Bab 48
Beberapa hal memang pantas diambil risikonya!
------------------------------------------------------------------
Kota dengan kehidupan yang sibuk merenungkan hal-hal berbahaya kembali untuk kita. Kita telah meninggalkan pemandangan yang memukau hati itu tetapi kita tidak meninggalkan kenangan kita di sana.
Atau lebih spesifik, kenangan-kenangan *gue* di sana. Sekarang, *gue* hidup kembali dengan kenangan-kenangan *gue* yang nggak ada yang bisa rebut dari *gue*.
HA!
Siapa bilang lo nggak bisa ambil risiko dalam hidup lo dan melewati masa lalu? *Gue* tahu ini hal yang berisiko tapi beberapa hal memang pantas diambil risikonya! Dan beberapa orang pantas diperjuangkan, dan dipercaya.
Kayak cowok yang *gue* bonceng motor ke sekolah. Kayak yang udah *gue* bilang, *gue* bukan penggemar kecepatan.
*Gue* takut sama itu, terpaan angin dan orang-orang di jalanan, tapi entah kenapa *gue* ngerasa spesial dan aman sama dia.
Dan biar *gue* kasih tau satu hal, kita pasti keliatan kayak pasangan dari film laga. Dia pake semua sepatu bot dan jaket pengendara dan, tentu aja demi keamanan, pake helm. Oh, dan jangan lupa motornya, bikin merinding semua cewek.
Motor Harley Davidson sialan itu!!!
Ya. Lo denger yang bener! Dan *gue* sama sekali nggak bereaksi berlebihan. Itu hal yang spesial buat *gue*. *Gue* belum pernah naik motor sebelumnya. Dan sekarang *gue* lagi naik motor pertama kali pake Harley Davidson.
Pas Cole bilang kita bakal ke sekolah naik motor ini. *Gue* kaget banget awalnya soalnya *gue* nggak pernah mikir Cole kayak gini. Kayaknya dia banyak kejutan, ya?
Bener nggak?
Pagi ini nggak pernah semanis ini buat *gue*. Udara dinginnya menerpa kita, walau agak susah ngerasain udaranya soalnya *gue* lagi ngerasain dia.
Ya, *gue* udah berani banget meluk dia dari pinggang pake kedua tangan *gue*, terus jari-jari *gue* *gue* lingkari. Tentu aja, *gue* nggak mau mati kepagian hari ini tanpa makan apa-apa.
Coba pikirin. 'Gimana caranya Amanda mati pas naik motor?' Dan jawabannya pasti, 'oh, dia nggak berani meluk seseorang.'
Omong kosong banget! Jadi, *gue* mikir lebih baik meluk dia daripada mati.
Emang lo nggak meluk dia lebih erat kalo lo cuma pengen mastiin keamanan lo?
Hah?
Udah deh! Lo cuma pengen ngerasain dia soalnya lo nggak bisa kontrol hormon lo.
Oke deh! *Gue* suka banget lakuin ini! Dan karena tujuannya makin deket, tinggal beberapa saat lagi, *gue* ngeratin pelukan ke dia dan nyenderin muka *gue* di punggungnya dengan pipi kiri *gue* ngerasain hangat dari jaketnya.
Pas *gue* lakuin ini, badannya tiba-tiba keget, *gue* nggak tau kenapa tapi *gue* mikir dia nggak nyangka?
Atau gimana?
Sekarang, sekolah udah deket banget. Kita bisa liat semua orang jalan ke sekolah, sementara Cole berhentiin motornya di deket sekolah, bukan di tempat parkir.
Dia berhenti dan ngelepas helm dari kepalanya terus nengok ke *gue*. Oh, dan *gue* lagi berusaha nggak kontak mata sama dia, jadi *gue* mulai ngomong ngalor ngidul.
"Hei, Cole, liat deh hijaunya seger banget, dan liat awan di langit, bagus banget, dan liat sekolah, jelek banget, dan liat lo, ganteng banget,"
Sebelum *gue* bisa nutup mulut sialan *gue*, kata-kata itu udah nyebar di udara buat dia.
Dia cuma geleng-geleng kepala dan ketawa kecil terus nyalain lagi motornya buat masuk ke tempat parkir.
"Oh! Jadi *gue* udah bikin malu diri sendiri secara resmi!" *Gue* bisikin ke diri sendiri.
Pas kita sampe di deket tempat parkir, drama SMA yang khas dimulai lagi. Oh, bukan dengan semua orang dalam suasana membunuh, malah dengan orang yang di sini mulai ngeliatin kita. Atau *gue* harus bilang, natap kita?
*Gue* liat Beatrice sama cowok Joseph itu berdiri di deket tempat parkir sama mobil mereka. Mereka lagi asik sama diri sendiri tapi pas *gue* sama Cole dateng ke sini, semua orang mulai ngelirik kita, dan mungkin itu yang nggak disukai Joseph dan Beatrice?
Mereka pengen perhatian, sesimpel itu!
Oh, siapa peduli sama perhatian yang bisa mereka dapet.
Dan *gue* terlalu sibuk ngamatin sekeliling sampe nggak sadar Cole udah berhentiin motornya dan parkir di tempat yang pas.
Kita berdua mulai jalan ke pintu masuk pas dia megang tangan *gue* dengan lembut dan nyatuin jari-jari kita, ngasih *gue* perasaan terbaik di dunia ini.
Jelas, seperti biasa, *gue* jadi salah tingkah kayak tomat lagi. Dia ketawa kecil lagi, *gue* nyenggol bahunya. Jangan lupa, *gue* bakal selalu ada di sisi bertahan.
"Lo nggak pernah bisa bikin malu diri sendiri. Apa lo tau itu? Nggak tau, ya?" Dia bisikin di telinga *gue*. Bikin *gue* jadi contoh sempurna tomat hidup lagi.
"Tau nggak? Semua orang ngeliatin kita." *Gue* bisikin balik.
"Kalo gitu, biarin mereka ngeliat sesuatu yang pantas ditonton!"
Dan sebelum *gue* bisa ngerti kata-kata dan perkataannya, dia megang muka *gue* pake tangannya dan ngunci mulut *gue* lagi pake bibir impiannya.
Ahhhh! Momen-momen indah dalam hidup. Bibirnya yang lembut dan halus ada di seluruh bibir *gue*, nyedot bibir bawah *gue* dan lidahnya main sama lidah *gue* kayak biasa. Dan pada akhirnya, yang bisa *gue* bilang adalah dia bikin *gue* ngerasa diinginkan dan kali ini *gue* biarin dia mimpin *gue*.
Pas kita berdua misah, dia nyenderin dahinya ke dahi *gue*.
"Lo yang terbaik, Amy, lo yang terbaik."
Kata-katanya kayak pudar pas *gue* denger kilatan kamera hp ngambil foto atau bikin video kita, siap buat viral. Tapi, apa itu beneran penting? Penting nggak?
Nggak. *Gue* nggak mikir gitu. Tingkah laku kayak gini nggak penting buat *gue*, nggak lagi. Tingkah laku kayak gini bodoh kayak beberapa orang.
Kita berdua mulai jalan ke pintu masuk, nggak peduli sama kehadiran orang di sekitar kita sampai Joseph dan Beatrice muncul entah dari mana buat berdiri di depan kita dan ya, mereka juga punya mik. Ya, Joseph punya mik.
Bertingkah kayak pilar antara kita dan pintu masuk.
"Hei, murid-murid SMA Cross River! Dengerin, bukan kayak gitu caranya nyium pacar lo, biar *gue* tunjukin cara yang sempurna."
Dia serius?
Dia brengsek. *Gue* kasih tau.
Nggak bisa lebih setuju sama suara hati *gue* tersayang.
Dia megang pantat Beatrice di depan semua orang dan lebih spesifik lagi, di depan kita sambil ngeliatin *gue*. Terus dia mulai nyium dia.
Nyium dia dengan beringas dan dia juga nyium balik dengan gairah itu. Mereka berdua bertingkah liar seolah-olah mereka dapet kesempatan dan mereka bakal ngelakuin seks di sini di depan semua orang.
Dan kayak biasa, semua orang mulai ngambil foto dan bikin video mereka. Sekarang, *gue* sadar mereka cuma pengen perhatian dan mereka mikir itu cara terbaik buat ngelakuinnya.
Tetapi, mereka idiot kalo mereka ngelakuinnya cuma demi perhatian.
***
"Oh, liat siapa yang ada di sini, pasangan yang ninggalin kita," Dylan teriak di seluruh kantin bikin semua kepala noleh ke arah kita.
"Oh, kita nggak pacaran, guys," *Gue* gumam pelan.
Oh, ya, tentu aja nggak! Kalian nggak pacaran, kan. Kalian cuma temen, bener nggak?
"Diem!"
"Apaan sih, *gue* belum ngomong apa-apa udah nyuruh diem ke *gue*? Udah mulai ngasih perintah aja."
Cole bisikin di telinga *gue*. Tenang banget dan berat banget sambil nunjukin seringai penuh di mukanya.
"G-gue--" sebelum *gue* bisa ngomong apa-apa, *gue* dapet jitakan di bahu, dan pas *gue* liat siapa sih yang ngelakuin itu, *gue* nggak bisa ngerti diri sendiri.
"Amy Parker, jadi lo masih hidup? *Gue* kira lo udah mati! Ya, itu yang *gue* pikirin selama beberapa hari terakhir. Lo nggak jawab satupun panggilan *gue*, terus hp lo mati, bahkan Cole juga nggak bisa dihubungi, dan sekarang setelah seminggu penuh, kalian munculin muka jelek kalian di sini? Apa yang lo pikirin? Kita bakal maafin kalian? Ya, kalo lo mikir gitu, ya kalian bener!"
Dan dengan itu, dia loncat ke arah *gue* buat meluk *gue*. Oke, mungkin dia berlebihan soalnya *gue* nggak bisa napas. Tapi, *gue* sayang dia. Dia orang terbaik di dunia dan ya, sebelum Dylan dan Cole, kita adalah cewek satu sama lain!
"Oh, *gue* kangen banget sama lo, Vess, dan *gue* minta maaf, *gue* bakal cerita semuanya, janji."
"Dylan, lo bikin *gue* mati, dude!" Cole protes soalnya Dylan juga meluk dia.
"Ya, *gue* bikin lo mati soalnya *gue* pengen bunuh lo, brengsek!" Dylan ngerengek.
"Dan di sini *gue* mikir kita sodara."
"Oke! Oke, nggak usah main kartu emosional sama *gue*. Lo tau, *gue* orang yang emosional banget, *gue* bisa aja mati kena serangan jantung dari kata-kata lo, tapi *gue* nggak mati cuma buat lo, sodara!"
Terus dia ngelepasin pelukannya.
"Enaknya kalo lo mati di sini, paling nggak kita bisa libur sehari dari sekolah," Cole gumam pelan dan itu nggak seharusnya didenger sama siapa pun tapi *gue* denger.
Untungnya *gue*, kayaknya.
"*Gue* bisa denger, Bajingan!" Dylan nampar kepalanya.
Dan sebelum keadaan makin parah, pengumuman diumumin.
"Semua murid SMA Cross River - kami bangga mengumumkan bahwa sekolah kita baru-baru ini memenangkan turnamen sepak bola di Florida. Ini pertama kalinya SMA Cross River ngelakuin sesuatu yang besar. Jadi kita pengen ngerayainnya sama anak-anak kita. Tim Sepak Bola! Dan *gue* harus memaksa semua anggota tim untuk hadir di kantor kepala sekolah dalam waktu setengah jam."
"Apa yang dia mau sih?"
"Siapa?"
"Mr. Bennett!"
"Coba kita cari tau apa yang dia mau, deh?"
"Ya. Kita harus pergi sekarang. Semuanya."
***
Gak cuma pemain tim sepak bola, tapi hampir semua murid sekolah pergi ke koridor soalnya deket sama kantor kepala sekolah. Dan tentu aja, Cole ada di sana bareng Joseph dan beberapa anggota tim lain di luar kantor Kepala Sekolah, nunggu Mr. Bennett buat buka kamar rahasia.
*Gue* liat Veronica di kerumunan bareng Beatrice. Mereka berdua lagi ngobrol sambil ngelirik Cole dan Joseph.
Tiba-tiba, Beatrice nunjuk *gue* pake jarinya dan ngebisikin sesuatu di telinga Veronica. Walau susah ngerti apa yang dia omongin menurut bibirnya, kalo *gue* pelajarin kayaknya dia manggil *gue* jalang.
Bodo amat! Hah!
Tapi, sesuatu yang aneh terjadi dan Veronica berhentiin dia. Beatrice lagi kontak mata sama *gue* sementara Veronica ngabaikan itu. Dan secara khusus, kayaknya Beatrice nantang *gue* buat ngomong sesuatu dan Veronica nggak bisa kontak mata karena rasa bersalah.
"Amy, hp lo bunyi."
"Hah?" *Gue* keliatan kayak orang linglung ke Vess.
"Hp lo, bego, udah bunyi dari lima menit yang lalu paling nggak jawab deh. Siapa tau itu panggilan penting?"
"Ah! Ya ya, coba *gue* cek."
*Gue* ngeluarin dari saku belakang dan angkat, "Ya? Siapa nih?"
"Jonathon!"
"Jonathon siapa?"
Siapa sih Jonathon ini? Apa *gue* kenal orang dengan nama ini? *Gue* nggak tau apa-apa, serius.
"Pacar nyokap lo!" Jawab cepet dari seberang.
Ngeri banget badan *gue* pas *gue* inget hari itu pas *gue* tau tentang nyokap *gue* dan pacar dia yang nggak guna itu. Tapi, dia mau apa? Kenapa dia nelpon *gue*? Apa semuanya baik-baik aja?
"Lo mau apa?" *Gue* jawab dengan kesal.
"Ini soal nyokap lo. Dia sakit dan *gue* mikir dia lagi sekarat, *gue* nggak bisa ngapa-ngapain, *gue* nggak tau mau ngapain, bisa nggak lo kesini dan liat dia? Dia nggak berhenti nanyain lo sejak minggu lalu. Jadi, kalo lo nggak keberatan, dateng ke rumah lo, nyokap lo butuh lo."
Apa?
Ya Tuhan?
Dia sakit?
Dia lagi sekarat?
Nggak!!!!!
*Gue* nggak bisa terima! *Gue* bener-bener nggak bisa terima! *Gue* harus lari lebih cepet, sialan! Dan *gue* mulai lari buat wanita dalam hidup *gue*.
"Amy, lo mau kemana? Paling nggak kasih tau *gue* apa yang terjadi?"
*Gue* denger suara Vess di belakang *gue* tapi *gue* nggak punya waktu buat jelasin apa-apa ke dia. Atau buat cerita semuanya ke dia.
'Mau pulang!' *Gue* teriak sambil lari.
***
"Buka pintunya!" *Gue* teriak sekali lagi pas *gue* nendang pintu berkali-kali. *Gue* nggak tau, nggak ada yang jawab dan *gue* coba nomor Jonathon tapi dia nggak angkat telponnya.
Gimana kalo sesuatu yang mengerikan terjadi di sini?
Ya Tuhan! Nggak!
"Sialan buka pintu ini!" *Gue* teriak sekali lagi dengan seluruh tenaga *gue*.
"Sebentar," jawab singkat dari seberang.
Dan dengan suara klik, pintunya akhirnya kebuka.
*Gue* masuk dengan misi buat nemuin nyokap *gue* tapi dia nggak keliatan. *Gue* udah ke semua kamar sialan di rumah ini kayak orang gila tapi dia nggak ada di mana-mana, bahkan tanda-tandanya pun nggak ada.
"Dia di mana?" *Gue* tanya dengan marah ke Jonathon.
"Galak, *gue* suka." Apa dia udah gila?
"Diem dan kasih tau *gue* dia di mana?"
*Gue* tanya lagi dan emosi *gue* udah nggak bisa ditahan.
"Bukan cara yang bener buat ngomong sama pengagum lo, nak." Dia ketawa kecil.
"Apaan sih?
Dia nutup pintu sebelum *gue* bisa lari dari jebakan ini.
------------------------------------------+-----------+--------
Umpan Balik!
Umpan Balik!
*Gue* beneran butuh umpan balik buat yang satu ini.
Love ya, my Readers❤❤❤❤