valerie di antara mereka bener-bener udah mencairkan suasana, dan Pedro gak bisa minta lebih dari itu. Dia seneng Valerie ada di sana, dia seneng Valerie berusaha buat nutupin rasa canggung yang tercipta antara dia dan Rey.
"Hai, Luana," Pedro nyapa setelah jeda beberapa detik. "Halo, Rey."
Gak enak, apalagi karena Pedro gak suka ada di situasi kayak gini.
"Halo, Pedro," Rey bales sama gak enaknya. Mereka gak pernah kenalan secara bener, dan selalu terlibat dalam pertemuan yang gak kondusif. "Gue denger lo mau pergi, bener begitu?"
Pedro ngangguk sambil narik kursi kosong buat Rey dan Luana duduk, karena kafe bandara gak terlalu rame.
"Bener," Pedro ngomong dengan nada datar. "Gue gak nyangka kalian bakal dateng. Duduk, deh."
Bola mata Pedro dan Rey saling menyapa, tapi tetap aja kesombongan seorang cowok menyelimuti situasi yang sekarang terjadi. Duduk di kursi yang udah ditarik Pedro tadi, Rey sekarang pas di samping si petarung.
Keheningan menyelimuti mereka berempat, pas Valerie sekarang ngambil inisiatif buat megang tangan Luana duluan. Mungkin kedua cowok itu butuh ruang buat ngobrol, pas Valerie berbisik pelan di telinga Luana.
"Kita jalan-jalan bentar, yuk, Luana?" dia nawarin. "Atau nemenin gue ke toilet, mau gak?"
Luana ngangguk, tentu aja, terus ngomong pelan ke suaminya kalau dia bakal pergi sama Valerie sebentar. Kayak Valerie, Luana juga ngerasa kalau ini mungkin satu-satunya waktu buat ngasih Rey dan Pedro sedikit ruang buat ngobrol.
Sebagai cowok dewasa.
Suara samar langkah Luana dan Valerie yang menjauh bisa kedengeran, disusul sama rasa lesu yang keluar dari bibir Rey. Ngangkat kepalanya biar sejajar sama Pedro, sang bangsawan mulai percakapan mereka.
"Pedro, gue… belum makasih sama lo buat apa yang lo lakuin ke bini gue kemarin sore." Masih ada rasa canggung yang nguasain, tapi gak apa-apa karena udah cukup panjang buat jadi kalimat pembuka.
Pedro noleh buat natap Rey intens, pas dia nemuin tatapan yang beda terpancar dari iris mata biru orang itu.
"Gak ada apa-apa," Pedro ngomong, berusaha buat bikin segalanya jadi gampang. "Gue sama Valerie nolong Luana karena kita temenan, dan gue harap itu gak bikin lo salah paham."
Bola mata Rey bergerak cepat, kayak dia lagi merhatiin makna tatapan yang Pedro kasih ke dia. Mereka berdua lagi saling napas sekarang, seakan-akan percakapan antar cowok ini susah banget.
"Gue tahu lo cowok baik, Viscout," Rey ngomong lagi. Kali ini kedengeran lebih akrab, karena cowok itu udah berusaha. "Andai kita ketemu di waktu yang tepat, mungkin kita bisa saling kenal dengan baik."
Pedro nyengir tipis, minum lagi espresso-nya buat ngabisin cairan kecoklatan yang dari tadi diem di sana. Fakta kalau kalimat yang baru aja Rey ucapin terasa bener, bikin Pedro setengah terhibur.
"Gue tahu hubungan lo sama Luana," Pedro ngomong sekarang. Dia nyadar tatapan serius Rey ke arahnya, tapi dia gak berhenti buat lanjut.
"Lo tahu, Rey. Gak susah buat gue mantau apa aja," kata Viscout. "Gue tahu Luana itu siapa, dan gimana dia bisa terlibat sama lo."
Rey ngerasain hatinya diremes keras. Pas banget di hatinya.
"Tapi gue ngehargai keputusan lo buat tetap tinggal," Pedro lanjut. "Enggak, Luana gak cerita apa-apa ke gue. Tapi gue emang nawarin buat bantu kalau dia butuh, dan dia dateng sama permintaan buat ganti hotel kemarin sore."
Rey masih ngeratin bibirnya, dengerin banget kata-kata si petarung yang disusun hati-hati.
"Gue gak berusaha buat ikut campur," Pedro ngomong jujur. "Tapi sebagai cowok, lo pasti tahu kalau gue liat bini lo beda."
Tanpa sadar, Rey ngerasa pasokan oksigennya berkurang. Percakapan ini kayaknya gak bakal selesai dengan gampang. Tapi tawa Pedro tiba-tiba bikin reda kemarahan yang mulai muncul di dalam Rey.
"Gue mungkin emang tertarik sama dia," Pedro ngejelasin lagi. Tawa cowok itu menggantung, bikin matanya kelihatan sedikit menyipit. "Tapi lo harus tahu kalau gue bukan tipe cowok yang ngerebut seseorang dari orang lain, dan sekarang gue seneng buat kalian berdua."
Walaupun bibirnya rapat merapat, Rey bisa ngerasain emosi lega yang sekarang menyelimutinya.
"Luana itu cewek baik," Pedro muji tanpa ragu. "Lo setuju, kan?"
Rey gak butuh waktu lama buat ngangguk, karena itu kenyataan. Dan dia cinta sama cewek baik itu.
"Lo bener," Rey ngomong dengan bibir terbuka. "Itu kenapa gue yakin lo ngerti kenapa gue milih buat tetap tinggal meskipun tahu konsekuensi apa yang mungkin kita hadapi."
Pedro narik napas dalam-dalam, karena dia bener-bener ngerti apa yang Rey omongin. Gak perlu kata-kata buat ngejelasin, karena mereka berdua sama-sama tahu.
"Dia udah milih lo, Lueic," kata Pedro kali ini. Kata-kata yang bikin Rey ngangkat kepalanya lagi, buat natap lurus ke mata si petarung.
"Gue tahu."
"Dan gue percaya lo bisa nyelamatin dia," Pedro ngomong dengan percaya diri. "Apapun itu, gue dukung keputusan lo buat bikin dia bahagia."
Rey gak nyangka kalau dia dan Pedro bakal ngobrol seintimate ini, karena semua yang Pedro Viscout implikasikan cuma bayangan yang gak kelihatan.
"Lo…" Rey ngegantung kalimatnya, kayak lagi nyari kata-kata yang pas buat lanjutin kata-kata yang kepotong. "Lo beneran cowok baik, Viscout."
Pedro lagi-lagi ngijinin dirinya buat bergumam tawa, dengan senyum yang muncul setelahnya.
"Akhirnya lo ngaku juga," Pedro nyapa positif. "Gue anggap itu sebagai pujian, Lueic."
Sekarang giliran Rey buat biarin tawanya menghiasi wajahnya, seakan-akan dia lupa kalau dia pernah sebel banget sama kehadiran Pedro di sekitar mereka. Rey selalu mikir Pedro mau nyuri Luana dari dia, tapi lihat gimana sore ini Viscout jelas-jelas mendukung penuh hubungan dia dan Luana.
"Kalau gitu…" Rey angkat bicara lagi. Ngulurin tangannya ke Pedro, sang bangsawan lanjut dengan senyum yang terukir di wajahnya. "Bisa kita temenan? Gue Rey Lueic, dan lo?"
Pedro kelihatan setengah kaget sama apa yang Rey lakuin ke dia, tapi dia gak bisa nahan buat gak ngangkat tangannya buat salaman sama tangan Rey yang terulur.
"Gue Pedro Viscout, senang ketemu lo, Rey Lueic."