Prolog untuk Jalan Menuju Takdir
TRIBERIAS,
Perancah Timur,
Ruang Dewan,
2420AA,
"Gimana bisa sih?!" Penatua Tamaar yang tersinggung ngamuk saat dia berhadapan dengan kakek tua itu. Si tolol yang dia percaya buat jagain putrinya, ngajarin dia, dan nunjukin dia cara-cara Kuno cuma buat dia muter-muter dan nusuk dia dari belakang.
Dia udah ngkhianatin dia dan putrinya dengan menjebak dia dan menyeretnya ke hadapan dewan, dewan yang udah dia pengaruhi buat menjauhkannya.
"Kamu tahu dia itu spesial, tapi kamu malah menjebaknya!"
"Gak ngerti nih maksudnya!" dia senyum sambil melambaikan tangannya dengan santai. "Satu-satunya yang spesial dari 'gadis kesayangan'mu itu adalah kristalnya, tapi itu pun, aku gak bisa bilang itu sesuatu yang patut dibanggakan." tambahnya sambil tertawa di depan Tamaar yang ngamuk banget sampai bentuknya melayang cukup tinggi untuk menjulang di atas monstor yang sakit-sakitan itu. "Dan mikir dia udah mikir dia bisa nyimpen rahasia!" dia tertawa kayak orang gila.
"Dasar bodoh tua! Kamu kayaknya udah ngebuat kita semua celaka." Tamaar mendesis sambil maju selangkah buat berhadapan sama penatua yang menyebalkan itu.
"Tamaar! Lionel, santai dulu!" Tuan Chamberlain membentak saat dia menyeret tulang-tulangnya yang lelah ke dalam batas dalam ruang dewan. Dia gak tua. Nggak, sama sekali nggak. Walaupun usianya udah tinggi, penampilannya tetap awet muda.
Tapi, beban jabatannya, tanggung jawabnya, dan beban tugasnya membebani dia. Sampai-sampai dia takut darahnya gak cukup kuat. Dia bisa nyalahin itu ke warisannya karena darahnya bukan murni dari yang Terpilih.
Nenek moyangnya dulu disucikan, tapi dia, belum. Tetap aja, dia satu-satunya di garis keturunannya. Satu-satunya keturunan langsung dari garis Pembantu Suaka dan Chamberlain dan itu adalah amanatnya sekaligus gengsi untuk memegang jabatan ini.
"Dia gak ngirim mereka, aku yang ngirim." kata chamberlain sambil mengangkat tangannya buat menghentikan Tamaar waktu dia mau ngomong lagi. "Sisiknya bergerak dan gerbang Triberias udah disegel," mendengar pernyataan ini, seluruh dewan Triberias mengangguk mengerti bahkan tatapannya beralih dari satu Penatua ke Penatua lainnya sebelum berhenti pada Tamaar yang masih tersinggung. "Jadi Tamaar... itu satu-satunya cara aku bisa ngecek dia dan ngecek kenapa."
"Aku bisa kamu! Kamu ngkhianatin aku! Kamu nyelakain putriku dengan ngirim hal-hal terkutuk itu padanya! Gak cukup kamu udah sejauh ini buat ngerangkul aku waktu kamu milih buat menghukumnya? Kamu ngirim Kawanan buat nyelesaiin dia?"
"Aku ngerti perasaanmu sebagai seorang ibu tapi sekali lagi, tuduhanmu gak berdasar. Kamu tahu, pagar udah diaktifkan dan itu aja udah ngebuktiin apa yang aku mau cari tahu." pria itu ngasih alis terakhir, ngomongnya jelas banget dan simpel banget sampai berat kata-kata itu hampir hilang bagi mereka yang udah denger dia.
"Mereka semua udah dikalahkan?"
Tuan Chamberlain mengangguk saat kesunyian yang penuh pikir-pikir mengambil alih jemaat yang termasuk para penatua dan semua asisten mereka.
Kata-kata itu meresap dan gumaman muncul di antara jiwa-jiwa yang ada di sana. Dengan komentar dari berbagai tingkatan sampai satu jiwa akhirnya angkat bicara.
"Entah Penatua Lionel ngajarin dia dengan baik..."
"Atau seseorang lagi ngebantu dia." Penatua Lionel menyimpulkan dengan tatapan jahat yang sama yang pernah dia pakai sekarang menghiasi wajahnya.
"Dan kamu tahu apa yang terjadi sama sisik lainnya..." Tuan Chamberlain melanjutkan. Dia udah mikir keras tentang itu, tapi itu gak bisa dihindari. Dengan cara hal-hal terjadi sama sisik lainnya, ini bukan risiko yang bisa diambil Suaka. Mereka harus menghentikannya.
"Gak!" Tamaar mengambil langkah maju yang mengancam.
"Akhir apalagi yang ada?" Penatua Lionel mengejek.
"Gak! Bukan buat Haviliah-ku!" dengan itu, Penatua Tamaar keluar dengan marah ke koridor dengan niat pergi dari kota.