Bab 9
***POV LISA****
Aku turun dari pesawat dan melihat-lihat bandara untuk mencari supir orang tuaku.
"Nona Lisa," sapa Andrew, sang supir, mempercepat langkahnya ke arahku.
"Kenapa lama sekali?" bentakku padanya dengan marah. "Gak nyangka kamu bikin aku nunggu selama ini."
"Maaf, Nona Lisa, macet banget," katanya sambil sedikit membungkuk, dan aku mencibir sambil berjalan ke arah mobil sementara dia menyeret tasku.
*
*
"Nama aku Lisa Smith dan aku satu-satunya putri Beta DarkMoon pack. Aku udah keluar negeri selama 6 bulan dan aku balik buat ngeklaim cowokku."
Aku sama Jayden pacaran tiga bulan sebelum dia mutusin aku, katanya dia udah enek sama aku dan pengen cewek lain.
Aku pergi dari negara ini dengan patah hati, tapi sekarang aku balik dan gak bakal biarin dia pergi, apa pun yang terjadi.
Aku masuk ke pelukan ibuku yang terulur sambil menyeringai.
"Mama kangen banget sama kamu, anak cantikku," katanya, dan aku tersenyum.
"Aku juga, Mama. Papa mana?" tanyaku.
"Di rumah pack," katanya, dan aku menghela napas.
Papa selalu sibuk, entah di rumah pack sama Alfa atau di perusahaan.
Kami masuk ke rumah dan para pelayan membungkuk memberi salam padaku.
"Mika, ambil tas dari Andrew," perintahku, dan dia membungkuk lalu bergegas pergi.
Aku masuk ke kamarku sambil melihat-lihat. Masih rapi seperti aku belum pergi.
Aku duduk di kasurku, mengambil ponselku untuk menelpon nomor Jayden, tapi seperti biasa, gak diangkat.
Aku masuk ke halaman sekolah keesokan harinya, dan para siswa berhamburan keluar dengan berteriak kegirangan.
"Lisa!!!"
"Beneran dia?!!!"
"Iya, ini Lisa Smith, dia balik!!!!"
"Ratu sekolah kita akhirnya!!!!"
"Lihat tas desainernya, aku yakin harganya mahal!!!!"
"Udah liat sepatunya?!!!!"
"Bukannya itu sepatu yang dipake Amelia Curt di *runway* dia!!!!"
"Iya, itu sepatu yang dipake Amelia!!!"
"Aku tau dia balik buat pacarnya, Jayden!!!!!"
Aku tersenyum mendengar bisikan dan teriakan para siswa.
Aku *catwalk* menuju lorong yang mengarah ke ruang pribadi J³ tempat aku tau Jaden berada.
Aku membeku di tempatku ketika sampai di lorong yang mengarah ke ruang pribadi. Di depanku, berdiri Jayden dengan segala kejayaannya, menempelkan tangan seorang wanita di atas kepalanya.
"Jayden gak bakal berubah," pikirku sambil berjalan ke arahnya.
"Jayden," panggilku, dan dia menoleh padaku. Cewek yang dia tempel itu menggunakan kesempatan untuk menyelinap keluar dari cengkeramannya dan lari.
Cewek itu cantik juga, dan aku harap dia gak akan jadi ancaman bagiku. Dia berbalik dan menatapku dengan jijik.
"Apa, Lisa? Berani-beraninya kamu datang ke sini buat ganggu urusanku," gerutunya, dan aku mundur sedikit. Nada Alfa Jayden memang nyeremin.
"Jayden, aku balik," kataku, dan dia mengangkat alisnya. "Terus?" tanyanya, dan aku cemberut.
"Kamu harus meluk aku," kataku, dan dia tertawa. "Serius?" tanyanya, dan aku mengangguk. Dia mendorongku dan pergi.
"Jayden!!!!! Balik sini, Jayden," teriakku sambil mengejarnya.
POV RHODA
Aku keluar dari ruang ganti tempat aku menjalani hukuman ketika aku menabrak seseorang, kepalaku membentur dada orang itu.
"Ahhh!!!!" aku mengeluh dan menyentuh kepalaku, melihat ke atas untuk melihat pelaku yang menyeringai seperti biasa.
"Ugh!!" Bisakah hari ini lebih buruk lagi? Aku mengeluh, mencoba mengikuti sisi kirinya, tapi dia pindah ke sana, dan aku menghela napas.
"Kamu mau apa, Jayden?" tanyaku dengan frustrasi. Aku cuma mau pergi ke kelas dan istirahat, gak mau kena masalah pagi-pagi.
"Kamu udah tau jawabanku, kan?" tanyanya, dan aku memutar mataku.
"Dengerin aku, Jayden, atau apa pun namamu, aku cuma akan bilang ini untuk terakhir kalinya karena aku gak akan mengulanginya dua kali."
"Aku gak akan pernah; kamu denger aku, gak pernah dalam hidupku ada hubungan apa pun sama kamu, Jayden, di atas tubuh cantiku ini, jadi makin cepet kamu ngerti, makin bagus dan gak bikin stres buatku," kataku, dan dia tertawa, mendekatiku sementara aku mundur sampai punggungku membentur dinding, lalu dia menempelkan kedua tanganku di atas kepalaku.
Kalau aku denger dengan benar, kamu mau bilang aku akan membungkuk di atas tubuh cantimu, kan? Aku suka banget denger kata-kata membungkuk di atas tubuhmu dan menusuk ****ku ke dalam Honeypotmu," dia menyeringai.
Aku memutar mataku pada pikirannya yang kotor. "Itu cuma akan terjadi dalam mimpimu, jadi lepaskan aku, Jayden, lepaskan aku," jeritku, berjuang untuk lepas darinya, tapi dia terlalu kuat untuk bisa bergerak.
Aku akan mendapatkanmu, Roda, dan aku akan membungkukkan tubuh cantikmu dan **** hidupmu keluar darimu sementara kamu berteriak dan memohon padaku," katanya, mengusap tangannya di wajahku dan meremas payudaraku yang kiri. "Boba lembut," bisiknya di telingaku.
"Kamu akan naik ke ****ku, Roda, aku janji," katanya dan mendekatkan kepalanya ke wajahku, napasnya mengipasi wajahku saat dia menjilati telingaku, mengirimkan gelombang kejut padaku.
Dia akan menciumku ketika kami mendengar suara meneriakkan namanya, dan aku menghela napas lega saat dia melonggarkan cengkeramannya di tanganku, dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk lari keluar dari lorong.
Aku berlari ke kelas sambil terengah-engah, lalu menjatuhkan diri ke kursi untuk mencoba menenangkan napasku.
"Ada apa, Roda?" Rose bertanya padaku, dan aku mengendus sambil menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Jayden; kalau cewek itu gak muncul, dia pasti udah menciumku lagi atau bahkan menyeretku ke kamar mandi dan memaksa dirinya padaku.
Rose mengeringkan air mataku. "Semuanya akan baik-baik saja, Roda, tolong berhenti menangis, kamu pasti bisa melewati ini," hiburnya, dan aku mengendus.
"Itu Lisa," katanya saat aku mengeringkan air mataku.
"Lisa apa?" tanyaku bingung.
"Cewek yang muncul dan mengganggu Jayden," katanya, dan mataku membelalak.
"Maksudmu Lisa Smith, pacar Jayden, udah balik?" tanyaku kegirangan.
"Iya, dia balik kemarin dan ada di sekolah, cuma dia yang bisa teriak ke Jayden kayak gitu."
Aku tersenyum; sekarang pacarnya udah balik, aku harap dia akan meninggalkanku sendiri.
"Sekarang aku bisa bebas dan fokus sama pelajaran karena pacarnya udah balik," kataku, dan Rose menggelengkan kepalanya.
Aku beneran gak yakin kamu bakal dapet kebebasan semudah itu dari Jaden. Dia bukan orang yang bakal ngejar cewek dan nyerah tanpa berhasil nginjek celananya.
"Satu-satunya alasan dia gak ngejar aku karena aku udah nemuin *mate*ku dan aku udah ditandai. Selama kamu masih belum ditandai dan kelihatan menarik di matanya, dia bakal nyoba segala cara buat bikin kamu mau ke kasurnya."
"Dia gak pernah kalah dan dia dapet apa pun yang dia mau, sekeras apa pun kelihatannya, kamu cuma harus bertahan di sana karena sebentar lagi kamu akan berusia 18 tahun dan ditandai, lalu dia bisa ninggalin kamu sendiri," kata Rose, dan aku menghela napas.