Bab 29
"Pagi, Ibu" sapaku sambil jalan ke meja makan. "Sayang, udah bangun? Gimana tidurnya semalem?" Dia nanya, terus aku ngangguk sambil udah ngisi mulut sama sepotong pancake.
"Enak, Ibu" jawabku, terus nelen segelas kopi.
Nggak lama kemudian aku udah selesai dan langsung ngebut keluar dari komplek, ngebut ke sekolah. Si Roda itu bikin aku nggak bisa tidur semalaman, bahkan ada lingkaran hitam di mata yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aku bakal kasih dia pelajaran hari ini," gumamku sambil nyetir secepat mungkin.
*****SUDUT PANDANG RHODA******
Kelas hari ini nggak bisa lebih buruk lagi. Jayden terus-terusan ngelempar kertas ke aku, dan pas aku udah teriak ke dia, gurunya malah nyuruh aku ngerjain banyak soal matematika yang jelas-jelas aku benci.
Rose udah ke toilet sebelum istirahat, jadi aku harus jalan ke kantin sendiri hari ini karena dia baru nyusul nanti.
Aku lagi jalan ke kantin, menyusuri koridor, tiba-tiba ditarik ke dalam ruang kelas kosong. Aku coba teriak, tapi tangan nutup mulutku. "Jangan berani-berani buka mulut buat teriak," dia ngamuk dengan nada alpha-nya yang bikin aku merinding.
"Ja..di..a..pa..nggak..mu?" Aku gagap, takut sama tatapan mematikannya karena sekarang aku udah berhasil lihat wajahnya.
"Lepasin aku, plis," mohonku. Dia nggak peduli dan dorong aku ke kursi, terus ngiket aku. "Setelah ulah yang kamu lakuin kemarin, kamu pikir aku bakal lepasin kamu gitu aja atau lupa?" Dia nanya sambil nyumpel mulutku pake kain.
Aku geleng-geleng kepala, berusaha ngomong, tapi malah nggak jelas. Air mata udah penuh di mata, tapi aku tahan biar nggak keliatan lemah.
"Cuma ada kita berdua di sini, dan sayang, kamu ada di bawah kekuasaanku. Aku bisa aja ngelakuin apa aja yang aku mau ke kamu tanpa kamu bisa ngapa-ngapain," dia nyengir, dan air mata yang udah susah payah aku tahan akhirnya jatuh, membasahi pipiku.
Aku mohon pake mata, minta dia buat lepasin aku, tapi dia nggak peduli dan narik kursi lain mendekatiku.
Dia duduk, seringainya masih kelihatan, terus mulai buka kancing bajuku satu per satu. Aku goyang-goyang di kursi, berusaha lepas, tapi malah bikin kainnya makin sakit di kulitku.
Dia udah selesai buka kancing bajuku, terus narik singlet putihku ke atas, ngangkat bra-ku sampai *t*t*ku kebelah.
Matanya menggelap saat dia natap *t*t*ku yang ukurannya sedang. Air mata udah membasahi tubuhku. Dia nggak peduli sama air mata yang jatuh di tubuhku, dia malah megang *t*t*ku yang kanan.
Dia remes sedikit terlalu keras, yang bikin aku menggumam kesakitan. Aku coba tepis tangannya, tapi dia malah nampar *t*t*ku yang satunya, bikin aku berhenti goyang-goyang.
Dia masukin ke mulutnya dan mulai ngisepnya kencang. Lidahnya ngusap put*ngku bolak-balik. Aku ngerasa ada cairan yang ngalir di celanaku dan aku bingung itu apa.
"Mmhh, *t*t*mu pink banget dan berisi," dia mengerang, makin cepat karena sekarang dia nyedot abis-abisan *t*t*ku, ganti-gantian dari kiri ke kanan.
Aku nggak ngerti perasaan apa yang lagi ngejalari aku, aku pengen dia berhenti, tapi di saat yang sama, pengen dia nggak berhenti.
Kenikmatan yang aku rasain itu sesuatu yang bikin aku kaget. Dia terus mainin *t*t*ku beberapa saat sampai dia berhenti pas bel istirahat bunyi, nandain istirahat selesai.
Dia nyengir dan jilat bibirnya, senyum ke aku. "Aku tau kamu nikmatin itu," katanya, dan aku muter mata, menyangkal fakta kalau aku agak kecewa pas dia berhenti.
Dia benerin bra-ku dan kancingin bajuku, terus dia ngelepas ikatan aku. Begitu dia selesai ngelepas, aku langsung lari keluar ruangan secepat kaki aku bisa bawa.
Aku lari ke toilet dan nyipratin air ke wajahku, berusaha nenangin diri sebelum Rose curiga.
Setelah agak tenang, aku benerin baju yang agak kusut dan jalan ke kelas, di mana aku ketemu Rosaline yang kelihatan khawatir.
"Kamu dari mana aja, Roda?" dia nanya begitu ngeliat aku. "Kamu nggak ke kantin, dan kamu nggak kelihatan di sekolah," lanjutnya.
"Pak Phillip nyuruh aku ada urusan pas aku mau ke kantin," bohongku, berharap kegugupan aku nggak kebaca.
"Oke, kita khawatir banget, apalagi Luka. Kita udah cari kamu ke seluruh sekolah, tapi kamu nggak ada," katanya, dan mataku meredup.
Aku ngerasa bersalah karena nikmatin pelecehan Jayden sementara temen-temenku, apalagi pacarku, nyariin aku.
"Kamu nggak papa?" Dia nanya sambil liat ekspresi aku. "Iya, maaf nggak dateng buat bilang ke kalian," gumamku, dan dia ngangguk.
"Nggak papa kok, yang penting kamu baik-baik aja, kita maafin kamu," dia nyengir dan narik aku ke tempat duduk kita.
Aku liat ke tempat duduk Jayden, dan dia lagi nyengir lebar, kelihatan puas, dengan seringai nakalnya dan jilat bibirnya.
Aku tatap dia tajam dan buang muka. Aku benci banget kelakuannya dan kekuatan bodohnya yang selalu bikin aku nggak berdaya setiap kali dia pelecehan aku.
Dia udah nyium aku, remes *t*t*ku berkali-kali, dan sekarang, dia buka dada aku dan melecehkan *t*t*ku. Aku benci dia banget, dan tinggal beberapa minggu lagi ulang tahunku yang ke-18, terus aku bakal ditandai sama Luka, dia nggak punya pilihan selain mundur dan menjauh dari serigala yang udah ditandai.
Sisa kelas berlangsung sampai sekolah selesai, aku beresin tas dan bawa buku-bukuku ke loker, masukin ke dalem loker dan ngunci dengan bener, aku pulang bareng Luka.