Bab 16
SUDUT PANDANG RHODA
Setelah beberapa lama muter-muter di ranjang, nggak bisa tidur. Gue pelan-pelan bangun dari kasur dan keluar kamar ke hutan gelap tempat gue berubah dan lari lebih dalam ke hutan.
Gue segera sampai di tempat sungai, tempat dia berada. Gue berhenti dan berubah balik.
Duduk di depan sungai di bawah cahaya bulan, menikmati ombak air dan keheningan malam.
Gue celupin kaki gue ke sungai saat tubuh gue tenang. Airnya dingin banget tapi gue nikmatin rasanya di kulit gue.
Gue masih duduk di tepi sungai waktu gue ngerasa ada kehadiran di belakang.
Gue langsung balik badan dan menghela napas pas lihat itu Jayden.
"Arrghh!!! Bagus banget, Roda, dia di sini buat ngerusak mood gue sekarang."
Narik kaki gue dari air, gue coba berdiri tapi dia nahan gue.
"Lo nggak perlu pergi gara-gara gue, gue nggak bakal ganggu lo," katanya dan gue mencibir.
"Nggak apa-apa, gue baru aja mau pergi pas lo datang jadi gue pergi sekarang aja, udah lumayan malem," kata gue dan dia ngangguk.
Ngambil satu langkah maju, gue denger suaranya dan berhenti.
"Kenapa lo nggak mau ketemu gue, Roda?" "Kenapa lo keras kepala banget?" dia nanya dan gue balik badan.
"Itu nggak bakal terjadi, Jayden." Gue punya pacar yang udah sama gue 9 tahun dan gue harap dia jadi pasangan gue jadi lo nggak usah nyiksa diri ngejar-ngejar gue," kata gue dan berubah, ngambil piyama gue dan lari keluar hutan.
Gue sampai di lapangan dan celingukan nyari keberadaan apa pun dan pas gue nggak lihat ada, gue berubah balik dan pake baju gue sebelum masuk kamar.
*
*
**PAGI BERIKUTNYA**
Bel berdering dan gue menggeliat dan bangun sambil ngucek mata ngantuk.
"Rose bangun, ayo mandi," gue nepuk dia dan dia menggeliat tapi balik badan ke tembok. "Rose bangun!!" gue terus nepuk dia tapi dia nggak mau bangun.
Rose tuh orang yang tidurnya dalem banget, kapanpun kita ada tidur cewek, gue harus goyangin dia terus-terusan atau bahkan pake trik biar dia bangun.
"Rose bangun, Maks datang," gue teriak di telinganya dan dia langsung bangun.
"Ugh!!! Gue cantik nggak sih? Ada iler di muka gue nggak? Mata gue bengkak nggak?" Dia nanya banyak banget pertanyaan sambil ngegoyangin gue dan gue ketawa nggak bisa berhenti.
"Ini udah jadi kelakuan Rose biasanya kapanpun lo bilang Maks mau datang."
"Hahahahah itu cuma becanda, Rose, Maks nggak datang," kata gue sambil ketawa dan dia mukul lengan gue main-main.
"Lo nggak bangun-bangun jadi gue putusin buat ngerjain lo."
"Arrghh!!!! Nggak adil banget," dia nge-rap dan gue ketawa.
"Bangun, ayo mandi, bel bangun udah dibunyiin."
Gue udah keluarin peralatan mandi kita sebelum bangunin dia.
Gue ngelirik kasurnya Lisa dan dia tiduran di sana dengan kedua kakinya terbuka lebar sambil ngorok dengan mulut agak kebuka. Lisa tuh cewek cantik banget, gue akuin.
Rose akhirnya bangun dan kita berdua keluar kamar buat mandi.
Pas kita balik, Lisa masih tiduran di sana.
"Gue bangunin dia nggak, Rose?" gue nanya dan dia geleng kepala. "Nggak, Biarin aja dia, kalau dia mau biarin aja dia tidur seharian. Kita nggak usah peduli."
Gue pake legging hitam dan atasan putih sementara Rose pake gaun tanpa lengan selutut hitam. Kita berdua keluar kamar buat gabung sama yang lain yang udah pada ngumpul di lapangan.
"Selamat pagi murid-murid!!!" Nona Brenda nyapa dan kita semua jawab dengan senang.
"Semoga kalian semua istirahatnya nyenyak," dia nanya.
"Iya, Nona Brenda!!!!" kita jawab.
Luka datang bareng Maks saat mereka berdiri di samping kita.
"Hai, sayang!!!!" Dia melingkarkan tangannya di pinggang gue dan ngecup tangan gue. "Gimana malem lo?" dia nanya.
"Baik, kalau lo?" gue nanya dan dia senyum "keren".
Gue ngelirik Rose dan lihat Maks nyiramin ciuman ke seluruh muka dia saat dia cekikikan.
"Oke murid-murid, kita semua bakal berdoa dan pergi ke ruang makan terus habis itu, kita mulai tugas hari ini," kata Nona Brenda.
Doa dipimpin oleh Robinson, ketua kelas kita. Habis itu, kita semua jalan ke tempat yang diset sebagai ruang makan buat makan.
Gue duduk di samping Luka saat kita makan "Gue nggak pernah lihat J³ di sini, apa berarti mereka nggak makan?" gue bisikin ke Rose.
"Mereka makan tapi makanan mereka disajiin di tenda mereka. Lo lihat kan tenda mereka beda," Semuanya yang mereka dapat selalu beda dari yang didapat murid-murid," kata Rose dan gue ngangguk.
Nggak lama, kita selesai sarapan dan balik ke lapangan. Kita nunggu bentar Nona Brenda. Gue ngerasa ada mata yang ngintip gue dari kejauhan dan gue lacak itu ke Jayden. Gue naikin alis ke arahnya dan dia nyengir.
"Oke semuanya!! Gue bisa lihat kalian semua udah balik dari ruang makan dan gue harap kalian semua siap buat tugas hari ini," Nona Brenda bersuara dan kita teriak iya dengan senang.
Tugas hari ini buat semua orang dan kalian semua bakal naik gunung itu," katanya dan nunjuk gunung yang gue nggak tahu kalau ada.
"Ada jubah di puncak gunung dan siapa pun yang dapat duluan menang dan hadiahnya bakal diumumkan sebelum kita semua balik."
"Kalian semua bisa pergi sekarang dan bawa pulang jubah itu," katanya dan sebagian besar murid lari keluar.
Gue nggak perlu lari karena gue tahu gue nggak punya tenaga buat naik gunung.
Rose dan gue jalan ke gunung sambil ngobrol dan ketawa.
Gue ngelihat ke atas buat lihat Luka di tengah gunung memimpin tugas.
Tangan melingkar ke pinggang gue dan gue balik badan siap buat nge-lash out ke pemiliknya dan gue menghela napas saat lihat ternyata Jayden.
Gue tepis tangannya dan dia nyengir dan membungkuk nyium leher gue. "Lo wangi banget, Roda, gue pengen makan lo," dia bergumam dan gue menjauh darinya.
"Rose, ayo pergi," kata gue dan kita pergi.
Kita sampai di atap gunung dan gue kaget pas lihat Jayden udah di puncak gunung megang jubah.
"Apaan sih!!" Rose menjerit dan mata gue juga melebar. "Bukannya dia yang berdiri di sini beberapa menit lalu? Kok dia udah nyampe puncak gunung dalam beberapa menit?"
"Wow!!! Lo lihat itu? Dia berdiri di sana beberapa menit lalu ngobrol sama Roda dan sekarang, dia udah nyampe puncak gunung!!! Ini skill mendaki yang luar biasa gila!!!!" Nona Brenda berteriak lewat mikrofon.
Gue nggak pernah tahu dia ngawasin kita saat kita berdiri di sana.