Bab 4
'Ibu?' Dia mendorong pintu hingga terbuka buat lihat ibunya, Ratu Oktavia, menatap langsung ke dalam jiwanya. Bibirnya merekah senyum lebar saat dia santai masuk ke kamar, menutup pintu di belakangnya. 'Selamat pagi.'
'Selamat pagi juga, Arkadia. Kalau kamu ke sini buat minta kado ulang tahun, mending keluar aja terus ganggu ayahmu,' jawab Oktavia kayak rekaman layanan pelanggan zaman sekarang. Arkadia langsung ngakak ngakak.
'Kamu tahu kan Ayah juga bakal ngomong gitu. Aku belum ketemu dia seharian. Mumpung aku di sini, kayaknya emang paling bener kalau aku gangguin kamu aja deh,' kata Arkadia sambil bergaya anggun. 'Kasih aku petunjuk dong, Ibu... Kira-kira apa ya? Apa ya kira-kira?' Dia memeluk Ratu dari belakang sambil goyang-goyangin ibunya pelan. 'Kasih aku teka-teki biar aku bisa nebak?' Dia menggelitik pinggang ibunya dan ibunya bereaksi.
'Tenang, putriku!' Oktavia batuk keras, wajahnya memerah malu. Dia paling nggak suka digelitik. 'Aku nggak bakal kasih teka-teki karena gampang banget buat kamu tebak.' Oktavia merapikan rambutnya terus mau keluar pintu. Arkadia cuma ngikutin sambil lompat-lompat.
'Tapi, kamu nggak bisa nyembunyiinnya dari aku selamanya, kan?' Arkadia pengen gelitikin lagi, tapi Oktavia cuma nunjukin gestur tangan, kayak nggak mau diganggu.
'Sentuh aku, kamu tidur di luar,' ancam Oktavia, tapi Arkadia kayaknya nggak peduli sama sekali. 'Aku nggak bisa nyembunyiinnya selamanya. Ulang tahunmu dua hari lagi, tunggu aja.' Oktavia kasih alasan logis terus nyengir karena merasa pintar.
'Tapi aku mau sekarang!' Arkadia nuntut, senyum di wajah Ratu Oktavia langsung hilang. 'Nggak bisa gitu ya, Ibu?' Arkadia pasang tampang memelas dengan suara anjing yang imut, tapi Oktavia lebih keras dari batu.
'Tunggu aja, aku udah selesai bahas masalah ini. Ada hal yang lebih penting.' Oktavia berdeham. 'Aku denger rumor, kamu bolos kelas bareng Xerxes, dan aku udah konfirmasi sendiri.' Tatapan mematikan dari Oktavia bikin Arkadia keringetan tujuh keliling.
'Kayaknya Ayah manggil aku, Ibu. Aku mau—' Arkadia mau kabur, tapi Oktavia narik rambutnya yang selalu nggak bisa dia urus sendiri. 'Kamu nyakitin aku, Ibu!' Arkadia merengek keras sambil memegangi kulit kepalanya yang sakit.
'Dan kamu nggak nurut sama aku. Kamu itu bangsawan, harus bersikap kayak gitu. Kamu harus belajar bela diri. Gimana kalau perang pecah? Gimana kamu mau lindungin diri dan wilayahmu?' Oktavia ngomelin Arkadia karena sayang, bayangan mimpi buruknya berkelebat di matanya. 'Aku nggak bisa terus-terusan ada buat lindungin kamu. Cuma masalah waktu sebelum aku mati dan—'
'Kenapa sih bahasnya ganti topik mulu? Ibu ngomel bukan bahas kematian! Ibu nggak bakal mati dalam waktu dekat!' Arkadia teriak ke ibunya dengan nada yang sama. Syaraf Oktavia putus.
'Dan berani-beraninya kamu meninggikan suara sama aku?!' Oktavia balas membentak.
Dan di sinilah mereka sama. Keduanya sama-sama bangga dan suka jadi orang yang paling didengerin, seringkali bikin mereka nggak sependapat.
'Aku udah bilang kalau aku nggak suka topik tertentu, tapi Ibu selalu aja melewati batas! Aku belum siap mental buat hal-hal kayak gini!' Arkadia mulai menjauh setelah marah-marah.
'Demi dewi! Arkadia! Arkadia! Berhenti sekarang juga!?' Oktavia mulai lari kecil buat nyamain langkah Arkadia. 'Arkadia, aku bilang berhenti! Itu perintah!'
'Perintah pala lo! Aku nggak mau ngomong sama Ibu!' Arkadia turun tangga mewah dengan cepat, salah satu kemampuan supernya sebagai putri manusia serigala.
'Mana sopan santunmu?! Anak kurang ajar!' Oktavia udah dekat tangga dan mulai turun juga. 'Kamu kebanyakan bergaul sama cowok nggak guna itu,' gerutu Oktavia dalam hati, dia nggak tahu kenapa dulu mutusin punya anak dari Xerxes. 'Arkadia—' dia terpeleset dari anak tangga.
Arkadia noleh buat lihat kenapa ibunya tiba-tiba berhenti, tapi Oktavia udah jatuh. 'Ibu!' Arkadia menggunakan kekuatan supernya buat nyamperin ibunya, ada juga orang yang niru gerakannya, mereka berdua nahan Oktavia sebelum jatuh ke bawah tangga yang sangat panjang.
Mereka saling pandang sebentar sebelum mengangkat Ratu ke posisi berdiri.
'Begini ya cara kamu memperlakukan ibumu? Bikin dia lari-larian ngejar kamu?' Xerxes mengerutkan keningnya karena kesal, Arkadia nggak bisa menatap mata birunya yang memukau. 'Kamu nggak apa-apa, Ratu?' Xerxes bertanya dengan sangat peduli dan Oktavia mengangguk sampai meringis kesakitan. Mereka berdua melihat pergelangan kaki Oktavia.
'Aduh, kayaknya keseleo deh,' Oktavia menghela nafas berat. 'Arkadia, kamu tahu kan aku udah nggak se-semangat dulu lagi, lihat apa yang udah kamu lakuin sekarang karena keras kepala?' Oktavia ngejedotin kepala putrinya dan Xerxes juga melakukan hal yang sama.
'Kenapa sih kalian harus mukul aku sekeras itu?' Arkadia memegangi kepalanya yang sakit, mereka selalu melakukan itu buat menghukumnya tanpa alasan. Sekarang dia bakal sakit kepala tanpa alasan yang jelas. Yah, itu salahnya sih, tapi ibunya yang mulai.
'Kenapa dia sampai harus ngejar kamu? Seorang Ratu?' Xerxes mengalihkan pandangannya ke muridnya sebelum menjedotkan kepalanya sekali lagi, dan kali ini Arkadia menangis terpingkal-pingkal. 'Biar aku antar kamu ke kamarmu. Arkadia, temui aku di lapangan latihan. Santai aja.' Xerxes menggendong ratu ke kamarnya perlahan.
Tapi Arkadia noleh cuma buat lihat ibunya ngasih ekspresi mengejek, dia kaget dalam hati, 'Nenek bohong!' Dia menghentakkan kakinya kayak anak manja dan menggunakan kekuatan supernya ke lapangan latihan sebelum dia kena masalah lebih banyak sama Guru Mace.