10
- Saksi-saksi kekayaan besar, selain yang katanya ada lemari besi gede di dalem gua, yang ada di pintu masuk, gue bawa saksi. - Kata si Pedagang itu.
Jadi, dengerin laporan dari para pedagang gede, pas mereka lewat tempat itu, mereka mutusin buat mulai petualangan gede itu, di mana mereka bakal cabut besoknya.
Di antara unta-unta mereka yang ngikutin pemandu mereka lewat gurun, di kerajaan gede antara tembok-tembok batu, yang ada di sana sama setiap orang.
Mereka masuk kayak orang lain, dari orang-orang ini, di lebih dari lima kerajaan sampe mereka nyampe kerajaan Singa Api, karena gak ada satu pun dari mereka yang pernah cabut.
Seorang perwakilan dari lima kerajaan dateng ke istana Raja Singa Api.
- Apa yang kita tau sejauh ini? – Singa Api nanya, tiga wazir dan beberapa anak-anak dari harem Raja Dan yang gak balik dari petualangan gedenya.
Hal ini jadi terkenal di semua dua belas kerajaan pasir lainnya, pas masalahnya nyampe ke Singa Api, jadi dia dengerin laporan dari beberapa pedagang gurun.
- Kayaknya, raja hamba, kayak yang lo perhatiin, ini jebakan buat narik dewa-dewa atau orang yang gak curiga. – Orang Bijak dari kerajaan tetangga yang rambutnya udah abu-abu bilang.
- Gue sadar, mereka bakal cepet dateng ke gue. - Kata Singa Api.
- Apa yang lo usulin, tuan hamba? - Seorang Pendeta dari kerajaan Ala nanya dia.
- Gue bakal terima jebakan lo. - Kata Singa, sambil ngeliatin orang-orang dan cewek-cewek di istana.
- Tuan Hamba. – Istrinya nanya dia dengan cemas, di sampingnya ada 16 istri lainnya dari setiap kerajaan.
- Kita gak bisa tanpa raja-raja lain. – Setiap mantan istri Arun nanya.
- Mereka gak bakal ada, gue usulin lo siap-siap, ikutin pasir gurun dengan senjata di tangan, masuk bareng gue ke sarang itu buat bunuh dan hancurin semua yang ada di sana. - Katanya.
- Kalo emang ada kekayaan, trus, kalo lo bantu gue buat ngehancurin bahaya, semua orang bakal dapet bagian dan kekayaannya bakal dibagi rata. - Katanya.
- Ada lagi yang lo mau dari kita? – Cewek itu nanya dia.
Buat nyatuin kerajaan, kalo ratu gue ngijinin, gue mau bangun aliansi sama setiap kerajaan, kasih anak laki-laki ke masing-masing dari mereka, dan nikahin setiap ratu dan putri sebagai bukti kalo garis keturunan gue bakal maju dan bisa berkuasa di masing-masing. dari kerajaan.
- Para satrap raja, trus? – Seorang penasihat nanya dia.
- Apa yang ratu gue bilang? - Singa Api nanya dia.
- Kalo gue ratu utama dari kerajaan pertama, tinggal sama gue dua hari lebih lama dari yang lain, trus kata-kata gue harus berlaku. - Kata sang Ratu. 'Gak lupa gue yang pertama punya. - Kata cewek itu.
- Kalo mereka gak abadi kayak kita, yang punya kata-kata dari kerajaan pertama. - Kata cewek itu.
- Jadi, biar terjadi. – Semua setuju.
Jadi ratu dan pendeta dari kerajaan pertama yang udah diatur, di mana sekarang, mereka bakal ngebela orang-orang yang lagi dalam bahaya gede, nyatuin kerajaan sebagai Raja Singa Api sebagai penguasa, trus, tanpa ragu-ragu, raja dan sekutunya, mulai ngatur misi gede lewat gurun buat mulai nyelesain bahaya gurun.
- Dia bakal dateng ke arah lo, tuan hamba. – Mereka emang bener.
Alasannya jelas, kayaknya musuh lagi mancing mereka ke bahaya dan mungkin kematian.
Pas hari berikutnya dateng, mereka ngumpet, buka gerbang gurun, pas karavan, di mana pedagang-pedagang terbesar lewat tempat itu, lewat.
Serangkaian pedagang minta buat hadir dan nunjukin barang dagangannya.
Di antara mereka, ada Pedagang dan Pendongeng Agung, yang minta konferensi sama Raja Api.
Di mana mereka setuju, ngeliat beberapa orang di sekitar mereka, pas semua lagi nonton ngumpet, di balik gorden di belakang ruang tahta.
Jadi waktu itu, pas mereka lagi dengerin cerita gede.
- Ada kekayaan yang gak keitung, gelombang emas kayak sungai yang ngalir lewat gua-gua di seberang pohon kelapa dan oasis. - Katanya.
Jadi pas mereka mau laporin soal tempat gede di gurun di mana ada kekayaan paling gede dan bahayanya.
Pas mereka denger kayak mimpi orang bodoh, pikir sang Raja.
- Jadi, bisakah lo nuntun kita ke gua gede kekayaan? – Raja nanya dia.
- Kita bisa lakuin itu sekarang. - Kata si Pedagang itu.
- Jadi, ayo kita pergi sekarang. – Kata raja, ngasih kode pake tangannya buat kita ngikutin mereka, waktu itu, pas dia lagi ngatur para prajurit.
- Tunggu kita di pintu keluar tembok kerajaan. — Raja ngasih instruksi.
- Jadi, siap tuan hamba. – Si Pedagang keluar dari ruang tahta.
Pas mereka ngeliat dia cabut dari tempat itu, Orang Bijak dan Nabi deketin Raja Singa Api.
- Apa yang lo liat di dia, orang bijak? – Raja nanya dia, turun dari altar, pergi ke jendela, ngeliat orang itu lagi dikawal ke untanya di pintu keluar tenda.
- Dia bukan manusia, kayak yang lo liat pake sihirnya.
- Bayangannya gak kayak bayangan manusia, tapi monster panjang, dia bukan ular, tapi kayaknya, hidra yang kelaperan. - Katanya.
- Pasti ada sarang gede dari binatang-binatang ini di jalannya. – Cewek mereka, sang Ratu, dateng ke mereka, ngasih tau. – Gue ngobrol sama penyihir-penyihir lain, kayaknya, sihir api, yang bisa gue kasih tau. - Kata sang Ratu.
- Pedang menyala. – Kata orang bijak.
- Apa aja yang kebakar, bahkan mantra. - Katanya, ngeliatin ke arah raja-raja gede.
- Jadi, kita harus bawa pengikut, tinggalin petunjuk buat kerajaan-kerajaan lain, biar kita ikutin, selain ngasih tau soal sihir api, buat ngumpet biar mereka gak keliatan. – Kata orang bijak.
- Gue mikir gitu juga. - Kata raja.
- Ratu-ratu dan putri-putri harus siap buat ngirim prajurit mereka dengan obor dan pedang api. - Kata sang Ratu.
- Gue tau ini masalah, tapi buat jaga-jaga, kali ini, lo harus tetap di sini, mungkin ada serangan dari monster lain, sementara kita hadepin bahaya gede. - Kata raja.
- Hati-hati, raja hamba, gue gak mau berkuasa sendirian lagi. - Katanya.
- Gak, lo bakal berkuasa sendirian, sayangku. - Dia nyium bibirnya trus.
Trus, mereka cabut dari istana, ke tempat itu, pas mereka bakal ngepak dan ngatur senjata mereka, pas mereka lagi siap-siap, ngasih perintah terakhir ke sekutu mereka.
Mereka bakal ngikutin dia, jaga jarak, dan ngirim elang ke arah gurun.
Si Pedagang itu lagi nungguin dia di sisi lain gerbang, mereka ngeliat dia, ngambil untanya, pas mereka pergi sama perlengkapan dan senjata mereka, banyak tas, pas mereka ngeliat pas mereka lewat tempat itu, sepi, senyap dan gak ada gangguan di jalan mereka.
Banyak yang lewat tujuh desa di antara tujuh kota gurun, pas mereka ngeliat tembok batu gede, yang ngarah ke gua-gua gelap yang tak terhingga, yang diumumkan oleh patung-patung batu yang tak terhitung jumlahnya, yang ngelilingin tempat itu, semuanya, ada di kejauhan jumlah patung pasir yang sangat banyak, yang dateng buat ngeliat monster dalam bentuk batu.
Kayakny, mereka keliling tempat itu, ada lebih dari ular yang nakutin, kalo itu lebih dari hidra, perisai berlian mereka, selain refleksi, mereka gak perlu khawatir soal sihir lagi, mereka harus berdoa atas nama surga, itu bukan gorgon, tapi kayaknya, pas nyentuh patung-patung itu, mereka bukan dari batu, tapi dari garam.
Sialan, dia sadar, kayak yang dilakuin anak buahnya, pas dia masuk tempat itu, pas dia ngerasa bahaya dateng, ular dan cacing merayap lewat gua, bareng sama kelelawar di langit-langitnya, stalaktit dan stalagmit, pas dia ngeliat orang itu ketawa.
- Apa yang lucu, pedagang? – Raja Singa Api nanya dia.
Waktu itu, dia balik badan, trus bilang.
- Lo ngerasa kayak semua orang. – Katanya, pas dia makin deket ke kegelapan batu di sektor yang lebih gelap, pas mereka nyadar dia merentangkan diri, trus, dia berubah jadi hidra yang gede banget.
- Lo cuma makanan, buat gue, buat saudara-saudara gue, dan ibu gue. – Katanya, berubah jadi hidra lima kepala sepanjang dua meter.
- Bodoh, kita tau. - Salah satu jenderalnya, maju, di antara orang-orang lain yang sombong dari Raja Api.
Pedang mereka, sebelum ngehajar masing-masing dari lima kepala, beberapa orang di sekitar mereka.
- Maju orang-orang. - Kata raja, pas makhluk itu nyoba nyerang dan gigit, pas masing-masing dari 15 orang, di depan dan di sekitar mereka, ngacungin pedang mereka, di mana mereka ngeliat bahwa di saat yang sama, pedang-pedang itu kebakar, kayak api biru di panjangnya dan di logamnya.
Mereka semua maju bareng ke arah kepala.
- Sialan, - Mereka bilang, tapi udah telat, gak ada monster yang sepadan sama beberapa orang yang maju dengan pedang api, motong kepala mereka, selain tubuh mereka, pas mereka lagi dipotong, trus dengan api yang ngebakar lehernya biar gak regenerasi, makhluk itu jatuh ke tanah, pas orang-orang itu maju dan motong dadanya, raja nusuk jantungnya.