11
- Ayo, ke bawah. - Kata salah satunya.
- Tunggu bala bantuan, Aduna. - Kata Sang Raja.
- Kita cuma diserang satu, tapi dia bilang, saudara-saudara, dan ibunya, ayo kita maju, jangan terpecah. - Kata Sang Raja.
- Anak muda terburu-buru. - Kata salah satu prajurit.
- Cuma mikir aja. - Katanya.
- Ini jadi pengalaman buat misi berikutnya. - Kata Sang Raja.
- Dulu gue juga anak muda, gue tau gimana rasanya petualangan pertama yang hebat itu. - Kata Sang Raja.
Sebelum mereka bisa balik nyerang atau kabur, dia udah ada di belakangnya, salah satu orang bijak, di antara para penyihir dan prajurit. 'Kita di sini, Raja Agung.
- Mereka gak butuh waktu lama. - Salah satu pria tinggi besar, berambut kayak beruang ada di antara mereka.
Terus, mereka maju ke dalam gua, pas mereka udah di antara warga lokal, ada, ya, sarang, tempat makhluk-makhluk mendesis, yang ada di sana, maju ke arah mereka, nyerang mereka, pas mereka ngeluarin pedang lagi. pedang, di antara api, nyerang mereka masing-masing, sambil ngirim api.7
- Kalian salah tempat buat petualangan kalian. – Kata si makhluk itu sambil maju ke arah mereka, nyoba misahin mereka lewat terowongan, mereka bikin lingkaran, muji-muji Sang Raja.
- Bodoh, kita di sini buat habisin lo. - Kata Sang Raja.
- Makhluk kecil yang konyol, lo gak sebanding sama gue dan anak-anak gue. - Katanya.
Terus dia nyerbu maju, nyemprotin asam dari seratus kepalanya, nyoba gigit dan sobek kepala mereka, semuanya, nyerbu maju dan nebas pake panah dan pedang, pas mereka bales nyerang, pas makhluk-makhluk lain nyerang balik, nyoba nembakin asam dari mulut mereka ke berbagai kepala mereka sambil mereka naikin perisai mereka, yang campuran metal dan sihir.
Pas mereka nyerang makhluk berkepala seratus maju ke arah orang-orang, mereka niat banget bikin lingkaran, pas mereka ngelepasin gelombang api sihir, kayak lingkaran, di mana mereka ngehancurin semua yang ada di depan mereka.
Makhluk itu, sih, gede banget, bikin dia susah daripada monster-monster lain di sekitarnya.
Ya, mereka ngeliat di bawah sarang dan hydra ada, yang bakal jadi, di luar kerangka, sisa-sisa jasad, di luar senjata dan kekayaan, emas dan permata, ada langit-langit berkubah, di mana dia nunjukin di depannya, sisa-sisa istana, tulisan, beberapa patung.
Maju terus dan terus ke tengah lokasi, mereka nyerang ke tengah sarang, sebuah tenda basah, nyerang pake obor minyak dan sihir, ningkatin kekuatan api.
Terus, mereka ngebakar makhluk-makhluk itu, lompat pake panah dan tombak ke arah hydra, pas mereka nyerang dan nebas kepala mereka, ngebakar mereka pake pedang dan tombak.
Terus ada binatang raksasa, di antara jeritan, di mana mereka maju ke arah monster yang mereka serang, ngehajar pake tombak berapi.
Pas mereka berhasil menang, terus mereka menjauh dari tengah api yang jadi sarang hydra.
- Tunggu apinya berhenti dulu, biar kita bisa turun. - Kata Sang Raja.
- Siap, Tuan. – Kata semua orang.
Mereka ngeliat tempat itu penuh koin dan berlian, emas dan perak, di sekitar sarang itu.
- Gimana emasnya? – Seorang bijak nanya.
- Dibagi rata buat seluruh kerajaan. - Kata Sang Raja.
- Masing-masing perwakilan harus ambil bagiannya, karena kita berjuang sama rata dan mewakili dua belas kerajaan. – Kata Singa Api Agung.
- Ya sudah. – Kata seorang bijak, dia denger suara persetujuan umum.
- Ayo, kawan, kumpulin kekayaannya, apa kalian bawa kereta buat ngangkut emasnya? – Sang Raja nanya ke orang-orang lain yang datang belakangan.
- Kita bawa lima kereta. – Kata Orang Bijak dan Nabi.
Terus, mereka turun ke sarang buat ngumpulin kekayaan, sambil mereka mulai misahin kepala-kepala, yang mereka bawa pake tali, naruh di samping batu-batu.
Di tengah nunggu api mati, mereka duduk dan istirahat di antara bebatuan.
Pas mereka ngeliat tempat itu sekarang cuma sisa-sisa hydra yang kebakar, mereka turun lewat jembatan di antara tangga-tangga dari adegan kuno di mana mereka ngeliat kekayaan dari sarang monster.
Ada mahkota di antara emas yang berserakan, yang masih agak anget.
Terus, pas mereka ngumpulinnya, pas ngambilnya bareng mereka, ke aula, pas mereka ngeliat tempat itu, di tengah-tengah masukinnya ke kereta, mereka balik lima, balik di antara waktu istirahat, pas mereka ngangkut dan pergi lebih dari dua puluh unta. udah penuh.
Terus mereka mulai perjalanan balik, di mana mereka menuju ke kerajaan pusat, nerima teriakan kemenangan dari masing-masing penduduk, pas mereka makin deket, gerbang dibuka sama tentara yang nunggu mereka ke arah tembok kerajaan Singa Api.
Terus dia disambut pas dia turun dari untanya sama ratu pertamanya, si wanita itu datang ke dia, di tengah ciuman mereka, pas mereka di sana, dipimpin bergandengan tangan, pas kemudian diterima oleh penasihatnya di antara orang-orang bijak dan ratu-ratu lain yang nyusul.
- Janji-janjinya masih berlaku. – Seorang bijak nanya dia
- Ya. - Katanya.
- Biarin mereka pesta biar kita bisa resmikan dan bikin aliansi resmi. – Kata Raja Singa Api.
- Ya sudah. – Kata semua orang.
Pas mereka ngerayain malam sampe malem, mereka makan dan minum, di akhir pagi berikutnya, di mana mereka ngerayain dan tampil, upacara pernikahan dan aliansi antara 16 ratu, biar dia jadi raja kerajaan, masuk dengan nepatin janjinya ninggalin keturunannya di kekuasaan kerajaan, pas dia ngambil alih perlindungan masing-masing kerajaan, di zamannya, pas dia ninggalin para ratu satrap.
Dengan adil, ke mana dia harus pergi nanti buat tinggal lebih lama di kerajaannya, pas dia bakal hidup dan ngajarin cara memerintah masing-masing keturunannya.