Bab 43
Cinta banget sama dirimu apa adanya.
-
------------_----------_-------------_-------------------------------
Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimana jika semuanya cuma ilusi, dan di baliknya ada dongeng. Terus aku lihat kepalaku dan perhatiin langit.
Langit yang gak pernah habis itu udah nguras banyak banget air mata di mataku. Yang bikin orang percaya; gak papa punya kekurangan, gak papa ngerasain mereka, karena cuma itu yang bikin perjuangan jadi nyata.
Kapan pun langit telanjang itu natap aku dan nyuruh aku senyum, aku cenderung lupa segalanya dan senyum, dan di saat yang sama, aku juga cenderung lupa kalau langit ini rusak, dipermalukan, dibelah dalam-dalam di lehernya tapi tetep aja, dia punya kekuatan buat berdiri, dia punya kekuatan buat ada di puncak dan itulah yang bikin dia istimewa.
Terus kenapa kamu gak punya Amanda Parker?
Aku udah bilang sama hatiku setiap saat buat berhenti! Buat bener-bener berhenti! Tapi dia gak dengerin aku. Dia udah gak berdetak buat aku lagi.
Harusnya aku udah tau akhirnya kayak gimana, tapi aku kena dampak trauma emosional yang dia kasih. Dan aku tau ribuan orang di luar sana mikir aku bodoh.
Jatuh cinta sama dia, atau bahkan suka lagi sama dia adalah keputusan paling bodoh yang pernah dibuat hatiku.
Udah kubilang jangan dengerin kata hati, tapi manusia dan trauma emosional mereka udah masuk ke dalam kulitmu. Sekarang kamu sadar kalau otakmu itu segalanya, dan hatimu bukan apa-apa. Tentu aja, dia dibutuhkan cuma buat bikin kamu tetep hidup.
Jadi, aku harus gimana?
Pergi dan tanya kenapa dia begitu bipolar!
Jangaaaan! Jangan pernah dengerin kata hati. Gak perlu nanya. Cuma lakuin satu hal, dia udah robek hatimu jadi berkeping-keping berkali-kali, sekarang giliranmu buat ngelakuin ini.
Gak, jangan dengerin otakmu...
Jadi, aku harus gimana?
Dia menang pertandingan bola kan? Jadi dia pasti lagi ngerayain kemenangannya di depan seluruh sekolah, dan kalau aku gak salah dia yang bikin taruhannya itu.
Jadi, hari ini adalah hari buat merebut gelar pemenang itu dari kepalanya secara resmi.
Cuma sekali klik dan tangkap, pesta kemenangan harusnya udah mau dimulai sebentar lagi.
Kamu cuma perlu bikin orang-orang sadar kalau taruhan ini udah selesai; kamu udah menang, dan Cole udah kalah.
Ngerti?
Gak!
Jangan lakuin itu!
Iya!
Aku bakal lakuin itu.
Bakal lakuin apa?
Bakal lakuin apa, Amanda?
Aku gak tau. Serius aku gak tau perbandingan antara hati dan pikiranku, mereka ada di sisi paling jauh dari sudut, kayak dua sungai yang mengalir di sisi yang berbeda dari planet ini.
Harusnya aku ikutin kata hati? Dan cuma nanya semua kekhawatiranku, semua kebingunganku, tentang semua perasaan cemas ini?
Atau
Harusnya aku ikutin kata otakku? Dan ngelakuin persis kayak yang dia lakuin ke aku. Hancurin hatinya dan bikin dia jadi pecundang resmi dari taruhan bodoh yang dia buat. Lagipula, seluruh sekolah bakal lebih heboh tentang itu daripada dia yang menang pertandingan.
Hancurin hatinya, serius?
Kamu masih mikir dia punya hati? Lakuin apa yang aku bilang dan mulai semuanya di sana pas pesta kemenangan akan dimulai. Ini saatnya kamu gak baik-baik, sekarang waktu balas dendam. Dan kamu gak ngelakuin kesalahan apa pun dan kamu masih gak bakal ngelakuin apa pun di luar batasmu. Cuma mau selesaiin satu bab dalam hidupmu yang harus diakhiri dalam hidupmu.
Sambil ngangkat kepala tinggi-tinggi, aku lepas semua pikiran empiris sadarku dan ketemu sama yang konstan.
Oke. Kita lakuin ini. Kali ini, akhirnya!
Aku ambil ponselku dan pencet nomor Vess. Pertama kali dalam sejarah, dia angkat dalam sekali, "kamu di mana? Kamu selalu menghilang kapan pun kita mau pergi!
Aku abaikan semua pertanyaan marahnya tentang aku sambil megang erat ponselku, aku bergumam siap-siap buat pesta kemenangan.
****
"Kamu yakin mau pergi ke pesta kemenangan ini?" dia ngomong dengan kebingungan, alisnya nunjukin semua kontras dari pikiran kesalnya.
"Jelas-"
"Syukurlah! Kamu cuma bercanda, dan aku tau itu." Dia ngacak-ngacak rambutnya dengan jari-jarinya yang lembut dengan sekali kibas.
"Iya." Susah payah, dengan ngasih dia waktu buat mencerna informasi di perutnya. Aku bilang iya.
"Ceritain kenapa?" dia menjerit dengan suara tinggi sambil muterin bibir bawahnya ke dalam mulutnya.
Iya. Ceritain ke dia.
"Cuma mau nikmatin malam ini sama kamu," gumamku.
Pembohong!
"Serius?" dia kelihatan curiga pertama kali, tapi dia nutupinya dengan cepat dengan senyum.
"Tentu aja, kamu gak bakal nyembunyiin apa pun dari aku. Kita saudara dan seseorang gak bisa nyembunyiin apa pun dari saudaramu." Dia berkedip dan ngacak-ngacak rambutku kayak orang tua ke anaknya.
Kamu udah ngehancurin kepercayaannya!
Jangan dengerin kata hatimu. Dia bakal selalu mainin emosimu, dan kamu belum ngehancurin kepercayaan siapa pun. Kamu perlu ngerti kalau dia gak bakal hidup selalu di sisimu. Dia juga punya masalahnya, tapi dia gak bakal pernah ngomong. Dia juga punya hidupnya. Jangan libatkan dia dengan masalahmu.
Iya, aku bakal biarin dia jauh dari masalahku.
"Umm. Jadi kita pake apa? Buat pesta?"
Dan kayak tembok basah udah jatuh di udara, pikiranku berubah dalam hitungan detik. Dari yang rendah sampai yang tinggi dari lautan yang gak pernah bakal ketemu. Cuma kalau cara sihir yang halus muncul di sana, baru itu mungkin.
"Baju! Kita bakal pake baju."
Dia kibas telapak tangannya ke belakang kepalaku, "dan di sini aku mikir kita bakal pake bikini di pesta."
"Yah, itu ide yang bagus juga." Aku mulai mikirin itu, tapi gak bertahan lama karena dia nge-tampar lagi telapak tangannya ke belakang kepalaku, "aduh!" Aku meringis kesakitan.
"Sumpah demi Tuhan, Vess, kalau kamu sentuh kepalaku lagi, aku bunuh kamu!" Aku bentak dia dengan mata mematikan yang membara.
Dan mereka membara kayak arang di kereta api pertama.
"Oh, kita gak punya waktu buat kamu bunuh aku dan terus kamu dikirim ke penjara dan terus kamu bakal mati perawan."
Oh iya, gak ada yang lebih menyakitkan baginya dari aku mati jadi perawan.
Setengah jam kemudian**
"Ayo buka pintunya. Kita telat," ada suara yang ngetok pintu dengan suara lembutnya. Ah! Dia pasti marah, sepertinya dia bakal bunuh aku.
"Datang!" Aku bergumam dengan antisipasi, masih berusaha mengatasi bayangan diriku yang terpantul di cermin.
Serius?
Jangan dengerin kata hatimu! Kamu kelihatan kayak yang seharusnya. Khotbahkan peningkatan matamu ke dalam kilauan cahaya yang bersinar.
Tanganku gemeteran, dan aku gelisah mikirin ngelakuin apa pun itu dingin, lebih dingin dari es. Aku muter bibir bawahku ke dalam mulutku karena kaget.
Kayak naik wahana roller coaster. Di satu saat aku berani, siap ngelakuin apa pun dan di saat lain, aku tenggelam, tenggelam di kedalaman lautan di mana keinginan mulai membunuhku, dan itu bisa berubah. Bisa lebih baik dari ini buat punya keberanian buat melampaui batas, cuma kalau percikan cahaya bakal bekerja di waktu yang tepat.
Dan aku harus bilang gak peduli gimana dalamnya aku berusaha memudar, aku harus ngelakuinnya buat mengakhiri semua omong kosong ini dalam satu waktu.
Sambil nahan napas tinggi-tinggi, aku bakal negosiasi bagian dalam diriku dengan diriku sendiri. Dengan suara pintu berderit tiba-tiba, pintu kebuka nunjukin satu-satunya temanku yang marah yang kelihatan cantik dengan gaun selutut putih lurus yang dipadukan sama plum hitam. Cuma dia yang bisa ngelakuinnya lebih baik dari apa pun dalam waktu yang hampir gak ada.
Dan lihat kamu!
Bisa gak sih kamu berhenti! Lihat aku lagi berusaha oke...
Oke. Aku bakal berhenti, tapi gimana sama orang lain? Gimana kamu bakal berhentiin mereka?
Aku- aku...
"Wow! Gaya apa ini hari ini?"
Aku mau teriak dengan nada tinggi, tapi itu gak bakal ngebantu aku. Aku mau hilang dalam cahaya langit, tapi itu gak bakal ngebantu aku. Aku mau memutus semua suara di dalam kepalaku ini, tapi itu gak bakal ngebantu aku, jadi aku cuma bakal ngelakuin satu hal. Cuma mau ngeliatin semuanya dengan mataku dan merhatiin. Cuma kalau aku bisa ngelakuinnya.
"Cuma mau ngerasa kayak cewek penggoda asli buat terakhir kalinya." Aku berkedip ke arahnya sambil berusaha ketawa palsu.
Cuma di saat itu, aku sadar betapa menakjubkannya tawa palsu ini!
Betapa terhiburnya angin ini, betapa anehnya tatapan yang bisa aku terima di saat yang sama.
Dia natap aku dari ujung kepala sampai ujung kaki bertanya-tanya tentang antisipasi yang udah bikin perutku bergejolak.
"Jadi ceritain rencananya apa?" akhirnya dia nanya sambil melipat tangannya buat bikin kata-katanya lebih yakin padaku.
Iya, jadi apa rencananya.
Aku angkat bahu, "rencananya adalah buat berhentiin kegilaan ini."
Oh yah, kita lihat aja.
"Jadi gini? Dan gimana kalau kegilaan ini gak berhenti?" dia nanya dengan hati-hati, matanya masih mengamati wajahku, tubuhku, jiwaku buat dapetin petunjuk apa pun yang bisa dipegang.
"Jelas, kenapa kegilaan ini gak bakal berhenti? Itu emang buat diakhiri di sini, makanya itu dimulai kan?" Aku nanya dengan penuh harapan.
"Hmm. Aku gak tau serius, tapi kamu cukup besar buat bikin keputusanmu dan kalau kamu mau ngelakuin apa yang kata hatimu, ya lakuin aja. Kita lihat hasilnya nanti."
Cuma kalau dia tau aku ngikutin pikiranku bukan kata hatiku kali ini.
Dia senyum dan meluk aku, "lupain semuanya, dan kamu kelihatan cantik hari ini."
Tembok di sekitar kita mungkin penting buat auranya, tapi apa itu penting buatku, atau yang lebih penting buat kita?
"Lihat kamu, dan lekuk tubuhmu, kamu bakal bunuh setiap cewek di perayaan kemenangan itu. Kalau aku cowok, aku bakal bikin kamu jadi milikku tanpa mikir dalam sekejap." Dia ngedip.
"Aku selalu tau kalau kamu punya cowok di dalam tubuhmu, dan kamu ngebuktiinnya bener," aku tertawa kecil.
"Kamu! Kamu tuh banci."
"Aku banci buat kamu, oh cuma buat kamu." Aku nyanyi dengan irama.
"Kalau Britney Spears denger ini, dia bakal ngejeblosin kamu ke penjara," dia berseru dengan mata berapi-api yang bakal ngehancurin lautan dengan terburu-buru.
"Kita harus pergi kalau gak kita bakal telat!"
***
Kita mikir kalau pesta kemenangan tim sepak bola bisa berbahaya buat mereka yang pengen menang, atau mungkin itu bisa jadi hampa buat aura tapi siapa yang harus mikir kalau pemandangan di sini begitu sederhana sehingga semuanya kelihatan gak ada stresnya.
Tetep aja, tempatnya kelihatan begitu terbakar sehingga semua orang yang mendukung tim di pertandingan di sana, dan teman-teman satu tim.
Semua mobil menyebar di jalanan kayak gak ada akhirnya. Tempatnya sendiri kelihatan kayak istana. Istana kekacauan.
Musik menggelegar lewat speaker yang begitu keras sehingga itu jadi keajaiban buat bisa denger apa pun.
Aku makin cemas, kecemasanku naik ke level tertinggi. Beberapa pikiran bergulir jungkir balik di kepalaku gimana kalau aku bikin malu diri sendiri? Gimana kalau semuanya di sini gak terjadi sesuai yang aku pikirkan...
Tetep aja, dengan pikiran berat ini, kita masuk ke area di mana semuanya kelihatan kayak hal yang nyata dari kehidupan. Itu makin cepat, begitu cepat sehingga kalau kamu salah langkah, itu bakal patahin lehermu.
Cuma berdiri di sini sambil dandan dan gelisah kayak anak hilang gak bakal berhasil.
"Kita mau jadi robot, atau mau jadi bagian dari pesta ini?" Vess natap aku.
Vess gandengan tangan sama Dylan, begitu mereka ketemu, keduanya nunggu aku datang dan gabung sama mereka. Mereka kelihatan udah mabuk bukan karena alkohol, tapi karena kasih sayang dari cinta muda.
Dylan pake celana khaki, dipadukan sama kemeja putih polos, kalau tatapan bisa ngebunuh seseorang, aku yakin beberapa orang bakal mati karena tatapannya karena dia kelihatan keren banget.
"Wow," kata Dylan sambil natap aku, "kamu siapa? Kalau aku ketemu kamu, sebelum Vanessa, kamu bakal jadi pacarku."
Vess nginjak kakinya dengan paksa. Dan rintihan keluar dari mulut Dylan, "aku tau dia Amanda, aku cuma berusaha bikin kamu cemburu tapi sekarang aku ngerti, kalau aku pernah nyoba lagi, kamu bakal bunuh aku, pasti."
Aku ketawa.
"Jadi apa alasan kamu kelihatan kayak gini?" Dylan nanya.
"Gak ada yang istimewa," gumamku, sambil gak natap matanya karena aku kepanasan. Singkatnya, aku malu banget.
Entah gimana, aku ngumpulin diriku sendiri. "Kalian berdua kelihatan cantik, tau gak sih!"
"Iya, kita emang lahir buat cantik!" dan suara tawa bikin aku nyaman di tempat aneh ini.
Musik keras dan asap mengelilingiku. Hatiku berpikir dengan perasaan aneh, itu naik seiring irama musik.
Dylan dan Vanessa nuntun aku keliling neraka jumlah orang yang jadi murid di sekolahku yang ngeliat ke arahku saat aku berusaha nyari cara buat mengurangi kerumunan. Mereka nuntun aku ke lounge besar dengan tiga kolam, dan minibar yang ada di pojokan.
Dia di sana duduk sama beberapa teman satu tim. Dan setiap dari mereka punya cewek duduk di pangkuan mereka, termasuk Cole.
Mereka ketawa, suara mereka dengan nada tinggi musik masih kosong tapi kamu bisa ngerasainnya. Aku bisa ngeliatnya.
Vess pegang tanganku dan mengelusnya. Mungkin dia mikir itu bakal ngaruh ke aku?
Apakah itu bakal ngaruh ke aku?
Siapa peduli? Ada yang peduli tentang itu? Terus lupain!
Mereka begitu sibuk sehingga mereka gak merhatiin kita kayak di area bar yang sama kita berdiri di dekat mereka.
Dan itu cewek yang sama yang udah nyium dia di lapangan. Keliatannya dia punya pacar!
Saat Dylan bergumam sesuatu salah satu tim ngelihat ke arah kita terus diikuti mereka semua. Dan kalau itu belum cukup mereka semua natap aku dari ujung kepala sampai ujung kaki termasuk Cole.
Itu bikin aku gak nyaman.
Bukankah kamu pengen ini?
Entah gimana, aku berhasil buat gak kelihatan kayak tomat yang marah dan berusaha berpura-pura kayak aku gak peduli tentang apa pun dan akhirnya berusaha buat berani. Bukan dengan gerakan, cuma dengan sikap diri sendiri.
Tatapan semua orang baik-baik aja, mereka normal. Tapi Cole?
Kamu harusnya bercanda karena matanya ada di aku. Dan gak, mereka gak menembus tubuhku, bajuku kayak yang dilakukan cowok lain. Matanya cuma terpaku pada milikku
Kayaknya dia ngelakuin ini dengan sengaja, atau mungkin dia kaget ngelihat aku kayak gini?
Segera, cukup udah ditelan dalam percakapan sama cewek yang udah dia cium.
"Aku gak tau kalau kamu bakal ngalahin Cole di taruhan terkenal kalian. Cole sepertinya gak bisa jadi kutu buku, dia udah ngelakuin semua yang bisa dia lakuin di waktu lain, dan kamu masih berpegang pada kata-katamu. Dan aku udah denger tentang kamu di antara cowok-cowok. Setiap cowok ngomongin kamu. Jadi, aku pikir aku harus berhenti ngomong dan kita bisa dansa di lantai DJ."
Aku ngelihat ke arah Cole, dan aku masih gak punya ide kenapa?
Saat dia gak merhatiin apa pun yang cowok ini bilang, atau ke aku.
Cewek itu bergantung kayak gantungan di lehernya dan kalau itu belum cukup dia sekarang baru aja mutusin buat ngeliat ke mataku?
Kamu tau gak sih? Diem!
Dia cenderung natap aku saat dia sama cewek lain. Lagipula, dia masih playboy, dan seseorang bisa menyangkalnya.
"Oke! Ayo pergi!" Aku abaikan semua pandangan dan pergi sama.. Tunggu siapa namanya? Oh iya, Shane.
Kita ambil minuman dulu yang ada di gelas merah dan biru. Kali ini aku gak mikirin apa pun atau tentang hasilnya. Aku cuma minum sekaligus.
"Wow, aku gak pernah tau kalau kamu bisa minum sebanyak itu." Komentarnya bikin aku makin berani.
Dan aku ambil enam gelas satu per satu buat mabuk kayak neraka.
Dia melingkari pinggangku lewat tangannya. Dan aku gak keberatan karena aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, dengan pikiranku dan dengan pandangan Cole ke arahku.
Kita pergi ke lantai dansa. Dan aku pikir Vess dan Dylan pergi ke kamar kosong.
***
Setengah jam kemudian, aku udah dansa dengan kaki lepas ngerasa kayak burung bebas di langit. Yang gak pernah mau dirantai. Bergerak dengan irama musik yang bikin aku makin tinggi.
Saat seseorang dari sekolah bikin jalannya buat teriak lewat mikrofon aku denger, "SMA Cross River udah menang piala, kapten yang jadi bagian dari taruhan terkenal sekolah, iya iya kita ngomongin Cole Maxwell, adalah bintang pesta malam ini."
Seseorang bergumam, di telinga orang yang ngumumain semua ini. Iya, mata sayuku masih bisa ngelakuinnya.
"dan seperti yang kamu tau, playboy terkenal kita gak bisa jadi kutu buku. Gak cocok sama kepribadiannya, tapi Amanda Parker ngelakuinnya dengan sangat baik sebagai cewek penggoda. Jadi, mari kita akhiri peran-peran kita di sini karena Amanda Parker udah menang."
Segera, musik mulai menggelegar makin lama makin keras di ruangan.
Aku ngeliat Joseph di dekatku. Dan beberapa teman satu tim sama Shane ada di sekelilingku, dan aku di tengah-tengah mereka dansa dengan irama musik yang sempurna.
Mereka semua nyanyiin namaku yang bikin aku makin berani, aku ngerasa panas dan dingin di saat yang sama. Tangan menyelinap di pinggangku, tangan menyelinap di tanganku dan Joseph nyium aku!
Halo! Gak! Gimana caranya ini terjadi?
"Ayo keluar!" Aku denger suara yang gemeteran di telingaku.
"Gak, aku gak mau pergi dan berhenti nyium aku!" Aku berusaha merebut tanganku dari genggamannya.
"Oh ayolah jangan jadi pengecut sekarang!"
Sebelum aku bisa nampar dia di wajahnya. Aku ngeliat dia tergeletak hampir mati di lantai. Dan cole ada di atasnya mukulin dia di dadanya.
Semua orang bergegas buat misahin mereka.
Aku berusaha buat berhentiin cole karena aku gak mau dia bunuh dia, "Cole, tolong berhenti!" Aku mohon saat air mata di mataku.
"Udah kubilang buat jauhin dia! Tapi kamu gak dengerin aku, sekarang terima ini bajingan!"
Apa yang dia omongin?
"Cole, tolong berhenti!" Aku ngikik. Sambil berusaha nangkap tangannya.
Dan dia natap aku dengan mata dingin berdarah yang udah ngegemetarin aku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Dan kamu! Udah kubilang jangan lakuin ini tapi kamu gak dengerin aku. Dia bisa aja nge*rape* kamu!"
Dia bisa aja nge*rape* aku!
Dia bisa aja nge*rape* aku!
Dia bisa aja nge*rape* aku!
Satu-satunya hal yang berdengung di kepalaku adalah kata-katanya.
Aku gak bisa napas. Jadi aku lari keluar istana.
Aku sebodoh itu! Apa yang harus aku lakuin? Mau tidur sama cowok cuma buat taruhan ini?
Ini semua buang-buang waktu yang bodoh.
Aku bisa aja diperkosa, atau mungkin gak cuma sama Joseph.
Aku benci diri sendiri! Aku gak kayak gini. Kapan sih aku bikin diriku kayak gini? Aku bukan cewek penggoda. Dan aku bahkan gak mau jadi. Aku cuma mau jadi cewek yang baik-baik aja. Yang gak punya tatapan dari cowok? Setelah semua waktu ini aku berpura-pura jadi orang lain. Ini bukan aku.
Aku dorong maskaraku dan merobek kalung yang aku pake.
Aku benci diri sendiri! Aku pengecut, cewek yang menyedihkan.
Aku gak tau gimana dan kapan aku nyampe di tepi pantai.
Aku duduk di sana. Cuma duduk di sana mikirin semua hal lagi kalau Cole gak dateng di antara kita, terus aku bakal diperkosa.
Semuanya ngegemetarin tubuhku lagi. Aku nangis, air mata bergulir di pipiku tanpa cela kayak ombak di lautan.
Gambar ayahku yang pudar ada di depanku. Aku dateng ke sini buat nyari dia, dan apa yang aku lakuin di sini?
Memalukan. Lututku menyentuh daguku saat aku nutup lututku dengan tanganku yang gemeteran dan membungkuk tanganku.
Buat kesalahan bodoh dalam hidupku.
Aku nangis dan nangis. Aku tau ini perlu dihentikan, tapi semua bintang natap aku kayak mereka juga malu sama aku.
Aku gak bisa ngelihat ke atas, itu terlalu takut mereka semua bakal nilai aku dan ngetawain aku.
Tiba-tiba, aku ngerasa ada bayangan di sampingku. "Sst. Gak apa-apa!" Gak. Gak apa-apa aku mau teriak tapi aku gak bisa karena aku sadar suara ini milik Cole.
Setelah keheningan yang panjang saat isak tangisku cuma terdengar, aku ngerasa tangan di punggungku. Dia menggosoknya.
"Aku minta maaf!" katanya.
Aku ngelihat ke atas cuma buat ketemu matanya buat ngelihat dia ngelakuinnya dengan kasihan atau.
Tetep aja, dia udah nyelamatin aku malam ini. "Makasih!" Aku bergumam sambil terisak.
Dan kita berdua diem.
Dia batuk, saat dia bersiap buat nanya.
"Kenapa kamu dateng ke Florida?"
Sebelum aku bisa ngelihat lagi. "Dan jangan bilang kalau- aku dateng ke sini buat nonton pertandingannya dan dukung timnya. Karena aku gak cukup bagus buat itu."
"A-aku dateng buat nemuin ayahku."
Kata-kata keluar dari mulutku sebelum aku bisa menghentikannya.
"Dan siapa namanya?"
"D-D"
Sebelum aku bisa nyebut namanya dia nyelesaiinnya buat aku. "David Parker." Matanya masih natapku tanpa berkedip.
Tapi gimana bisa? Aku gak pernah bilang ke siapa pun tentang itu kecuali Vess. Dan gak bakal pernah ngelakuin itu.
Aku geser ke kiri, masih ngelihat ke bawah, "kamu siapa?" Itu satu-satunya pertanyaan yang keluar dari mulutku.
"Pernah kamu bertanya-tanya kenapa kamu ngerasa sesuatu di dalam hatimu kapan pun kamu ngelihat aku? Aku kasih tau kenapa karena ikatan kita gak bisa diputus kayak hubungan bulan dan langit."
----------------------------------------------------------
Kaget banget buat ngasih masukanmu?
❤