Kutipan Dari Buku 2: Jalan Menuju Takdir
BETHESDA,
Distrik Pusat,
Lingkaran Dalam,
2420AA.
"Haviliah!"
"Haviliah!" Killion berteriak lagi, gak bisa nahan diri buat gak ngegedor pintu yang dilapisi emas itu. Penghalangnya udah turun, dia sadar pas malem itu, dan meskipun itu bikin dia khawatir, dia lebih peduli sama keselamatan Haviliah dan kenyataan kalo dia kayaknya terus-terusan ngehindar dari dia.
Kata-kata Nana Kezzia masih kebayang-bayang di otaknya.
Dia udah diperintahkan buat gak pulang tanpa Haviliah, dan semua protes yang Ibu Killion lakukan buat belain dia cuma dibales tatapan sinis dan sikap dingin. Hal yang jarang banget terjadi antara dua orang yang selalu jagain dia, meskipun mereka berantem mulu.
Semuanya seserius itu, tapi siapa yang bisa nyalahin mereka? Di satu sisi ada Ibunya dan persahabatannya dengan Selene. Persahabatan yang udah tahan banting dari dulu, meskipun mereka berdua beda banget, baik dari bentuk maupun sifat. Persahabatan yang hebat, yang dimulai dari waktu mereka muda.
Walaupun ada perbedaan yang gak terlalu kelihatan di karakter mereka, rasa sayangnya tetep ada dan dalem banget. Diperkuat sama harapan kalo keluarga mereka berdua akhirnya bakal bersatu lewat pernikahan anak-anak mereka satu-satunya.
Di sisi lain ada Nana Kezzia, dan dia sendiri juga orang yang patut diperhitungkan. Wanita kuat yang meskipun udah tua gak lemah. Dia seneng banget sama hal-hal yang aneh dan pengen beda, cuma buat nantangin status quo, yang dalam kasus ini adalah hukum tak tertulis kalo Killion dan Calla harusnya berakhir bersama.
Kehadiran Haviliah udah nantangin status quo, yang bikin dia seneng banget, dan fakta kalo Killion gak nganggep serius dua ibu-ibu itu, kayaknya juga bikin dia makin semangat buat bikin semuanya makin parah, terutama soal Ibunya dan Calla.
Gak penting buat mereka kalo Haviliah udah ngeyel pengen nganggep dia sebagai temen, dan sekarang, karena semua ini, drama dan tingkah laku cewek-cewek. Karena sikap ibunya ke dia dan karena reaksi Calla dan rasa cemburunya, semuanya jadi berantakan banget. Hal yang dia gak tau gimana cara benerinnya sekarang.
"Haviliah! Tolong, dengerin aku dulu!" dia manggil lagi, padahal dia udah gak dianggep sama sekali di 'ratusan' kali percobaan pertamanya. Cewek itu keras kepala, tapi ya udah, itu harga yang harus dia bayar buat apa yang udah dia lakuin ke dia.
Bukankah dia udah baik hati banget nyelamatin dia dan mempertaruhkan segalanya buat dia? Tapi, gimana dia membalasnya? Gimana dia ngebales budi udah nyelamatin hidupnya dan ngebantu dia sehat lagi?
Killion begitu kepikiran dan tenggelam dalam pikirannya sampe dia gak denger perubahan kecil di angin atau langkah kaki yang lembut sampe mereka tepat di belakang dia dan ngomong.
"Kamu siapa dan apa hubungannya sama Haviliah?" suara cewek yang kuat tiba-tiba ngomong, dan dia noleh kaget.
Tapi pemandangan yang nunggu dia bahkan lebih bikin kaget. Soalnya di depannya sekarang berdiri seorang wanita. Seseorang yang penampilannya cukup aneh dan jauh banget dari dunia ini.
Usianya sama kayak Ibunya sendiri. Harusnya sih, tapi dengan mata abu-abu yang bijak dan ekspresi serius di wajahnya, itu bikin dia mikir kalo dia lebih tua. Warna kulitnya cokelat tua. Rambutnya gelap, tapi bukannya bikin dia keliatan lebih tua, itu malah ngasih kesan awet muda yang kayaknya gak lekang oleh waktu. Tapi, bukan itu yang bikin Killion kaget.
Jubah panjangnya yang bersulam emas berkilauan yang bikin kaget.
Soalnya kayak Haviliah, wanita itu punya jubah sutra panjang yang warnanya ungu tua. Warna yang sangat kontras dengan rambut perak bergelombang yang menjuntai ke bawah kepalanya sampe ke belakang jubahnya sebelum berhenti di bagian belakang lututnya. Wajahnya bersudut dan semakin dia merenungkannya dan menatap iris perak yang cocok dengan rambutnya, semakin dia ngeliat kemiripan yang dia punya dengan Haviliah.
Dia siapa? Dia nanya ke dirinya sendiri. Ibunya? Adiknya? Killion geleng-geleng kepala. Dia pasti ibunya.
"Aku temennya. Dia nyelamatin hidupku." Akhirnya dia mutusin buat ngomong buat mecahin keheningan dan adu tatapan yang terjadi di antara mereka berdua, meskipun mereka saling mempelajari satu sama lain tanpa sadar.
"Jadi kamu toh?" suara lain ngomong dari bayang-bayang, bahkan ketika kepala yang kuning banget keluar. Saat dia mendekat, dia sadar kalo jubahnya sama. Cuma punya dia warnanya hijau, warna zamrud yang bikin kaget, yang jadi warna matanya.
"Cjaira!" Killion keliatan bingung saat wajah lain muncul dari bayang-bayang. Kali ini sih, seorang wanita. Dia tinggi dengan rambut merah, sama kayak warna jubahnya. Jubah yang keliatan familiar, tapi bukan kulit putih atau mata biru yang memukau di wajah yang agak panjang.
"Kamu penyebab Haviliah diusir?" cewek pirang yang namanya dia tebak Cjaira mulai nanya dia. Nila-in dia, bahkan saat dia muterin dia dan nunjuk pake jari kecilnya yang menuduh yang dia pake buat nyolek dadanya.
Killion kaget banget seberapa kuat dia punya di jari kecilnya, soalnya dia ngerasain itu meskipun dia selalu pake baju zirah.
"Cjaira... Kita gak mau nyakitin dia. Kalo emang bener dan Haviliah mempertaruhkan hidupnya dan segalanya yang dia punya buat nyelamatin dia, apa kamu mikir dia bakal setuju kita mau nyakitin dia?" cewek berambut merah itu mikir, bahkan saat ekspresi mikir muncul di wajah wanita yang lebih tua.
Cewek pirang yang disebut Cjaira ngangkat bahunya, bahkan saat dia noleh ke wanita yang lebih tua seolah-olah minta petunjuk
"Kamu bilang Haviliah ada di sini?" Wanita itu nanya dan Killion cemberut karena dia pake kata lampau.
"Dia emang ADA." Dia ngeyel. "tapi sekarang, dia gak jawab panggilan aku... Bukan pertama kalinya sih..." dia berhenti, gak yakin apakah aman buat dia ngasih tau detail tentang penantian panjang itu atau rasa malu yang lagi ngehantuin dia.
Kalo dia mau jujur sih, Killion bakal bilang kalo dia ngerasa kayak dia emang pantas dapet perlakuan itu. Keheningan dari sikap Haviliah yang gak mau keluar rumah dan bahkan tatapan yang dia dapet sekarang, soalnya entah gimana dia yang bertanggung jawab atas semuanya.
"Minggir.." Wanita itu, pemimpin kelompok itu bergumam dan Killion minggir buat ngasih dia akses ke pintu. Wanita itu lewat di depannya, cemberutnya gak ilang. Apa dia emang selalu kayak gini? Dia mikir bahkan saat dia ngeliat dia ngikutin lambang yang terukir di panel berlapis emas di samping pintu.
Pake sentuhannya, segel itu berkilauan putih menyilaukan sebelum terbuka kayak yang dibilang Gabriel. Saat wanita itu masuk ke lorong yang gelap, serangkaian lampu keluar dari langit-langit menerangi jalan yang terungkap di depannya.
"Dia gak ada di sini." wanita itu nyatain saat dia noleh ke arah dia.
"Maksudnya apa? Dia bisa ada di mana lagi?" Sesuai dugaan, wanita itu gak jawab dia. Sebagai gantinya, dia ngajuin pertanyaan lain saat dia mulai nanya dia lagi.
"Kapan terakhir kali kamu ngeliat dia? Kapan terakhir kali kamu ngeliat anakku?" dia nuntut dia, matanya sekarang berkilauan dalam cahaya penghalang yang baru aja diaktifkan.
"Tadi pagi..." Killion tergagap, ketakutan sama apa yang bisa dilakuin wanita aneh ini ke dia.
***
Mata Tamaar beralih dari penghalang ke pemuda yang berdiri di depannya. Dia pake baju yang aneh. Semacam baju zirah, tapi meskipun begitu, dia keliatan tulus. Bahkan takut menghadapi amarahnya atau Cjaira? Matanya membelalak ke cewek yang masih ngelempar belati ke pria itu dan dia hampir kasihan sama dia.
Matanya balik ke penghalang dan ke kerangka logam yang cahayanya udah ngasih dia penglihatan. Dia ngangguk puas. Kehadiran Hedges ada dan posisi kerangka di sekitar penghalang udah cukup bukti keamanannya. Dari gerombolan itu, tapi kalo bahaya lain terlibat, dia cuma bisa berharap. Berharap kemanapun putrinya berada, kemanapun Haviliah pergi, dia aman dan bakal tetep begitu.
"Masuk, girls." Akhirnya dia ngomong ke mereka berdua, ngasih isyarat ke mereka buat masuk.
Siapa mereka? Adiknya Haviliah? Killion gak bisa bedain soalnya satu-satunya yang mirip sama dia adalah wanita yang lebih tua yang sekarang jelas-jelas gak peduliin dia.
"Kamu harus pulang. Kamu bisa balik lagi dan ngecek dia besok." akhirnya dia ngomong ke dia, bahkan saat dia noleh membelakangi dia dan nyegel pintu saat kedua cewek itu masuk.
Killion pengen protes. Pengen teriak, tapi itu terjadi cepet banget sampe dia kaget dan sekali lagi, dia mendapati dirinya natap pintu. Kesel, bahkan saat dia mikir keras tentang apa yang harus dia lakuin selanjutnya.
Pelan-pelan dia mundur dari rumah dan lingkaran dalam dan jalan jauh-jauh ke Hub masih mikir. Di mana Haviliah dan apa artinya buat dia? Apa pendeta sekarang balik lagi? Otaknya balik lagi ke Haviliah dan Calla dan pertengkaran yang masih terjadi di antara mereka. Dia yang salah atas semua itu dan dia tau itu. Dia udah tau sifat cemburu Calla, tapi tetep aja, dia udah ceroboh nunjukin perasaannya ke Haviliah.
Meskipun begitu, dia harusnya tetep di sisinya. Mungkin aja, dia masih di sini atau Calla udah...
Perutnya berasa sakit saat dia nolak buat nyelesaiin pikirannya. Khawatir sama apa yang mungkin udah dilakuin wanita itu ke dia.
"Calla!" Pikirannya meledak dengan gambaran semua hal yang mungkin udah dilakuin wanita itu ke dia karena dendamnya. "Calla!" dia teriak lagi, kali ini kakinya ngebawa dia ke bagian medis dari Central Hub Bethesda.
"Apa?" sebuah suara mendesis balik saat kom-nya nyala dengan suara gak lain dari wanita yang nyebelin itu.
"Di mana Haviliah? Kamu bawa dia ke mana?" dia membentak balik.
"Aku gak tau apa yang kamu omongin." Wanita itu jawab, nada suara yang bosen. Dia lalu menghela napas lelah dan menguap. "Kamu gak mungkin ngomongin Haviliah sekarang kan?"
"Iya... Kamu gak tau kamu lagi main-main sama apa, Calla!"
"Aku gak lagi main-main sama apa pun." Dia mendesis balik dan karena itu, Killion berhenti sejenak.
"Keluarganya ada di sini." akhirnya dia ngomong dan disambut dengan keheningan bahkan saat Calla mikir keras tentang pernyataan ini. "Aku gak tau apa artinya ini buat kita, tapi kalo kamu tau di mana dia. Ini waktunya buat ngomong, Barrageway. Soalnya kita gak mau mulai perang sama orang-orang itu.""Aku udah bilang ke kamu-" Calla yang kesal ngeulangin bahkan saat pria itu dateng berdiri di depannya. Dia masih di sayap medis. Di bangsal istirahat di kursi goyang di samping ibunya yang masih dalam pemulihan. "-Aku bilang ke kamu, aku gak tau dia ada di mana. Aku udah di sini seharian. Kalo kamu gak percaya, kamu bisa nanya aja... Tanyain aja mereka semua!" dia bilang nunjuk ke arah tim teknologi yang ditempatkan buat mantau semua aktivitas yang terjadi di dalam dan di sekitar Bethesda.
"Aku berencana..." Killion berhenti buat ngasih dia tatapan tajam "... Aku cuma berharap kamu gak sampe setega itu nyulik dia dan bohongin aku langsung di depan wajahku." Dengan itu, dia berputar dan keluar ruangan ninggalin Calla yang kesel menghela napas di belakangnya.
***
"Jadi, kita harus gimana sekarang?" Cjaira yang putus asa nanya ke wanita yang jadi ibunya temennya.
"Buat sekarang, kita tunggu dan kita istirahat... Semoga Haviliah udah balik sampe saat itu." Penatua bilang ke dia. Kayak yang udah ditebak Tamaar, Haviliah udah ada di sana, tapi udah gak ada di tempat itu lagi. Aneh banget dan setiap menit berlalu dia ngerasa keraguannya makin besar.
Di mana Haviliah? Dia bisa pergi ke mana jam segini dan kenapa? Apa dia bakal balik? '... Kalo dia gak balik besok, kita harus keluar dan nyari dia."
"Aku yakin dia gak mungkin pergi jauh, kan? Dia udah dibuang, jadi artinya dia udah dicabut Virtuenya kan?" Moriella mikir, tapi Penatua langsung memotongnya. Cuma buat benerin pernyataannya yang gak akurat.
"Sebaliknya Moriella, aku mikir ada sesuatu yang terjadi di sini. Soalnya dia bisa ngaktifin segel dan dengan perluasan Hedges emang gak mungkin dilakuin tanpa Virtue seseorang. Ya udah, ayo masuk girls. Mari kita tenang. Mungkin nanti kita bisa duduk dan mikir tentang rencana tindakan kita selanjutnya."